
Setelah berhasil mengangkat daging rusa utuh dari atas bara api yang sedari tadi membakar tubuh rusa ini. Ard mengajak Lexi untuk segera menyantap makanan ini sebelum dingin.
"Tolong ambilkan daun dari pohon itu." Ard menunjuk sebuah pohon besar yang rindang dengan daun yang cukup besar.
Lexi menuruti perintah Ard dan mengambilkan beberapa lembar daun yang besar dan bersih. "Ini daunnya." Lexi menyerahkan beberapa lembar daun kepada Ard.
Ard menerimanya dan mengambilkan sepotong daging kepada Lexi. "Makanlah!"
Lexi menerimanya dan memakannya. "Ini enak sekali! Kau menggunakan bumbu apa untuk memasak daging ini?" tanya Lexi.
Ard masih merobek daging dengan ranting kecil. Terlihat daging merah yang sudah matang dengan asap mengepul ke udara.
"Awas panas!" Lexi tampak khawatir melihat Ard.
"Tenanglah dan nikmati saja makananmu itu. Kalau sudah dingin, daging ini akan keras dan sukar untuk dimakan." Ard berhasil merobek daging rusa itu dan langsung menyantapnya.
Lexi melanjutkan makannya dan menghabiskan sisa daging yang masih ia genggam dengan daun yang tadi diambilnya.
"Besok kau mau daging apalagi?" tanya Ard.
"Daging buaya." Lexi menahan tawanya.
Ard mendelikkan matanya menatap Lexi tak percaya. "Hah?!"
Lexi tertawa melihat ekspresi Ard yang seperti itu. "Tidaklah! Memangnya kau mau mencari buaya di danau situ?" tanya Lexi.
Ard menggeleng sambil mengunyah makanannya. "Kau ambil saja lagi kalau masih lapar."
Lexi mendekati tumpukan daging yang masih tersisa banyak. Ia mengikuti cara Ard menggunakan ranting untuk mengambil potongan daging yang panas itu.
"Enak, kan?" tanya Ard dengan mulut yang masih penuh dengan makanan.
Lexi juga hanya mengangguk sebagai jawaban dari pertanyaan Ard. Mulutnya yang juga sama penuhnya, membuatnya tak bisa menjawab 'iya'.
"Kau ini berasal dari mana?" tanya Ard sambil menatap Lexi yang sepertinya tidak terbiasa makan seperti ini.
"Aku dari Kerajaan Inperch."
"Uhuk!" Ard menghentikan kunyahannya lalu menatap Lexi dari ujung kepala sampai ujung kaki. "Kau dari kerajaan? Maksudnya kau ini putri raja?" tanya Ard meyakinkan.
Lexi mengangguk.
"Jadi benar?" tanya Ard sekali lagi.
__ADS_1
"Iya!" pekik Lexi. "Emangnya aku tidak ada tampang seorang putri raja ya?" tanya Lexi.
"Tidak."
Lexi menaikkan sebelah alisnya menatap tajam Ard.
"Kau lebih cocok menjadi seorang ibu daripada seorang putri." Ard melanjutkan makannya.
"Maksudmu aku ini tua?" Lexi berkacak pinggang di depan Ard.
Ard yang masih terus mengunyah menatap mandongakkan kepala dan menatap Lexi yang berdiri di hadapannya. "Iya kau lebih cocok menjadi ibu dari anak-anakku kelak." Ard mengalihkan pandangan matanya ke arah lain begitu mata Lexi mendelik tak percaya mendengar ucapannya.
"Apa maksudmu?" tanya Lexi.
"Aku mencintaimu." Ard sudah selesai makan dan beranjak dari duduknya menuju danau untuk membersihkan dirinya.
"Apa maksudmu, Ard?" teriak Lexi.
"Apa kau tidak bisa mendengarnya?" Ard balik berteriak.
Mereka tidak sadar kalau suara teriakan mereka itu menggema. Ada seseorang atau sesosok atau seekor yang mendengarkan mereka dan memperhatikan mereka sedari tadi. Entah apa dan siapa dia, tapi sedari tadi pandangannya tajam menatap Ard dan Lexi.
"Kau bisa melukis?" tanya Ard.
"Nanti aku sediakan sesuatu untukmu melukis. Aku ingin melihat lukisanmu." Ard berdiri dan merapikan pakaiannya.
Lexi tampak ragu. "Hm ... tapi ... darimana kau mendapatkan alat untuk melukis?" tanyanya.
"Memangnya kenapa?" tanya Ard.
"Kita berada di hutan. Darimana kau bisa mendapatkan semuanya?" tanya Lexi.
"Kau harus tahu kita berada di mana, tempat yang sangat indah dengan kekayaan alam yang luar biasa. Bersyukurlah kau bisa bertemu denganku di sini karena aku pun merasa beruntung dapat mengenalmu." Ard berjalan menjauhi danau dan diikuti oleh Lexi. "Kau tunggu saja di dalam rumah ya. Ingat! Jangan keluar dari rumah selagi aku pergi." Ard selalu memperingatkan hal ini kepada Lexi.
Lexi mengangguk paham. "Jangan terlalu lama pergi. Aku bosan jika sendirian di dalam rumah saja."
"Tidak akan lama." Ard melambaikan tangannya kepada Lexi. "Aku pergi dulu ya." Ard langsung berlari ke dalam hutan. Lalu sesaat berhenti dan membalikkan badan. "Jangan turun atau keluar dari dalam rumah itu," teriak Ard.
