
"Jangan takut, ada aku." Ard menggenggam tangan Lexi. "Ikut aku!"
"Kita mau ke mana?" tanya Lexi.
"Ikut saja. Sebentar hari akan gelap. Kita harus segera ke rumahku." Ard menarik tangan Lexi.
Lexi menahan tangan Ard. "Rumah? Kita akan keluar dari hutan ini?" tanya Lexi.
"Tidak."
"Lalu apa maksudmu dari rumah? Kau tinggal di sini?" tanya Lexi.
"Aku penjaga hutan ini. Aku menyukai suasana di dalam hutan ini, sungguh tenang." Ard menarik napas berusaha mengisi paru-parunya dengan maksimal. "Yuk ikut aku!" Ard menarik tangan Lexi dan membuat Lexi terpaksa harus berjalan mengikutinya
Ard dan Lexi berjalan semakin ke tengah hutan. Namun, semakin ke tengah, Lexi melihat tempat yang semakin terang. Tampak padang rumput yang tidak begitu luas dan sebuah danau yang airnya sangat jernih dan dikelilingi pohon-pohon besar di sekitarnya. Mereka berada di sini.
"Kita sudah keluar dari hutan?" tanya Lexi.
"Tidak, Lissa. Ini adalah titik tengah dari hutan ini. Dan di sana-" Ard menunjuk sebuah rumah pohon yang cukup besar diantara dua buah pohon besar. "Itu adalah rumah yang aku maksud."
"Rumah pohon?" Mata Lexi berbinar. Ini seperti mimpi baginya. Ia sangat menyukai tempat seperti ini.
"Kalau malam tiba, kau bisa melihat bintang."
"Benarkah?" Lexi benar-benar merasa bahagia. "Kau tahu tidak-?"
Ard memotong kalimat Lexi. "Tidak!"
"Aku belum selesai berbicara." Lexi memanyunkan bibirnya.
Ard menyengir. "Silahkan dilanjutkan."
"Ini adalah tempat yang selalu aku lukis. Dan sekarang aku seperti melihat lukisanku ini nyata." Lexi sangat senang.
"Kau pelukis? Dan kau sering melukis tempat seperti ini?" tanya Ard.
Lexi mengangguk sebagai ganti dari jawaban 'iya.'
"Kau berasal darimana sih?" tanya Ard sambil menelitik setiap inci pakaian yang digunakan Lexi.
"Jauhlah pokoknya. Jangan bertanya lagi soal asal-usulku. Kalau kau keberatan aku tinggal di sini, aku akan pergi." Lexi berbalik badan dan hendak meninggalkan Ard.
Ard dengan sigap menahan tangan Lexi. "Eh, Lissa. Maafkan aku. Bukan seperti itu maksudku. Kau boleh tinggal di sini bersamaku dan selamanya."
"Selamanya?" Lexi mengernyitkan keningnya heran.
"Iya."
"Jangan ngomong sembarangan deh. Suatu saat aku juga akan pergi dari sini," ucap Lexi.
"Kalau saat itu tiba, aku juga akan ikut denganmu pulang ke rumahmu dan menemui orang tuamu."
Lexi membelalakkan matanya menatap Ard dengan heran. "Apa maksudmu?" tanya Lexi.
"Aku ingin kau menjadi milikku seutuhnya. Aku akan menemui orang tuamu." Ard berjalan meninggalkan Lexi yang masih mencerna semua ucapan Ard.
Lexi menatap punggung Ard yang meninggalkannya.
Ard sudah sampai di tangga yang akan ia naiki untuk masuk ke dalam rumah pohonnya. "Kau mau di situ saja? Tuh langit udah gelap. Sebentar lagi bakal banyak binatang buas yang berkeliaran."
__ADS_1
Lexi bergidik ngeri membayangkan binatang-binatang buas. Ia berlari kencang menyusul Ard. Tadi saja hanya melihat harimau, ia sudah menangis.
Lexi mengikuti Ard menaiki tangga.
"Wah ini luar biasa." Lexi sudah menginjak dasar lantai rumah pohon Ard. Langsung menampakkan sebuah ruangan dengan sebuah kursi kayu dan sebuah meja kayu, tampak kasur kayu yang sederhana dan beberapa peralatan dapur sederhana, semuanya tampak berada di satu ruangan. Dan ada sebuah balkon kecil yang menghadap ke arah danau. "Kamar mandi di mana?" tanya Lexi.
"Itu di sana!" Ard menunjuk danau yang memerah akibat pantulan cahaya mentari yang akan menenggelamkan diri.
"Danaunya indah sekali!" ucap Lexi kagum.
"Tak ada yang lebih indah dari mata abu-abu dan senyum pemalu ini." Ard menatap lekat wajah Lexi yang masih mengagumi pemandangan di hadapannya.
"Apa maksudmu?" tanya Lexi.
"Ah ti-tidak. Tidak ada apa-apa." Ard tampak gugup.
"Bukan, maksudku itu kau menyuruhku mandi di danau itu?" tanya Lexi.
"Iya." Ard menjawab dengan mimik yang sama bingungnya dengan Lexi.
"Enak saja kau menyuruhku mandi di sana. Kau pasti sengaja kan untuk mengambil kesempatan dalam hal ini?" tanya Lexi mengintimidasi.
"Tidak. Kau ini terlalu berpikir negatif."
Lexi terdiam beberapa saat. "Iya. Aku memang selalu berkata buruk pada seseorang. Itulah alasanku bisa sampai di sini."
