
Kerajaan Inperch kini telah dirundung duka, pasalnya Sang Raja mereka sedang mengalami sakit parah. Penyakit yang dialami Sang Raja terkesan aneh dikarenakan seluruh organnya berfungsi dengan normal dan hanya saja seluruh tubuhnya tidak bisa digerakkam termasuk mulutnya yang hanya sekedar untuk berbicara. Sudah seminggu keadaan seperti ini dialaminya dan selama itu pula beliau hanya berbicara lewat bahasa kedipan mata.
Anne akan keluar kamar untuk mengambilkan makanan. Selama Raja sakit, Anne yang selalu menyediakan segala keperluan Raja sendiri. Ia tidak mengizinkan pelayan mana pun untuk mendekati kamar mereka. Dengan begitu, ia yang harus ke dapur mengambil makanan dan terkadang malah memasaknya sendiri.
Sesaat sebelum Anne sampai di depan pintu dapur, Assiq menghampirinya. Assiq adalah kepala pengawal kerajaan yang sedang berusaha mendekati Anne sejak Raja Perch sakit. Dari hari ke hari, Assiq semakin terang-terangan menunjukkan sikapnya di depan penghuni kerajaan yang lain seperti sekarang ini. Banyak pasang mata dari dalam dapur memperhatikan tindakannya.
"Selamat pagi, Ratu Anne." Assiq tersenyum seramah mungkin.
"Pagi," balas Anne.
Assiq mendekatkan dirinya kepada Anne. "Kau tampak lebih cantik pagi ini."
Anne mundur selangkah menjauhi Assiq. "Maaf, saya harus menyiapkan makanan."
"Mengapa tidak menyuruh pelayan kita saja untuk menyiapkan semuanya dan kau bisa lebih bersantai sekarang." Assiq berusaha menahan tangan Anne. "Anne, aku sedang berusaha mendekatimu sekarang."
Anne menatap tajam Assiq. "Jangan bersikap seperti ini. Kembalilah kau bekerja." Anne meninggalkan Assiq di depan pintu dapur dan ia pun menyiapkan makanan yang memang sudah dimasak oleh pelayan.
Assiq menahan tangan Anne. "Ayolah, Anne! Suamimu itu sudah tidak berdaya. Apa masih pantas ia disebut sebagai Raja dengan keadaannya seperti sekarang ini."
Plak!!!
Anne menampar pipi kiri Assiq. "Jangan berkata kurang ajar kau ya." Anne meninggalkan Assiq di depan pintu dapur lalu ia masuk ke dalam dapur.
Banyak pasang mata yang melihat kejadian tersebut. Namun, dari mereka hanya berani menatap tanpa mengatakan apapun. Mereka hanya saling berbisik-bisik kepada teman di sebelah hanya sekedar menanyakan apa perihal yang terjadi tanpa ada yang bertanya langsung kepada Anne dan Assiq.
Assiq tersenyum sinis menatap punggung Anne. "Tunggu saja waktunya Anne. Kau dan kerajaan ini akan menjadi milikku seutuhnya." Assiq meninggalkan ruangan tersebut dan kembali ke tempat prajurit yang sedang berlatih.
Assiq menendang sebuah kursi kecil yang biasa digunakan untuk para prajurit berlatih. Kursi itu hancur begitu berbenturan dengan tembok. "Kurang ajar!" gerutunya pada dirinya sendiri.
Para prajurit hanya menatapnya heran tanpa berani bertanya ada apa sebenarnya.
__ADS_1
"Lanjutkan latihan kalian." Assiq menghardik para prajurit yang menatapnya dengan heran dan seketika itu pula prajurit kembali kepada latihan mereka.
\\*
Anne sudah membawakan makanan untuk Raja Perch. Seperti biasa, bubur dan beberapa minuman yang berisi rempah-rempah yang dipercaya dapat menjaga kesehatan dan bisa memulihkan kembali keadaan Raja Perch.
Perlahan Anne menyuapi Raja Perch dengan telaten dan penuh kesabaran. Ia memang sangat mencintai Raja Perch meski keadaan Raja Perch sedang sulit seperti ini. Kerajaan Inperch juga dalam keadaan sulit dikarenakan kemarau panjang yang membuat sulitnya untuk mendapatkan air bersih serta tanaman yang ditanam oleh petani tidak tumbuh subur.
Tiba-tiba saja, jari telunjuk Raja Perch bergerak-gerak. Anne yang menyadari itu sempat terkejut dan juga senang sampai ia tidak dapat berkata banyak. Ia meletakkan piring makanan pada meja nakas di sebelah ranjang Raja Perch.
"Suamiku, kau sudah sadar?" tanya Anne lirih dengan mata berbinar.
Raja Perch masih tak merespon ucapan Istrinya. Namun, tangannya sudah tak lagi bergerak. Ia hanya mengedipkan perlahan matanya beberapa kali lalu terpejam.
Anne mengelus lembut kening Raja Perch. "Cepatlah pulih, Raja. Aku dan Kerajaan ini membutuhkanmu. Aku harus bagaimana menghadapi Assiq, semakin hari ia semakin kurang ajar sikapnya terhadapku." Matanya berbinar menatap suaminya.
