
"Guys, guys! Minta tempat dong! "
"Aduhh! Sempit ah, rin! "
Arin yang sedang membawa semangkuk bakso di tangan kanan dan sebotol teh dingin di tangan kirinya tetap me menyerobot tempat duduk di antara Yuna dan Yira.
"Enggak sempit kan? "
Yuna rasanya ingin menumpahkan kuah baksonya ke wajah Arin sekarang saking kesalnya.
Apa katanya? Tidak sempit?
Bahkan Yuna dan Yira hampir terjatuh karena gadis itu.
"Eh, pacar gue baru ganti motor loh!" Ucap Arin di sela-sela kegiatan makannya, membuat Yuna dan juga Yira saling melempar pandangan.
"Makin bucin dong lo sama Han? "
"Oh tentu!"
"Tcih, dasar matre lo! "
Dari tadi hanya Arin dan Yuna yang terus bertukar suara, akhir-akhir ini Yira memang lebih banyak diam, bahkan sering mangkir saat di ajak keluar oleh kedua sahabatnya.
"Yir! "
Arin memanggil Yira yang dari tadi sibuk memainkan layar ponsel kesayangannya, biasanya Yira itu berisik, apalagi kalau sedang membahas pria.
"Apa? " Sahut Yira acuh, bahkan seperti tidak ingin memalingkan pandangannya dari layar hp.
"Cowok lo kapan ganti motor? "
Yira bungkam untuk sejenak, tidak lama gadis itu menaruh ponselnya ke atas meja dan mulai mencoba fokus terhadap obrolan kedua sahabatnya itu.
"Eh? Lo kog nanya gitu sih ke Yira? "
"Emang gak boleh, na? Ada yang salah dari pertanyaan gue? "
Yuna ingin menjawab, tetapi ia merasa ragu sedetik kemudian. Memang tidak ada yang salah dari pertanyaan Arin, tapi mungkin saja hal itu akan membuat Yira merasa tidak nyaman.
"Kalo gue jadi Yira ya, itu si Lino udah gue tinggalin dari dulu! Cowok modelan apa sih dia? Gak pernah belanjain pacarnya, boro-boro belanja, makan di kafe aja ribet banget bayarnya, dih! "
Arin memang sudah dari lahir memiliki mulut yang asal ceplos. Paling matre di antara yang lain. Tetapi aslinya Arin ini orang yang baik. Tipikal sahabat yang setia, dan itulah yang membuat Yuna serta Yira masih betah berteman dengannya.
"Rin! Rem kek tuh mulut! " Bentak Yuna, tapi Arin tidak menggubris. Ia lebih tertarik untuk memasukkan bulatan bakso ke dalam mulutnya, daripada menanggapi kalimat yang baru saja Yuna ucapkan.
"Gue cabut dulu ya guys, Lino udah sampek. "
Yira melenggangkan kakinya untuk pergi dari kantin setelah ia mendapat notifikasi pesan dari Lino.
"Lino pakek pelet apasih sampek Yira betah gitu sama dia? Dua tahun loh na mereka pacaran! " Tanya Arin sembari mengacungkan telunjuk beserta jari tengah tangan kirinya.
"Bodo ah! "
(*)
Lino yang sedang duduk di atas motor matic berwarna merah kesayangannya itu masih setia menunggu kedatangan kekasihnya, di depan gerbang sekolah.
Terlihat beberapa kali Lino sempat di goda oleh siswi-siswi sekolah itu. Tapi tentu saja Lino tidak menanggapi mereka. Ia sangat menjaga perasaan kekasihnya.
Tidak berselang lama, gadis berambut lurus sepinggang itu datang, membuat penantian Lino serasa terbayarkan.
"Mau makan dulu gak, bee? "
Tanya Lino, tetapi Yira hanya menggeleng seperti tidak memiliki hasrat untuk menjawab dengan suara.
"Emang udah makan? "
"Udah, tadi nunggu kamu dateng sambil ngantin. "
"Maaf ya lama, tadi masih benerin lampu kamarnya Ayen"
"Iya, yaudah ayo pulang, aku ada tugas rumah. " Ucap Yira yang sebisa mungkin untuk tidak melanjutkan obrolannya dengan Lino.
(*)
Ucapan Arin di sekolah tadi, seperti membawa beban pikiran tersendiri untuk Yira. Gadis itu sampai tidak bisa tidur hanya karena memikirkan ucapan Arin yang mengasal tadi.
