
Sore hari Safira menghilang rasa bosannya dengan menempatkan semua pakaiannya di dalam walk in closet yang ternyata ruangan bersebelahan dengan kamar mandi.
"Wau ini semua pakaian dia?" Safira mangap melihat isi lemari semua lemari dipenuhi pakaian Aslan dari berbagai macam dan merek. "Pakaianku sepertinya seperempat pakaiannya, banyak banget."
Safira juga kagum dengan macam aksesoris Aslan mulai dari jam tangan, dasi tali pinggang, sepatu dan beberapa tas semuanya sangat memanjakan mata. "Apa dia dekolektor, dia sangat menyimpan banyak uang,"
Setelah cukup lama melihat-lihat akhinya Safira bergegas membersihkan pakaiannya didalam lemari samping pakian Aslan yang kebetulan hanya ada beberapa rak kosong disana.
"Selesai!" "Habis ini ngapain lagi ya bosen banget disini mana sendiri lagi, gak ada kawan," Safira memayunkan bibirnya mencoba menimbang-nimbang apa yang harus ia lakukan menghilangkan rasa gabutnya.
Setelah beberapa saat akhirnya Safira memutuskan untuk membantu art saja menyiapkan makan malam.
Namun baru dua langkah ia keluar walk in closet Safira di kejutkan dengan kehadiran Aslan didepan pintu dengan telanjang dada hanya handuk yang melilitkan tubuh indah milik suaminya itu. Ternyata pria itu baru saja habis mandi.
Safira tertegun, tentu saja tidak dapat dipukiri Aslan terlihat sangat tampan apalagi rambutnya basah ditambah bentuk badannya yang bagus menampilkan enam roti sobek siap.
"Apa yang kamu lihat cepat minggir!" Ketus Aslan berhasil menyadarkan Safira.
"Ah iya, maaf!" Dengan langkah cepat Safira buru-buru keluar walk in closet dengan nafas naik turun dan jantungnya berdebar sangat kencang.
Rasanya Safira butuh obat asma sekarang. "Ya Tuhan." Sebagai wanita normal tentu saja Safira memuji kebagusan tubuh suaminya itu. "Mata polosku!"
***
Seperti yang diniatkan Safira sebelumnya, ia benar-benar membantu art menyiapkan makan malam, walaupun ada penolakan di awal tapi pada akhinya Safira diizinkan juga memasak.
Menum makan malam ini rendang, ayam kecap, sayuran dan beberapa makan malam lainya. Seperti terbiasa di dapur, Safira dengan lihai memasak bahkan beberapa art yang memasak kagum dengan lincahnya Safira.
"Nyonya, anda sangat hebat, saya jadi kagum," ucap salah satu art akhirnya mebuka mulut mengakui kehebatan Safira.
"Bibi bisa aja," balas Safira sedikit tersenyum.
"Beruntung ya, tuan muda Aslan menikah sama Nyonya, udah cantik, baik, pintar masak lagi,"
"Bibi sudah Fira jadi malu," ucap Safira kini wajahnya memerah karena terus saja dipuji. Entah kenapa mendengar pujian terakhir art itu membuat Safira teringat akan Elin.
Bohong jika hati Safira baik baik saja saat calon suaminya kabur di hari pernikahan. Memang pernikahan ini terjadi atas perjodohan tidak atas dasar cinta tapi apakah dengan begini caranya. Kenapa Elin tidak menolaknya sejak awal dan kenapa dia malah sangat perhatian dan baik kepada dirinya.
Sejujurnya Safira tersentuh hatinya dengan semua perlakuan Elin. Merupakan sikap pria yang ia idamkan tapi sayang takdir tidak menjodoh kan mereka.
"Safira, sayang. Mama cariin dari tadi ternyata kamu disini, kamu ngapain?" Tanya Karina tiba-tiba datang menghampiri Safira.
"Mamah udah pulang, kok Fira gak tau?" Safira seketika menghentikan aktivitasnya.
"Iya sudah dari tadi, Mama juga cari kamu kemana, termasuk ke kamar kalian disana hanya ada Aslan dia pun tidak tau kemana kamu pergi, untung aja mama inisiatif ke dapur,"
"Hehehe ....."
"Kamu masak, masak apa?" Ekor mata karina langsung melirik makanan di atas kompor
"Ini Mah, aku bantu Bibi buatkan rendang,"
__ADS_1
"Oh ya, wah Mama baru tau kamu ternyata pandai masak sayang, gak salah nih mamah pilih mantu, gak bakal kelaparan anak mamah nantinya hehehe ...."
Safira hanya tersenyum kecil " Mama bisa aja,"
Karina akhinya pun ikut membantu. Ia tidak akan melarang atau menyuruh Safira masak biarkan menantunya itu melakukan apa yang dia inginkan.
Makan malam pun berlangsung, semua orang sudah berkumpul dimeja mekan tak terkecuali pak harto. Semenjak Aslan mau menggantikan Abangnya Elin menikah dengan Safira kesehatan harto membaik.
Safira, dan Karina kedua wanita berbeda usia itu melakukan tugasnya melayani sang suami masing-masing selanjutnya baru untuk diri sendiri.
"Wah, ini enak bangat gak kek biasanya," puji Fina saat mulutnya menguyah rendang.
"Tentu dong, kamu tau siapa yang masak? Coba tebak?" Karina terlihat antusias.
"Bibi, pasti resep baru," tebak Fina langsung ikut bersemangat. Berbeda dengan Aslan dia hanya diam menikmati makanan itu walau pun begitu ia akui makan malam ini sangat enak layaknya hotel bintang lima.
"No, no!" Katina mengeleng cepat.
