
Safira menelan ludahnya kasar saat kini dia sudah berada tepat didepan para murid perenang dengan stelan baju renangnya, tidak banyak hanya ada 5 orang saja dan salah satu dari mereka adalah Aslan. Pria itu sudah menatapnya tajam sejak tadi entah apa yang membuatnya begitu Safira pun tidak tau tapi yang pasti melihat bidikan mata laki-laki itu nyali Safira rasanya menciut.
"Seperti yang kalian ketahui, saya sebagai guru pengantin sementara karena guru kalian sedang sakit," ucap Safira mencoba baik-baik saja.
"Saya tidak banyak tau tentang acara lomba ini jadi tolong beritau saya kalau ada yang kurang," lanjut Safira.
Mereka serentak mengangguk. "Baguslah kalian bisa memulainya sekarang," ujar Safira lagi mulai melakukan instruksi. Sampai suara pluit berbunyi barulah mereka serentak melompat untuk berenang. Kelima orang murid tersebut melakukan dengan sempurna.
"Aslan, Aslan ..." teriak dua siswi yang seketika membuat ekor mata Safira menoleh ke sumber suara, dan ternyata cewek tadi yang memberikan kotak makanan kepada suaminya.
Mereka berdua tampak sangat semangat mendukung Aslan. "Ckk ... Apa dia itu pacarnya?" Safira bertanya pada dirinya sendiri. "Au ah, bodoh amat." Safira kembali fokus pada kegiatannya.
Aslan paling unggul dalam berenang terbukti dia paling cepat sampai dari pada teman-temannya yang lainya. Dengan tampang datar pria itu melewati Safira begitu saja menuju ruangan ganti. Berbeda dengan murid lainya yang lebih memilih istirahat terlebih dahulu menghilangkan rasa capeknya.
"Aslan tunggu," ujar wanita yang memberikan kotak makanan tadi mengikuti ke arah Aslan pergi.
"Kak kaki saya keram, bisa tolong di pijitin," ujar salah satu murid perenang itu.
"Oh iya, sini," Safira mangut mengerti kemudian ia berjongkong dan memijit kaki tersebut.
"Wih, aku mau juga dong kak dipijit tin," ujar teman satunya lagi.
"Enak aja lu, gue dulu,"
Safira hanya sedikit tersenyum.
"Kalian kalau mau manja mending dirumah aja, kelon sama emak lu," tegas salah satu dari mereka yang berwajah Chindo menatap tajam kearah temannya yang manja tadi.
"Terserah gue dong, resek lu. Bilang aja lu iri," ketus murid yang kakinya di pijit sama Safira.
"Mau gue patahkan sekarang tu kaki, biar bisa manja," ancam pria itu yang spontan berhasil membuat mereka menciut.
"Gue bercanda anjirrr, sesi amat. Kak udah kak makasih," Mereka berdua langsung kabur dengan langkah cepat.
"Lain kali jangan mau disuruh seperti itu, mereka cuma mau cari kesempatan aja,"
"Oh, saya kira mereka memang benar keram," balas Safira.
"Namaku Bima," ujar pria yang tegas tadi sembari menjulurkan tangannya.
"Saya Safira, kakak megang disekolah ini untuk beberapa bulan saja," jelas Safira membalas singkat uluran tangan Bima.
Pria bernama Bima itu mengangguk, "Ini teman aku, namanya Leo," Bima memperkenalkan teman disampingnya.
__ADS_1
"Salam kenal kak Fira," ucap Leo ramah.
"Salam kembali,"
"Kamu ngajar dimana, maksudnya ngajar dikelas berapa?" tanya Bima.
"Oh, saya mengajar di kelas XII-A," jawab Safira.
"Tidak perlu formal begitu umur kita hanya berbeda beberapa tahun saja," ucap Bima.
"Iya sih, benar,"
"Mau berenang?" tanya Bima.
"Gak deh, aku mau ke ruanganku dulu soalnya aku ada sedikit urusan," tolak Safira karena ia baru teringat kalau ada beberapa berkas yang belum ia tanda tangani.
"Oh, baiklah kalau begitu," balas Bima tersenyum kecil.
***
"Aauuu ...." Safira memekik tak kala tubuhnya tiba-tiba saja ditarik seseorang dari belakang dan membawanya masuk ke dalam satu ruangan. Tadi ia berencana ingin menggantikan pakaiannya kembali karena saat ini dia memakai baju renang.
