
*Tringgggg*
Suara bel pulang udah bunyi. Sekarang banyak murid yang lari keluar dari kelas mereka masing-masing, termasuk Ayen, Chenle, dan Jisung.
"Mau pulang bareng gue gak, yen? " Tawar Chenle.
"Atau sama gue aja? Kebetulan supir gue udah di depan gerbang. " Gantian Jisung yang nawarin tumpangan ke Ayen.
Ayen gelengin kepala. "Gak usah deh, gue pulang sendiri aja. Lagian gue mau ke toilet dulu " Katanya.
"Oh, yaudah. Gue sama Jisung balik duluan ya. Tiati lo. "
"Yoi. "
Jisung sama Chenle beneran pergi duluan, sementara Ayen melipir ke toilet dulu.
Abis dari toilet, saatnya Ayen pulang. Pas udah sampek di depan gerbang sekolah, Ayen ketemu sama papahnya Hyunjin.
Waktu ngeliat Ayen keluar, papahnya Hyunjin senyum lega gitu.
"Loh, om? Ngapain di sini? " Tanya Ayen. "Anak om sekolah di sini juga? " Lanjutnya lagi.
"Om nungguin kamu, ayo masuk ke mobil, om anterin pulang. "
Si Ayen kayak ragu-ragu gitu mau nerima tawaran papahnya Hyunjin. Masalahnya kan mereka baru kenal, Ayen takut kalo papahnya Hyunjin punya niatan jahat yang nggak bisa dia liat.
"Om bukan orang jahat kog, ayo!"
Ngeliat senyum tulus papahnya Hyunjin, bikin pikiran buruk yang ada di kepala Ayen sirna. Akhirnya dia mau di anterin pulang.
Suasana di dalem mobil hening. Ayen gak tau mau ngobrolin apa.
Papahnya Hyunjin gak sengaja ngeliat sepatu Ayen yang udah mulai rusak, jadi beliau berinisiatif buat berhentiin mobilnya di toko sepatu.
Ayen keliatan bingung pas mobilnya udah berhenti. "Loh, om? Kog brenti di sini? "
Papahnya Hyunjin gak ngejawab, dia cuma keluar dari mobil terus ngajak Ayen buat masuk ke dalem toko.
Di dalem toko ini di penuhi sama sepatu-sepatu bagus dan bermerk. Mata Ayen langsung berbinar terang waktu ngeliat jajaran sepatu itu, tapi dia masih bingung kenapa papahnya Hyunjin ngajak dia kesini.
"Ayen, kamu pilih aja sepatu yang kamu suka, om beliin. "
"Eh? Gak usah, om. Makasih, hehe. " Tolak Ayen seramah mungkin.
Sejujurnya Ayen emang pengen punya sepatu baru, tapi dia gak enak sama papahnya Hyunjin.
"Jangan nolak rejeki, yen. Gak baik. "
Ayen jadi tambah gak enak setelah nolak kebaikan papahnya Hyunjin, jadi dengan canggung Ayen jalan buat milih-milih sepatu. Ada satu sepatu yang di suka sama Ayen, setelah di liat harganya satu juta lebih, bikin kepalanya geleng-geleng.
__ADS_1
"Yang ini? "
"Enggak, om. Hehe. "
Ayen ngembaliin sepatunya ke rak, tapi di ambil lagi sama papahnya Hyunjin.
"Bagus kog, yen. Ukurannya pas kayaknya sama kaki kamu, coba!"
Ayen masukin kakinya ke sepatu itu, dan beneran pas.
"Enggak ah, om. Mahal sepatunya. " Tolak Ayen lagi setelah ngeluarin kakinya dari sepatu.
Papahnya Hyunjin ketawa, tapi beliau tetep kekeh mau beliin sepatu itu buat Ayen.
"Makasih ya, om. "
"Iya, sama-sama. Ayo pulang! "
Setelah beli sepatu, papahnya Hyunjin nganterin Ayen pulang ke rumahnya.
(*)
Di tempat yang berbeda, Hyunjin lagi mampir ke minimarket. Dia mau beli minuman. Di saat yang bersamaan, Lino baru masuk ke dalem minimarket yang sama.
Jarak keduanya sekarang cuma terhalang satu baris rak barang. Lino ngerasa haus, jadi dia berpindah ke tempat minuman. Kebetulan yang gak di rencanakan sebelumnya, Hyunjin sama Lino milih satu botol minuman yang sama.
Mereka saling noleh ke arah satu sama lain, sepintas wajah keduanya terlihat mirip. Tiba-tiba Lino ngejauhin tangannya dari botol minuman yang dia pilih tadi. "Lo duluan. " Kata Lino sambil senyum ramah.
Minuman itu tinggal satu, jadi cuma ada salah satu dari mereka yang bisa dapet.
"Gue milih yang ini aja, haha. "
Lino ngambil botol minuman yang lain secara asal, abis itu dia jalan ke kasir buat bayar.
"Berapa, mbak? "
"Enam ribu lima ratus, mas. "
Dia ngerogoh saku celananya. Di saat itu juga Hyunjin nyusul ke kasir buat bayar. "Sekalian sama ini ya, mbak. " Kata Hyunjin sambil nunjuk botol minuman punya Lino.
Kaget minumannya di bayarin, Lino sempet nolak. "Eh, gak usah. "
"Udah, bang. Gapapa kog. "
Hyunjin sama Lino sama-sama senyum. Manis banget interaksi mereka.
"Thanks ya, udah di bayarin minuman gue. "
"Santai lah, bang. "
__ADS_1
Lino ngangguk. "Oh iya, nama lo siapa? "
"Hyunjin, bang. Kalo lo siapa? "
"Hyunjin? Apa dia Hyunjin yang di ceritain sama Yira itu ya? "
"Bang? Halloooooo? "
"Eh? " Lino tersadar dari bengongnya. "Gue Lino, salam kenal ya. "
Lino ngulurin tangannya buat jabatan sama Hyunjin, dan langsung di balas. Tapi di dalem hatinya, Hyunjin juga punya pertanyaan yang sama kayak Lino tadi.
Baik Lino maupun Hyunjin, sama-sama pakek jaket, jadi seragam mereka gak keliatan.
(*)
"Ini rumah kamu, yen? " Tanya papahnya Hyunjin begitu keluar dari mobil.
"Iya, om. Kontrakan lebih tepatnya. "
Papahnya Hyunjin sedikit miris sama keadaan rumahnya Ayen. Bersih sih, tapi kecil dan pastinya sumpek kalo di tinggalin rame-rame.
"Kamu tinggal sama siapa aja? "
"Cuma sama abang, om. " Jawab Ayen.
"Orang tua kamu? "
"Kata abang Ayen, mereka udah meninggal, om. "
Sekarang papahnya Hyunjin yang ngerasa gak enak karna udah ngingetin Ayen sama mendiang orang tuanya.
"Maaf ya, yen. Kamu yang sabar. " Papahnya Hyunjin sambil meluk Ayen, sontak Ayen jadi kaget.
Tapi, dia nyaman di peluk sama papahnya Hyunjin. Rasanya kayak di peluk sama seorang ayah.
-
-
-
-
-
-
Terima kasih sudah membaca "BREAK"
__ADS_1
'yiracessweetz'