
Safira mendengus kesal, setelah beberapa menit menguasai dirinya berada dikamar Alsan akhinya ia bergerak membukakan koper yang ia bawa, Safira ingin mandi ia begitu sangat gerah rasanya karena seharian ini ia begitu kelelahan, belum lagi polesan make up masih berada di wajahnya.
Mengambil handuk dan apa-apa aja yang di perlukan dalam ritual mandinya akhinya Safira melangkah mencari kamar mandi, namun ia sedikit mengeryit karena ternyata melihat ada dua pintu dikamar ini dan bahkan bersebelahan.
Dikarena kan tidak tau pintu yang mana kamar mandi akhinya Safira mencoba bertanya.
"Hmm, aku ingin ke kamar mandi, kamar mandinya yang mana ya?" Tanya Safira
Sedetik dua detik sampai beberapa detik kemudian juga tidak ada respon apapun dari Aslan hal itu membuat Safira berdecak kecil.
"Baiklah akan aku cari tau sendiri" guman Safira berbicara sendiri. Safira berjalan membukakan pintu yang pertama dan ternyata benar kalau itu kamar mandi.
Cukup lama Safira berada di kamar mandi di tambah ia terpesona dengan kemewahan ruangan satu ini, "Orang kaya emang beda," sungguh Safira belum pernah melihat kemewahan seperti ini, benar-benar takjub. Bahkan disini ada bak mandi yang sangat keren baginya.
Seakan lupa waktu keasikan pada dirinya sendiri Safira sampai lupa kalau ia sedang berada di kamar Aslan. Safira keluar kamar mandi hanya dengan bermodalan handuk menutupi tubuhnya bagian dada hingga area paha tak lupa pakaian kotor yang ia pegang ditangannya.
"Apa yang kau lakukan?" Suara Aslan membuat Safira kaget nyaris saja ia kepleset gara gara kakinya masih basah.
"Hah .... Aaaaa ...." teriak Safira menutupi dirinya dengan tangan sungguh ia baru tersadar setelah beberapa saat ngelek. Buru-buru Safira kembali ke kamar mandi lagi.
"Ahhh sial, kenapa aku bisa lupa bawa baju ganti," Gerutu nya kesal.
Sedangkan di ranjang Aslan mengusap wajahnya kasar, beberapa kali sudah ia menelan kasar air ludahnya sendiri. Bagaimana tidak untuk pertama kalinya ia melihat Safira begitu intim ya walaupun ada handuk yang melilitkan tubuh indahnya itu tapi tidak menutup semuanya bukan.
"Aslan bisakah kamu bantu aku sebentar?" Teriak Safira. Dia ternyata sudah membukakan sedikit celah di pintu mencondongkan sedikit wajahnya keluar .
"Aku lupa membawa baju ganti, bisa tolong ambilkan aku baju ganti,"
Lamunan Aslan spontan terhenti. Ia melirik kearah sumber suara menampakkan Safira sudah cengir kepadanya.
"Ambil sendiri," kata Aslan, ia paling malas disuruh-suruh.
"Apa? Aslan jangan bercanda please aku sudah kedinginan,"
"Bukan urusanku,"
Safira merapatkan giginya. "Dia, aisss sungguh suami yang kejam, apa dia ingin aku mati kedinginan disini. Is nyebelin bisa-bisanya pula aku lupa bawa baju tadi." Batin Safira.
"Baiklah kalau kamu tidak mau, aku akan mengambilnya sendiri tapi bisakah kamu membalikkan badanmu,"
Aslan mengerutkan keningnya. "Untuk?"
"Hah, is ya karna aku ingin mengambil bajuku,"
"Gak mau!"
"Apa? Dia! Oh Tuhan belum sehari kami menikah tapi dia sungguh sangat tidak sayang kepadaku," batin Safira lagi. Ingin rasanya Safira pergi menghampiri Aslan dan mencubit-cubit ginjalnya gemas.
__ADS_1
Sedangkan Aslan masih tetap santai dia atas ranjang dengan aktivitas yang lainya ya itu membaca buku.
Safira nampak menimbang nimbang beberapa saat, "Hufff baiklah, tidak apa-apa Fira lagipula dia suamimu sekarang jadi tidak masalah bukan, ya harus daripada aku mati kedinginan disini."
Akhirnya dengan langkah jinjit nam pelan Safira melangkah mendekati kopernya yang sialnya jauh disana membutuhkan banyak langkah untuk sampai.
Aslan yang menyadari itu melirik kecil di ujung atas buku yang ia baca, dan sekali lagi dia meneguk ludahnya kasar.
Dengan tangan gerakan seribu buru-buru Safira mengambil baju tidurnya beserta pakaian dalamnya lalu gegas berlari kedalam kamar mandi tapi sepertinya alam semesta lagi-lagi tidak berpihak kepadanya karena salah satu pakaian dalamnya tenyata terjatuh di lantai tak jauh dari kamar mandi.
Tentu saja hal itu tidak luput dari pandangan Aslan. Laki-laki itu melihat dalam diam entah apa sudah yang ia pikirkan sekarang.
