
Semua siswa siswi pun langsung spontan terdiam mendengar suara Safira. "Nah seperti ini kan enak dilihat, diam ya. Biarkan kakak bicara dulu, ok," ucap Safira sembari menghela nafas lega.
"Wah ternyata galak," gumam salah satu siswa yang gaduh tadi dengan suara kecil namun beberapa murid lainya pasti mendengar perkataannya barusan termasuk juga Aslan, senyuman tipis terbit di bibirnya.
"Semuanya dapat kok wa saya, ini ya saya tulis didepan. Nanti ketua kelas silahkan buat grup ya, masukkan saya disana," ujar Safira.
***
Mata pelajaran pun akhirnya selesai Safira menghembuskan nafas panjangnya setelah sesaat bokongnya mendarat dikursi yang memang sudah diapkan sekolah untuknya ruangan untuk para guru magang.
"Aaaaa .... anak kelas gue ganteng-ganteng woiii," seru Lia baru keuangan bersamaan dengan Juwita.
"Iya, anak kelas gue juga, ganteng bingit, jadi pengen muda lagi gue," timpal Lia.
Mereka berdua duduk di kursi mereka masing-masing.
"Oiii Fira, kenapa? melamun aja lu," tanya Lia ketika ekor matanya melihat temannya itu tampak diam saja seperti memikirkan sesuatu.
Safira yang tersadar pun hanya tersenyum kecil.
"Kelas kamu gimana Fir, banyak cogan gak?" tanya Lia.
"Hmm, gak tau aku gak terlalu memperhatikan nya," jawab Safira. "Bagaimana mau diperhatikan orang aku terkejut ternyata aku harus mengajarkan lakikku sendiri." batin Safira. Sungguh sebenarnya Safira masih terkejut dengan fakta kalau anak muridnya adalah suaminya sendiri.
"Aku mau tanya sama kalian, kalian sebenarnya suka gak sama pria di bawah umur kalian maksudnya bukan suka sekedar fans hanya karena ganteng saja tapi suka sebagai suami kalian?" Safira beberapa saat kemudian sembari menatap kedua sahabatnya secara bergiliran.
"Kalau aku tergantung, kan kamu tau sendiri dari pertama kita kenal kalau aku pecinta cogan mau adik dibawah ku sekalipun atau om om sebaya oppa oppa korea aku tetap bakal suka, tapi kalau jadi suami rasanya aneh aja menikah sama berondong," sahut Lia.
__ADS_1
"Hmm, aku sama seperti Lia, karena kalau nikah sama berondong lucu kan, mau di panggil Abang, Mas tuwaan kita sama dia, panggil nama gak sopan, jadi lucu aja sih," timpal Juwita.
"Hmm, kenapa kamu tanya begitu Fir, emang kamu lagi suka sama berondong ya," tanya Lia. kedua sahabat Safira kini memicingkan tatapan mereka menatap ke arahnya.
Sesaat Safira diam sebelum beberapa detik kemudian sorot matanya serius. "Kalau aku bilang kalian jangan marah ya sama aku," kata Safira. Sejujurnya ia belum siap bercerita tentang pernikahannya kepada sang sahabat ini tapi Safira takut rahasia ini akan menjadi bumerang bagi persahabatan mereka, Safira tidak mau membuat sahabatnya nanti jadi menjauh nantinya.
Walau bagaimana pun sedalam-dalamnya bangkai bukankah akan tetap kecium juga.
"Fiks sih ini kamu sembunyi kan sesuatu kan dari kita, aku udah tebak sih sejak kamu menghilang kemaren susah dihubungi. Kamu lagi ada masalah cerita sama kamu atau kamu lagi terjebak sesuatu, kenak tipu," celutus Juwita
"Iya, atau jangan jangan lu lagi suka sama berondong lagi ya, makanya tanya begitu. Yang mana orangnya spil cakep gak?"
Safira menggelengkan cepat kepalanya. "Bukan begitu, selebih tepatnya aku," Safira diam sesaat. "Aku sudah menikah" lanjut Safira sukses membuat kedua sahabatnya terkejut bukan main.
"Hahhhh ...."
"Lu lagi gak bercanda kan Fira, kok bisa?" Juwita sangat shok.
"Sebenarnya ....." Safira pun menceritakan semuanya dari awal sampai akhir termasuk kejadian hari ini, kalau dia mengajar dikelas suaminya sendiri.
"Gila kamu Fir, bisa-bisanya kamu menikah tanpa mengabariku dan juga Lia, pantas saja kamu sibuk kemaren," kata Juwita.
"Aku minta maaf, aku tidak bermaksud tidak mau mengabari kalian berdua tapi aku sendiri saja belum yakin harus menikah terlebih sekarang aku menikah dengan laki-laki dibawah ku,"
Lian spontan langsung memeluk Safira dalam. "Gue ngerti perasaan kamu gimana, kami hanya terkejut aja mengetahui kamu sudah bersuami,"
"Terus cowok yang seharusnya menjadi suami kamu dimana Fir sekarang udah ada kabarnya? kan sekarang kamu sudah menjadi istri adiknya," Tanya Juwita.
__ADS_1
"Aku tidak tau Ju, dia pergi tanpa pamit begitu saja, keluarga suamiku sepertinya marah besar sama dia," jawab Safira.
"Kalau kamu sendiri Fir?"
"Entahlah, aku tidak tau harus mengatakan apa, kami dijodoh kan atas paksaan. Mungkin Mas Elin tidak nyaman sama aku atau mungkin dia sudah punya pacar mungkin," kata Safira jujur.
"Yang sabar ya Fir," mereka pun berpelukan untuk beberapa saat karena setelahnya terdengar suara orang membukan pintu. Tenyata Ibu Sarah.
"Maaf Ibu menganggu waktu kalian, tapi ibu kesini cuma mau tanya saja ada gak diantara kalian yang pandai berenang?" tanya Bu Sarah.
Safira, juwita dan juga Lia, saling pandang.
"Saya Bu, saya sudah bisa berenang sejak saya umur 6 tahun," jawab Safira jujur. Ya Safira memang pandai dalam berenang karena sejak kecil orang tuanya sering mengajaknya mandi di sungai.
"Kebetulan sekali, Ibu sangat membutuhkan bantuan kamu Safira. Pak Gani guru olahraga sekaligus penanggung jawab atas lomba renang antar sekolah mendadak sakit, guru yang lain pun yang bisa berenang pada ke luar kota ada tugas disana, kami kesulitan mencari guru yang bisa berenang,
Safira apa kamu bisa membantu Ibu, lombanya akan dimulai 3 hari lagi," jelas Ibu Sarah menjelaskan niat dan tujuannya.
Safira tak langsung menjawab ia tampak menimbang-nimbang beberapa saat hingga pada akhirnya dia mengangguk mengiyakan.
***
Di ruangan olahraga tepatnya di kolam renang Safira kembali dikejutkan dengan Aslan, ternyata pria itu juga salah satu murid yang ikut lomba. Benar saja Safira baru teringat kemaren malam bukan kah pria itu membatalkan tiket bulan madu dari papanya karena ikut lomba.
Safira memicingkan tatapannya ketika ekor matanya melihat apa yang terjadi tepat didepannya. Seorang siswa memberikan kota makanan kepada Aslan dan parahnya pria itu menerima dengan suka rela. Dan lihat dia juga tersenyum.
"Giliran makanan istri gak mau punya orang lain suka rela, dasar suami berondong,"
__ADS_1
Bersambung ......