
Pagi pun menjelang Safira buru-buru bangun takut keterlambatan karena hari ini dia akan magang, seperti rutinas yang biasa dia lakukan, membersihkan tempat tidur terlebih dahulu baru menyiapkan sarapan pagi.
Safira teringat sekarang dirinya sudah bersuami mau tidak mau dia harus membikin sarapan untuk suaminya juga. safira melirik tidak ada sayur apapun serta makanan apapun yang ada dikulkas selain banyak miniman bersoda disana dan beberapa botol bir.
Ia menghela nafas panjangnya. "Apa yang harus aku masak sekarang sementara dikulkas tidak ada apapun," gerutunya setelahnya ia pasrah lebih baik nanti selesai pulang dari magang ia mampir ke pasar sebentar untuk membeli bahan-bahan agar bisa dimasak.
Namun baru beberapa langkah hendak pergi ekor mata Safira melihat sesuatu yang membuatnya tersenyum senang. Ada beberapa butir telur dipojok Safira pun mencari hal lainya mengeleda dapur kecil itu. Apartemen Aslan memang patut di ajui jempol karena sangat bersih.
Safira sempat berpikir apakah dia sendiri yang membersihkannya atau orang lain, namun mengingat Aslan yang kaya tidak seperti dirinya sudah pasti dia menyuruh orang untuk membersihkan apartemen ini bukan.
Hasil geleda Safira hanya dapat menemukan Telur dan beras saja. Itupun berasnya tidak banyak. "Lebih baik aku buatkan Nasi goreng saja," ujarnya pada diri sendiri.
Siap membuatkan nasi goreng dua porsi buru-buru Safira ke dalam kamar yang sudah menjadi miliknya sekarang, melakukan ritual mandi capung mandi cepat serta dandan cepat.
Sementara dikamar Aslan pria itu sudah siap dengan stelan seragam sekolahnya, rambutnya yang panjang nam bergaya model kekini-kinian membuat Aslan menjadi sangat tampan dan menawan, siapa yang melihatnya pasti akan terpesona dengan ketampanan Aslan.
Ketika keluar kamar bersiap ke sekolah kening Aslan mengeryit karena melihat ada dua piring nasi goreng terletak di meja yang dikelilingi sofa.
"Kenapa hanya dilihat, ayo makan aku yang membuatnya," ujar Safira tiba tiba datang juga sudah siap dengan penampilannya. Tidak terlalu mencolok dan sederhana namun karena wajah Safira memang cantik dan kulitnya yang putih bersih pastinya akan membuat penampilan Safira sangat cantik dan elegan.
Aslan tidak menjawab dia melirik sekilas ke arah Safira lalu berlalu begitu saja.
Sementara Safira dibuat tak percaya dengan sikap Aslan yang melegos begitu saja. "Dasar suami tidak punya sopan santun," ketusnya dari pada pusing memikirkan suami berondong nya itu lebih baik ia cepat cepat makan dan segera pergi ke sekolah tempat dimana dia magang.
***
Tiga puluh menit kemudian Safira pun tiba disekolah yang ia tuju, ternyata disana sudah ada kedua sahabatnya yang menunggu kedatangan dirinya. "Fira akhirnya lu datang juga lama amat," ujar Lia sedikit kesal terhadap sahabatnya itu.
"Hehehe maklum lah, Busway-nya banyak berhenti tadi," kata Safira berhasil membuat kedua sahabatnya itu mengeryit.
"Tumbenan amat naik Busway biasanya juga naik angkot lu," timpal Juwita dengan ke kekehannya.
Sebenarnya tadi Safira berniat naik angkot tapi karena dia tak tau angkot nomor berapa kearah sekolah tujuannya akhirnya Safira naik Busway saja yang sudah jelas kearah mana.
__ADS_1
"Pantas lah lama banget," sambung Lia "Kalau naik Busway emang banyak berhentinya,"
"Ya udah hayuk masuk, entar kenak marah lagi baru juga hari pertama magang," kata Juwita mendapat anggukan dari semua orang.
"Yuk," jawab Safira dan Lia secara bersamaan.
