
Hari sudah menjelang ashar, Sundari membereskan perkakas jualannya. Hari ini belum rejekinya berjualan rujak. Hanya 2 porsi saja yang terjual. Padahal biasanya bisa sampai 30 porsi. Sungguh disayangkan, dia harus membuang bahan-bahan yang sudah terlanjur diolah. Seperti sayur-sayuran.
Memang dia heran, tapi rasa syukurnya lebih besar. Alhamdulillah, Allah beri kesempatan untuk beristirahat. Meski jualannya tidak laku hari ini. Tapi Allah sudah mengirim pak Sodiq sekeluarga kepadanya. Mereka sudah memberi uang sejumlah jualannya hari ini. Rejeki tidak disangka-sangka.
*****
"Ndari. Baru ke pasar jam segini?" Sapa lek Nanik saat berpapasan dengannya di jalan.
"Iya Lek. Beberapa hari ini warung rujak sepi. Hampir tidak ada yang beli. Jadi aku malas belanja ke pasar Lek." Keluh Sundari.
Lek Nanik membawa Sundari menepi dan bicara agak berbisik.
"Emangnya kamu ndak denger apa-apa?" Bisik lek Nanik.
"Apa Lek?" Tanya balik Sundari.
"Beberapa hari yang lalu, apa ada yang masuk ke rumahmu?" Tanya lek Nanik. Sundari mengernyitkan dahi, mencoba mengingat kejadian beberapa hari yang lalu.
"Ada. Lisa pesan sinom. Waktu itu aku sedang menguras banjir di dapur Lek. Kenapa memangnya?" Lek Nanik menepuk jidatnya.
"Pantes. Beberapa hari ini orang ramai membicarakan kamu. Mereka bilang, dapurmu kotor dan jorok. Masa jual makanan kok dapurnya seperti itu." Kata lek Nanik.
"Astaghfirullah!" Pekiknya tertahan. Ada sayatan kembali di dalam hatinya, perih, sakit tak berdarah. Ingin menitikkan air mata, tapi sekuat tenaga ditahannya. Dia tak ingin terlihat rapuh di depan orang.
"Terima kasih infonya Lek. Alhamdulillah ada yang peduli pada keadaan rumahku. Aku permisi dulu ya Lek," Sundari bergegas meninggalkan lek Nanik.
"Loh, Ndar. Tunggu to."
"Iya Lek?"
"Kamu nggak apa-apa?" Lek Nanik menatap Sundari penuh selidik.
"Tidak Lek. Takut tambah siang aja. Duluan ya Lek." Sundari tersenyum sebelum kembali melangkah. Dia hanya ingin segera berlalu. Belanja ke pasar. Lalu pulang dan menangis sebanyak-banyaknya.
Hari ini dia sudah tidak ada semangat lagi untuk berjualan. Setelah memasak untuk makannya dan Rima. Sundari hanya tidur-tiduran saja di dalam rumah. Tak dipedulikannya keadaan dapur yang berantakan. Malas-malasan seperti bukan dirinya. Tapi sungguh hari ini dia ingin begitu.
Sore hari, setelah salat ashar, Sundari membuka warung jamunya. Sebenarnya dia masih malas. Tapi teringat bahwa dia harus mendapat uang buat keperluannya dan Rima, akhirnya dia memutuskan untuk membuka saja warungnya.
__ADS_1
"Sore cantik." Sapa seorang pelanggan jamunya. Sundari sudah biasa digoda seperti itu. Paling dia cuma senyum tak menanggapi.
"Jamu apa mas?" Tanyanya menyiapkan gelas kecil untuk menyeduh jamu.
"Biasanya aja Neng. Oh ya, kamu bikin sinom botol plastik kan?"
"Ada mas. Mau?"
"Iya, aku mau satu ya,"
"Iya." Sahutnya setelah selesai mengaduk jamu dan menyerahkannya.
Tiba-tiba.
"Ndari! Ini apa?" Seorang perempuan meletakkan beberapa botol sinom yang masih berkeringat. Sepertinya botol itu baru keluar dari kulkas.
"Kenapa Bu?" Sundari bergegas mendekat, dan melihat apa yang terjadi.
"Kenapa ini banyak semutnya?" Dia membuka botol sinomnya, terlihatlah semut kecil-kecil yang mengambang di cairan kuning itu.
