Bocah Itu Suamiku

Bocah Itu Suamiku
BAB 7


__ADS_3

"Aku ingin mengajakmu nonton film baru nanti sore, mau gak?" tanya Dinda siswi yang selama ini selalu mencoba mencari perhatian Aslan, sebenarnya bukan cuma hanya Dinda saja sih tapi hampir semua siswi di sekolah ini mengharapkan Aslan, siswa paling populer dengan ketampanannya dan juga jago renang maupun basket, bahkan dia pernah menjabat menjadi ketua osis namun pada akhinya dia undur diri.


Aslan nampak diam sesaat namun setelahnya mengangguk mengiyakan. Hal itu tentu saja membuat Dinda senang.


Pukul 2 siang semua mata pelajaran pun telah usai juga murid-murid sudah boleh pulang sesat setelah suara bel berdering.


Safira dan kedua sahabatnya beres-beres bersiap pulang sekarang juga, seharusnya sudah pukul 11 siang tadi mereka bertiga sudah boleh pulang tapi karena ada kelas tambahan di kelas 10 membuat mereka pulang bersamaan dengan murid-murid.


"Kamu pulang sama siapa Fira?" tanya juwita sembari berjalan menuju gerbang.


"Sendiri, kenapa emangnya?" tanya Safira balik.


"Gak sama suami kamu itu?"


"Gak, dia kan punya pacar," sahut Safira enteng.


"Buset, parah amat sih lakik lu, udah punya bini masih aja dekat sama cewek lain," Juwita merasa geram.


"Namanya juga mereka dijodoh kan Ju," Lia menimpali.


"Iya sih, tapi walaupun begitu seharusnya dia menjaga perasaan Safira kan," kata Juwita masih tak terima.


Safira hanya menyimak saja dia malas membahas Aslan saat ini. Sampai akhirnya mereka semua sampai di gerbang sekolah, reflek Safira menghentikan langkahnya, ketika ekor matanya tanpa sengaja melihat seseorang diparkirakan motor tak jauh dari mereka.


Siapa lagi kalau bukan Aslan, terlihat sangat perhatian kepada seorang cewek bahkan dia menumpangi cewek tersebut di motor gedenya itu.


"Kenapa Ra?" tanya Lia menyadari sahabatnya itu menghentikan langkahnya. Kedua ekor matanya juga melihat ke arah dimana Safira melihat.


"Jangan bilang itu suami lu?" tanya Lia lagi matanya masih fokus menatap Aslan bersama cewek disana. Juwita juga ikut melirik.


"Hm, kamu benar dia suamiku," jawab Safira santai.


"Mau kita labrak, atau lu diam disini biar gue aja, tanganku gatel pengen jambak tu cewek," kata Lia.


"Gak perlu, biarkan saja dia melakukan apa yang dia inginkan. Lagian aku yakin itu cewek juga gak tau kalau suamiku sudah punya istri," ujar Safira kemudian melanjutkan langkahnya kembali malas rasanya membalas laki-laki itu.


***


Safira tak langsung pulang melainkan dia pergi ke pasar terlebih dahulu membelanjakan bahan isi kulkas terlebih dahulu yang pastinya di bantu sama Lia dan juga Juwita.


"Banyak banget belanjaanya ini, kamu yakin bisa bawa ini sampai apartemen?" tanya Lia.

__ADS_1


"Kan ada sekuriti nanti aku minta bantuan dia deh," sahut Safira.


"Lantai berapa apartemennya?"


"20,"


"Buset tinggi amat,"


"Aku sebenarnya mau bantu tapi Ibuku sudah menelepon, maaf ya Ra," ucap Juwita.


"Aku juga, maaf," timpal Lia.


"Iya gak papa, kalian udah nemani aku kepasar aja aku udah senang, terimakasih," ucap Safira.


"Ya udah kalau gitu kami pamit luan ya." Lia Juwita pun pulang.


