
"Botol kacamu mana dek?" Junab melihat Sundari tengah menuang sinom ke dalam botol plastik bekas.
Sundari terlihat serba salah menatap suaminya.
"Ehm anu mas... Ehm..." Sundari menghentikan aktivitasnya. Dia meraih beberapa botol kaca yang sebagian sudah retak di beberapa sisi.
"Botolnya ada sedikit retak. Aku memang ceroboh, seharusnya menunggu sinomnya agak dingin baru kutuang." Sundari menekuk wajahnya.
Junab mendekat dan memeriksa botol kacanya.
"Oh gitu... Ya udah. Nanti coba aku cari gantinya ya." Junab tersenyum pada istrinya.
"Ndak usah mas. Nanti saja kalau ada sisa uang dari jualan sinom aku beli sendiri. Lebih baik uangnya di pake buat beli buburnya Rima saja."
Rima sudah berumur 6 bulan. Sudah saatnya makan bubur halus.
"Rima sudah makan?" Tanya Junab.
"Lha sudah to. Mulai kemarin belajar makan." Junab menghampiri Rima yang masih pulas tertidur sambil tengkurap. Diciuminya kepala bayi kecil itu hingga menggeliat pelan. Tapi dia tidak berniat bangun, hanya mengerucutkan bibir dan menautkan kedua alisnya, dan pulas lagi.
Sundari terkekeh melihat tingkah bapak anak itu. Ditepuknya pelan punggung Junab.
"Mas, ayo sarapan dulu baru berangkat. Nanti kalau Rima bangun malah ga jadi sarapan, main terus." Bujuk Sundari.
"Ish, ibu ini ganggu aja ya nduk..." Kembali Junab menguyel-uyel tubuh mungil Rima. Sundari menarik tubuh Junab agar segera menjauh dari Rima.
Dengan sedikit cemberut Junab mengikuti langkah istrinya. Mereka sarapan dalam diam. Lima belas menit kemudian. Junab pun sudah bersiap berangkat kerja.
Sundari meneruskan pekerjaannya membereskan rumah, mencuci baju, kemudian memasak. Saat dia sedang mencuci, Rima sudah terbangun. Suara tangisnya memaksa Sundari menghentikan cuciannya.
"Rima cantik, mamam dulu yaa..." Sundari berkata pada Rima. Tentu saja Rima hanya menanggapinya dengan hentakan kaki dan tangan. Suara tawanya membuat Sundari semakin gemas. Setelah selesai menyuapi dan menyusui Rima. Sundari membiarkan Rima bermain sendiri sementara dia melanjutkan mencuci.
Satu jam kemudian. Selesai sudah. Dia meraih Rima ke dalam gendongannya. Mengayun pelan daj berdendang. Menina bobokan Rima.
*****
"Ndar, Ndari..." Terdengar suara lek Nanik memanggil manggil namanya.
__ADS_1
"Ya lek," Sundari tergopoh menuju pintu depan. "Ada apa lek?"
"Kamu masih punya sinom?"
"Masih. Tapi botol plastik kecil lek. Setengah literan."
"Ya ga pa-pa. Ada berapa?"
"Ada 6 botol lek."
"Aku ambil semua ya,"
"Walah, iya lek. Alhamdulillah. Sebentar aku ambilkan dulu lek. Masuk dulu, duduk duduk dulu lek, maaf sampe lupa nawarin masuk." Sundari membuka lebar pintu rumahnya.
"Rima tidur?"
"Iya barusan tidur." Lek Nanik menengok bayi mungil yang tertidur pulas tanpa bantal.
"Gendut ya. Lucu Ndar." Kata lek Nanik sambil terkekeh.
"Iya lek. Alhamdulillah." Sundari menyerahkan kantong plastik berisi botol-botol sinomnya.
"30 ribu lek."
"Ini. Besok bikin lagi yaa..." Lek Nanik menyerahkan 2 lembar uang berwarna hijau ke tangannya.
"Ada kembaliannya lek. Sebentar."
