
Ruangan UGD itu masih terlihat ramai. Sundari memandang dengan tatapan nanar. Rima yang tengah merengek di pangkuannya tak kunjung diam. Mungkin balita itu lapar, karena sejak kedatangannya di rumah sakit itu, Sundari belum memberinya makanan sama sekali. Dia hanya memikirkan keadaan suaminya yang sedang berjuang di dalam sana.
Sudah beberapa saat kenangannya mengembara ke masa lalu. Masa dimana awal dia bertemu Junab, awal pernikahan mereka yang meski sederhana namun sangat berkesan. Hampir 3 tahun kebersamaan mereka yang penuh warna. Kadang sedih, senang, sebal, marah, cemburu, semua jadi satu kata, bahagia.
Sebuah tangan menepuk pundaknya pelan. Sundari menengok, dilihatnya lek Nanik sudah berdiri di sampingnya. Seketika dia menghambur ke pelukan wanita itu. Menumpahkan segala resah dan gundahnya. Lek Nanik mengelus punggungnya pelan, tanpa berkata-kata. Memberi ruang pada kesedihan Sundari.
Setelah merasa sedikit tenang. Lek Nanik meraih Rima dalam gendongannya. Dibawanya balita itu keluar ruangan. Rengekan itu pun berhenti ketika sebuah roti ada di genggamannya. Kasihan bocah ini. Desah lek Nanik dalam hati. Di ambilnya beberapa roti dan makanan ringan serta dua botol air mineral. Setelah membayar semuanya, dia pun kembali menghampiri Sundari.
"Makan ini dulu Ndar. Kamu yang sabar, kamu harus kuat demi Junab dan Rima." Lek Nanik mengulurkan kantong plastik makanan yang dibelinya tadi pada Sundari.
"Terima kasih lek," Sundari menerimanya. Dia hanya melihat sekilas lalu diletaklannya kembali di kursi.
"Makan Ndar!" Perintah lek Nanik.
"Maaf lek. Ndari tidak selera." Jawab Sundari pelan, takut membuat lek Nanik marah. Tapi sungguh, dia rasanya tak sanggup memasukkan apapun ke perutnya saat ini. Tidak hingga dia mendapat kepastian tentang kondisi suaminya.
Tak lama kemudian, seorang suster keluar dari ruang UGD.
"Keluarga bapak Junab?" Sundari segera berdiri dan hampir berlari mendekat.
"Saya sus. Gimana suami saya?"
"Mari ikut saya ke dalam bu," Mereka berjalan memasuki ruangan, sebelumnya Sundari menatap lek Nanik seolah berkata, 'titip Rima dulu ya?' lek Nanik memahaminya dan mengangguk pasti.
*****
"Maafkan anak kami Mbak," seorang laki-laki dan perempuan duduk di kanan kiri Sundari. Mereka adalah orang tua dari anak yang membuat Junab cedera. Anak mereka masih di kantor polisi, demi menghindari amuk massa. Dia yang masih terisak, tak mampu berkata apa pun.
__ADS_1
"Kami akan menanggung semua biaya perawatan suami mbak, asalkan kita berdamai. Kasihan anak saya masih SMP." Kata laki-laki itu pada Sundari.
"Pak, Bu, apa begini kalian menyelesaikan masalah? Apa kalian akan selalu menutupi kesalahan yang dilakukan putra kalian? Kalau begitu, kapan dia akan mengerti arti tanggung jawab?" Sundari menekuk wajahnya.
"Saya memang membutuhkan biaya perawatan suami saya. Tapi saya juga tidak ingin ada korban lain lagi. Tidak menutup kemungkinan, kejadian seperti ini akan terulang kan?"
Mereka terdiam mendengar kata-kata Sundari.
"Lalu apa yang kamu inginkan?" Tanya mereka kemudian.
"Pertemukan saya dengan anak itu. Biarkan bagaimana dia mengatakan semuanya pada saya. Kami akan menyelesaikannya. Dan Bapak Ibu harus berjanji, apa pun keputusan kami, kalian akan menyetujuinya." Mereka menghela napas.
Mereka bertemu di kantor polisi dan menyelesaikannya di sana. Biaya perawatan Junab mereka tanggung hingga Junab keluar dari rumah sakit 2 minggu kemudian.
Sundari mulai melakukan aktivitasnya lagi. Berjualan jamu sekaligus merawat anak dan suaminya.
Junab bersedih, kecewa, marah dan putus asa. Dia merasa tidak berguna lagi sebagai laki-laki kepala rumah tangga. Dia tidak bisa bergerak. Kakinya tinggal sebelah. Apa yang bisa dilakukannya? Apa kata teman-temannya nanti? Apa kata keluarga istrinya, yang telah menyerahkan putrinya demi mendapat kebahagiaan? Tapi justru meladeni suami cacat seperti dia.
