
Beberapa botol kaca berukuran 1 literan sudah terisi cairan bening berwarna kuning kunyit. Ada juga yang berwarna kuning-putih keruh dengan aroma kencur. Hanya satu botol yang berwarna hitam legam. Pasti rasanya pahit.
Kotak-kotak kecil berbagai merk dan macam-macam jamu juga tertata rapi di rak mungil yang tergantung di sisi tembok sebelah kiri.
Sundari, perempuan berambut ikal itu tengah menata botol-botol yang berisi sinom di meja. Disitulah dia akan melayani pelanggannya yang datang untuk minum jamu.
Dia bersyukur, suaminya mengijinkan berjualan jamu di depan rumah mungilnya, setelah sebelumnya dia mengeluh capek karena berkeliling menjajakan jamu. Apalagi dia juga masih harus mengurus putri kecilnya yang masih berusia 2 tahun.
"Bu, mimik nom..." Rengek Rima putri kecilnya.
"Oh, Rima mau minum sinom ya," Sundari meraih tubuh kecil Rima ke dalam gendongannya. Di tuangnya sinom ke dalam gelas kecil lalu di minumkan ke mulut kecil Rima.
"Nak..nak..." Cecap Rima sambil tertawa. Kaki dan tangannya bergoyang riang dalam gendongan ibunya. Sundari tertawa melihatnya.
"Dek,mas berangkat dulu ya." Sahut suaminya lantas mengambil Rima untuk digendongnya. "Rima, jadi anak pinter ya. Ga boleh rewel kalau ada orang beli jamu."
"Ya..ya..ya..." Sahut bocah itu dengan mimiknya yang lucu.
Setelah puas menghujani Rima dengan ciuman dan membuatnya tertawa-tawa, Junab, suami Sundari menurunkan putrinya yang langsung meraih mainannya dan sibuk sendiri.
Junab menghampiri istrinya lalu mencium keningnya. Sedikit lama, membuat pipi Sundari memerah.
"Ish, sudah. Nanti kalau ada yang lihat kan malu." Dia mendorong tubuh suaminya menjauh. Junab tergelak, lalu mendekat lagi untuk memeluk Sundari sekilas.
"Hati-hati ya di rumah. Jangan suka marah-marah sama Rima, dia masih kecil. Jangan lupa senyum, itu sodaqoh termurah." Pesannya selalu sama setiap hari. Namun Sundari tak bosan mendengarnya.
"Siap bos. Mas Junab juga hati-hati di tempat kerja. Dijaga matanya, jangan lihat kanan-kiri."
"Lah, kalau ndak boleh lihat kanan-kiri bahaya dong. Nabrak gimana?" Celetuknya dengan mimik lucu.
"Hahaha, maksudnya jangan lihat yang tidak boleh dilihat ah. Capek ngomong sama kamu mas. Ada aja jawabannya." Dia memasang tampang cemberut.
Junab tertawa melihat muka bete istrinya. Di jawilnya cuping hidung Sundari yang tidak seberapa tinggi itu.
"Baik-baik ya di rumah. Kalau capek istirahat saja. Jangan terlalu memaksakan diri. Rizky Alloh tidak melulu datang pada orang yang bekerja keras. Karena Dia sudah menjamin semua makhluk-Nya. Baik yang bekerja maupun yang tidak. Yang berbeda hanya sedikit banyaknya. Apa guna banyak harta kalau badan sakit-sakitan." Kata-kata suaminya semakin panjang.
"Iya, ya mas. Nanti mas telat lho.. ngomong melulu." Sahut Sundari sewot.
"Ya sudah. Jangan lupa kunci pintu kalau sudah selesai. Sholat di awal waktu.." Kembali Junab melempar nasehat pada istrinya.
"Njeh maas..." Sundari mendorong punggung suaminya agar segera berlalu. Bukan karena dia tak suka, tapi karena tak ingin suaminya terlambat bekerja.
__ADS_1
"Assalamualaikum." Sundari meraih tangan suaminya lalu menciumnya takzim.
"Waalaikumsalam."
Setelah yakin suaminya sudah pergi. Dia bergegas ke belakang untuk mengambil wudhu. Kebiasaannya sebelum membuka warung jamunya adalah sholat dhuha 4 rokaat. Menarik tali rizky yang dibawa malaikat Mikail agar menurunkan rezeki yang ada dilangit, mengeluarkan yang di dalam bumi, mendekatkan yang jauh, menghalalkan yang haram, memudahkan yang sulit, dan memperbanyak yang sedikit.
Dengan bismillah, perlahan dia membuka warungnya.
"Ndar, beras kencur sebotol ya." Lek Nanik berkata sambil meletakkan keranjang belanjaannya di depan meja.
"Baru pulang dari pasar Lek?" Tanya Sundari seraya meraih sebotol beras kencur yang diminta Lek Nanik.
