
"Ndar, kamu bisa bikin sinom?" Tanya lek Nanik saat dilihatnya Sundari memasukkan kunyit, gula, daun dan buah asem kedalam panci besar di atas kompor.
"Bisa lek," sahut Sundari sambil membereskan perabotan yang dipakainya untuk membuat sinom.
"Kalau beras kencur?" Tanya lek Nanik lagi.
"Bisa lek, jamu paitan juga bisa," jawab Ndari.
"Kalau gitu kamu jualan jamu aja Ndar," kata lek Nanik. "Nanti aku bantu promosikan ke ibu-ibu pengajian sama kumpulan dasa wisma," kata lek Nanik semangat.
"Bener lek?" Sahut Sundari dengan mata berbinar.
"Iya,"
"Nanti aku bilang sama mas Junab dulu ya lek. Terima kasih lek,"
"Ya, ya. Itu pesenan siapa?" Lek Nanik menunjuk ke arah panci yang sudah mendidih di atas kompor.
"Belum ada yang pesen lek. Aku bikin buat mas Junab, biar seger lek. Daripada ngopi terus, sama minum apa itu joss..joss.. kok rasane ndak sreg aku lek," kata Sundari kemudian.
"Iya bener, bilang sama Junab, dikurangi itu minum minuman berenerginya. Ga baik buat kesehatan ginjalnya." Lek Nanik menasehati Sundari.
"Iya lek. Nanti Ndari bilang. "
"Ya udah. Aku pulang dulu. Jangan lupa aku dikasih tester sinomnya." Kata lek Nanik sambil melangkah keluar.
"Iya lek," jawab Sundari.
Dia kembali mengaduk ramuan sinomnya. Setelah dirasa sudah pas. Dimatikannya kompor lalu mulai mengerjakan lainnya.
__ADS_1
Kali ini tawaran lek Nanik membuat dia sedikit semangat. Bukan pundi-pundi rupiah yang dicarinya. Tapi lebih kepada kegiatannya yang tidak lagi seputar masak, nyuci, bersih-bersih, tidur, bengong nungguin suami pulang kerja. Tapi dia akan berjualan jamu. Membayangkannya saja dia sudah senang sekali.
*****
"Boleh ya mas," Sundari bergelayut manja di bahu Junab.
"Modalnya berapa?" Tanya Junab.
"Ga banyak kok mas. Kan aku bisa bikin sendiri jamunya." Jawab sundari masih dengan nada merajuk.
"Yakin? Aman ndak? Kamu bisa beneran bikin jamu-jamu itu?" Kerling Junab nakal. "Aku ga mau di labrak orang-orang yang beli jamumu nanti loh ya." Canda Junab sambil mencubit ujung hidung istrinya.
Sundari mengerucutkan bibirnya. "Ya aman lah. Kan mas Junab dah ngerasain sendiri jamuku?"
Junab tertawa melihat raut wajah bete istrinya. Di tariknya tubuh mungil itu ke pelukannya. Dikecupnya dahi lalu pipinya. Tapi sepertinya dia tak berhenti disitu. Karena bibir istrinya sudah mulai menaikkan geloranya untuk segera diselesaikan. Di angkatnya tubuh itu ke atas dipan kecil di belakang kursi yang mereka duduki tadi. Sepertinya Sundari sudah berhasil mengantongi ijin dari suaminya.
*****
"Lha gimana mas. Botol plastik baru mahal. Sementara aku pakai ini aja. Udah aku cuci bersih kok mas." Kata Sundari sambil terus memasukkan jamu-jamu itu kedalam botol.
"Pakai botol kaca saja. Yang 1 literan itu. Kan lebih hemat, bisa dicuci. Lebih sehat juga kan," kata Junab menghampiri istrinya.
"Mahal juga kan mas." Jawab Sundari.
"Ya udah, nanti aku carikan yang bekas saja ya? Cari di loakan pasti ada." Junab melangkah keluar dari dapur.
"Jangan banyak-banyak mas. Secukupnya uang dulu. Ndak usah cari-cari hutangan. Nanti kalau ada untung dari jualanku bisa dibelikan lagi." Sundari mengikuti langkah suaminya. Junab sedang bersiap berangkat kerja. Sundari mengekori suaminya hingga ke depan pintu.
"Iya. Aku berangkat kerja dulu, nanti pulangnya aku mampir pasar loak." Sundari mengambil tangan suaminya lalu menciumnya. Junab tersenyum lalu mencium kening istrinya.
__ADS_1
"Hati-hati mas,"
"Iya. Assalamu'alaikum,"
"Waalaikumsalam."
Sundari menutup pintu setelah suaminya tak terlihat di ujung gang. Dia pun melanjutkan kegiatannya menuang sinom, kunyit asam, dan beras kencur ke dalam botol. Rencananya dia akan bawa jamunya ke tempat lek Nanik. Sore ini ada arisan dasa wisma katanya. Supaya lebih segar, jamu itu harus masuk kulkas dulu di rumah lek Nanik, karena Sundari belum mempunyai kulkas.
Sundari tak pernah meminta lebih pada suaminya. Dia tahu diri dengan kondisi mereka. Apalagi kondisi ekonomi diluar yang sedang tidak menentu. Dia memang tidak mengerti arti krisis moneter. Tapi dia merasakan dampaknya. Setiap hari memutar otak dan memutar uang belanja yang diberi suaminya. Tak jarang mereka puasa senin kamis untuk lebih menghemat.
*****
Sundari memasukkan botol-botol berisi jamu dan sinom itu ke dalam kulkas di rumah lek Nanik.
"Bener loh Ndar, sinom mu itu seger banget. Siapa yang ngajari kamu?" Lek Nanik membantu mengulurkan botol-botol itu ke tangan Sundari.
"Alhamdulillah. Simbok yang ngajari lek." kata Sundari sambil tersenyum.
"Pintar kamu nduk. Sudah cantik, kalem, rajim, pintar lagi. Beruntung Junab punya istri kayak kamu." Puji lek Nanik tulus.
"Walah, biasa saja lek." Sundari tersipu. "Sudah semua ya lek. Nanti saya ikut arisannya atau gimana?"
"Kalau kamu ndak repot ya ga apa-apa ikut saja. Sekalian kenalan sama ibu-ibu tetangga sini." Kata lek Nanik lembut. Sundari merasa bahagia bisa bertetangga dengan lek Nanik. Sikapnya yang kalem dan baik pada Sundari, membuatnya bagai menemukan pengganti ibunya di kota Surabaya ini.
"Iya, nanti saya pamit mas Junab dulu lek. Saya pulang dulu. Assalamualaikum," Sundari berpamitan
"Iya,ya. Waalaikum salam" Lek Nanik menepuk punggung Sundari pelan. Beliau mengantar Sundari sampai depan pintu rumahnya.
~next~
__ADS_1