Kini tinggal lah Safira seorang diri bersamaan dengan belanjaanya cukup banyak, sesaat Safira menarik nafasnya kasar merasa lelah ekor matanya melirik ke sembarang arah tapi tidak menemukan sekuriti sama sekali. Padahal ia sangat butuh bantuan saat ini.


"Baiklah," gumam Safira lebih baik ia bawa semua belanjaan ini seorang diri sementara sebagiannya lagi di titipkan saja kepada mbak mbak yang berada di pintu masuk.


"Kamu tinggal disini juga?" tanya Bima saat hendak masuk apartemen melihat Safira nampak kesusahan membawa barang belanjaanya.


"Sini aku bantu," pinta Bima meraih belanjaan Safira.


"Eh tidak apa-apa, aku bisa sendiri--"


"Bagaimana caranya ini sangat banyak, biar aku bantu saja lagian kita searah sekalian saja," potong Bima.


Akhirnya Safira tidak punya pilihan lain selain mengangguk mengiyakan, barangnya pun banyak dengan dibantu Bima akan lebih mudah tentunya.


"Kamu baru tinggal disini?" tanya Bima sembari berjalan menuju lift.


"Iya, aku baru semalam pindah disini," jawab Safira.


"Oh, aku sudah lama tinggal disini, kamu lantai berapa?" Sesekali ekor mata Bima menatap lekat wajah Safira.


"Hm, lantai 20," jawab Safira.


"Boleh aku mengatakan sesuatu?" Bima meminta izin terlebih dahulu, ia takut membuat Safira risih nantinya.


"Hah, katakan saja! Emang kamu mau bilang apa?" kali ini ekor mata Safira ikut menatap Bima.

__ADS_1


"Kamu sangat mirip dengan almarhum kakakku, bahkan cara bicaramu juga sama," jelas Bima.


"Benarkan," Safira cukup terkejut.


"Iya, dia orang sangat baik dan orang paling menyayangiku, setelah ibuku meninggal kakakku lah yang menjadi sosok ibu bagiku disaat ayahku gila dengan pekerjaan, dia sangat sabar menghadapi sikapku tapi Tuhan lebih sayang kepada kakakku padahal aku sangat ingin membahagiakan kakakku," ucap Bima terdengar sedih membuat Safira jadi merasa iba.


"Kamu yang sabar, aku yakin orang yang baik seperti kakakmu pasti akan mendapatkan posisi paling indah disisi Tuhan," ujar Safira.


"Terimakasih, maaf aku malah bercerita kepadamu," kata Bima merasa tak enak.


"Tidak apa-apa sungguh, aku juga sama sepertimu, aku kehilangan sosok ayah yang sangat aku kagumi dan aku sayangi," Safira jadi teringat akan Ayahnya.


"Maaf aku tidak tau,"


"Tidak perlu minta maaf, umur tidak ada yang tau," jelas Safira


Tanpa terasa mereka sudah sampai dilantai 20.


"Akhirnya sampai juga, ohnya namamu siapa ya aku lupa?" Safira tersenyum kikuk.


"Namaku Bima," ucap Bima membalas senyuman Safira. Sungguh Safira nyaris terpesona dengan Bima karena senyuman pria itu sangat menawan dan laki-laki sekali.


"Oh iya, hehehe. Bima terimakasih ya, sudah membantuku," ucap Safira.


"Sama-sama, sesama manusia bukan kah harus saling membantu," sahut Bima.


"Hm iya kamu benar, tetap saja aku sudah merepotkan kamu, hm bagaimana kalau aku masakin kamu sesuatu sebagai balasannya, kamu belum makan kan,"


"Eh, tidak apa-apa aku ikhlas membantumu kok"


"Aku juga ikhlas, sudah jangan ditolak ya. Aku tidak akan meracunimu kok, tenang saja,"


Bima terdiam.


Sementara Safira langsung terkekeh, "Aku bercanda, kamu datang nanti ya, pukul 8 malam itu apartemen ku," tunjuk Safira kearah Apartemennya dan Aslan.


"Baiklah, aku akan datang nanti,"


"Hm, aku tunggu,"


BERSAMBUNG .....

__ADS_1


__ADS_2