"Aku harus bagaimana lagi agar kau bisa sembuh, Raja." Anne terisak tak kuasa menahan tangisnya. "Aku juga tidak tahu penyakit jenis apa yang sedang menimpahmu." Anne menutup wajahnya berusaha menyembunyikan kesedihannya. "Tuhan, bantulah aku atas musibah yang menimpah ini dan berikanlah kesembuhan kepada suamiku." Anne memohon dengan sangat.
Air mata Perch jatuh lagi. Tak banyak, tapi pasti bahwa Raja Perch sedang menangis. Ia bisa merasakan betapa pilu yang dirasakan oleh Anne dan ia juga merindukan putri semata wayangnya. Lexi, sudah hampir dua minggu tak kembali serta tiada kabar baik yang bisa dijadikan harapan bahwa Lexi masih hidup.
Saat seperti ini jugalah, Anne merindukan Lexi. Ia tak tahu harus berusaha seperti apalagi agar putrinya dapat ditemukan. Seluruh berita telah diusahakan untuk sampai keseluruh penjuru negeri dan hasilnya masih nihil. Ditambah lagi keadaan sang suami yang seperti ini. Ia merasa bahwa ini adalah kutukan. Entah kutukan dari siapa yang menyebabkan keadaan keluarganya menjadi seperti ini.
Tok ... tok ... tok ...
Suara pintu kamar kerajaan terketuk. "Ibunda Ratu!" Seseorang memanggil penghuni kamar tersebut.
Anne segera menghapus air matanya. "Iya sebentar." Ia berjalan menuju pintu besar setinggi dua meter setengah itu. Sekali lagi mengusap wajahnya berusaha menghilangkan sedih yang ia rasakan. Lalu, membuka pintu dan tampak penasehat kerajaan. "Eh, kau ya Frenz," ucapnya.
__ADS_1
Frenz tampak gugup. "Maaf, Ibunda Ratu."
"Ada apa?" tanya Anne.
"Ini ... eum ... itu ...," jawab Frenz ragu.
"Katakan ada apa, Frenz?" tanya Anne sekali lagi.
"Assiq sedang marah-marah tidak jelas." Frenz menunduk ketakutan. "Dia memarahi seluruh prajurit dan membanting hampir semua peralatan untuk latihan."
"Ada masalah apa?" tanya Anne. Anne menghela napas kasar sebab itu masalah Assiq. Ia sudah sangat jengah terhadap sikap Assiq.
"Ti-tidak tahu, Ibunda Ratu." Frenz ketakutan.
"Saya bingung harus bagaimana sekarang, Frenz. Kau tahu keadaan Raja Perch saat ini seperti apa. Lalu, bagaimana kita harus menyelesaikan segala masalah ini." Anne tampak frustasi. "Kau selaku penasehat kerajaan, menurutmu apa yang harus kita lakukan?" tanya Anne.
"Sebelumnya saya minta maaf kepada Ibunda Ratu. Ada yang ingin saya tanyakan," ucap Frenz.
"Tanyakan saja, Frenz!" titah Anne.
"Ada masalah apa sebenarnya antara Ibunda Ratu dan Assiq?" tanya Frenz.
Anne tampak bingung.
"Mohon maaf sebelumnya jika pertanyaan saya ini lancang." Frenz menunduk malu.
"Ah, ti-tidak." Anne menarik napas dalam lalu membuangnya perlahan. "Masalah itu juga sebenarnya saya bingung harus bagaimana memceritakannya." Anne berusaha menenangkan dirinya sebelum menceritakan semuanya. "Assiq berusaha mendekati saya selama Raja sakit dan itu jujur membuat saya risih. Saya sudah berusaha menghindarinya sebisa mungkin." Anne mengingat beberapa kejadian yang dilakukan Assiq tempo hari. "Awalnya ia berusaha mendekati saya diam-diam. Tapi, akhir-akhir ini ia semakin berani menunjukkan sikapnya sampai tadi ia menghampiri saya di dapur dan dengan lancangnya ia memegang tangan saya dan berkata kalau Raja sudah tidak bisa diandalkan. Saya tidak sengaja menampar pipinya setelah ia berkata seperti itu." Anne terlihat malu. "Saya harus bagaimana?" tanya Anne.
Frenz menghela napas perlahan. "Bagaimana kalau kita usir Assiq dari kerajaan?" Frenz balik bertanya kepada Anne.
Anne membelalakkan matanya tak percaya dengan saran yang dikatakan oleh Frenz. Sepengetahuannya, Frenz adalah penasehat yang sangat hati-hati dalam mengambil keputusan bahkan hanya sekedar memberi saran pun pasti ia lakukan dengan memikirkan berbagai aspek terlebih dahulu. "Kau yakin?" tanya Anne.
__ADS_1
"Saya yakin jikalau Ibunda Ratu mengizinkan. Sebab keadaan Raja masih tidak memungkinkan untuk mengurus kerajaan. Jadi, sepenuhnya keputusan ada di tangan Ibunda Ratu." Frenz berusaha menjelaskan apa yang sedang ia pikirkan beberapa hari terakhir ini melihat keadaan Kerajaan yang membutuhkan seorang pemimpin.
Anne hanya mengangguk mendengarkan penjelasan Frenz.