"Iya, Kamu sudah ke pasar?"
"Sudah Lek. Ada pesanan kotak an Lek? Kok banyak banget belanjanya?"
"Iya. Alhamdulillah. Lumayan nambah belanja." Kata Lek Nanik sumringah. Sundari ikut tertawa.
"Nanti lak longgar ke rumahku ya Ndar. Bantuin masak."
"Iya lek, InsyaAllah. Aku pamit mas Junab dulu."
"Cah ayu. Jamu pegal linunya nduk," Harno, salah seorang dari tiga laki-laki yang tiba-tiba duduk di kursi. Jarwo, Nanang, dan Harno. Para sopir ojek langganan jamunya.
"Astaghfirullah. Ngagetin saja mas," sahut Sundari sambil memegang dadanya. Harno hanya tertawa.
"Pegal kenapa mas?" Sahut Nanang. "Jamu kuat ya Ndar," Pesannya.
"Halah, kamu pake pesan jamu kuat segala. Lemas atau gimana?" Harno terkekeh mendengar pesanan Nanang.
"Aslinya sama saja mas, Jamu pegal linu buat orang yang capek. Jamu kuat juga buat orang yang capek." sahut Sundari menengahi.
"Wakakakaka.... Betul Ndar," Jarwo tertawa terbahak mendengar celoteh Sundari.
"Beda Ndar," elak Nanang.
"Sama mas," Sundari mencibir ke arah Nanang.
"Sudah, sudah... Kok ga bikin gorengan Ndar?" Jarwo mencari gorengan yang biasanya dibuat Sundari menemani jualan Jamunya.
"Ndak mas, tadi ke pasar dah kesiangan. Krupuk itu aja loh mas."
__ADS_1
"Walah Ndar. Jarwo kurus kamu tawari kerupuk, terbang itu nanti orangnya," Nanang menyahut sambil menepuk bahu Jarwo. Mereka tertawa mendengar kata-kata Nanang.
Sundari sudah membuatkan jamu pesanan mereka. Biasanya mereka akan mengobrol sambil menunggu panggilan penumpang. Ditinggalnya ke dalam melihat Rima anaknya. Bocah kecil itu ternyata tertidur di lantai sambil memegang boneka mainannya. Diciuminya dengan sayang lalu diangkatnya ke kasur tanpa dipan (tempat tidur) yang ada di kamarnya.
Sundari kembali ke depan ketika didengarnya ada suara ramai. Alhamdulillah sepagi ini warungnya sudah ramai. Pikirnya.
"Ndar, sini nduk..." Harno melambaikan tangan agar Sundari bergegas mendekat.
"Kenapa mas?" Tanyanya kebingungan melihat beberapa laki-laki yang tidak dikenalnya.
"Mbak, aku Sholeh, temannya Junab."
"Kenapa mas Junab," Sundari mulai nampak khawatir.
"Sabar Ndar..." Sahut Jarwo
"Iya Ndar, tenang..." Kata Nanang dan Harno bergantian.
"Mas Junab kecelakaan mbak."
"Innalillahi wa inna ilaihi rooji'uun," Sundari memegang dadanya. Tubuhnya mendadak luruh ke lantai. Jarwo yang ada di sebelahnya spontan memegang bahu Sundari agar tubuhnya tak berdebum di lantai.
"Sabar mbak. Mas Junab sudah dibawa ke Rumah sakit. Mbak nya mau ikut kesana atau..."
"Aku ikut! Sebentar.." potong Sundari. Segera setelah mengumpulkan kekuatannya. Dia melesat ke dalam rumah. Berganti baju dan mengambil selendang untuk menggendong Rima.
Dibonceng Jarwo, mereka menuju Rumah Sakit tempat Junab dirawat. Sepanjang perjalanan Sundari tidak berhenti bersholawat, istighfar dan takbir untuk menenangkan hatinya.
Setibanya di Rumah sakit, Sundari berlari tanpa menunggu Jarwo yang sedang memarkir motornya.
"Mana mas Junab? Mana mbak? Mana pak?" Panik Sundari menerjang suster dan orang yang berdiri di depan ruang UGD.
"Sabar Ndar. Junab masih ditangani."
"Kenapa dia?" Tanyanya sambil menangis.
"Nabrak pohon. Menghindari motor yang oleng di depannya. pengendaranya masih anak-anak Ndar."
"Oalah, duh gusti... Astaghfirulloh..." Sundari meluruh kembali. Dia meratap mendengar penjelasan kawan Junab. Orang-orang hanya diam, menatap Sundari dengan tatapan iba. Rima yang masih digendongnya pun masih diam menatap ibunya. Seolah gadis kecil itu tahu, ibunya sedang bersedih.
Next ~
__ADS_1