Gemerutuk giginya setiap menahan amarah dalam dadanya. Sedih sebenarnya melihat Sundari menitikkan air mata setiap melihatnya diam tak menyahuti kata-kata istrinya. Tapi dia bergeming dengan keadaan itu. Dia belum bisa menerima kenyataan hidupnya yang menyedihkan. Dia lupa, kalau istrinya pun siap menemaninya melewati ujian ini.
Sundari kembali terisak di sudut ruang kamarnya yang sesak. Bertambah sesak dengan tatapan sendu Junab kekasih hatinya.
*****
Semakin hari kondisi Junab bukannya membaik tapi semakin memburuk. Ditambah emosinya yang tidak lagi terkontrol. Dia sering mengeluarkan kata-kata yang menyakitkan. Berbagai cara sudah dilakukan Sundari agar suaminya bisa kembali seperti dulu.
Pagi itu, kembali suara jerit tangis Rima terdengar saat Sundari memasukkan sinom ke dalam botol-botol kaca. Segera ditinggalkannya pekerjaan itu dan bergegas mendekati anaknya. Rima tengah terduduk di lantai dengan piring makanan yang tumpah kemana-mana.
__ADS_1
"Astaghfirulloh. Kenapa ini mas?" Sundari menatap Junab sejenak sebelum meraih Rima dan membereskan kekacauan itu.
"Salah sendiri dia gangguin aku makan." Kata Junab dengan wajah datar. Kata-katanya terdengar dingin menusuk hati. Sundari menghela napas berat.
"Yah, namanya anak kecil mas. Mungkin dia rindu dengan pelukan dan canda tawa bapaknya. Mas nggak lupa caranya tersenyum kan?" Sindir Sundari hati-hati, dia melirik sekilas untuk sekedar mencari tahu ekspresi suaminya mendengar kata-katanya. Namun kecewa. Nihil.
"Mas. Sudahlah. Jangan bersedih terlalu lama. Aku ada di sini mas. Menemanimu." Sundari mendekati suaminya.
"Kenapa kamu masih di sini? Kenapa bertahan denganku yang cacat seperti ini? Kamu boleh mengajukan cerai kok? Toh aku sudah tidak bisa menjalankan kewajibanku sebagai suami lagi." Cerca Junab dengan napas memburu. Di dorongnya tubuh Sundari agar menjauhinya.
"Istighfar mas. Jangan terlalu jauh mikirnya. Nanti aku juga ikut sakit." Sahut Sundari sambil menitikkan air mata.
"Pergi kamu. Cari suami yang lebih baik dari aku." Bisik Junab tertahan menahan sesak dadanya.
Sundari beringsut menjauhi suaminya. Hampir setiap hari itu saja yang didengarnya. Permintaan konyol suaminya agar pergi menjauhinya. Kalau sudah begitu, dia hanya akan pergi ke belakang dan membuat jamu lagi. Membiarkan Junab sendiri dan tenang sementara waktu.
Kini Sundari berjuang sendiri. Karena Junab tidak bekerja, maka dia harus menghasilkan uang untuk mengepulkan asap dapurnya. Saat ini dia tidak hanya menjual jamu dan gorengan, tapi juga mulai menjual rujak cingur dan lontong mie.
Langganannya semakin banyak. Apalagi di sekitar rumahnya tidak ada yang berjualan rujak cingur, jadilah warungnya menjadi jujukan orang-orang. Kini dia semakin terkenal.
Dia pun memulai semua aktivitasnya sejak pukul 03:00 dini hari. Dia pun tetap melayani kebutuhan suaminya yang masih belum juga membaik. Terkadang dia juga merasa tak berguna sebagai istri. Seharusnya dia bisa membangkitkan lagi semangat hidup suaminya. Tapi dia terlalu lelah dengan aktivitasnya sendiri.
"Bruk!!" Suara benturan benda keras terdengar dari kamar Sundari. Dia yang sedang menyiapkan jualannya di dapur segera bergegas menengok apa yang terjadi. Nanar matanya menatap keadaan kamarnya yang berantakan.
"Mas!" Teriaknya saat dilihatnya Junab tersungkur di lantai. Wajahnya terlihat pucat. Tiba-tiba kepanikan datang mendera. Diraih dan dipeluknya erat tubuh itu sambil berurai air mata.
Ucapan istighfar terus diucapnya. Tersadar dengan apa yang terjadi pada suaminya, dia pun berteriak minta tolong.
__ADS_1
~next~