"Aslan," ucap Safira cukup terkejut karena yang menariknya adalah suaminya sendiri.
Laki-laki itu masih menatapnya dengan tatapan menusuk.
"Maksud kamu apa? kenapa aku harus berhenti, kamu tau sendiri kan pelatih kalian lagi sakit," sahut Safira binggung dengan apa yang dikatakan Aslan barusan.
"Aku tidak peduli, yang ingin aku katakan berhenti jadi pelatih renang," kekeh pria itu tegas lalu melangkah pergi.
"Kenapa? apa kamu takut aku akan bilang kepada pacar kamu itu kalau kita sudah menikah, kamu takut ketahuan begitu?" ucap Safira tersenyum tipis disudut bibirnya.
Langkah Aslan seketika berhenti, "Aku tidak peduli, lakukan saja apa yang seperti aku katakan," tegas Aslan setelahnya benar-benar pergi.
"Ck," Safira berdecak kesal. "Dia itu kenapa sih," kesalnya.
***
Sampai diruangan tepatnya di mejanya Safira menjatuhkan bokongnya sedikit kasar, ia masih sangat kesal kepada suaminya itu. Tak luput dari ekor mata Lia, melihat Safira mode gak mood ia pun mengapiri.
"Kamu kenapa Fira, datang-datang mukanya jutek gitu?" tanya Lia binggung. Setaunya Safira sangat suka berenang seharusnya dia merasa senang bukan menjadi pelatih renang.
"Aku lagi kesel, kau tau dia melarangku jadi pelatih renang," jawab Safira.
__ADS_1
"Siapa?" Lia semakin binggung.
"Ya siapa lagi kalau bukan suami berondong ku itu," ketus Safira semakin kesal karena Lia tak paham arah pembicaraannya.
"Hah masak, kok bisa, maksudku kok dia bisa tau?"
"Ya tau lah, orang dia murid yang renang," Safira semakin kesal, sekarang pikirannya dipenuhi dengan wanita yang memberikan kotak makanan kepada Aslan, Safira tidak cemburu bodoh amat dengan siapa wanita itu hanya saja entah kenapa ia merasa jengkel saja melihatnya.
"Suami lu yang mana sih Fira, ada fotonya gak mau lihat?" tanya Lia rasa penasarannya terhadap Aslan semakin tinggi.
"Boro boros punya foto dia, nomor hp nya saja tidak punya," ketus Safira.
"Lah, kalian kan suami istri?"
"Iya tapi kan aku udah bilang kalau kami itu terpaksa menikah,"
"Iya sih," Lia mengaruk-garuk kan kepalanya tak gatal.
***
"Wih gila kakak magang itu cakep banget anjrottt, demen gue lihatnya," ucap Rian tak habis-habisnya dia membahas guru magang yang masuk ke dalam kelasnya tadi di tambah jadi pelatih renang barusan membuat Rian semakin semakin senang.
"Iya, mana cantik banget lagi, sialan lu dapat kesempatan tadi merasakan tangannya, gimana halus gak," timpal Willi.
Mendengar pembicaraan kedua sahabatnya itu membuat Aslan menoleh yang awalnya sibuk main hpnya kini menatap datar ke arah mereka.
"Mulus banget sumpah, mana bening banget lagi tu tangan, jadi pengen pacarin dia anjirrrr .... Kira-kira kak Safira mau gak ya sama gue," Rian menghayal.
"Ngarep lu, bocil kek lu mana mau dia, sama gue lah cocoknya," sahut Willi.
"Pede amat lu!"
"Oh iya, lu save nomornya gak tadi?" tanya Willi kepada Rian.
"Save dong, gila aja secantik kak Safira gak di save nomornya rugi banget," jawab Ria semangat empat lima.
"Sama gue juga, mau nelpon ah nanti malam kali aja tu kakak cantik mau kan di ajak vc* hahahaha ...." tawa Willi yang di sambung gelak tawa juga dari Rian.
"Anj** otak mesum lu," Rian semakin tertawa. Berbeda dengan Aslan sudah mengepal tangannya kuat.
Brakkk ..... Ia memukul meja dengan sangat kuat yang alhasil membuat semua orang terdiam.
"Cabut," ujarnya.
__ADS_1
"Aslan tunggu,"
Bersambung .....