Botol Kaca Sundari

Botol Kaca Sundari
Bab 4


__ADS_3

"Huek...huek..." Sundari kembali memuntahkan apa yang baru saja di makannya. Tubuhnya yang lemas meluruh ke lantai. Junab yang memijat tengkuknya hanya mampu berucap istighfar dengan lirih.


"Masih pusing dek?" Tanya Junab pelan. "Apa aku ijin saja? Ga usah kerja, ga tega ninggalin kamu sendirian gini." Kata Junab sambil mengusap minyak kayu putih.


"Nggak usah mas, nanti juga enak-an." Kata Sundari sambil berdiri menuju tempat tidurnya. Beberapa hari ini kepalanya sering pusing, mual muntah juga setiap pagi dan malam. Rupanya kehamilannya yang kedua ini berbeda dengan yang pertama dulu.


"Yakin?" Junab menata bantal di kepala istrinya agar lebih nyaman digunakan.


"Iya mas," Sundari tersenyum lembut.


"Ya sudah, aku berangkat dulu." Junab mengecup kening Sundari. "Assalamualaikum."


"Waalaikumsalam," jawab istrinya lemah.


Sedikit was-was Junab meninggalkan istrinya sendiri di rumah. Tapi dia harus bekerja. Apalagi dengan keberadaan calon anaknya di rahim Sundari, membuat dia semakin giat bekerja. Dia ingin membahagiakan istri dan anak-anaknya kelak. Impiannya mempunyai rumah sendiri meski tidak besar. Menua bersama, menggendong cucu-cucu mereka.


Tak sadar, Junab tersenyum sendiri dengan angan-angannya. Cintanya pada Sundari semakin bertambah sejak mereka menikah. Wanita itu telah menawan hatinya tanpa kata-kata. Senyumnya selalu memberikan keteduhan. Junab berjanji akan merekahkan senyum itu di wajah Sundari. Sekuat tenaganya.


*****


Sembilan bulan kemudian.


"Subahanalloh. Cantik sekali anakmu nduk," Lek Nanik mengayun ayun Rima kecil dalam gendongannya. Sundari sudah melahirkan seorang putri cantik seminggu yang lalu.


"Alhamdulillah." Sundari tersenyum melihat putrinya lelap dalam ayunan lek Nanik.

__ADS_1


"Kamu jangan banyak melakukan yang berat-berat dulu. Banyak istirahat. Jangan tarak," nasehat lek Nanik berbeda dengan adat yang di desanya. Biasanya ibu yang habis melahirkan melakukan tarak atau pantangan makan makanan tertentu. Tapi lek Nanik rupanya sudah cukup paham dengan informasi medis saat ini. Sundari sendiri lebih banyak mengangguk mendengarkan.


"Iya lek. Ndari sudah aku kasih tahu, supaya nggak perlu tarak. Tapi sama simbok dilarang minum air putih banyak-banyak, katanya biar lukanya cepet kering." Junab menyahut dari dalam kamar yang hanya berbatas kayu triplek selembar.


"Memang orang dulu itu gitu. Tidak boleh minum banyak biar nggak sering pipis, jadi kan sedikit tersentuh air, terus luka jadi cepet kering, kan jarang kena air." Jelas Sundari dengan tenang.


"Nanti aku jelaskan pelan-pelan sama simbok. Ngomong sama orang tua ga bisa langsung sret..sret lek, nanti tersinggung, kasihan." Sundari berkata sambil tersenyum. Lek Nanik pun balas tersenyum


"Iyo Nduk, bener." Lek Nanik meletakkan Rima di petiduran. Dia menengok sekilas Junab yang nampak sudah siap berangkat kerja.


"Selesai kerja langsung pulang Jun, jangan kelayapan. Kasihan Sundari sendirian di rumah." Lek Nanik berkata pada Junab.


"Iya lek. Siap!" Junab menghampiri wanita yang sudah dianggap ibunya sendiri itu.


"Iya. InsyaAlloh." Jawab lek Nanik.


"Dek, aku berangkat dulu ya. Assalamualaikum."