"Astaghfirullah. Maaf Bu, mungkin saya yang kurang teliti. Saya tidak cek dulu sebelum saya tutup, jadi saya tidak tahu kalau sinomnya dimasuki semut." Sundari menatap masygul pada botol-botol sinom itu.
"Ini Mas, sinomnya banyak semutnya." Ibu itu bicara sinis.
"Owalah, kalau gitu aku ndak jadi beli ya Ndar. Nanti ada semutnya juga. Bonus sih bonus, tapi jangan bonus semut dong." Sundari tercekat mendengar kata-kata mereka.
"Iya bener Mas." Sahutnya ketus.
"Iya, nggak apa-apa Mas." Sundari mengangguk paham.
"Ini, uang jamunya." Lelaki itu pun berlalu setelah menyerahkan uang jamunya.
"Ganti duitku!" Sentak ibu tersebut.
Satu-satu air matanya menitik tanpa bisa ditahan lagi. Luka hati yang belum terobati, kini kembali tersayat. Perih luar biasa.
Dengan lemas diambilnya sisa uang yang ada di laci untuk mengganti uang sinom yang ada semutnya tersebut.
__ADS_1
Perempuan itu pun berlalu, tak dihiraukannya serapahan perempuan itu. Sundari memang sengaja menutup kedua telinganya agar hatinya tidak kembali meradang.
Ya Allah, cobaan apa lagi ini? Rintih batinnya.
Tak menunggu lama, segera ditutupnya warung jamunya. Dan kembali dia tersungkur di tempat tidurnya. Menangis, menangis, menumpahkan lara hatinya.
*****
Jam baru menunjukkan angka 02:00 dini hari. Sundari terbangun. Tersentak hatinya ketika teringat akan kejadian hari ini yang begitu menyesakkan. Seolah semua kesulitan sedang mengantri di hidupnya.
Pandangannya mengedar ke seluruh ruangan. Rima masih tertidur pulas di sampingnya. Dia beringsut perlahan menuju kamar mandi. Dingin air membuat hilang seluruh kantuknya. Setelah menyelesaikan hajatnya, dia kembali ke kamar. Ketika akan merebahkan tubuhnya, matanya tertumbuk pada sajadah yang masih terhampar di pojok kamar.
"Ya Allah..." Sundari kembali ke kamar mandi untuk berwudhu.
Dihabiskannya malam itu dengan mengadu pada-Nya. Menumpahkan segala gundah gulana.
*****
"Sundari," Terdengar suara lembut membelai telinganya. "Bangun Sayang,"
"Mas? Mas Junab kenapa di sini?" Sundari mengerjapkan matanya berkali-kali. Lelaki itu hanya tersenyum lalu pergi meninggalkannya. Sundari bergegas bangkit dan berlari mengejar suaminya.
"Mas! Tunggu Mas! Tunggu aku!" Teriak Sundari, dia terus mengejar Junab yang semakin cepat meninggalkannya. Tak dirasakannya letih yang mendera. Hingga akhirnya, dia pun terduduk dengan napas tersengal.
Dilihatnya jalan yang ditapakinya. Sendiri, tanpa ada orang lain yang menemaninya.
"Astaghfirullah!" Sundari terperanjat. Masih terasa napasnya yang terengah-engah, seolah usai berlari ribuan kilo. Pipinya basah oleh air mata. Berkali-kali kata istighfar diucapnya.
Bahkan dalam mimpi pun, aku sendiri. Pikir Sundari dalam benaknya.
Tak lama kemudian, dia pun bangkit. Terdengar lantunan ayat suci Al Quran dari musolah dekat rumahnya. Sebentar lagi subuh. Sundari segera ke dapur untuk memulai aktivitasnya.
Setelah salat subuh, Sundari mencoba membuka kitab suci yang biasanya hanya tersimpan di lemari bufetnya. Ayat per ayat dia baca perlahan. Masya Allah. Dia kembali tergugu.
"Buuu..." Rintih Rima sambil mengucek mata mungilnya. Sundari menyudahi bacaannya dan memghampiri putri semata wayangnya.
"Iya, Sayang." Sundari meraih Rima ke dalam peluknya.
__ADS_1
"Pipis," Ujarnya pelan.
"Oke. Hayuk, pipis ke kamar mandi ya?" Kata Sundari sembari menggandeng tangan kecilnya. Dia bersyukur, Junab meninggalkannya bersama bidadari cantik ini. Tanpa Rima, entah bagaimana Sundari akan menjalani hidupnya.