Begitu sampai di dalam hutan, Ard merubah wujudnya menjadi seekor harimau. Ia berkeliling mencari pohon yang sudah tua dan memiliki kulit kering agar bisa digunakan oleh Lexi menjadi pengganti kanvas dan kemudian ia mencari beberapa bunga berwarna yang indah agar dapat digunakan sebagai pewarna dengan cara melarutkannya ke dalam air danau. Namun, langkah Ard terhenti begitu ada seekor harimau juga yang menghadang jalannya. Harimau itu menatap tajam mata Ard. Ard menggeram agar harimau itu pergi. Bukannya pergi, harimau itu berlari menyerang Ard.
Ard selalu menyiapkan dirinya untuk siaga terhadap situasi apapun karena ia sadar ia berada tinggal di hutan yang liar. Ard dapat menghindar dari serangan harimau itu. Setelahnya pertarungan hebat terjadi di antara mereka. Dilihat dari serangan dan pertahanan keduanya, mereka seimbang.
Mereka saling menjauh dan menatap satu sama lain dengan tatapan penuh kebencian. Ard bahkan sampai saat ini tidak mengetahui siapa harimau yang tiba-tiba menyerang dirinya ini.
__ADS_1
Harimau di hadapan Ard seketika berubah menjadi manusia dengan masih merangkak lalu lelaki itu berdiri menatap Ard. Ard baru tahu kalau ternyata yang menyerangnya adalah manusia harimau. Ard juga merubah dirinya menjadi manusia.
"Kau siapa?" tanya Ard tanpa memalingkan sedikitpun wajahnya dari lelaki di hadapannya.
Lelaki itu tersenyum licik menatap rendah pada Ard lalu tertawa terbahak-bahak.
"Kau siapa?" tanya Ard sekali lagi.
"Kau melupakanku?" Lelaki itu tertawa kembali sambil memegangi perutnya.
"Kau siapa?" Ard menatap tajam lelaki itu.
"Ard Schuzeberg adalah seorang anak berusia 5 tahun yang diusir oleh orang tuanya sendiri-" Lelaki itu berjalan mengelilingi Ard dengan tatapan tajam dan senyum liciknya. "Anak kecil yang membahayakan karena ternyata dia adalah seorang manusia harimau. Jangankan warga desa bahkan orang tuanya sendiri yang mengusirnya." Lelaki itu tertawa.
Ard menggeram menatap tajam lelaki itu. "Siapa kau sebenarnya?" tanya Ard dengan nada seakan-akan ingin membunuh.
"Kau baru 20 tahun di dalam hutan ini dan kau sudah melupakan aku? Kau ini payah sekali melupakan sahabatmu sendiri." Lelaki itu tertawa.
"Sahabat?" tanya Ard.
"Kau lupa dengan anak kecil sebayamu dulu yang bernama Ash Ghuzberg?" tanya lelaki itu.
Ard menerawang mencoba mengingat sebuah nama yang tidak terasa asing baginya sampai memori Ard berhenti pada kejadian 20 tahun silam.
***
Seorang anak laki-laki berlari mengejar Ard yang sudah berada di pintu masuk hutan. Ash berlari mengejar Ard berharap sahabatnya itu tidak pergi meninggalkannya. Selama ini Ash selalu bermain bersama Ard.
Seorang lelaki paruh baya mengejar Ash dan berusaha menahan Ash agar tidak mengejar Ard. Sampai lelaki itu memukul keras Ash karena terus berontak. Ard yang tidak terima dengan perlakuan Ayah Ash yang memukul sahabatnya itu langsung berlari dan berubah menjadi harimau lalu menyerang Ayah Ash berusaha melindungi Ash, namun sayang serangannya dihalang oleh Ash yang tidak mau Ard melukai siapa pun. Ard tidak bisa menahan sampai serangannya mengenai Ash dan melukai Ash. Warga *desa langsung berusaha menyelamatkan Ash dengan melemparkan barang-barang yang mereka pegang mulai dari pacul, caping sampai beberapa peralatan dapur.
Ard berlari kencang masuk ke dalam hutan. Sejak saat itu ia tidak pernah keluar dari dalam hutan sekalipun. Ia habiskan hidupnya 20 tahun di dalam hutan tanpa siapapun*.
***
Ard menatap Ash dari ujung rambut sampai ujung kepala. "Kau benar Ash? Bagaimana kau bisa juga menjadi manusia harimau?" tanya Ard.
"Karena seranganmu waktu melukai tanganku." Ash menaikkan lengan bajunya yang menampakkan sebuah bekas luka gigitan. "Taringmu saat itu menancap dalam sampai ke tulangku. Dan sejak saat itu aku suka tiba-tiba berubah menjadi harimau di malam hari, untung saja tidak ada yang mengetahuinya. Bisa saja aku diusir sepertimu." Ash berjalan mendekat ke arah Ard.
Ard memundurkan langkahnya agar tetap ada jarak di antara keduanya. "Lalu, apa tujuanmu datang kemari?" tanya Ard.
"Aku ingin mencarimu."
"Aaaaaa ...." Sebuah teriakan menghentikan obrolan mereka.
__ADS_1
"Lissa," pekik Ard. Ard berlari menghampiri sumber teriakan itu. Ash juga ikut berlari di belakang Ard.