
Sundari membersihkan pecahan kaca di dapur. Dia memandang pilu botol-botol kaca yang dibelikan Junab. Masih terpampang nyata dalam lintasan memorinya malam itu.
"Botol kaca ini memang terlihat biasa dek. Tapi lihat, mereka adalah manifestasi usaha kita. Usaha untuk melayani pembeli kita dengan baik. Botol kaca ini lebih higienis daripada botol plastik bekas air mineral. Jadi, mereka yang membeli minuman dari kita bisa merasa lebih baik." Sundari mengangguk-angguk mendengar kata-kata suaminya.
"Kita harus berhati-hati dalam bersikap di kehidupan ini, seperti botol ini, jangan menuang sinom yang masih panas ke dalamnya."
"Eh, aku nggak menuang sinom panas kok Mas, sudah hangat." Protes Sundari. Junab tertawa lalu mencubit hidung peseknya.
"Itu hanya perumpamaan Sayang. Maksudnya, botol ini sangat rapuh, serapuh hati kita. Maka hati-hatilah memegangnya, jangan sampai dia jatuh dan pecah. Begitu juga hatiku, jangan sampai kau permainkan, kalau dia jatuh dan pecah, sulit kembali semula." Sundari melongo mendengar kata-kata Junab.
"Auk ah, bahasanya njelimet. Pusing aku. Habis makan apa sih itu tadi, ngomong banyak tapi aku nggak paham sama sekali." Sundari berlalu meninggalkan Junab yang masih terkekeh melihat tingkah istrinya.
"Ahh!" Sundari terpekik. Tanpa sadar tangannya tergores kaca yang dia bersihkan. Dia pun terduduk, lalu tergugu pelan. Dengan memeluk kedua lututnya tangisnya berubah menjadi airbah.
"Mas Junab, maafin Ndari Mas... Maaf..." Rintihnya memanggil nama suaminya.
*****
"Ndar, mau belanja ya," Seorang laki-laki mensejajari langkah Sundari menuju ke pasar. Dia yang menggendong Rima hanya menengok sekilas.
"Ndar, aku antar yok." Sahutnya lagi. Tapi Sundari tak menggubrisnya.
Merasa tak dihiraukan. Lelaki itu pun berhenti dan tak mengikutinya lagi. Sundari menghela napas berat. Lega dan cemas. Semenjak statusnya menjadi janda, banyak sekali lelaki yang mendekatinya. Baik yang duda, bujang, maupun yang sudah beristri. Namun Sundari bergeming.
Terkadang, saat dia sendiri, ada rasa sesak menghimpit dada. Membayangkan masa depannya dan Rima putrinya. Bagaimana kelak dia membesarkan Rima seorang diri, sanggupkah dia? Saat ini saja, dia sudah capek luar biasa. Mencari penghidupan, demi sesuap nasi untuknya dan Rima saja sudah sangat susah. Apalagi untuk biaya sekolah nanti. Apakah dia lebih baik menikah lagi saja? Agar lebih ringan bebannya.
Namun, kadang dia juga merasa tak enak hati. Apalagi pada tetangga-tetangganya yang kadang sangat keterlaluan memandangnya. Tak jarang dia mendengar bisik-bisik para ibu yang ngobrol saat Sundari ke pasar. Mereka pikir Sundari mencoba menarik perhatian suami mereka.
Warungnya memang laris manis, apalagi saat sore dan malam hari. Saat para sopir hendak kembali ke peraduan, mereka akan mampir ke warung Sundari untuk mendapat suntikan energi dari seduhan jamunya. Dia memang terlihat tidak peduli. Siapa yang tahu bila dia masih sering menangis di malam hari.
Beberapa hari ini hujan turun dengan deras. Membuat daerah tempat tinggal Sundari kebanjiran. Tidak lama memang, hanya beberapa jam saja. Namun, karena rumahnya agak rendah dari rumah lainnya, air pun harus dikeluarkan agar tidak menggenang.
Lek Nanik dan suaminya sebenarnya sudah menawarkan perbaikan rumahnya, tapi Sundari menolak. Sungkan, mereka terlalu baik padanya. Dan beginilah dia sekarang, duduk di dapur sambil menyerok air dengan piring plastik lalu dibuang keluar.
__ADS_1
"Mbak Ndari!!" Seseorang berteriak di depan pintu.
"Ya! Aku di belakang Lis." Itu pasti Lisa, anak Bu Dani tetangganya.
"Ngapain Mbak?" Tanya Lisa saat dia memasuki rumah Sundari.
"Nguras air Lis. Kenapa?"
