
FLASH BACK VIEW
"Sundari," Gadis itu menyebut namanya dengan lirih. Kepalanya menunduk ke lantai. Junab, lelaki yang dikenalkan orang tuanya itu memandang dengan gemas.
"Mau dipanggil apa? Sun? Atau Ndari?" Tanya Junab dengan nada sedikit menggoda.
Sundari tersentak kaget, tak menyangka akan mendapat pertanyaan yang dipikirnya sangat konyol. Dia mengangkat kepalanya lalu tersenyum.
"Ndari aja mas," sahutnya dengan wajah bersemu merah. Lagi-lagi kepalanya menunduk.
"Kenapa sih lantainya? Lebih ganteng dari aku?" Tanya Junab pura-pura kesal.
"Eh... Nggak mas." Jawab Sundari dengan malu-malu. Mau tak mau dia menatap wajah Junab yang meski tidak seganteng Amitabh Bhachan, bintang India pujaannya, tapi sedap dipandang mata. Dengan usia yang tak lagi muda, Junab nampak lebih bertanggung jawab daripada mantan suaminya yang tega meninggalkannya demi perempuan lain.
"Kata simbok, kamu sudah punya anak yaa," Junab membuka percakapan diantara mereka.
"Iya mas, satu anak lelaki. Tapi anakku di bawa mantan suamiku. Sekarang usianya sudah 5 tahun."
"Oh gitu,"
"Kenapa dibawa suamimu?"
"Dia bilang aku ini orang miskin, tidak akan mampu menyekolahkan anakku. Tidak bisa memebri kebahagiaan padanya. Iya benar mungkin mas, lebih baik dia bersama bapaknya." Jawab Sundari dengan masygul.
"Ya sudah... Nggak apa-apa. Kalau mau nikah sama aku. Mau nggak punya anak yang buanyaaak?" Canda Junab dengan menarik ujung bibirnya nakal.
"Ish, mas bisa aja," Sundari cemberut mendapat candaan seperti itu. Tak ayal hatinya berbunga-bunga. Dia tidak pernah menerima kata-kata gombal dari pria manapun sebelumnya. Bahkan tidak dari mantan suaminya.
*****
Sebulan kemudian.
"Ndari to? cantik sekali,"
"Iya, pangling ya,"
__ADS_1
"Ya ini janda kembang,"
Sundari yang memakai kebaya putih dangan jarit motif sidomukti warna coklat itu berjalan pelan menuju meja untuk akad nikahan. Di depan meja itu sudah ada Junab yang memakai kemeja warna putih tanpa jas. Memakai kopyah hitam.
Di belakang meja sudah ada bapaknya, penghulu, dan para saksi dari pihak laki-laki dan perempuan. Lengannya digamit ibunya.
Setelah duduk berdampingan. Ijab qobul pun diucapkan Junab dalam satu tarikan napas. Sah. Alhamdulillah.
Setelah menanda tangani berkas-berkas. Mereka berdiri untuk penyerahan mahar. Setelah itu, Junab meletakkan tangannya diatas kepala istrinya untuk dibacakan doa. Sundari pun meraih tangan suaminya untuk kemudian diciumnya. Lelaki yang dipilihkan orang tuanya, dia terima dengan hati lapang.
*****
"Capek?" Tanya Junab saat mereka sudah ada di kamar pengantin. Sundari menggelengkan kepala. Memang mereka tidak mengadakan resepsi besar-besaran. Hanya acara walimatur ursy saja.
"Mas, kita akan tinggal disini?" Sundari melepas sanggul kecil di kepalanya.
"Ndak lah dek, aku kan kerja di Surabaya. Nanti sampean ikut kesana saja. Aku dah ngontrak rumah meaki kecil." Junab membantu melepas sanggul di kepala Sundari.
"Terima kasih," kata Sundari saat sanggul itu sudah terlepas.
Junab melangkah mendekati istrinya. Tangannya terulur ke wajah mungil di depannya. Jantungnya melompat-lompat bagai berada di atas trampolin. Ujung matanya tertarik ke arah bibir kecil yang masih terpoles lipstik berwarna merah menyala.
Sundari hanya diam terpaku, saat benda kenyal itu menempel di bibirnya. Matanya mengerjap pelan kemudian terpejam sesaat menikmati sensasi dingin-dingin empuk itu.
"Mas..." Sundari memotong gelora Junab yang sudah memuncak.
