Bocah Itu Suamiku

Bocah Itu Suamiku
BAB 9


__ADS_3

Safira terbangun dari tidurnya saat matahari sudah menyingsing mulai menampakkan dirinya. Samar-samar mencoba menetralkan matanya bahkan beberapa kali mengecek. Setelah sepenuhnya tersadar barulah Safira teringat apa yang terjadi semalam seketika ia segera menoleh kesembarangan arah namun sosok yang ia cari tidak ada.


"Keperawananku!" pekik wanita itu menyibak selimut dan benar saja seperti apa yang dipikirkan Safira kehormatannya benar-benar telah hilang. Bahkan bercak-bercak darah sangat tertangkap oleh bola matanya.


"Jadi aku tidak bermimpi?"


Safira sangat berharap itu hanyalah mimpi lantaran tidak menemukan Aslan disampingnya. Tapi ternyata tidak ia kini telah benar-benar kehilangan keperawanannya dan lebih parahnya lagi Aslan pergi meninggalkannya begitu saja.


"Aslan ....!"


***


Pukul 8 lewat Safira baru tiba disekolah tempat ia magang. Wajah wanita itu nampak cemberut dan kesal tentu saja, susah payah ia berjalan normal agar tidak ngangkang atas ulah suaminya semalam. Dan paling parah ia terlambat masuk kelas untung saja Safira masuk jam setengah 10 jadi masih ada cukup waktu baginya untuk beristirahat.


Safira berjalan koridor sekolah menuju ruangannya seorang murid sedang berlari tak sengaja menciprak kan air jalan yang ada genangan air hujan semalam alhasil membuat rok span miliknya jadi kotor.


"Hei hati-hati saat berlari!" Seru Safira setelahnya ia berdecak kesal melihat kondisi rok spannya. Murid itu seolah tuli berlalu begitu saja tanpa menoleh ke belakang.


"Hais!" Safira geram sendiri entah kenapa kesialan menimpanya seperti ini. Mau tidak mau Safira akhirnya pergi ke toilet wanita terlebih dahulu membersihkan roknya itu beruntung toilet tak jauh.


"Aauuu ...." suara seseorang cukup lumayan keras terdengar di telingan Safira membuat ia reflek menghentikan langkahnya mencari sumber suara.


"Aslan sakit," suara itu lagi-lagi terdengar yang teryata ada di lorong toilet laki-laki. Ekor mata Safira membulat sempurna tak kala manik-manik matanya melihat siapa disana. Aslan, pria itu terlihta intim dengan seorang wanita disana.


Bahkan tangan wanita itupun merangkul mesra pundak suaminya.


"Apa yang kalian lakukan disini?" Seru Safira entah kenapa dadanya serasa sesak melihatnya.


Mendengar adanya suara Aslan seketika menoleh kemudian reflek ia mundur dua langkah menjauh dari Dinda. Ia tak mengatakan apapun bahkan ekspresi wajahnya terlihat biasa saja sedangkan Dinda cukup terkejut kepergok Safira.


"Apa kalian ingin membuat hal mesum disini?! Ini itu sekolah bukan tempat buat hal senono!" lanjut Safira.


"Maaf kak, tadi itu tidak sengaja," cicit Dinda sudah meremas jemarinya dibawah sana.


Ekor mata Safira tertuju kepada Aslan sungguh ia tidak menyangka kalau suaminya ternyata sangatlah liar padahal baru semalam mereka tidur bersama.


***

__ADS_1


Jam pelajaran kedua telah masuk Safira sebagai guru pengganti kini mulai terlihat fokus pada apa yang ia ajarkan, walau ia mengajar kelas suaminya sendiri tapi Safira tetap profesional bahkan ia tidak melirik ke arah Aslan sama sekali.


Sungguh berbeda dengan Aslan yang sejak mulai pelajaran ia sama sekali tidak memindahkan pandangannya dari Safira.


"Untuk tugas, kerjakan yang ada dibuku halaman 56 saya tunggu besok pagi. Paling lambat jam 10 pagi," ucap Safira tegas.


"Aslan kok kamu lihatin kakak itu terus menerus sih?" tanya Dinda kesal sejak tadi ia perhatian Aslan selalu saja fokus pada Safira.