*****


Sepeninggal Junab, lek Nanik juga berpamitan untuk ke pasar. Untuk sementara Sundari tidak berjualan jamu, tubuhnya masih butuh istirahat setelah melahirkan. Memang putrinya tidak serewel putra pertamanya dulu. Namun karena dia tinggal sendiri tanpa didampingi simboknya, maka semua pekerjaan otomatis dikerjakannya sendiri.


Mencuci baju, memasak, bersih-bersih rumah semuanya dikerjakan sendiri. Popok Rima selalu dicucinya saat terkena ompol. Selain karena jumlahnya tidak begitu banyak, itu dilakukannya supaya cuciannya tidak menumpuk. Terkadang Junab juga membantunya melipat baju-baju yang sudah kering dan menatanya di lemari.


Kasih sayang Junab membuat Sundari semakin cinta pada lelaki itu. Bila Sundari mengeluh capek, Junab pun tak segan memijit kaki atau punggungnya. Saat tengah malam Rima terbangun pun, tak jarang Junab ikut membantu menggantikan popok Rima. Atau sekedar menemani Sundari terjaga untuk menggendong Rima yang sedang rewel.

__ADS_1


Seperti malam ini. Sundari tengah menyusui Rima saat dilihatnya Junab ikut terbangun dan duduk di sebelahnya. Berkali-kali dia menguap, tetapi ditahan demi menemani istrinya. Sundari memang menyusui sambil duduk, karena baru saja dia mengganti popok Rima.


"Mas, tidur aja. Kan besok harus kerja." Sundari mengelus rambut Junab dengan satu tangannya yang bebas.


Junab memejamkan mata saat dirasakannya tangan lembut Sundari mengusap rambutnya. Entah karena mengantuk atau sedang menikmati sensasi sentuhan Sundari.


"Mas... Nah bener kan, ngantuk gitu... Udah tidur aja. Ini Rima juga sudah mulai anteng kok."


"Heemm... Tapi aku maunya peluk," ucap Junab manja.


"Iihh... Ga mau kalah sama anaknya."


"Iihh... Rima jangan rewel ya nduk. Bapak pinjem ibu sebentar aja. Bapak kangen mau dipeluk... Ya, ya, ya... " Junab berkata pada bayi Rima yang sudah terlelap dalam gendongan Sundari sambil mengedip-ngedipkan mata jahilnya.


"Ih, apaan sih?" Sundari mencubit perut Junab pelan.


"Aauuhh... Lagi dong." Goda Junab.


Sundari terkekeh melihat tingkah suaminya yang berlebihan manjanya,  menurutnya. Pelan-pelan dibaringkannya bayi Rima di petiduran kecil di samping dipannya. Dilihatnya mulut Rima mengerucut seperti dia sedang menyusu. Sundari merasa gemas dan ingin menciumnya. Tapi ketika dilihatnya Junab yang mendelik ke arahnya seolah berkata, "Jangan ganggu tidurnya. Nanti dia bangun!" Sundari segera mundur, berjalan mendekati Junab.


Sumringah Junab menyambut kedatangan Sundari. Tangannya terbuka lebar, matanya bersinar bahagia. Diciuminya wajah sang istri, lalu ditariknya ke dalam pelukannya. Meski tidak melakukan hubungan intim. Tapi bagi Junab, tidur dengan memeluk istrinya bisa men-charge semangatnya.


Sundari terlelap dalam pelukan suaminya. Dia sungguh merasa bahagia. Meski dia menikah dengan Junab tanpa rasa cinta sebelumnya, tapi lelaki itu telah membuktikan padanya bahwa dia layak dicintai.


Bagi Sundari sendiri, Junab adalah pangeran berkuda besi yang telah menyelamatkan harga dirinya. Bagaimana dia tersenyum mendengar gosip orang-orang tentang status jandanya di usia yang sangat muda.  Bagaimana dia mau menerima segala kelebihan dan kekurangan Sundari. Junab juga mampu menjadi imamnya. Bukan hanya imam salat, tapi imam yang mampu meluruskan jalannya menuju Tuhannya.

__ADS_1


__ADS_2