Bocah Itu Suamiku

Bocah Itu Suamiku
BAB 8


__ADS_3

Seperti janji Safira, ia benar-benar membuatkan makan malam, tidak lupa dia membuat banyak untuk Aslan juga, bagaimana pun juga Aslan adalah suaminya sudah seharusnya bukan dia melayani suaminya, ya walaupun tidak se-kamar.


Tepat pukul 8 malam makanan sudah tertata rapi semuanya di atas meja, Safira melirik ia melihat ke arah jam dinding, satu hal yang ada di benak nya. Kemana Aslan kenapa laki-laki berondongnya itu belum pulang sudah jam segini.


Namun Safira tidak mau terlalu memusingkan nya, toh Aslan bukan anak kecil ngapain juga dipikirin nantinya juga pulang sendiri.


Hingga suara bel berbunyi membuat Safira terkesiap dengan cepat ia membukan pintu. Siapa lagi kalau bukan Bima, pria itu sudah berpenampilan rapi bahkan sangat lah rapi Safira cukup tertegun karena Bima jauh dari kata anak sekolahan, bagaimana tidak Bima memakai kemeja lengkap dengan jas mewah tak lupa rambutnya tertata rapi.


"Hai," ucap Bima pelan.


Safira yang tertegun segera sadar kembali. "Oh maaf maaf, ayo masuk," ajak Safira.


Bima mengangguk lalu melangkah masuk. Safira menuntun sampai di meja makan. "Wah banyak banget masaknya," ujar Bima.


"Hehehe iya sekalian aja, ayo makan," ajak Safira.


"Hm, tapi maaf ya, aku tidak bisa berlama-lama karena ada urusan keluarga," ucap Bima sebelum sesaat ia menyantap makanan di atas meja.


"Oh iya, tidak apa-apa kok," kata Safira.


Bima pun mulai memakan makanan, satu kata keluar dari mulut laki-laki itu "Enak," Bima berkata jujur makanan Safira memang enak mirip dengan makanan ibunya.


"Terimakasih," Safira merasa senang.


Bima makan dengan lahap, rasanya ia tidak akan menyia-nyiakan makanan didepannya bahkan.


Hingga beberapa menit kemudian piring Bima pun kosong. "Maaf aku jadi menghabiskan makanannya," ujar Bima tidak enak.


"Tidak apa-apa kok, aku senang habis jadi tidak mubazir," sahut Safira.


"Rasanya sangat mirip dengan masakan Ibuku,"


"Benarkah," Safira terlihat terkejut.


"Iya, sama persis. Sudah lama aku merindukan masakan Ibuku akhirnya kesampaian juga," jelas Bima nada suaranya terdengar sedih.


"Memangnya Ibuku kemana?" tanya Safira hati-hati takut menyinggung perasaan Bima.


"Ibuku sudah meninggal saat aku masih smp," jawab Bima.

__ADS_1


"Maaf aku tidak tau." Safira jadi tidak enak.


"Gak Papa kok, oh ya bwt kamu tinggal sendiri disini?" tanya Bima ekor matanya melirik ke ruangan.


Untuk sesaat Safira terdiam, ia tidak tau harus berkata apa jujur atau berbohong, tapi kalau jujur Safira takutnya akan membuat Aslan marah.


"Itu hm aku--" belum selesai Safira berbicara suara deringan ponsel Bima terdengar, pria itu langsung mengangkat nya.


"Iya aku akan segera kesana," ujar Bima terlihat berbicara serius dengan seseorang diseberang sana.


"Maaf aku tidak bisa berlama-lama aku harus segera pergi," kata Bima.


"Oh iya tidak apa-apa, hati-hati,"


"Hm, terimakasih atas makan malamnya," ucap Bima.


"Iya, sama-sama,"


Safira mengantar Bima sampai depan pintu apartemen setelahnya menutup pintu kembali namun baru 5 menit kemudian suara Bel kembali berbunyi, Safira mengerutkan keningnya.


"Apa Bima ada ketinggalan sesuatu ya," gumam Safira.


Seingatnya Bima tidak membawa barang apapun masuk ke dalam apartemen ini ya kecuali ponsel.


"Aslan," gumam Safira terkejut ternyata Aslan, suaminya itu terlihat seperti orang mabuk berat.