"Memangnya kenapa?" Tanya balik Aslan ia menjawab terlebih dahulu baru menoleh kearah Dinda.


"Kamu takut ya kakak itu akan laporin apa yang kita lakukan tadi kepada guru bk?"


Aslan mengerutkan keningnya kecil. "Memangnya kita melakukan apa?" Aslan sungguh bingung dengan perkataan Dinda barusan.


Mendengar pertanyaan balik dari Aslan sungguh membuat Dinda kaku, benar mereka tadi tidak melakukan apapun jadi sudah seharusnya bukan tidak ada yang perlu di khawatir kan. Aslan hanya menolongnya hampir jatuh tadi.


"Kalian berdua!" Seru Safira kepada Aslan dan Dinda.


"Apa yang kalian bicarakan disana hah? kalian tidak mendengarkan apa yang saya katakan! tugas kalian saya tambah kerjakan juga halaman 57 sampai habis!" tukas Safira.


"Kalau tidak mau makanya dengerin. Pokoknya saya tidak mau tau tugas kamu kumpul besok!" Safira kekeh mungkin ini juga sebagai hukuman kepada mereka sudah membuat ia kesal pagi tadi. Setelah mengatakan itu Safira mengemasi barang-barang nya dan berlalu pergi karena jam tugasnya sudah habis.


"Serem juga ya kakak itu?" ujar Willi menoleh kearah Aslan karena berhubung kursi mereka tak terlalu jauh bertepatan sebelah kiri sedangkan sebelah kanan Aslan ada Dinda disana.


"Iya jirrr, tapi walaupun begitu tetap cantik!" timpal Rian kesemsem sendiri.


"Gimana lu semalam jadi nelpon kakak cantik itu?" tanya Rian kepada Wiili yang langsung di gelangkan kepalanya oleh pria itu.


"Gak ingat gue gak jadi tapi entar gue coba deh!"


"Gak usah!" Seru Aslan terdengar keras.


"Lah kenapa? Jangan bilang lu demen juga? lu kan udah ada Dinda" kata Rian memicingkan ekor matanya.


Hal itu sungguh membuat orang menoleh kearah Aslan secara bersamaan tak terkecuali Dinda ikut.


"Gak napsu gue," elak Aslan "Cabut!"

__ADS_1


***


"Ini buat aku?" tanya Safira cukup kaget dengan kedatangan Bima di tambah laki-laki itu menodongkan kota berisi makanan kepadanya.


"Iya sebagai rasa terimakasih ku karena semalam sudah ajak makan bersama," ujar Bima sedikit tersenyum sungguh membuat ketampanan pria itu bertambah.


"Eh tapi!"


"Itu bukan dari aku kok," potong Bima


Safira menaikkan alisnya bingung.


"Itu dari Mama, semalam aku cerita kepada Mama apa yang aku lakukan kemarin termasuk makan bersamamu jadi tadi pagi mamah memberikan kamu kotak makan juga," jelas Bima.


Safira sedikit terkejut. "Oh iya, terimakasih!" Safira tidak tau harus menjawab apalagi. Namun ia tetap harus menghargai pemberian orang walaupun dalam hatinya bertanya-tanya akan perhatian Mama Bima terkesan sedikit berlebihan.


Tanpa disadari Aslan melihat dengan jelas kejadian itu, laki-laki itu sudah mengeraskan rahangnya melihat itu dengan langkah cepat setelah kepergian Bima. Aslan menghapiri Safira tentunya merebut kotak makan itu.


"Untuk gue saja," ujar Aslan.


"Aslan!" Safira kaget kemunculan suaminya itu.


"Kenapa mau marah, suka dikasi makan sama laki-laki?" todong Aslan bertambah membuat Safira heran.


"Hahhh ... Kamu kenapa?" Tanya Safira.


"Gak usah ngeles jawab aja pertanyaan gue," kekeh Aslan.


"Itu makanan dari Mamanya Bima teman kamu, karena semalam aku dan Bima makan bersama!" Safira menutup mulutnya rapat rapat seketika.


"Kenapa juga aku bilang," batin Safira merutuki dirinya sendiri.


Aslan membanting makanan itu yang alhasil isi didalam kotak makanan tersebut berserakan.


"Oh jadi kalian semalam makan bersama!" kata Aslan.


Bersambung .....

__ADS_1


__ADS_2