
Lexi berjalan santai menengadahkan kepala keluar dari istana dengan tas di punggung. Menatap lurus ke depan tanpa menghiraukan pandangan para prajurit, pelayan atau pengisi istana lainnya. Lexi tetap berjalan dengan angkuhnya. Sampai di depan gerbang, matanya menangkap sosok pangeran berkuda yang akan memasuki istana Ayahnya dengan diikuti beberapa para pengawal kerajaannya. Pangeran itu bernama Seim Xaviloiver dari Kerajaan Hantra.
Seim berhenti tepat di depan gerbang, menatap lekat-lekat gadis yang ada di hadapannya. Berkali-kali manik matanya mencari fokus untuk meyakinkan kalau yang ada di hadapannya kini adalah Lexi.
"Putri Lexi!" pekik Seim. "Ini kau? Kau mau kemana dengan pakaian seperti ini?" tanya Seim dan kemudian turun dari kudanya. Berdiri tepat di depan Lexi. "Kau mau ke mana?" tanya Seim.
"Bukan urusanmu."
Lexi berusaha meninggalkan Seim sesaat sebelum Seim berhasil menangkap tangan kanan Lexi.
"Bisa tidak kau bersikap sedikit ramah kepadaku?" Seim menatap dalam mata Lexi.
Bukan tanpa sebab, Seim memang menyukai Lexi sedari awal pertemuan mereka. Kerajaan Hantra dan Kerajaan Inperch milik Ayah Lexi memang sedari dulu memiliki hubungan yang baik. Orang tua mereka berdua memang berniat menjodohkan anak mereka. Namun, Lexi sepertinya tidak tertarik kepada Seim.
"Pinggirkan kuda dan pengawalmu dari depan gerbang ini. Aku ingin segera pergi!" Lexi memandang tajam kepada Seim dan pengawalnya.
"Kau tidak boleh pergi!" Seim berusaha melerai pujaan hatinya itu.
"Kau siapaku berhak melarangku? Bahkan mereka-" Lexi menunjuk kedua orang tuanya yang memandangnya dari depan istana mereka. "Mereka saja tidak menahanku. Jadi, biarkan aku pergi."
Seim menahan tangan Lexi.
Lexi menghentakkan kasar tangan Seim. "Aku bilang lepaskan."
"Baiklah. Kau boleh pergi sekarang." Seim memberikan jalan untuk Lexi pergi. "Tapi, aku akan ikut denganmu." Seim berjalan di belakang Lexi.
Lexi menghentakkan kasar kakinya ke tanah. "Kau ini menyebalkan sekali." Lexi mendorong tubuh Seim dan berlari masuk ke dalam istana. Menabrak kedua orang tuanya dan berlari menuju kamarnya dengan perasaan kesal.
Lexi menutup pintu kamarnya kasar, meski tidak bisa tertutup sempurna karena rusak. Ia tak peduli dan langsung melemparkan tasnya kasar dan menelungkupkan tubuhnya di kasur. Ia menangis sejadi-jadinya.
Terdengar suara kernyitan pintu yang dibuka perlahan. Anne berjalan menghampiri putrinya. Duduk di pinggir kasur dan mengelus lembut rambut putrinya.
"Lexi," ucap Anne.
Lexi semakin menenggelamkan wajahnya.
"Sayang, kau harusnya bisa lebih mendengarkan nasehat orang lain. Ibu percaya kau adalah anak yang baik hati. Cobalah sedikit berbaur dengan banyak orang. Selama ini karena kau terlalu tertutup." Anne tahu kalau putrinya merasa kesal atas nasehatnya. "Setidaknya kau menahan untuk tidak berkata buruk karena emosimu." Anne beranjak dari duduknya dan akan meninggalkan Lexi.
Anne menghentikan langkahnya sebelum meninggalkan putrinya. "Oh iya, Lexi. Nanti malam kita akan ada acara makan malam bersama Seim dan keluarganya. Ibu harap kau bersiap-siap ya. Pakailah pakaian terbaikmu dan bersikap manislah kepada mereka." Anne menghela napas kasar. "Setidaknya kau menahan setiap omonganmu ya, Sayang. Sekarang kau istirahat terlebih dahulu." Anne meninggalkan Lexi dan menutup pintu kamar putrinya perlahan agar Lexi tidak terganggu.
__ADS_1
***
Lexi mengerjapkan matanya berusaha tersadar dari mimpinya. Melihat kamarnya yang gelap dan hanya tersinari oleh sinar bulan malam itu. Ini sudah malam.
Lexi teringat akan ucapan Ibunya siang tadi yang memberitahukan kalau malam ini akan ada acara makan malam bersama keluarga dari Kerajaan Hantra. Lexi memejamkan kembali matanya karena memang ia tidak menyukai acara seperti ini. Ia lebih suka menghabiskan diri sendirian berada di ruang lukisnya. Lexi memang menyukai seni lukis sedari kecil. Ia sangat jarang berinteraksi dengan penghuni istana lainnya, maka dari itu, ia tidak begitu tahu bagaimana caranya berinteraksi dengan orang lain.
Sesaat sebelum Lexi beranjak dari kasurnya, derap langkah kaki berhenti tepat di depan pintu kamarnya. Anne membuka perlahan pintu kamar Lexi.
"Sayang, kau belum bersiap?" tanya Anne yang melihat putrinya masih memakai pakaian yang tadi siang dikenakannya.
