Black Word

Black Word
Masuk Hutan


__ADS_3

Pagi harinya Anne ingin memanggil Lexi di kamarnya. Bukan tanpa alasan Anne membangunkan Lexi sepagi ini. Berhubung hari ini ada diadakan perayaan ulang tahun suaminya, dirinya dan Lexi harus segera bersiap-siap. Namun sayang, Anne tak dapat menemui sosok Lexi di kamarnya.


"Apakah Lexi sudah bangun lebih awal," batin Anne. Ia berjalan ke luar kamar. "Mungkin Lexi berada di galeri lukisan." Anne tahu kalau putrinya pasti berada di sana. Itu adalah tempat kesukaan Lexi selain kamar.


Sesampainya di depan galeri lukisan, Anne membuka perlahan pintu dan ... kosong! Tidak ada siapapun di dalam sana kecuali lukisan-lukisan karya Lexi yang terpajang dengan rapi dan sebuah kanvas yang masih kosong yang belum sempat dilukis oleh Lexi.


Anne panik dan menyuruh seluruh penghuni istana untuk mencari keberadaan Lexi.


***


Di Kerajaan Inperch sedang panik karena kehilangan putri mereka, berita ini sampai terdengar di telinga Seim. Seim langsung dengan sigap membantu pencarian dan pastinya ditemani oleh para pengawalnya.


Sedangkan mereka sibuk mencari Lexi, Lexi justru merasa bebas. Ia berada di perkampungan yang jauh dari kerajaan ayahnya. Karena tidak ada yang mengenalinya. Mereka menganggap kalau Lexi adalah seorang pendatang baru yang sedang berkelana. Lexi juga tidak banyak bicara pada setiap orang yang ia temui. Ia hanya melemparkan senyuman kepada mereka. Kini Lexi berada di pasar tradisional. Ia melihat beberapa barang dagangan yang dijajahkan.


Dari bahasa yang mereka pakai, Lexi dapat mengetahui kalau ia berada di salah satu desa terpencil di pinggiran barat Yunani. Ini sudah lumayan jauh dari Kerajaan Inperch. Pantas saja tak ada yang mengenalinya.


Lexi melihat seorang penjual roti yang terbuat dari tepung gandum. Ia lapar, ia membeli 2 potong roti untuk bisa segera disantapnya.


Setelah membelinya, Lexi menuju pinggiran pasar untuk memakan rotinya. Tak berapa lama, ada seorang pemuda yang berjalan mendekatinya.


"Kau ini pendatang ya?" tanya pemuda itu.


"Iya," jawab Lexi datar dan terus mengunyah makanannya.


Pemuda itu menyodorkan secawan air minum kepada Lexi. "Ini untuk minummu."


Lexi membuang muka dari pemuda itu.


"Yasudah kalau tidak mau. Minum air danau saja kalau nanti tersedak." Pemuda itu berbalik badan dan meninggalkan Lexi.


Uhuk!!


Lexi tersedak. Ia berdiri dan menghampiri pemuda tadi lalu merebut cawan berisi air minum. Menenggaknya sampai habis dan memberikan lagi cawan kosong tersebut kepada pemuda tadi.


Lexi berbalik badan ingin meninggalkan pemuda itu tanpa ucapan terima kasih karena telah meminum airnya.


Pemuda itu menahan tangan Lexi. "Kau ini manusia dari belahan bumi mana sih? Kau bisa bicara? Apa kau tidak mengerti bahasaku?" tanya pemuda itu.


Lexi menatap tajam pemuda itu dan dibalas dengan pemuda itu melepaskan genggamannya pada tangan Lexi.


"Maaf," ucap pemuda itu.

__ADS_1


Lexi meninggalkan pemuda itu dan berjalan ke arah luar desa. Ia ingin melanjutkan perjalanannya yang entah akan kemana kakinya melangkah. Ia hanya mengikuti arah mata angin yang akan membawa kakinya melangkah.


Lexi tidak sadar ia telah sampai di pinggir hutan. Kakinya ingin masuk ke dalam tapi hatinya takut. Lexi ragu di pinggir hutan.


Langkah kaki Lexi berjalan perlahan, meski tampak ragu, ia sudah melewati pintu masuk ke dalam hutan. Masih dengan perasaan was-was akan sesuatu yang buruk terjadi.


"Hei ... hei tunggu. Kau mau apa masuk ke dalam hutan?" teriak seseorang dari luar pintu masuk ke hutan.


"Siapa sih dia?" Lexi berjalan kembali ke arah pintu masuk hutan. "Ada apa?" tanya Lexi kepada seorang pemuda yang tadi menawarkan minuman kepadanya.


"Kau mau apa masuk ke dalam hutan? Kau tidak baca kalau ini adalah kawasan hutan terlarang?" Pemuda itu menunjuk sebuah papan dengan tulisan 'Dilarang masuk!'


"Aku tidak membacanya tadi. Aku rasa hutan ini baik-baik saja." Lexi tak menghiraukan peringatan dari pemuda itu. "Kau sengaja mengikuti aku ya?" tanya Lexi mengintimidasi.


"Iya, aku memang sengaja mengikutimu. Perkenalkan namaku Gagas. Aku minta maaf sebelumnya karena lancang mengikutimu. Aku pikir kau ini bukan orang sini atau bahkan dari desa sebelah. Aku rasa kau berasal dari tempat yang jauh dari sini." Gagas tampak khawatir pada Lexi. "Darimanakah kau berasal?" tanya Gagas.


