
"Ndari! Sundari!"
Suara perempuan yang berteriak memanggil namanya sambil menggedor pintu terdengar bagai rentetan peluru menembus rumahnya.
Sundari tergopoh-gopoh membuka pintu.
"Simbok?" Sundari mundur beberapa langkah karena tangan simboknya mendorong pintu hingga terbuka lebar.
"Kemasi barangmu sekarang!" Perintahnya. Sundari masih terpaku di tempatnya berdiri.
"Eh, kenapa? Ada apa Mbok?" Tanya Sundari seraya mencengkeram lengan simboknya.
"Bapakmu ... "
Sundari terkesiap. 'Kenapa bapak? Apakah aku harus menerima berita duka lagi?' Lirih Sundari dalam hati. Pikirannya seketika kacau kembali. Apalagi dilihatnya simbok yang hanya menangis dan belum menjawab pertanyaannya.
"Mbok. Kenapa Bapak?" Rintih Sundari.
"Bapakmu jatuh di sawah. Dia ... Dia meninggal Ndari."
Jedarr!!!
Lagi!!!
Mereka berangkulan dengan isak yang berubah menjadi tangisan pilu. Sundari hampir hilang kendali. Pikirannya sudah melanglang buana kemana-mana.
'Ya Allah. Kenapa begini? Kenapa aku? Haruskah seberat ini? Apa Engkau begitu suka melihatku menderita? Atau memang aku tak berhak bahagia? Dosa apa yang kulakukan di masa lalu? Hingga Kau beri aku sakit tiada henti.'
Pikiran-pikiran itu berkelebat satu persatu dalam benaknya.
Berat. Sungguh berat derita yang dialami. Bahkan serasa tiada jeda untuk sekedar membuang napas dan menyandarkan lelah.
Namun, pelukan simbokĀ menyadarkannya. Pun dengan tangisan Rima yang kemudian ikut terdengar. Sundari bangkit meraih Rima dan menenangkannya.
"Kenapa Simbok datang sendiri? Ayub mana?" Tanyanya sambil memangku Rima.
"Adikmu sedang mengurus jenazah Bapak. Biar cepat, Simbok datang saja langsung ke sini. Ayo cepat siap-siap."
Mereka pun bangkit dan mengemasi barang yang akan dibawa ke desa.
Selama perjalanan, Sundari kembali merenungi jalan takdirnya. Suka, duka, bahagia, tangis dan tawa. Ujian yang datang bertubi-tubi bagai bola bowling yang dilempar dan mampu merubuhkan semua botolnya sekaligus. Namun, saat semua botol jatuh, pasti ada teriak kebahagian.
Begitu pun hidupnya. Setelah semua kesakitan yang diterimanya, dia yakin akan ada bahagia yang menantinya di ujung jalan itu.
__ADS_1
*****
Sepuluh Tahun kemudian.
"Bu, Rima berangkat sekarang ya," Pamit Rima sambil menenteng ransel besarnya.
"Iya. Hati-hati Nduk. Belajar yang rajin. Jangan nyusahin teman-teman dan guru-gurumu." Nasehat Sundari pada anak gadisnya.
"Iya Bu. Doakan Rima biar bisa jadi yang terbaik ya Bu," Rima mendekat, memeluk manja ibunya.
Sundari mengelus punggung dan kepala putri kesayangannya itu.
"Pasti Nduk. Semoga Allah ijabah semua doa ibu." Dia lalu mengecup puncak kepala Rima.
Setengah jam kemudian. Rima sudah berada di dalam bus yang mengantarnya ke pondok pesantren di kota Ponorogo. Setelah lulus SD dia memutuskan untuk mondok.
Rima sadar, ibunya sudah berjuang demi dirinya selama ini. Segala ujian mereka hadapi bersama. Tawa dan tangis adalah kawan mereka sehari-hari. Ibunya telah menolak banyak pinangan lelaki demi dirinya. Beliau berkata tidak ingin memberi ayah tiri padanya, karena dia perempuan kesayangan ayahnya yang harus dijaga hingga tutup usia.
Selepas kepergian Rima. Sundari pun bersiap melakukan aktivitas hariannya.
"Bu Ndari. Mau ke pasar?" Sapa seorang wanita, tetangga baru Sundari.
"Iya Bu. Mari, saya duluan." Balas Sundari seraya tersenyum.
Pernah pula ada yang tega mencuri uang hasil jualannya, dengan berpura-pura meminta barang yang jauh jangkauannya, sehingga dia lengah dan pencuri itu leluasa menguras isi lacinya.
Namun demikian, rasa syukur tak pernah lepas dia ucapkan.
"Yang penting sehat, selamat jiwa raga. Uang hilang masih bisa dicari lagi. Tapi kalau nyawa yang hilang, rugilah kita." Begitu selalu diucapkannya.