"Apa?" Desah suaminya.
"Sholat dulu,"
"Astaghfirulloh." Junab menepuk jidatnya. Sundari tersipu melihat itu.
"Ayok..." Mereka berjalan beriringan menuju kamar mandi yang ada di luar kamar.
*****
__ADS_1
"Ndari aku ajak ke Surabaya ya pak," Junab berpamitan pada bapak mertuanya.
"Iya. Hati-hati. Aku titip anakku ya Jun. Sabar saja kalau dia sering ngrepoti kamu,"
"Iya pak. InsyaAlloh...." Jawab Junab mantap.
Hari ini mereka akan meninggalkan desa kelahiran Sundari di Gresik menuju Surabaya. Sebelumnya dia memang pernah kerja di Surabaya. Saat itu dia baru lulus SMP.
Karena kondisi ekonomi keluarganya yang tidak memungkinkan baginya untuk melanjutkan sekolah, dia menerima tawaran temannya yang mengajaknya bekerja di perusahaan konveksi. Meski tanpa keahlian, namun perusahaan itu tetap mau menerimanya. Mungkin karena kebutuhan tenaga kerja murah pada saat itu sangat langka. Karena Sundari cepat belajar, akhirnya dia pun bisa mengikuti permintaan perusahaan itu.
Namun dia tak lama bekerja di situ. Karena seorang laki-laki yang sudah beristri sering menggodanya. Gerah dengan tingkah lelaki tua yang semakin berani itu, membuat Sundari mengundurkan diri setelah satu tahun bekerja. Dia pun kembali ke desa, membantu bapak dan emaknya bekerja di sawah.
Saat ada acara sedekah bumi di desanya. Dia bertemu dengan seorang pemuda kawan lamanya. Lelaki itu berhasil membuat Sundari tergila-gila. Hingga tanpa pikir panjang dia menerima lamaran pemuda itu dan kemudian menikah di usianya yang baru menginjak 16 tahun.
Bukan. Bukan karena dia sudah hamil duluan. Tapi memang dia ingin menikah muda saja. Tapi sayang, pernikahannya tidak berlangsung lama. Setahun setelah dia melahirkan putranya. Suaminya mulai tergoda wanita lain. Meski sudah dia upayakan berbagai cara untuk mempertahankan rumah tangganya, tapi rasanya semua usahanya selalu gagal. Dia pun menyerah saat suaminya mengajukan gugatan cerai padanya.
Sundari menjadi janda saat usianya baru beranjak di angka 20. Dan yang lebih membuat sakit hatinya. Suaminya membawa serta putra satu-satunya. Dengan alasan kemiskinannya yang tidak akan mampu menyekolahkan dan membahagiakan putranya, suaminya berhasil mendapatkan hak asuh anaknya.
Tapi Sundari bukanlah wanita yang cengeng. Meski menangis karena penderitaan yang dilaluinya. Tapi dia tak berlarut dalam keterpurukan. Dia kembali bekerja keras membantu bapaknya mengelola sawahnya. Hasilnya tak seberapa, tapi mampu mengalihkan perhatiannya.
Hingga tiga tahun kemudian. Orang tuanya menjodohkannya dengan Junab.
"Jauh ya mas?" Sundari menyandarkan kepalanya di bahu Junab. Di dalam bis antar kota, mereka duduk berdempetan.
"Tidak. Kamu ngantuk ya?" Sundari mengangguk pelan. Ditutupnya mulut yang sudah berkali-kali menguap.
"Tidurlah dulu. Nanti kalau sudah sampai aku bangunkan," katanya sambil mengusap rambut Ndari yang tergerai di pundaknya.
Sundari mengangguk kemudia memejamkan matanya. Junab hanya tersenyum melihat tingkah istrinya. Meski dia janda, tapi dia bersyukur memperistri Sundari. Perempuan itu tidak banyak cakap dan selalu menurut apa katanya. Sehingga Junab tidak merasa kesulitan mengarahkan istrinya.
Kini, mereka akan memulai kehidupan baru sebagai pasangan suami-istri. Semoga Junab mampu menjadi imam bagi Sundari dan anak-anaknya kelak.
Junab tersenyum sendiri saat dia membayangkan dirinya menggendong anak-anak yang cantik-cantik dan ganteng-ganteng. Tangannya masih mengelus rambut istrinya yang tertidur di bahunya.
~next~
__ADS_1