"Kamu kenapa? kamu mabuk?" Safira mengibaskan tangannya tak suka bau menyengat dari baju Aslan.


"Tolong aku," ucap Aslan pelan.


"Ayo masuk," ajak Safira membantu Aslan masuk namun bukannya masuk Aslan malahd langsung menyerang bibir ranum Safira dengan rakus bahkan tidak membiarkan wanita itu lepas.


Hal itu tentunya membuat Safira terkejut kedua tangannya ia kerahkan untuk menolak Aslan tapi sia-sia karena laki-laki itu semakin liar.


"Hahhh .... hahhhh ...." Suara Safira ngos-ngosan setelah Aslan melepaskan ciumannya.


"Aslan kamu gila," kata Safira menatap tajam ke arah suaminya itu.


"Tolong aku Safira, layani aku sekarang," ucap Aslan dengan suaranya sangat berat. matanya pun menatap sayu kearah Safira.

__ADS_1


"Hah .... Aslan kamu," Safira binggung sekaligus tertegun mendengar tuturan kata Aslan barusan.


"Tolong aku, Safira hanya kamu yang bisa karena kamu istriku, atau kamu mau aku bersetub**h dengan wanita lain,"


Safira menelan ludahnya dengan kasar. Jelas ia tidak mau suaminya berhubungan dengan wanita lain walaupun pernikahan mereka atas desakan tetap saja Aslan adalah suaminya ia tidak rela Aslan sampai memberikan kehangatan kepada wanita lain.


"Ta-tapi aku," Safira mengigit bibirnya kecil.


Aslan tersenyum penuh arti kini sorot matanya berubah menjadi penuh nafsu. Tanpa menunggu lagi ia kembali menyerang Safira, bahkan kali ini lebih menuntut namun tidak sekasar tadi, Aslan lebih lembut kali ini.


Safira pun pelan-pelan membalas permainan suaminya itu.


Sekiranya sudah kehabisan Nafas barulah Safira mendorong Aslan agar melepaskan ciuma* mereka.


"Hahhhh Aslan jangan disini, kita masuk saja," pinta Safira ia tidak enak jika sampai dilihat orang apalagi di samping pintu seperti ini.


"Baiklah, dengan senang hati," gumam Aslan tersenyum penuh makna lalu menutup pintu apartemen dengan sedikit kasar barulah setelahnya mengendong tubuh Safira membawa wanita itu ke dalam kamarnya.


Safira sampai bingung dengan kekuatan Aslan padahal tadi laki-laki ini terlihat sangat lemah lalu kenapa sekarang sangat kuat.


"Aslan ...." ucap Safira pelan rasanya seluruh tubuhnya menegang tak kala pria berstatus suaminya itu mencium curuk lehernya, ya kini mereka sudah berada di dalam kamar.


"Rileks, maaf aku udah gak bisa tahan lagi," suara Aslan semakin parau.


"Ahhh ...." suara laknat berhasil keluar dari mulut Safira. Ia meremas sprei kuat-kuat. Sekarang ia pasrah harta satu-satunya yang sangat ia jaga harus ia serahkan kepada Aslan.


Aslan buru-buru melepaskan kain yang melekat di dadanya juga dibagian bawah, bahkan bokser yang ia gunakan. Reflek Safira membulatkan matanya.


Ternyata suami berondongnya tidak seperti yang ia pikirkan. Safira meneguk ludahnya kasar, abs dan bentuk postur tubuh Aslan sangatlah sempurna. Reflek Safira memalingkan wajahnya ke arah samping, nafasnya naik turun sekarang.


Aslan hanya tersenyum tipis, kini dirinya sudah tidak menggunakan sehelai benang pun.


Brakkk ....


Hanya satu tarikan saja baju Safira sudah robek besar hal itu membuat Safira terkejut. "Aslan ..." ia sungguh malu, berbeda dengan Aslan semakin tersenyum senang.


Dan terjadilah malam panas dengan Safira berusaha menahan rasa sakit, untuk pengalaman pertamanya.


Hingga pada akhirnya Aslan merebahkan tubuhnya di samping Safira setelah cukup ia melakukan aksi yang bergejolak di tubuh.

__ADS_1


Tanpa mengatakan apapun Aslan langsung membawa Safira kedalam pelukannya setelahnya ikut tertidur seperti Safira yang sudah lebih dulu ke alam mimpi


Bersambung .....


__ADS_2