"Sudah. Ga usah. Buat beli buburnya Rima." Lek Nanik menarik tangan Sundari dan menggenggamnya.
"Alhamdulillah. Terima kasih, terima kasih... Barokallah." Kata Sundari dengan mata yang menghangat. Tetangganya ini memang paling baik kepadanya. Lek Nanik menepuk bahu Sundari pelan sambil tersenyum.
"Iya, iya. Aku pulang dulu ya."
"Iya lek. Terima kasih." Sundari mengekor langkah lek Nanik hingga ke depan pintu. Di pandangnya punggung wanita paruh baya yang masih gesit bergerak kemana-mana itu.
"Huwaaa... Huwaa...." Tangis Rima memecah lamunan Sundari.
__ADS_1
"Astaghfirullah..." Lirih Sundari bergegas menghampiri putrinya.
*****
Malam itu, Junab belum juga kembali hingga jam dinding menunjukkan angka 10. Sundari yang gelisah tak bisa memejamkan mata sedetik pun. Meski kantuk sudah menyergapnya, tapi ditahannya demi menunggu sang belahan jiwa.
Tidak biasanya Junab pulang terlambat tanpa memberi kabar sebelumnya. Sundari duduk di kursi yang mungkin oleh orang-orang kaya disebut sofa. Namun baginya, kursi yang bahkan busanya pun tinggal 5 cm itu, masih mampu memberikan kenyamanan bila di sana dia duduk bersama kekasih hati, Junab suaminya.
Berkali-kali kepalanya terantuk pinggiran kursi. Bahkan kertas karton yang dijadikannya kipas untuk mengusir hawa panas tampak teronggok di bawah kursi, karena dijatuhkannya tanpa sadar. Hingga terdengar langkah kaki mendekat.
Sundari bergegas menuju pintu. Namun tidak segera membukanya. Dia ingin memastikan dulu, apakah yang datang itu suaminya atau bukan.
"Assalamualaikum." Terdengar salam dari balik pintu. Ya. Suara Junab. Sundari segera membuka pintu dan menghambur ke pelukan suaminya.
"Waalaikumsalam," jawab Sundari sambil terisak pelan.
"Eh, ada apa ini?" Tanya Junab sambil mengelus punggung istrinya.
"Kenapa baru pulang mas. Aku kan khawatir. Tadi pagi mas kan nggak bilang kalau ada lemburan." Sundari menjawab terbata.
Junab tersenyum, lantas membimbing istrinya masuk lalu duduk di kursi. Diletakkannya sebuah kantong plastik lumayan besar di sisi kursi.
"Mas tadi dari pasar loak Ndar. Ini beli botol kaca buat kamu. Maaf tadi tidak bilang dulu. Kebetulan tadi Dolah ngajak ke sana mau beli jerigen bekas. Jadi yang sekalian saja aku nebeng."
"Kan Ndar sudah bilang tidak usah mas." Sundari memasang wajah cemberut.
"Nggak apa-apa. Ini murah kok. Tadi bapak yang jual kasih diskon, karena sudah lama botol-botol itu tidak ada yang melirik." Junab berkilah.
"Hem... Ya sudahlah. Terima kasih ya mas." Sundari menyandarkan kepala di dada suaminya. Junab membelai surainya dengan lembut.
"Ndar. Aku mau mandi nih. Gerah. Mandiin dong," Junab mengerling manja pada istrinya.
"Ah, mas ini ada-ada saja. Malu..." Sundari menutup muka dengan kedua tangannya.
"Malu apanya? Orang sudah dilihat semuanya juga," Junab menarik tangan Sundari, dia tertawa melihat wajah wanitanya yang sudah memerah bagai kepiting rebus. Namun tanpa ampun dia tetap menarik Sundari ke kamar mandi bersamanya.
"Nah kan. Basah deh..." Kata Sundari melihat bajunya terciprat air. Mereka pun tertawa bersama. Gundah Sundari berganti bahagia.
__ADS_1
~next~
END OF FLASH BACK VIEW