Sepanjang jalan kedua sahabatnya Safira melirik entah kemana-mana melihat sana sini, dimana ada cogan disitu ada mata mereka melirik. Berbeda dengan Safira hanya sesekali melirik kearah yang disuruh sahabatnya itu. Bagi Safira sekarang dia sudah menikah tidak sepantasnya dia memanjakan mata padahal statusnya sekarang sebagai istri orang.
"Wih beruntung banget kan kita magang disekolah ini," ucap Lia.
"Serbuk berlian semua bertebaran disini, huaaaa keknya kita kecepatan lahir deh," timpal juwita.
"Bener keknya kita cepat lahir, cogan semua disini woiiii,"
"Udeh woiiii kita cepat jalan ke ruangan kepala sekolah, asik melalak aja mata kalian ya," ucap Safira.
"Hehehe .... namanya juga kesempatan Fir," kata Juwita
"Iya siap Nyonya"
***
"Siap pak, terimakasih," ujar Safira bersamaan dengan juwita dan juga Lia.
"Jadi hari juga kalian bisa mengajar, sesuai yang saya tugas kan tadi kalian dikelas mana saja, saya harap kalian bisa memberikan ilmu sebaik baik mungkin untuk siswa siswi disini," kata pak kelapa sekolah iya.
"Iya pak, kami akan berusaha sebisa kami memberikan yang terbaik untuk sekolah ini terutama untuk siswa siswi yang dibawah naugan kami," sahut Safira.
Sang kepala sekolah mangut-mangut. "Kalau begitu kalian bisa mengajar hari ini juga, untuk semua berkas kalian nanti akan diurus oleh tata usaha,"
"Baik, sekali lagi terima kasih," sahut Safira lagi.
Safira kelas XII-A merupakan kelas paling inti dari semua kelas mengajarkan ilmu komputer dan juga matematika, selanjutnya juga XII-B untuk juwita dan XII-C untuk Lia.
__ADS_1
Masing-masing guru kelas akan mengantarkan mereka yang bertugas dikelas mana sana untuk dikenal kan kepada siswa siswi kedatangan guru magang.
Seperti Safira sekarang saat ini, Bu Sarah sebagai guru kelas XII-A. "Selamat pagi semuanya," sapa Bu Sarah kepada anak muridnya. Serentak mereka semua menjawab, "Selamat pagi juga Bu,"
"Kenalkan ini kak Safira, sebagai guru sementara kalian untuk beberapa bulan kedepan, kak Safira akan mengajarkan kalian dua mata pelajaran ya, jadi Ibu harap kalian bersikap baik dan menghormati kak Safira, Kak Safira perkenalkan dirimu," ujar Bu Sarah lagi.
Safira mengangguk tersenyum lalu dengan tegas dia memperkenalkan namanya dan tujuan dia kemari. Ia melirik semua siswa siswi yang ada dikelas hingga ekor matanya tanpa sengaja menangkap sosok yang sangat ia kenali sedang duduk santai di bangku belakang sembari menatap ke arah dirinya dengan tatapan sulit di artikan.
Baik Safira dan juga Aslan sama sama terkejut. Namun sedetik kemudian Safira segera merubah raut wajahnya kembali namun dalam hatinya dia berkata "Jadi dia sekolah disini,"
"Ok kalau begitu Ibu permisi dulu, Safira kamu bisa mengajar sekarang juga, saya pamit ya," kata Bu Sarah.
Safira mengangguk cepat, "Baik Bu terimakasih," ucap Safira, beberapa detik kemudian pun Bu Sarah telah benar-benar pergi meninggalkan Safira dengan para siswa siswi nya.
"Kak, minta Wa-nya Dong," teriak salah satu murid laki-laki tak jauh duduk dari Aslan.
Spontan semua siswa siswi bersorak. "Kiw kiw kiw."
"Giliran yang bening aja lu, ngebet banget," ujar murid laki-laki lainya.
Safira hanya tersenyum kecil.
"Jangan dikasi kak, kasi untuk saya saja, soalnya dikelas ini kan yang paling ganteng kan saya ya,"
"Pede amat lu Anj**,"
"Terserah gue dong, kan emang kenyataannya gue lebih ganteng daripada lu,"
Akhirnya kegaduhan pun terjadi.
"Diammm!"
Bersambung ....
__ADS_1