"Aku baru bangun, Ibu." Lexi beranjak dan segera menyiapkan dirinya.
"Bersiaplah segera, Seim dan orang tuanya sudah menunggu di bawah." Anne memperhatikan setiap gerakan putrinya yang menunjukkan ketidak sukaan.
"Baiklah, Bu."
Anne meninggalkan Lexi di kamarnya agar bisa dengan segera bersiap.
***
Lexi berjalan perlahan menuruni setiap anak tangga. Semua mata tertuju padanya, terkhusus Seim. Pandangan mata Seim tak berkedip sekali pun melihat kedatangan Lexi. Betapa cantiknya Lexi malam ini dan Seim juga adalah Pangeran yang tampan. Mereka sebenarnya adalah pasangan yang sangat cocok.
Lexi berjalan perlahan dan disambut oleh Anne. "Silahkan duduk, Sayang."
"Cantik sekali," puji Minne, ibu Seim. Ini memang kali pertamanya ia bertemu dengan Lexi secara langsung. Sebelumnya ia hanya mendengar dari cerita suami dan anaknya yang sudah pernah bertemu langsung.
Lexi tak menjawab atau sekedar berterima kasih. Ia hanya membalas dengan senyum kecil bahkan tanpa melihat wajah Minne yang sedang berbicara dengannya.
Anne memperhatikan setiap sikap putrinya. Ia merasa tidak enak kepada calon besannya ini. Namun, apa yang dapat ia katakan karena sifat Lexi memang seperti ini.
"Putri Lexi tampaknya adalah orang yang pemalu." Mercym mencoba mencairkan suasana.
Perch menahan emosinya karena tingkah laku putrinya. Ia tahu kalau sikap putrinya ini tidak bisa di toleransi. Seharusnya ia bisa bersikap lebih manis dan lembut kepada keluarga Kerajaan Hantra.
"Ayo silahkan dimakan!" Anne mengajak semuanya agar menikmati makanan yang sudah dihidangkan.
Malam ini memang acara makan malam antara kedua keluarga, sangat intim tanpa ada pengawal kerajaan yang seperti biasa mengawasi meski dalam makan sekalipun. Kali ini Anne yang membantu menghidangkan makanan untuk calon besan mereka.
"Bagaimana keadaan Kerajaan Hantra saat ini?" tanya Perch.
__ADS_1
"Sudah membaik setelah musim kemarau yang melanda sampai persediaan air bersih yang sangat minim, sekarang sudah jauh lebih stabil. Terima kasih banyak atas bantuanmu Raja Perch." Mercym merasa berhutang budi kepada Perch.
"Ah itu bukanlah apa-apa." Perch memang baik hati.
"Oh iya, kemarin aku mendengar ada beberapa kudamu yang terserang penyakit aneh?" tanya Mercym.
Perch melirik Lexi sekilas sebelum menjawab pertanyaan dari sahabatnya itu, Mercym.
"Oh itu memang kejadian di luar dugaan dan nalar manusia biasa. Ya sudahlah lupakan saja kejadian itu. Dengan segera kami akan membeli kuda yang baru. Mungkin dalam waktu dekat ini." Perch menatap kosong pada makanan di hadapannya.
"Silahkan dimakan dulu." Anne menyuruh semuanya untuk makan.
Disela-sela menikmati makanan, terjadi perbincangan kecil di antara mereka, hanya Lexi yang terus memilih diam.
"Mohon maaf sebelumnya, bolehkah Seim mengajak Lexi mengobrol di taman?" tanya Seim.
"Oh iya, tentu saja boleh." Anne tersenyum ramah.
"Mari Putri Lexi." Seim menyodorkan tangannya agar Lexi dapat menyambut dan menggandeng tangannya.
Lexi berjalan begitu saja tanpa menghiraukan ajakan Seim. Seim mengerti dan hanya tertawa kecil melihat tingkah Lexi. Seim berlari kecil agar dapat menyeimbangi langkah Lexi.
"Kau tidak suka dengan aku?" tanya Seim begitu sampai di samping Lexi.
"Kau ini terlalu berlebihan. Bersikap biasa sajalah." Lexi menjawab tanpa melihat wajah Seim.
"Aku yang berlebihan atau kau yang terlalu canggung?" Seim bertanya dengan nada menggoda. "Oh iya, lupakan saja itu. Bagaimana dengan lukisanmu? Aku ingin kau melukis diriku agar bisa ku pajang di kamar tidurku."
"Jangan harap. Aku hanya akan melukis pemandangan yang indah." Lexi duduk di salah satu bangku taman.
"Coba kau lihat aku! Dari segi mana pun aku tetap indah, bukan?" Seim berdiri di hadapan Lexi.
"Menyingkirlah dari hadapanku." Lexi tampak tidak menyukai Seim.
Begitulah malam ini berakhir, dengan Seim yang masih belum bisa berhasil merebut hati Lexi.
***
Malam ini Lexi belum bisa memejamkan matanya, padahal ini sudah menunjukkan pukul 2 dini hari. Kali ini ia berdiri di pinggir jendela dan melihat keadaan sekitar istananya dari ketinggian kurang lebih 10 meter ini.
__ADS_1
Lexi memikirkan semua omongan Ibunya dan beberapa kejadian yang terjadi akibatnya.
Lexi segera membereskan pakaiannya kembali dan berniat kabur.