
Suamiku Berondong SMK
"Elin gak ada di kamarnya Pah," seorang wanita paruh baya berteriak keras membuat beberapa orang dilantai dua dalam sebuah rumah mewah seketika menoleh bersamaan.
"Mamah bicara apa? Dimana Elin?" Laki-laki berkisaran empat puluh lima tahunan menghampiri sang istri yang ternyata sudah menangis disana.
"Elin Pah, Elin, Elin kabur," suara Karina terdengar parau bercampur tangisnya semakin deras.
Ekor mata Harto menangkap sebuah kertas putih berisi beberapa kalimat disana. Reflek kedua bola mata Harto membulat sempurna setelah membaca isi pesan tersebut.
"Elin, kurang hajar kamu," suara Harto keras sembari merumukkan kertas itu ia naik pitam mengetahui putra pertamanya pergi meninggalkan rumah sekaligus kota tempat mereka tinggal sekarang.
"Papa? Mama, ada apa ini? Kenapa Mama nangis," Fina yang tadinya hendak menyusul Mamanya karena tak kunjung turun kebawah pun terkejut padahal acaranya sudah siap dimulai. Namun ia di kejutkan dengan suara Papanya berteriak memanggil Elin, sang kakak.
"Abang Elin dimana?" tanya Fina lagi ia masih binggung dengan apa yang terjadi sekarang Mamanya menangis, Papanya sudah merah padam sedangkan Elin, sang kakak tidak terlihat sama sekali.
"Aaaggrrrr ....." Harto mengerang keras memegang dadanya terasa sakit.
"Papa?" Seru Karina bersamaan dengan Fina yang terkejut spontan memegang Harto sepertinya akan ambruk dilantai.
"Serangan jantung Papa kumat," kata Fina semakin panik rasa takut langsung menghantuinya seketika.
"Papa hikkk ...."
"Bagaimana i-ini Mah, kita akan malu, menanggung hinaan ini," suara Harto terdengar mencekik.
"Pah tenang dulu, sebenarnya ada apa ini?"
"Abangmu kabur Fina hikkk,"
"Apa?"
"Cepat panggil dokter?" Seru Karina kepada beberapa pelayan kebetulan melewati kamar Elin.
"Aslan, pa-panggil Aslan kemari, sekarang." Suara Harto menguatkan seluruh tenaganya menahan rasa sakit didada.
"Baik Pah, Fina akan segera memanggil Abang Aslan," merupakan anak laki-laki paling bontot di keluarga Harto dan Karina. Mereka memiliki 4 orang anak 2 laki-laki dan 2 perempuan namun sayang salah satu anak perempuannya telah meninggal dunia saat masih kecil.
Dengan tergesa-gesa Fina berlari menuruni anak tangga mencari keberadaan Aslan.
***
Sementara itu dilantai 1 rumah mewah tepatnya di rumah Harto suasana semakin riuh riuh akibat lantaran lamanya pengantin pria turun, dan anggota keluarga pun bahkan tidak terlihat. Padahal semuanya sudah siap sejak tadi.
Bahkan wanita yang memakai kebaya pengantin kerap beberapa kali melirik ke lantai atas.
"Semuanya akan baik baik saja, kamu yang tenang ya nduk,"
__ADS_1
"Iya Bu, Fira tenang kok," Safira tersenyum kecil.
"Bagaimana ini, dimana pengantin prianya, kenapa lama sekali?" Pak penghulu akhirnya bersuara setelah sejak tadi ia menunggu.
"Sebentar Pak, saya akan melihatnya?" Ujar Rosita yang merupakan Ibu kandung Safira.
***
"Apa?" Suara Aslan cukup terkejut mendengar perkataan Papanya.
"Tidak ada cara lain menyelamatkan kehormatan keluarga kita Aslan selain ini, mau tidak mau senang tidak senang kamu harus menikah dengan mbak Safira menggantikan Abang brengs*k-mu itu," ujar Harto menahan rasa marah rasanya kembali ingin meledak.
"Pah," Karina menyentuh lengan suaminya, sekarang ia sudah berhenti menangis namun raut wajahnya begitu memprihatinkan.
"Mulai detik ini kita memutuskan hubungan dengan anak sialan itu, dia sudah mencoreng nama baik keluarga kita. Anggap saja kita tidak memiliki anak seperti dia," ujar Harto tegas.
Air mata karina kembali terjatuh jika suaminya sudah berkata ia tidak bisa melakukan apa-apa.
"Tapi Aslan masih sekolah Pah," kata Aslan mencoba membujuk.
"Dan kamu ingin segera menyandang yatim, kamu ingin segera melihat Papamu ini mati sekarang juga,"
"Tapi-"
"Aslan Mama mohon, Safira wanita baik kamu juga sudah mengenalnya beberapa kali kan, Mama mohon nak," lirih Karina ia sungguh takut perkataan suaminya barusan akan terjadi.
***
"Saudara Alsan bin Hartono, saya nikah kan engkau dengan anak kami Putri Safira binti Abdurrahman dengan emas 6 gram, uang tunai 100 juta dan seperangkat alat sholat dibayar tunai!" Ujar sang penghulu.
"Saya terima nikah dan kawinnya Putri Safira binti Abdurrahman dengan mahar yang telah disebutkan dibayar tunai!" Sahut Aslan lantang tak kalah dari pak penghulu.
"Sahhh ...."
"Sah ...."
