
"Aaaaaa ...." Sebuah teriakan menghentikan obrolan mereka.
"Lissa," pekik Ard. Ard berlari menghampiri sumber teriakan itu. Ash juga ikut berlari di belakang Ard.
Sesampainya di rumah pohonnya, Ard langsung panik mencari keberadaan Lexi.
"Lissa! Lis-Lissa!" Ard memanjat segera tangga yang akan membawanya masuk ke dalam rumah pohonnya. Begitu ia masuk, tampak olehnya Lexi sedang berjongkok di atas kursi kecil. "Kau kenapa?" tanya Ard panik.
"I-itu." Lexi bergidik ngeri.
Ard menghampiri ke arah yang ditunjuk oleh Lexi dan mengambil seekor serangga yang lumayan besar, sekitar setengah telapak tangan orang dewasa. "Ini?" tanya Ard sambil menunjukkan serangga yang dipegangnya.
Lexi berdiri dan mundur beberapa langkah dari tempat asalnya. "Jangan dekatkan denganku. Aku takut!"
Ars tertawa melihat ekspresi Lexi yang ketakutan. "Ini tidak berbahaya kok-"
"Tapi, aku takut!" Lexi meninggikan suaranya.
Ard membawa serangga itu keluar dan membebaskannya ke alam. "Sudah aman." Ard tertawa pelan melihat ekspresi lega dari Lexi.
"Jangan meledekku. Aku benar-benar takut. Kenapa tidak kau bunuh saja?" tanya Lexi.
"Dia temanku. Semua makhluk hidup di hutan ini adalah temanku." Ard melirik Ash sekilas. "Serangga tadi juga tidak melukaimu, kan?" tanya Ard.
Lexi mengangguk paham lalu melirik seseorang yang terlihat asing menatapnya intens. Lexi membalas tatapan Ash dengan tatapan tajam.
"Ard," panggil Lexi.
"Hm? Kenapa Lissa?" tanya Ard.
"Kenapa kau lebih suka memanggilku Lissa? Namaku itu Lexi." Lexi berkacak pinggang di hadapan Ard. "Kau berbohong kepadaku?" tanya Lexi.
Ard memicingkan matanya menatap Lexi. "Aku suka dengan namamu Lissa, lebih pantas daripada Lexi. Bohong? Aku berbohong apa?" tanya Ard.
"Kau bilang kau tinggal di hutan ini sendirian dan tidak ada manusia lain. Lantas dia siapa?" tegas Lexi.
"Dia temanku yang baru kutemui tadi di dalam hutan saat ingin mencarikanmu sesuatu yang bisa kau gunakan untuk melukis." Ard berusaha menjelaskan kepada Lexi agar tidak ada salah paham.
"Yaudah yuk kita cari bahan untuk melukisku. Aku sudah lama tidak melukis." Mata Lexi tampak berbinar.
"Kau tunggu di sini saja." Ard memerintahkan Lexi untuk tinggal di rumah saja.
"Tidak! Aku ingin ikut denganmu." Lexi bersikeras ingin ikut.
"Kau tunggu di sini saja." Ard mencoba menenangkan Lexi karena ia tidak mau tahu kalau dirinya adalah manusia harimau. Ia harus merubah diri jadi harimau untuk merobek kulit pohon yang besar sebagai ganti kanvasnya.
__ADS_1
"Ard, aku ikut!" Lexi memasang wajah memelas agar Ard luluh.
"Yaudah yuk. Tapi, jangan jauh-jauh dariku." Ard menggandeng tangan Lexi.
Lexi menahan tangan Ard. "Kenapa?" tanya Lexi.
"Nanti rindu kalau jauh." Ard menahan tawanya. "Yaudah yuk!" ajak Ard.
Lexi tersenyum di balik punggung Ard. Ard tidak dapat melihatnya. Tapi, tanpa sadar Ard juga tersenyum tanpa sepengetahuan Lexi.
Ash menatap keduanya dengan pandangan tidak suka. Namun, ia berusaha tersenyum ketika Ard menatap ke arahnya. Ash berjalan di belakang keduanya yang sedang bergandengan tangan. Ash menatap benci kepada Ard yang selalu bisa mencuri hati siapa saja.
Ard dan Lexi berhenti disebuah pohon besar yang sudah tumbang.
"Kulit pohon ini bisa kau pakai sebagai kanvas lukisanmu." Ard memukul-mukul permukaan batang pohon ini. "Ini juga sudah lumayan kering. Dan jenis pohon ini memiliki serat yang rapat. Jadi, akan sangat bagus."
"Kau bisa tahu?" tanya Lexi.
"Aku sudah tinggal di sini selama 20 tahun." Ard melirik sekilas ke arah Ash.
"Ini adalah jenis kayu santalum spicatum, pohon ini memiliki aroma yang wangi. Biasa dijadikan aromaterapi." Ash mencoba mendekatkan diri kepada Lexi.
Lexi menghiraukan ucapan Ash. Baginya Ash adalah orang asing baginya. Ia hanya mau berbicara kepada Ard saja. Dilihat dari wajah Ard memang lebih tampan dan berkarisma, dengan pembawaan yang tenang dan dingin. Berbeda sekali dengan Ash, dari wajah lebih maskulin tapi terlihat seperti pria yang pandai menggoda. Ard dan Ash sangatlah berbeda, kalau dimisalkan Ard adalah air, makan Ash adalah api.