"Emm ini memang enak, Papa suka," timpal Harto.
"Mau tau ini itu masakan Safira," ucap Karina berhasil membuat semua orang menoleh Safira.
Sadari tadi Safira sudah menundukkan kepalanya karena sudah pasti wajahnya memerah akibat dipuji. Tak luput dari Aslan, dia melirik sekilas ke arah wanita bertastus istrinya itu. Ada sebuah senyuman sekilas terukir sudut bibirnya tanpa sepengetahuan semua orang.
"Wah, menantu kita benar-benar hebat Mah," ujar Harto.
"Iya, sangat hebat."
Safira mengangkat kan kepalanya sembari berkata "Boleh,"
"Pah, Mah aku ingin bicara," ucap Aslan saat semua orang kini sudah siap dalam makan malamnya.
Merasa di panggil kedua pasangan itu menoleh. "Hmm katakanlah," kata Harto.
"Mulia besok, Aslan dan mbak maksud Safira," ralat Aslan karena tidak mungkin lagi dia memanggil Safira dengan sebutan mbak karena sekarang Safira sudah menjadi istrinya.
"Kami akan pindah ke apartemen saja. Kami ingin tinggal disana," lanjut Aslan.
"Loh, emangnya kenapa kalau disini?" Karina bertanya balik.
Safira tampak terkejut dengan perkataan Aslan namun satu sisi dia merasa senang karena sejujurnya dia tidak terlalu nyaman dirumah sebesar ini, mungkin karena belum terbiasa pikirnya.
"Sudahlah Mah tidak apa-apa, mereka sudah menikah pengantin baru butuh waktu untuk berdua, Papa setuju," sahut Harto ia ingin memberikan Safira dan Aslan waktu lebih berdua karena bagaimana pun mereka menikah atas dasar perjodohan.
Karina hanya bisa pasrah.
"Lah terus nanti Fina belajar masaknya gimana?" Tanya Fina.
"Kan waktu libur kamu bisa ketempat abangmu," celitus Harto.
"Tapi ingat, jaga istrimu dan penuhi tugasmu sebagai seorang suami, kalian harus sama-sama belajar untuk bersama," lanjut Harto, Aslan mengangguk sebagai jawaban.
__ADS_1
"Kapan kalian akan pindah?" Karina bertanya.
"Malam ini juga," jawab Aslan yang berhasil membuat semua orang terkejut tak terkecuali Safira.
"Apa? Secepat ini?" Karina merasa tak habis pikir dengan jalan pikir putranya yang satu ini.
"Iya, karena besok Aslan juga akan berangkat pagi ke sekolah jadi besok Aslan tidak punya banyak waktu,"
"Tapi--"
"Biarlah Mah, lebih cepat bukanya lebih baik untuk mereka menghabiskan waktu sama lain mengenal lebih dekat," potong Harto.
***
Pukul 9.30 akhirnya Safira siap berberes menyiapkan kembali perlengkapannya kedalam koper dengan wajah sebal tentunya. "Kalau tau gitu mending aku gak perlu beres beres tadi,"
Sementara pakaian Aslan disiapkan oleh art. Hanya Safira saja yang menyiapkan pakaian nya. Sebenarnya tadi Karina sudah meminta palayan juga agar membereskan pakaian menantunya tapi Safira tidak mau, karena baginya itu melanggar privasinya.
"Hati hati dijalan ya sayang, sering sering pulang kesini ya," ujar Karina memeluk menantunya sekilas.
"Iya, Mah, pasti nanti Safira sering kesini kok," sahut Safira sembari merenggangkan pelukanya.
Pukul 11 kurang 15 Aslan dan Safira tiba di apartemen yang di maksud Aslan. Apartemen memang tidak terlalu luas namun memiliki dua kamar tidur dan balkon melihat kota dan ruang tamu dan serta dapur kecil.
"Itu kamarmu, dan yang ini kamarmu," ucap Aslan memecahkan keheningan membuat Safira tersadar dari lamunannya terkagum dengan apartemen mewah ini.
"Hah, kamu bilang apa barusan?" Tanya Safira is sungguh tidak mendengar jelas Aslan berbicara apa barusan.
"Ck ..." Aslan berdecak kecil. "Itu kamarmu dan yang ini kamarku," ujar Aslan lagi kali ini dengan cukup tegas. "Dan satu lagi jangan pernah masuk kedalam kamarku apalagi mencampuri urusan pribadiku, kita memang suami istri tapi kamu jangan lupa kita menikah atas desakan. Jadi untuk hal pribadi urusan masing-masing," lanjut Aslan.
"Hmm," Safira hanya mengangguk. "Siapa juga yang mau mencampuri urusan pribadimu, urusan pribadiku saja sudah cukup," batin Safira
"Kamu dengar tidak?" Tanya Aslan karena tidak mendapatkan respon memuaskan.
"Iya iya, aku paham," jawab Safira sedikit ketus.
"Bagus, dan ini ambil," Aslan mengeluarkan sesuatu dari dompetnya.
Sebuah kartu atm.
"Apa ini?" Tanya Safira binggung.
"Aku rasa kamu ini apa, kamu tidak cukup bodoh untuk kartu ini saja tidak tau,"
"Is, iya aku tau. Maksudnya untuk apa kamu memberikan aku kartu ini." Safira tampak kesal dengan perkataan Aslan barusan.
"Aku tidak mau dikatakan sebagai suami tidak bertanggung jawab menafkahi istrinya," ujar Aslan lalu menyeret kopernya masuk ke dalam kamar.
"Iss, dasar suami bocil ngeselin!"
Bersambung ....
__ADS_1