Black Word

Black Word
Rahasia Ard Terbongkar?


__ADS_3

Pagi ini Lexi sudah siap untuk berkeliling hutan sesuai janji Ard tadi malam. Ia duduk di batu besar dekat danau sembari menunggu Ard dan Ash. Sesekali ia melemparkan batu kecil disekitarnya ke arah danau. Air pada danau itu meriak dan percikannya mengenai kaki Lexi.


"Sudah terik begini juga masih dingin airnya," gumam Lexi sambil mengusap punggung kakinya yang basah sedikit.


Ard dan Ash berjalan santai menuju Lexi di tepi danau dengan sesekali mengobrol. Sejak kedatangan Ash, Ard sedikit lebih tenang sikapnya dari sebelumnya. Sesekali juga ia menggoda Lexi dengan candaannya dan itu berhasil membuat Lexi tersipu, sedangkan Ash sudah pasti merasa iri.


"Lexi, ayo kita pergi!" ajak Ard kepada Lexi.


Lexi beranjak dari duduknya dengan wajah yang sengaja dibuatnya manyun seperti sedang merajuk. "Kenapa kalian lama sekali?" tanyanya.


"Iya kan karena kau yang lebih dulu bersiap. Sudah pasti kami selesainya setelah kau," jawab Ash.


Lexi mengabaikan jawaban Ash. "Ayo, Ard!" Ajakan Lexi hanya kepada Ard.


"Ayo, Lexi, Ash." Ard menyuruh Lexi berjalan di depan sedangkan Ard berjalan setelah Lexi dan Ash berjalan di paling belakang.


Lexi yang sadar kalau dirinya berjalan paling depan pun sengaja menunggu Ard agar dapat berjalan bersama. "Ard, kalau kita berjalan ke depan sana akan ada apa di depan sana?" tanyanya kemudian.


"Pohon." Ard menahan tawanya.


"Selain pohon," ucap Lexi kesal.


Ard tertawa. "Lexi, kita berada di hutan. Dan seluruhnya dari hutan ini adalah pohon."


"Kalau begitu kenapa kita harus berkeliling hutan kalau hanya akan menemui pohon saja. Disekitar kita aja sudah banyak sekali pohon." Lexi berputar melihat sekelilingnya yang memang penuh dengan pohon.


"Banyak macam pohon di hutan ini. Tidak semuanya sama seperti yang ada disini. Cobalah untuk melihatnya terlebih dahulu dan aku akan membawamu pada sebuah pohon besar yang pendek." Ard menarik tangan Lexi agar segera mengikutinya.


Lexi dan Ard berjalan di depan dengan saling bergandeng tangan, sedangkan Ash hanya mengikuti mereka di belakang tanpa mengatakan apapun dikarenakan Lexi memang akan selalu mengabaikannya.


"Kau tahu tidak kalau disini ada pohon yang sangat besar tetapi ia memiliki panjang yang tidak tinggi. Kau pasti akan takjub melihatnya, terlebih pohon tersebut memiliki daun yang sangat indah." Ard sangat antusias ingin menunjukkan pohon tersebut kepada Lexi.


Mereka bertiga berjalan beriringan dengan Ash yang selalu berada di belakang Ard dan Lexi. Ash menyukai Lexi sejak pertama kali melihatnya, begitu juga dengan Ard yang menyukai Lexi saat pertama kali ia melihat Lexi tersesat. Sejak saat itu, Ard berjanji akan menjaga Lexi selama Lexi bersama dengannya.

__ADS_1


Lexi mengetahui hal tersebut, yang mana kalau Ard memang menaruh hati kepadanya dan hanya saja ia juga tidak tahu harus bagaimana.


"Lexi, sedikit lagi kita akan sampai ke tempatnya." Ard terlihat sangat antusias.


Tanpa sadar mereka sudah berjalan sejauh ini. Suasananya memang lumayan gelap dari sebelumnya karena memang lebih banyak pohon rimbun yang terjulang tinggi.


"Itu dia pohonnya!" pekik Ard dengan riang.


Mata Lexi berbinar menatap ke arah depan. "Benar, pohonnya indah sekali." Lexi berjalan beberapa langkah lagi ke depan. "Apakah pohon ini bisa dipanjat? Sepertinya bisa dengan mudah dipanjat dan langsung sampai di atasnya."


Ard tertawa melihat tingkah lucu Lexi. "Tentu saja bisa. Nanti kalau hari sudah gelap, akan ku ajak kau naik ke atasnya agar dapat melihat bintang."


Lexi menatap takjub pohon tersebut. "Kau benar, Ard?" tanyanya dengan sangat antusias.


Ard mengangguk yakin. "Aku sudah pernah melakukannya sebelumnya. Dan kau tahu tidak?" tanya Ard.


"Apa ... apa?" Lexi sangatlah antusias.