"Owalah, ini dapurmu Mbak?"
"Iya. Hujan deras kemarin airnya masuk Lis. Baru sempat bersih-bersih ini. Ada apa?"
"Ndak. Aku disuruh Ibu pesan sinom botol 1liter 10. Buat hari Kamis. Ada pengajian kata Ibu."
"Alhamdulillah. Iya Lis. Terima kasih. Sampaikan juga terima kasih buat Ibu ya.."
"Iya mbak. Aku balik dulu ya."
"Ya."
Tumben, sepi. Bisik hatinya. Ahh, jangan berprasangka, mungkin Allah sedang beri kamu kesempatan untuk istirahat sejenak. Sundari pun masuk melihat Rima yang sedang bermain sendiri.
"Assalamualaikum," Terdengar salam dari luar.
"Waalaikumsalam." Sundari bergegas ke depan. Seorang laki-laki, perempuan, dan pemuda berdiri di teras rumah Sundari.
"Masya Allah. Bapak, ibu, adek. Mari masuk." Sapa Sundari seraya mempersilahkan mereka masuk.
"Ndari, gimana kabarnya?" Pak Sodiq menepuk pundak Sundari pelan.
"Alhamdulillah. Baik Pak, Bu. Bapak dan Ibu sendiri gimana? Sehat?"
"Sehat Alhamdulillah."
__ADS_1
Mereka adalah keluarga pelaku tabrakan Junab. Pak Sodiq,Bu Rini dan Damar, pemuda yang menyebabkan Junab kecelakaa dan akhirnya meningg. Setelah Sundari bertemu dengan pemuda itu tempo hari, dia menjelaskan semua alasannya untuk tidak berdamai. Dia mengatakan bahwa apa yang dia lakukan hanya untuk mematuhi hukum yang ada di negara ini. Bahwa yang bersalah hendaknya dihukum. Dan agar pemuda itu juga menjadi lebih hati-hati dan waspada ke depannya. Lebih bertanggung jawab terhadap perbuatannya.
Sundari juga ingin agar orang tua mereka bisa belajar bagaimana menyayangi putranya dengan benar. Bukan dengan selalu melindunginya, meski dia berbuat kesalahan. Tetapi bisa menerima putranya apa adanya dan menemani dia saat senang dan susah juga merupakan bentuk kasih sayang orang tua pada anaknya.
Akhirnya, mereka semua bisa legowo. Pemuda itu menerima hukuman penjara selama 2 minggu. Ringan? Tidak juga, karena Damar masih SMP kelas VIII, sebentar lagi ujian. Sundari sendiri juga sudah memaafkan mereka. Musibah itu juga tertulis di Kitab-Nya. Tidak ada yang bisa menghapusnya. Itu yang diyakini Sundari. Itulah sebabnya Damar hanya di penjara 2 minggu.
Buah dari kesabaran itu justru terjalinnya silaturahim antara mereka.
"Maaf, kami jarang mengunjungimu. Kamu pasti kesepian, sendiri begini." Ibu Rini, menepuk-nepuk punggung Sundari.
"Tidak Bu, masih ada Rima. Nduk sini, salim dulu ama Mbah." Sundari memanggil putrinya yang langsung berdiri mendekat.
"Pinter." Sahut mereka.
"Sudah mulai jualan Ndar?" Tanya Pak Sodiq.
"Iya Pak. Tabungan sudah tidak ada. Kalau tidak jualan gimana mau makan nanti."
"Owalah. Sabar ya Nduk," Sundari mengangguk sambil tersenyum.
"Kamu ikut kerja di kantor Bapak aja Ndar," Tawar Pak Sodiq.
"Terima kasih Pak. Tidak usah repot-repot. Saya sudah nyaman di sini. Warung juga sudah banyak langganan. Kasihan kalau mereka ditinggal." Tolak Sundari halus. Sundari tak ingin membebani hidup orang lain. Dia tak terbiasa menggantungkan hidup pada orang lain.
Dengan berat hati pak Sodiq dan bu Rini menerima keputusan Sundari. Saat pulang, mereka menyelipkan beberapa lembar uang ratusan ribu ke tangannya. Meski ditolak, tetapi mereka tetap kukuh memberi.
"Alhamdulillah. Terima kasih ya Allah. Terima kasih Pak, Bu." Sundari berkaca-kaca menerimanya.
Sepeninggal mereka, Sundari kembali masuk. Dia heran, sampe hari sesiang ini, kenapa belum ada yang membeli rujaknya ya?
.
.
__ADS_1
.
~next~