Ard mengeluarkan sebuah pisau yang tidak terlalu besar dan juga tidak terlalu kecil. "Aku sudah membawa ini." Ard mengikis perlahan kulit pohon yang akan ia ambil.
"Tidak adakah kapak? Dengan itu bukannya akan sangat sulit?" tukas Ash.
"Bisa. Pisau ini sangatlah tajam." Ard sudah merobek sebagian. "Bisa, kan?" Ard memastikan bahwa ia bisa.
Setelah berhasil mengupas kulit pohon dengan ukura. kurang lebih 30 cm dan 40 cm. Ia memberikannya kepada Lexi.
"Bagaimana? Apa ukuran segini akan cukup?" tanya Ard.
Lexi menerima kulit pohon yang diberikan Ard. "Cukup, terima kasih banyak." Lexi menggenggam erat bagai anak kecil yang mendapatkan mainan baru. "Kuas lukisnya dan cat warnanya bagaimana?" tanya Lexi lagi.
"Mari kita cari lagi." Ard mengajak Lexi.
Ash terus saja mengikuti mereka berdua dengan berjalan di belakangnya dengan tatapan tidak menyenangkan. Ia akan tersenyum semanis mungkin jika Ard atau Lexi melihat ke arahnya.
Ard mengajak Lexi berjalan sedikit ke bagian Barat dari hutan ini. Dimana tempat itu terdapat banyak bunga-bunga indah dengan berbagai macam warna. Sangat indah. Mata Lexi berbinar melihat pemandangan yang ada di hadapannya.
"Bunga-bunga di sini dapat kau jadikan sebagai pewarna dalam lukisanmu. Kau bisa langsung memetiknya dan memoleskan langsung pada kulit pohon itu." Ard menjelaskan bagaimana caranya agar Lexi dapat melukis.
"Oh jadi seperti itu caranya. Aku paham dan sudah tidak sabar lagi ingin segera melukis." Lexi tampak riang.
__ADS_1
Ard menarik tangan Lexi. "Ayo ikut denganku!" Ard membawa Lexi ke pinggir dari taman bunga yang terdapat sebuah batu besar. "Duduklah!"
Lexi duduk di batu yang lebih kecil dan Ard merentangkan kulit pohon itu di batu yang besar dan juga datar, lebih tampak seperti sebuah meja.
"Kau bisa melukisnya di sini. Dari sini seluruh taman ini dapat terlihat."
Lexi memandang sekeliling merasakan suasana yang memang tenang. "Bagaimana aku memetik bunga-bunga itu?" Lexi menunjuk hamparan padang bunga yang letaknya tidak terlalu jauh darinya, hanya saja iya harus turun ke bawah dan melewati beberapa tumpukan batu besar.
"Kau sebut sana mau yang berwarna apa. Akulah yang akan turun ke bawah mengambilkannya untukmu." Ard terang-terangan menunjukkan perasaannya kepada Lexi.
"Terima kasih banyak, Ard."
"Aku juga bersedia membantumu mengambilkan bunga-bunga yang kau butuhkan," ucap Ash.
"Tidak perlu!" ucap Lexi sinis.
Ard menatap iba pada sahabat kecilnya itu. "Sudahlah kau duduk saja di sana, Ash. Lissa tampaknya sedang tidak ingin diganggu." Ard mengusir Ash, karena Ard memang tidak nyaman ada Ash di sini. Bukan karena masalah tertentu, ia hanya tidak tahu apa tujuan Ash datang kemari dan mencarinya. Sejak pertemuan mereka yang pertama, Ard dan Ash memang tidak sempat bercerita apapun dikarenakan Lexi yang berteriak karena seekor serangga.
"Aku mau bunga itu." Ucapan Lexi ini membuyarkan lamunan Ard yang sedari tadi memandangi punggung Ash yang berjalan menjauhi mereka.
"Hah?" Ard tampak kaget.
"Kau melamun?" tanya Lexi.
"Tidak. Mana bunga yang kau inginkan?" tanya Ard.
Lexi menunjuk beberapa jenis dan warna bunga yang akan ia gunakan sebagai media pewarna dalam lukisannya.
"Oke. Hanya itu saja?" tanya Ard meyakinkan.
"Iya, nanti kalau ada yang kurang pasti aku bilang." Lexi tersenyum lebar menunjukkan deretan giginya yang rapi.
"Kau jangan tersenyum seperti itu."
"Memangnya kenapa? Kau takut jatuh cinta kepadaku ya?" Ley tersenyum menggoda Ard.
"Kalau jatuh cinta, sudah aku lakukan sejak pertama kali bertemu denganmu bahkan hingga saat ini." Ard tertunduk malu.
"Kau ini bisa saja!" rutuk Lexi.
Ard tersipu malu. "Baiklah, akan ku ambilkan bunga itu untukmu." Ard berjalan menuruni bebatuan. "Bahkan saat ini, ku cinta kau lebih dari kemarin," ucap Ard lirih.
Ard memetik bunga yang dipinta oleh Lexi tadi.
Ash menatap Ard dengan penuh kebencian. Entah apa tujuan Ash datang menemui Ard, tidak ada yang tahu selain Ash sendiri.
__ADS_1