Selama ini hanya keluarga Lek Nanik yang selalu membantunya. Karena Sundari juga enggan menerima bantuan dari lainnya.
Kini, dia tak lagi meratapi nasibnya. Dia menemukan keindahan dari setiap musibah yang datang padanya di waktu lalu.
Bahagianya dia kini, melihat Rima tumbuh menjadi gadis yang patuh, rajin, dan pintar.
Saat Rima memutuskan meneruskan pendidikannya di pondok pesantren, Sundari sebenarnya berat menerimanya. Karena dia tidak pernah sekalipun berpisah dengan anaknya. Namun mengingat pendidikan yang ditempuh adalah bekal akhiratnya, Sundari pun melepasnya dengan ikhlas.
Saat ini dia hanya berjualan jamu di sore hingga malam hari. Pagi dia gunakan untuk membuat sinom yang dia kemas dalam botol plastik 500ml. Dia bekukan lalu dijualnya ke pasar. Sebagian dia jual di warung jamunya.
Memang tidak banyak, tapi itu cukup untuk menutup kebutuhan mereka sehari-hari. Hakikat kaya itu tidak hanya berlebih harta, tapi dengan kata cukup. Cukup untuk makan, cukup untuk modal, dan cukup untuk berbagi atau bersedekah.
*****
__ADS_1
"Ndari. Botol kacamu sudah ada yang retak begini." Lek Nanik berkata sambil mengangkat botol kaca di tangannya, dia melihat ada sedikit retakan di leher botolnya.
"Oh, ya? Mana Lek?"
Sundari mendekat dan ikut melihat botol yang dipegang lek Nanik. Serabut retakan yang halus. Sundari mengambilnya dari tangan lek Nanik lalu menyimpannya di lemari bufet miliknya.
Beberapa botol sudah bertengger manis di sana. Iya, botol kaca peninggalan Junab, disimpannya dengan baik. Disaat semangatnya menurun, dia akan menatap botol-botol itu, menerawang ke masa dimana ada banyak perjuangan melawan keterpurukan, ujian-ujian, dan kesulitan kehidupan. Hanya dengan melihatnya, ia akan merasa semangatnya kembali lagi. Aneh. Tapi begitulah keadaannya.
Junab benar. Botol kaca itu sangat rapuh dan mudah pecah. Namun dengan memperlakukannya dengan baik, botol itu juga akan memberi manfaat pada kita.
Sama seperti perasaan manusia. Rapuh dan mudah putus asa. Namun dengan sikap hati-hati dan pasrah, segala masalah akan membuat jiwa kita semakin kuat.
"Mas, semua botol kaca pemberianmu sudah mulai retak. Seperti katamu, mereka memang rapuh. Namun, keyakinanku pada-Nya tidak akan pernah rapuh. Bahkan semakin hari akan semakin meningkat. Terima kasih ya Mas." Kebiasaan Sundari, selalu berbicara sendiri seolah suaminya masih ada di dekatnya.
Sundari telah menjadi wanita yang matang, mandiri dan tangguh.
*****
"Berapa semuanya, Pak?" Tanya Sundari sambil membuka dompet tipisnya.
"Lima puluh ribu, Bu." Jawabnya sambil memasukkan botol-botol kaca bekas itu ke dalam kantong plastik besar.
Sundari mengulurkan selembar uang berwarna biru, lalu menerima kantong plastik yang diulurkan penjual tersebut.
"Terima kasih, Bu."
"Iya, sama-sama Pak."
Sundari berlalu meninggalkan pasar loak. Dia memang sengaja mampir ke sana setelah belanja kebutuhan jamu untuk membeli botol kaca bekas.
Dari jauh dilihatnya angkot biru muda yang akan dinaikinya. Dia pun mempercepat langkah.
Ketika sudah duduk di dalam angkot. Dia pun merogoh tas dan mengambil Al-Quran kecil yang selalu dibawanya kemana-mana.
Begitulah Sundari kini mengisi hari-harinya. Setelah badai yang datang bertubi, kebahagiaan pun datang menghampiri. Memang dia masih tinggal di rumah kecilnya. Namun, dia tak pernah merasa kekurangan.
Bahkan beberapa bulan yang lalu, lek Nanik sekeluarga mengajaknya menunaikan ibadah Umroh. Semua biaya mereka yang menanggung.
Betapa besar karunia Allah bagi hamba yang mau pasrah, ikhlas dan bersabar. Yang tetap berjalan di jalan-Nya dikala susah maupun bahagia.
Janji Allah itu nyata.
"Shodaqallahul adzim," Sundari tersenyum. Mencium Al Quran-nya, lalu memasukkannya ke dalam tas sebelum dia turun dari angkot biru itu.
__ADS_1
~end~