Yira bukanlah tipikal gadis pecinta uang seperti Arin. Yira berpacaran dengan Lino murni karena dia memiliku perasaan sayang dan cinta, apalagi Lino itu sangat baik.
Hanya sayang saja, keadaan ekonomi Lino memang bisa di bilang kekurangan. Dia membesarkan adiknya sendirian tanpa orang tua, kontrakan saja harus menyicil. Lino rela tidak kuliah dan lebih memilih untuk bekerja agar bisa menyekolahkan adiknya.
"Gue mikir apa sih? Lino udah sempurna kog, jadi kenapa gue harus kepikiran sama omongannya Arin? "
(*)
Seperti biasa, Lino memberi semangat sembari mengelus lembut pucuk kepala kekasihnya. Itu sudah menjadi rutinitas setiap kali ia mengantar Yira sekolah. "Semangat sekolahnya ya sayang."
__ADS_1
"Kamu juga semangat kerjanya ya."
Keduanya bertukar senyum manis untuk sesaat. Kencoba menyembunyikan beban dan pikiran masing-masing.
(*)
Suasana di dalam kelas benar-benar ramai, seperti pasar yang sedang kedatangan tontonan sirkus. Yira sedikit muak ketika melihat jalannya terhalangi oleh murid-murid yang di dominasi oleh para siswi itu.
"EH MISI DONG MISI, GUE MASUK KELAS NEH! "
Hanya untuk masuk ke dalam kelasnya, gadis itu harus rela berdesak-desakan badan dengan gerombolan siswi lainnya.
Saat sudah berhasil masuk ke dalam kelas, ia di sambut oleh pemandangan asing.
Murid baru.
Benar, ada murid baru di kelasnya. Tak lama, tiba-tiba tangannya di tarik oleh Arin untuk menghampiri si murid baru yang sedang duduk rapih memainkan ponselnya.
Raut wajah Yira berubah menjadi pucat sekaligus bingung saat Arin menarik tangannya kembali untuk bersalaman dengan murid baru itu.
"Hyunjin, kenalin nih temen gue."
Yira yang terkejut dengan sikap Arin, kini mulai menajamkan pandangannya ke arah sang sahabat.
Pemuda bernama Hyunjin itu tersenyum manis untuk sesaat. Ia membalas dengan menjabat tangan Yira. "Namaku Hyunjin."
Hyunjin memang sangat menawan ketika ia tersenyum. Bukan main untuk ketampanan seorang Hyunjin.
"Haha, iya. Salam kenal, jin. " Sahut Yira dengan sangat kikuk.
Setelah sesi perkenalan usai, Arin dan Yira kembali ke bangku mereka masing-masing.
"Ngapain sih lo? " Tanya Yuna kepada Arin dengan berbisik, hal itu hanya di respon lirikan mata oleh Yira. Dari tadi Yuna hanya memperhatikan tingkah sahabatnya itu tanpa ingin berniat untuk ikut campur.
"Lo pasti punya rencana kan? "
"Ih apaan sih, na? Gue cuma ngenalin Yira ke Hyunjin doang kog! "
"Ngenalin Yira ke cowok lain? Lo lupa kalo Yira udah punya pacar? Gak mikirin perasaan pacarnya Yira lo? "
"Aduh rempong banget deh lo, na! Ngapain juga gue mikirin perasaan pacarnya Yira? Emang dia siapa gue? Kalo Yira sama Hyunjin jodoh bakal jadian sendiri kali! " Jawaban Arin terdengar sedikit sinis.
"Udah dong kalian, kenapa jadi berisik gini sih? " Keluh Yira yang sedikit meninggikan suaranya.
Habisnya Yuna dan Arin itu kalau bisik-bisik pasti berisik, jadi bisa di bayangkan bagaimana kalau mereka sedang mengobrol biasa.
"Yir, lo tau gak? "
"Gak." Sahut Yira cepat sebelum Arin menuntaskan kalimatnya.
"Dengerin dulu! Si Hyunjin itu ternyata anak Direktur sekolah loh! "
"Trus? "
"Gila dong si Hyunjin anak pemilik sekolah ini, orang kaya tuh dia! "
"Hmm."
"Yaelah, cuma hmm doang lo? "
"....." Hening. Yira tidak ingin menanggapi kalimatnya Arin lagi.
Memang sudah menjadi nasib Arin sering di abaikan ketika sedang bicara serius.
(*)
Merasa gagal membujuk Yira saat di kelas tadi, Arin mencoba untuk membujuk Yira kembali. Di perpustakaan.