"Kau benar. Aku berasal dari tempat yang jauh. Sekarang kau kembali saja, aku akan masuk ke dalam." Lexi berbalik badan meninggalkan Gagas.


"Jangan! Di dalam itu sangat bahaya. Kau harus kembali ke desa saja denganku." Gagas bersikeras membujuk Lexi. "Oh iya, aku belum tahu namamu."


"Namaku Lissa." Lexi berbohong.


"Oh hai, Lissa. Kau mau apa masuk ke dalam hutan itu?" tanya Gagas.


"Lissa!" Gagas berusaha berteriak agar Lexi mau mendengarkannya.


***


Lexi bersandar di pohon besar. Ia lelah, bahkan tidak tahu sudah sejauh apa ia memasuki hutan ini. Langit mulai menggelap. Lexi mulai takut kalau saja malam hari tiba pasti akan sangat gelap keadaan di dalam hutan.


Cuaca yang semakin gelap dan udaranya semakin dingin membuat tubuh Lexi sedikit bergetar ditambah lagi ia mendengar seperti ada suara langkah kaki yang berjalan menginjak daun kering atau ranting. Lexi takut kalau itu adalah hewan buas. Lexi meringkuk disela-sela akar pohon besar yang sedari tadi ia pakai untuk beristirahat.


Lexi mendengar seperti suara harimau yang mengaum. Badan Lexi semakin bergetar ketakutan. Ia meringkuk dan memeluk lututnya. Dari sudut matanya ia melihat seoker harimau yang berjalan ke arahnya.


Harimau itu berhenti begitu melihat keberadaan Lexi. Harimau itu mengaum karena takut kalau Lexi adalah orang jahat yang akan membunuhnya. Lexi menangis ketakutan dan membenamkan wajahnya pada lipatan tangan di atas lututnya.


Harimau itu berhenti mengaum dan pergi dari hadapan Lexi, lebih tepatnya harimau itu bersembunyi di balik pohon besar yang ada di hadapan Lexi.


Lexi mendongakkan kepalanya begitu ia tak mendengar ada tanda-tanda harimau di dekatnya. Masih dengan terisak-isak, Lexi menoleh ke kanan dan kiri memastikan tidak ada lagi harimau atau binatang buas lainnya.


Seorang lelaki keluar dari balik pohon besar di hadapan Lexi. Lelaki itu menatap Lexi tanpa berkedip.

__ADS_1


"Ka-kau siapa?" tanya Lexi dengan nada bergetar.


"Ard."


"Ka-kau darimana?" tanya Lexi lagi.


Ard menunjuk pohon besar tempatnya tadi.


"Maksudnya?" tanya Lexi.


"Kau siapa? Dan mengapa kau bisa masuk ke dalam hutan ini?" tanya Ard.


"A-aku tersesat." Lexi menunduk tak berani menatap mata Ard yang berwarna biru itu.


"Siapa namamu?" tanya Ard.


"Lissa." Lexi kembali berbohong.


"Kepanjangannya apa?" tanya Ard.


"Lissa saja." Lexi kembali berbohong. Ia takut kalau ia menyebutkan nama aslinya, Ard bisa tahu siapa dirinya sebenarnya.


"Aku tambahin ya, Vasilissa-" Ard menebak sebuah nama yang menurutnya bagus.


Lexi terbelalak begitu mendengar sebuah nama yang diucapkan oleh Ard. Entah Ard ini tahu atau ia hanya menebak.


"Kenapa?" tanya Ard. "Vasilissa setahuku artinya adalah queen, bukan?" tanya Ard meyakinkan. "Aku hanya menebak saja. Jadi, menurutku itu sangat pantas untukmu. Kau cantik seperti seorang putri, mata abu-abu yang membuatku tak bisa berpaling." Ard menatap dalam manik mata Lexi. "Dari mana kau berasal?" tanya Ard.


"Aku berasal dari tempat yang jauh. Aku sudah berjalan selama seminggu." Lexi kembali berbohong.


"Apa tujuan perjalananmu ini?" tanya Ard. "Kalau aku boleh, izinkan aku ikut bersamamu. Aku tak akan mungkin membiarkan wanita secantik putri ini berkelana seorang diri." Ard melayangkan rayuannya.


"Aku hanya ingin menjelajahi dunia. Mencari arti hidup yang sudah diberikan Tuhan." Lexi menemukan titik kenyamanan saat berbicara kepada Ard.


"Kenapa kau bisa masuk ke dalam hutan ini? Bukankah di depan pintu masuk yang terhalang kayu itu ada tulisan 'Dilarang masuk'?" tanya Ard.


"Aku tersesat dan aku tidak melihat ada tulisan itu." Lexi terus berbohong, padahal sebelumnya Gagas sudah melarangnya.


Ard berjalan mendekati Lexi, berhenti tepat saat jarak di antara mereka tinggal selangkah. Ard mendekatkan tangannya ke wajah Lexi dan menghapus sisa air mata yang membasahi pipinya. "Jangan bersedih!"


Jantung Lexi berdegup lebih dua kali lebih cepat dari biasanya. "A-aku takut a-ada ha-harimau tadi."

__ADS_1


Ard tersentak dan mundur selangkah dari tempat asalnya berdiri. "Itu aku," batin Ard.


__ADS_2