"Sial," menyadari pakaian itu jatuh tanpa pikir panjang buru-buru mengambilnya dan masuk kedalam kamar mandi.
Dammmm
"Aaaaaa ...." teriak Safira dalam kamar mandi rasanya ia ingin menghilang saja dari dunia ini.
***
"Eh Safira, selamat pagi sayang," ucap Karina melihat Safira baru turun dari tangga.
Safira menyunggingkan senyuman kecil, "pagi juga tante,"
"Kok Tante, Mamah dong," ujar Karina tersenyum gemas sembari menuntun menantunya duduk di salah satu kursi meja makan.
"Belum terbiasa nanti juga bakalan terbiasa," timpal harto juga ikut tersenyum pria itu sudah siap dengan stelan kerjanya.
Safira sebenarnya cukup terkejut melihat semua orang sudah pada berkumpul di meja makan, ia kira orang kaya akan bangun terlambat atau sesuka hatinya tapi nyatanya diluar perkiraan.
"Kak Fira, Abang Aslan mana kok gak turun bareng," tanya Fina. Fina adalah anak paling terakhir alias ke 4 dia masih menduduki sekolah SMP.
"Oh itu, Aslan lagi mandi," jawab Safira jujur. Mendengar nama Aslan membuat Safira berdecak kecil bagaimana tidak, semalam pria itu benar-benar menganggunya.
"Loh baru mandi," kata Karina sembari tersenyum.
"Biasa pengantin baru, suka lupa waktu, hahaha ...." timpal Harto bersamaan yang lainya juga ikut tertawa kecil.
Sementara Safira hanya bisa mengaruk-garuk kan kepalanya tak gatal, ia paham betul arah pembicaraan ini.
"Kalian pada ketawain apa?" Tanya Aslan sembari berjalan ikut gabung
"Wah ternyata si tersangka sudah turun juga rupanya, kirain lupa kalau sudah pagi," sindir Harto sekilas melirik putranya.
"Seperti Papa tidak pernah muda saja," balas Aslan.
"Sudah sudah, ayo makan, Papa ini suka sekali mengonda pengantin baru," lerai Karina.
__ADS_1
Akhirnya pembicaraan pun terhenti, semua orang sudah siap makan, Safira yang paham akan keadaan pun melirik mertuanya, bagaimana wanita paruh baya itu melayani suaminya. Safira pun melakukan hal serupa, ia tidak mau di sindir nanti ya.
Melihat menantunya cepat tangkap membuat Karina mengembangkan penuh senyumnya.
Aslan hanya diam melihat apa yang dilakukan Safira sekarang ia hanya bisa pasrah karena bukan lagi bujang.
"Ngomong-Ngomong kalian mau bulan madu kemana? Papa akan memesan kan tiketnya?" Tanya Harto setelah siap sarapan paginya.
"Ahkkk ..." Safira sedikit tersedak ia spontan melirik kearah Aslan berada tepat di sampingnya, pria itu malah terlihat sangat tenang.
"Sepertinya tidak bisa sekarang Pah, ada perlombaan berenang disekolah 3 hari lagi, dan lagi aku juga mau UTS, mungkin habis uts kami akan membicarakannya," jawab Aslan.
"Hmm Safira juga Pah, mulai senin ini Safira magang dan harus segera di siapkan, tidak boleh di tunda lagi." Timpal Safira, ia baru teringat kalau dia harus magang besok, dia hanya mendapatkan cuti hanya 3 hari saja.
"Yah, sayang sekali Baiklah kalau begitu tidak masalah kapanpun kalian siap kabari Papa, Papa yang akan siapkan semuanya," ujar Harto.
***
Grup Centil dan kepo
("Oiii jadi kan kita besok magangnya ?") -Lia
("Iya jadi") -Safira
("Wih tumben amat ni anak aktif, udah dari 2 hari gak aktif aktif sibuk banget keknya") Juwita.
("Wkwkwk napa kangen ya, baru juga 2 hari,")- Safira
("Kamu kemana sih Fira dua hari ini?")-Lia
("Iya tuh, tau ni anak,)- Juwiata
("Ada deh, entar aja ceritanya kalau aku udah siap,)- Safira
("Siap siap kayak mau nikah aja lu!")-juwita
("Gak sabar aku nunggu besok, tau gak, di sekolah kita magang itu bahkan serbuk berlian tau,")-Lia
("Iya benar, sama aku juga gak sabar pengen cepat-cepat ketemu cogan berondong,")-juwita
("Giliran cowok aja cepat bener,")
Safira hanya bisa menggelengkan kepalanya membalas pesan grup. Ia sungguh bosan sekarang berada dirumah ini, kedua mertuanya pergi yang satu kerja yang satu lagi arisan, sedangkan iparnya sekolah, kalau Aslan entahlah Safira tidak tau kemana batang hidung tu orang.
"Mending aku siap-siap untuk magang besok," gumam Safira.
Bersambung .....
__ADS_1