"Gimana menurut lo, yir? "
"Apasih, rin? Ini perpustakaan, gak usah berisik! "
"Tau dah si Arin! "
"Diem lo, na! Gue gak ngomong sama lo ya! " Kata Arin mengomeli Yuna. Ia kembali beralih ke Yira. "Itu loh, si Hyunjin! Gimana menurut lo? "
"Dih, gue di bentak. Yaudah gue nyari buku ke sana kalo gitu! "
Arin tidak ingin perduli ketika Yuna merajuk lalu pindah ke sisi lain.
"Yir! Jawab napa! "
"Lo kan udah ada Han, masih mau gebet Hyunjin juga? "
"Kog gue sih?"
"Trus siapa? Gue gitu? "
__ADS_1
"Iyalah! "
Yira menggeleng-gelengkan kepalanya, merasa pusing dengan tingkah laku sahabatnya itu.
"Jadi tujuan lo ngenalin gue sama Hyunjin tadi pagi tuh, karena mau jodohin gue sama dia? "
Arin mengangguk antusias, akhirnya apa yang dia maksud tersampaikan juga ke Yira.
"Gila lo? Gue udah ada Lino, rin! Jangan kayak gini lah! "
"Apasih yang lo harepin dari si Lino itu, yir? Kaya enggak, kuliah juga enggak, cuma modal ganteng doang dia mah, tapi gue yakin masih gantengan Hyunjin sih. " Jawab Arin dengan entengnya.
"Tolong jaga mulut lo ya, rin! Jangan hina pacar gue!"
Yira menusuk Arin dengan kalimat peringatannya, setelah itu dia keluar dari perpustakaan. Tentu saja gadis itu tidak terima ketika kekasihnya di hina.
"Loh? Yira udah selesai? "
"Ngambek dia! Di kasih tau yang bener malah marah"
"Lo keterlaluan sih kalo ngomong, rin! Udah tau Yira sayang banget sama pacarnya, kenapa masih di paksa buat deket sama Hyunjin? "
"Apa sih, kog malah lo yang ribet?! "
(*)
Bee
| Sayang, maaf aku gak bisa jemput
hari ini. Aku lembur.
You
| Iya gpp, jangan lupa makan❤
Begitulah isi pesan singkat Yira dan Lino. Tidak ada pembahasan istimewa di dalamnya.
"Yuna udah pulang, trus gue bareng siapa? Gak mungkin banget kalo sama Arin! "
Yira berjalan keluar dari area sekolah dengan mengerucutkan bibirnya. Resiko mempunyai kekasih yang kerja ya begini, harus siap di tinggal lembur kapan saja.
*Ttin! *
"AAA KODOK, AYAM, KECOAK *****! " Yira segera menutup mulutnya ketika kalimat itu terucap begitu saja tanpa ia minta.
Tambahan informasi, Yira itu memang latah ketika mendengar suara yang mengejutkannya, terutama klakson mobil. Ia menoleh ke belakang. Ternyata mobil sport warna hitam mengkilat ini yang tadi membunyikan klaksonnya.
Kaca mobil itu terbuka, menampilkan wajah manis Hyunjin sebagai pengemudi.
"Ayo bareng, yir! " Ajak Hyunjin yang bermaksud menawari Yira tumpangan.
"Enggak usah jin, gue bisa pulang naik angkot kog."
"Eihhh, bahaya cewek naik angkot sendirian. Udah sini masuk, aku anterin sampek rumah!"
Karena Yira terlalu lama berpikir, akhirnya si Hyunjin keluar dari mobilnya lalu mengajak Yira masuk ke mobil. Seperti di dorong tapi pelan.
Ngerti kan?
(*)
Setelah Yira mengucapkan terimakasih ke Hyunjin dan orangnya juga sudah pulang,ia langsung masuk ke rumah. Pas sekali mamahnya sedang ada di depan pintu.
"Di anterin siapa, yir? "
"Temen, mah."
"Cowok ya? Bukan Lino kayaknya? "
"Emang bukan. Yira mau ke kamar dulu, mah. "
Tanpa ingin berbasa-basi lebih lama,Yira masuk ke dalam rumah. Meninggalkan sang mamah yang masih berharap mendapat jawaban memuaskan dari putrinya itu.
-
-
-
-
Terima kasih sudah membaca "BREAK"
'yiracessweetz'
__ADS_1
Lee Know Stray Kids as Lino / Minho ❤