"Maksudnya kau sedang kabur dari rumahmu?" tanya Ard.
"Iya." Lexi menundukkan wajahnya malu.
"Tidak apa-apa." Ard mengelus pundak Lexi. Dan Lexi segera menepis tangan Ard. "Maaf," ucap Ard lirih.
"Jangan sentuh aku!" Lexi menatap tajam Ard.
Lexi juga mendudukkan dirinya di tepi ranjang. "Apa kau akan menyuruhku kembali ke rumahku?" tanya Lexi.
"Tidak untuk saat ini." Ard menatap Lexi penuh harap.
"Maksudmu?" tanya Lexi.
Ard duduk menghadap Lexi. "Begini loh. Kau pergi dari rumah pasti ada alasan tertentu, kan? Atau kau pergi untuk mencari alasan atau mencari jawaban dari berbagai pertanyaan, kan? Kalau hatimu saat ini menjawab 'iya', aku tak akan membiarkanmu pulang begitu saja sampai kau menemukan semua yang kau cari. Aku akan temanimu, selalu." Ard memang menyukai Lexi saat pertama sekali ia melihat Lexi, bahkan saat dirinya menjadi seekor harimau. Itu alasan mengapa Ard tidak menyerang Lexi saat itu. Padahal sebelumnya ia selalu menyerang siapa saja yang masuk ke dalam hutan.
"Namaku Lexi." Lexi jujur.
"Jadi, kau bohong?" tanya Ard.
"Ti-tidak. Vasilissa Lexi, itu namaku."
"Va-vasilissa Lexi?" Ard meyakinkan sekali lagi.
"Iya, itu namaku."
"Bagus. Artinya Queen of word, iya kan?" tanya Ard.
Lexi mengangguk. "Tapi, buruk. Aku orang yang buruk di mata orang lain."
"Maksudnya?" Ard meminta penjelasan.
"Apapun yang aku katakan, pasti akan menjadi kenyataan."
__ADS_1
"Wow, kau hebat." Mata Ard berbinar.
"Tidak." Lexi menunduk sedih. "Kau tak tahu betapa buruknya aku."
"Tidak!" bantah Ard. "Kau punya kekuatan yang luar biasa dan kau juga bisa melukis. Itu hebat!"
"Aku selalu berkata buruk, dan itu menjadi kenyataan. Kau bayangkan bagaimana jadinya kalau aku bilang kerajaan ayahku akan hancur? Mereka di sana akan hancur." Lexi meninggikan suaranya.
"Kau baik. Hanya mungkin tak terkendali. Lalu ada masalah apalagi selain itu?" tanya Ard.
"Hanya itu. Kau tahu terakhir sebelum aku kabur? Aku membunuh semua kuda kerajaan hanya karena mereka berisik sewaktu latihan, padahal itu hal wajar, bukan? Tapi, aku terganggu saat akan tidur siang." Lexi menampakkan raut penyesalan.
"Kau menyesal kini, dan itu bagus. Mari kita perbaiki bersama." Ard beranjak dari duduknya dan menuju meja yang berisi peralatan makan dan mengambil dua buah cawan dan mengisinya dengan air. "Minumlah dulu." Ard menyodorkan sebuah cawan kepada Lexi.
Lexi menerimanya. "Terima kasih."
"Kau istirahatlah terlebih dahulu. Aku ingin keluar sebentar." Ard hendak keluar dari rumah.
"Kau mau ke mana?" tanya Lexi.
"Mencari makan. Kau di sini saja." Ard menuruni tangga.
"Aku takut kalau ada binatang buas." Lexi berteriak dari atas.
"Jangan keluar dari rumah ini. Kau tunggu saja aku kembali. Pasti aman." Ard berlari masuk ke dalam hutan.
Lexi merebahkan tubuhnya di kasur yang hanya beralaskan anyaman bambu. Tidak ada kasur yang empuk seperti di kamarnya tapi cukup nyaman.
10 menit kemudian, Ard kembali dengan membawa singkong hutan.
"Lissa!" teriak Ard dari bawah rumah pohonnya.
Tak ada jawaban.
"Lissa!" Ard memanggil sekali lagi.
Masih tak ada jawaban, Ard meniggalkan makanan mereka dan melihat Lexi di atas sana. Ternyata Lexi tertidur. Ard kembali turun dan menyalakan api untuk membakar singkong hutannya agar bisa dimakan.
Lexi terbangun karena indra penciumannya mencium sesuatu yang sepertinya enak untuk dimakan dan juga perutnya sudah keroncongan karena hanya diisi roti gandum yang ia beli di desa Gagas.
Lexi melihat dari atas. "Kau sedang apa?" teriaknya.
"Oh, kau sudah bangun? Sini turun, kita makan dulu."
Lexi segera turun dan menghampiri Ard yang sedang membakar singkong hutan.
"Kau bakar apa?" tanya Lexi.
"Singkong hutan. Ini enak, kau pasti menyukainya." Ard memberikan singkong yang sudah matang.
Lexi menerima dan kembali mencampakkannya. "Aw, panas."
Ard kaget. "Eh sebentar." Ard berlari dan mengambil daun untuk alas makanan agar Lexi tidak kepanasan.
"Terima kasih."
Mereka berdua makan bersama sambil melihat bintang-bintang di langit.
"Besok pagi aku carikan rusa deh. Enak sekali daging rusa di sini."
__ADS_1
"Kau bisa berburu?" tanya Lexi.
"Aku penguasa hutan ini."