"Sah ...."
Semua orang menyahut serentak tersenyum senang bersamaan namun tidak bagi Safira dan Aslan kedua orang yang menjadi pusat perhatian orang-orang itu hanya diam dengan ekspresi sulit diartikan.
Safira memejamkan matanya pelan diikuti dengan setetes air matanya mengalir begitu saja.
Sebulan lebih yang lalu saat ia pulang kampung dihari cutinya dikampus Safira dikejutkan dengan perkataan Ibunya, ia harus menikah dengan salah satu teman Ayahnya sebagai tanda terimaksaih karena Ayahnya dulu meninggal akibat menolong Harto dari kecelakaan mobil.
Safira menelan perkataan pahit itu, ia sangat tidak kuasa menolak perjodohan ini, karena bagaimanapun dia bisa kuliah meraih cita-citanya juga atas kebaikan Harto yang selalu mengirimkan ya uang dan membiayai kuliahnya, juga uang pengobatan ibunya kadang sakit sakitan.
Hingga satu minggu kemudian Safira dikenalkan dengan anak pertama Harto bernama Elin, awalnya Safira sedikit ragu dengan laki-laki tersebut, namun akhirnya ia pasrah karena sikap Elin sangat baik kepadanya, selama masa pendekatan Elin sangat menghargai Safira hal itulah membuat Safira tidak terlalu berat menerima perjodohan ini.
__ADS_1
Acarapun di adakan sederhana atas permintaan Elin dan Safira.
Namun siapa sangka dihari acara berlangsungnya nikah Safira malah menikah dengan Aslan, adik Elin. Semua itu tidak pernah terbayangkan dibenak Safira nasibnya akan semalang ini, dia menjadi istri dari pria yang jauh lebih muda darinya. Rasanya Safira nyaris tidak percaya. Suaminya hanyalah bocah SMA
***
"Sayang, Ibu pamit pulang dulu ya, kamu baik baik disini ya. Lakukan tugasmu dengan baik sebagai seorang istri. Ingat sekarang kamu bukan lagi seorang singel tapi kamu sudah menikah kamu harus tau itu nak," Ucap Rosita pamit pulang mengingat ini sudah mau larut malam.
"Iya Bu, Fira akan mengingat perkataan Ibu," ucap Fira dengan seulas senyuman.
"Kamu tenang saja Rosita, Anakmu ini sekarang sudah menjadi menantuku tidak akan pernah aku biarkan dia merasa sedih percayalah aku sudah menganggap dia sebagai anak kandungku juga sejak lama. Jadi kamu gak usah khawatir benar kan Pah," ujar Karina.
"Tentu saja. Rosita apa kamu yakin ingin langsung pulang, apa tidak sebaiknya kamu menginap dulu malam ini," kata Harto.
"Ah tidak tidak, sebenarnya aku ada urusan besok pagi jadi aku harus segera pulang," tolak Rosita lembut.
"Baiklah, supirku akan mengantarmu sampai tujuan, ingat kalau ada apa-apa segera hubungi kami,"
"Hmm, terimakasih Harto, kalian sangat baik kepadaku dan anakku, aku tidak tau harus berucap apalagi."
"Hei, kita ini keluarga jangan bilang seperti itu, sudah kewajiban kami membantumu," kata Karina memeluk Rosita sekilas.
"Iya kamu benar kita keluarga, ya sudah aku tidak bisa berlama-lama lagi, kalau begitu aku pulang ya. Fira Ibu pulang ya,"
"Iya, Ibu hati-hati dijalan," Safira mengantar ibunya sampai pintu utama menunggu mobil yang dimasukin ibunya meninggalkan rumah mertuanya.
"Loh, Aslan dimana, Mama baru sadar dia tidak ada, bisa bisanya dia tidak mengantarkan mertuanya pulang. Anak itu," keluh Karina sadari tadi ia memutar kan matanya tapi tidak menemui Aslan.
"Maafkan sikap suamimu ya sayang dia belum terbiasa, nanti Mama akan berbicara dengannya. Kamu pasti capek kan, sejak tadi belum istirahat ayo ikut Mama, Mama akan mengantarkan kamu ke kamar Aslan," ujar Karina lagi, Safira hanya mengangguk patuh.
***
Hal pertama saat Safira memasuki kamar Aslan ia begitu takjub terpesona akan kamar suaminya ini, benar-benar bagus dan sangat luas, sebenarnya tidak heran sih melihat betapa luas dan bagusnya kamar Aslan mengingat dimana dia sekarang Rumah besar milik mertuanya Hartono seorang pengusaha sukses.
"Sudah cukup melamunnya, malah bengong disitu,"
Safira sedikit terkejut ketika mendengar suara seseorang yang ternyata Aslan, pria itu sudah berada didepannya dengan selimut dan satu bantal di tangannya.
"Ambil ini." Aslan melempar kedua benda itu, terserah kamu mau tidur dimana asal tidak diranjang ku," sambung Aslan lagi kemudian pergi menuju ranjangnya bersandar di kepala ranjang melanjutkan memainkan game di ponsel miliknya.
Sementara Safira hanya bengong dengan sikap suami berondongnya. "Hahhhh, dasar bocillllllll," batin Safira ingin sekali berteriak, baru juga dia masuk ke kamar sudah mendapat perkataan ketus.
Omaigattttt
Bersambung ......
Semoga kalian suka
__ADS_1