"Akan ada kunang-kunang yang akan muncul dari bawah dedaunan bila malam hari tiba." Tangan Ard memeragakan bagaimana kunang-kunang yang berkelip-kelip.


"Ard," panggil Ash.


"Iya, Ash. Ada apa?" tanya Ard.


"Bukankah ini namanya pohon Incalyptus?" tanya Ash kepada Ard.


"Aku tidak tahu apa nama pohon ini." Ard menatap Ash dengan tatapan datar. "Sejak kecil aku tinggal disini tanpa ada seorang guru yang mengajarkanku. Aku belajar semuanya dari alam sekitar dan beberapa para pemburu yang berusaha untuk memburuh beberapa hewan langka disini." Ard seperti menerawang jauh ke depan tetapi ia mengingat sebuah kejadian di masa lalu. "Pernah waktu itu ada 3 orang pemburu dengan senjata yang entah apa namanya itu dan begitu pemburu itu membidik seekor singa lalu singa tersebut langsung tersungkur lemah di tanah dengan perut berdarah." Ard bergidik ngeri. "Mereka itu sangat kejam."


"Manusia?" tanya Lexi.


"Iya, manusia yang memburu singa tersebut." Ard menjawabnya dengan hati yang sebenarnya terasa sesak membayangkannya. Wajar saja kalau ia memiliki rasa peduli yang lebih dikarenakan sejak dahulu terbiasa dengan keadaan di dalam hutan dengan binatang-binatang.


"Lalu, apa kau tidak melarangnya?" tanya Lexi.

__ADS_1


"Aku tidak memiliki senjata seperti mereka. Kalau aku ditembak bisa mati seperti singa tersebut." Ard menunduk sedih. "Ternyata aku tidak berguna sama sekali." Ard malu.


Ash berdeham. "Ard, aku mendengar rumor bahwa ada seekor harimau yang menjaga hutan ini. Apakah itu benar?" tanya Ash.


Ard terbelalak menatap Ash. "Apa maksud dari pernyataannya barusan." Ard membatin. "Darimana kau mendengar berita seperti itu?" tanya Ard dengan nada datar.


"Pernah ada seorang pemburu yang ia terlambat masuk ke dalam hutan dan ketika ia ingin menyusul temannya ke dalam hutan ternyata ia melihat temannya sedang digigit seekor harimau sampai kedua temannya mati." Ash melirik sekilas kepada Ard. Tampak wajah Ard yang panik. "Kalian tahu tidak? Ada yang lebih mengejutkan lagi." Ash melihat wajah panik dari Ard dan wajah antusias dari Lexi.


"Apa itu, Ash?" tanya Lexi pertama sekali kepada Ash.


"Ternyata begitu ia melihat harimau habis memakan temannya, harimau tersebut berubah menjadi manusia." Ash tersenyum kecut melihat wajah pucat pasi dari Ard.


Lexi tampak tak percaya. "Benarkah? Maksudmu itu adalah manusia harimau?" tanyanya meyakinkan.


Ash mengangguk yakin. "Pemburu tersebut yang menceritakannya. Untung saja waktu itu ia bersembunyi sampai manusia harimau tersebut meninggalkan tempat itu dan ia kembali ke desa dengan selamat."


Lexi menatap Ard. "Ard, apakah benar ada manusia harimau disini?" tanyanya kepada Ard.


Ard mengangkat kedua bahunya. "A-aku tidak tahu kalau itu."


"Bukannya kau bilang kalau kaulah satu-satunya manusia yang ada di hutan ini?" Lexi menatap Ard meminta penjelasan.


"Kalau itu aku tidak tahu, Lexi. Hutan ini sangatlah luas, mungkin aku belum benar-benar menelusuri hutan ini. Mungkin ada manusia lain yang tinggal disini." Ard mencoba menutupi siapa dirinya.


Ash tersenyum kecut menatap wajah Ard. Ard membalas tatapan menyudutkannya itu dengan tatapan tajam.


Lexi menatap Ash dan Ard secara bergantian. "Kalian berdua kenapa?" tanyanya.


Ard dan Ash menatap Lexi bersamaan. Ash berdeham sekali lagi. "Benar kata Ard. Barangkali ada orang lain yang memang tinggal di hutan ini selain Ard."


"Iya juga ya. Aku jadi penasaran apakah manusia harimau itu benar ada. Kalau memang ada, bisa jadi hidup kita terancam berada disini." Lexi tampak cemas. "Tapi, kitakan tidak ingin memburu. Ah, aku jadi ingin bertemu dengannya dan kali saja bisa menjadi temannya."


"Bisa saja manusia harimau itu berbahaya," ucap Ash.

__ADS_1


Lexi terbelalak. "Kau benar, Ash. Bagaimana juga tetap ia buas."


Ard terbatuk.


__ADS_2