BREAK

BREAK
Break #27


__ADS_3

Yuna mundurin lagi kakinya. "Gue gak berani, rin. " Katanya sambil gelengin kepala.


Mereka sekarang udah ada di depan rumahnya Yira, Arin yang ngajak.


"Lah, ngapa? Biasanya juga lu anggep kayak rumah sendiri!" Balas Arin. Dia gak mau tau sama Yuna yang katanya gak berani itu, dan langsung ngetuk pintu rumahnya Yira.


Gak lama, pintu terbuka, dan Yira yang ngebukain.


Pertama, Yira kaget karna Arin datengnya sama Yuna. Kedua, Yira kaget karna mata Yuna sembab banget. Padahal mata Yira juga sama aja.


"Gue haus! " Celetuk Arin dan langsung masuk ke dalam rumah, ninggalin Yira sama Yuna di luar. Dia sengaja sebenernya.


Setelah di tinggal Arin keadaan di luar jadi semakin sunyi. Baik Yuna maupun Yira sama-sama ngerasa canggung.


"Maaf. " Kata Yuna singkat setelah beberapa menit nggak ada percakapan.


Yira gak langsung nanggepin, dia keliatan kayak lagi mikir-mikir gitu.


"Masuk aja dulu. "


Yuna yang tadinya nunduk mulai ngangkat pandangannya ke depan. Apa Yuna gak salah dengar tadi? Yira masih mau mempersilahkan Yuna buat masuk ke rumahnya, padahal Yuna udah jahatin dia.


Akhirnya mereka berdua masuk ke dalam rumah.


"Nyokap lo kemana, yir? " Tanya Arin yang baru aja dari dapur, dia ngambil sebuah toples yang isinya kue-kue kering buatan mamahnya Yira.


"Lagi di kamar. " Sahut Yira singkat.


"Kak Changbin? " Tanya Arin lagi.


"Gak tau, dari tadi sore belum pulang. Tersesat mungkin? " Jawab Yira agak ngasal sambil jalan menuju kamarnya.


"Sembarangan lo kalo ngomong! " Arin ngikutin Yira, tapi dia brenti bentar trus nengok ke belakang. "Lo mau sampek kapan jadi patung gitu, na? Ayok! "


Yuna sedikit senyum, dan ngikutin perintahnya Arin.


Semua berjalan seperti kebiasaan mereka saat ngumpul, mulai dari nontonin film lucu, horor, sampek yang sedih-sedih. Meskipun Yuna masih ngerasa canggung dan bersalah, tapi jujur dia menikmati kebersamaan ini.


"Ah, gue kangen ngumpul kayak gini! " Celetuk Arin sambil melukin guling tidurnya Yira.


Yira gak ngejawab, tapi dia manggut-manggut seolah menyetujui kalimat Arin barusan.


"Gue minta maaf ya, gue udah jahat sama kalian. "


Yira sama Arin langsung memfokuskan pandangan mereka ke Yuna.


"Gapapa, manusia ada khilafnya, na. " Sahut Yira.


"Betul tuh! Meskipun kemarin-kemarin lo nyebelin banget! Apalagi kalo pas bareng Somi. " Imbuh Arin.


Yuna ketawa kecil waktu Arin masih sempet-sempetnya nyebut nama Somi. "Makasih, kalian mau nerima gue lagi dan mau maafin gue. " Katanya sambil meluk Kedua sahabatnya itu.


"Eh, btw! " Arin ngelepas pelukan Yuna. "Jelasin, kenapa tadi lo nangis di jalan? "


"Yuna nangis di jalan? " Tanya Yira.

__ADS_1


"Iya! Makanya gue aja kesini tadi. "


Yuna jadi murung lagi, dia inget tentang sikap orang tuanya itu.


"Biasalah, kalian pasti udah hafal. " Dan akhirnya hanya itu yang jadi jawaban Yuna.


"Lo yang sabar ya. Lo gak sendirian di dunia ini, masih ada gue sama Arin yang siap dengerin keluh kesah lo, na. "


"Penting jangan pas gue lagi sama Han aja ya! "


Karna gemas, Yira langsung noyor jidat lebarnya Arin itu.


"Sakit weh! " Pekik Arin, tapi Yira kayak gak perduli gitu.


Yuna cuma ketawa aja ngeliat tingkah sahabat-sahabatnya ini, gak lama Yuna merubah pandangannya ke arah Yira. "Yir. "


Yira noleh ke Yuna yang tadi manggil dia.


"Hubungan lo sama Lino gimana? Baik-baik aja kan? " Tanya Yuna.


"Ah, iya! Gimana tuh kelanjutannya? Nggak putus kan? "


"Putus enggak, pacaran juga enggak, cuma lagi istirahat aja. " Jawab Yira di iringi senyum kecutnya.


"Waduh, bakal galau ni anak? " Celetuk Arin.


Di sini Yuna yang paling ngerasa gak enak sama Yira. Dia berpikir semua yang di alami Yira sama Lino itu gara-gara kelakuan dia.


"Ini pasti gara-gara gue ya? Maaf. "


"Semoga aja. " Batin Yira melanjutkan kalimatnya.


"Gue yakin kog, suatu saat kalian bakal bahagia. Jangan berantem lagi ya! "


Yira sama Yuna ngangguk barengan. Rasanya lega di antara ketiganya, akhirnya persahabatan mereka jadi baik lagi.


Yuna mulai bertekad sama dirinya sendiri, dia akan melupakan perasaannya ke Lino. Setulus-tulusnya Yuna, dia tau itu salah dan gak seharusnya di terusin.


Dan, Yira. Dia nggak memilih salah satu antara sahabat atau pacarnya. Dia hanya bergantian untuk mempertahankan keduanya.


(*)


Di kamar, Lino lagi ngelipat baju-baju dan di masukin ke dalam koper besar.


"Bang. "


Kedengaran Ayen yang manggil Lino dari luar kamar. "Masuk aja, yen. " Sahut Lino.


Ayen langsung buka pintunya tanpa ragu. Dia jalan nyamperin abangnya itu, trus ngambil salah satu bajunya Lino yang belum di lipat.


Ceritanya Ayen bantuin ngelipat bajunya Lino.


"Ada apa? " Tanya Lino setelah beberapa saat.


Ayen gak biasanya bersikap kayak gini, jadi Lino tau pasti ada yang mau di sampaikan sama adik bungsunya itu.

__ADS_1


"Harus banget ya bang berangkat ke Kanada duluan? Gak mau bareng kita gitu? "


Tuh, benar kan dugaan Lino!


Lino berhenti dari kegiatan melipat baju, dan fokus ngobrol sama Ayen. Dari kecil, Ayen itu paling gak bisa di tinggal sama Lino, pasti dia ngerasa sedih kalo harus pisah, meskipun cuma beberapa hari.


"Bukannya gak mau, tapi gue harus nyesuain diri dulu di sana. Gue udah lama gak belajar, butuh waktu buat persiapan masuk kuliah. " Jawab Lino pelan-pelan, supaya Ayen ngerti.


"Yah, malah mewek ni anak. " Lanjut Lino lagi waktu liat Ayen ngejatuhin air mata.


"Gue di tinggal dong. " Sahut Ayen sambil nangis, tapi dia gak mau ngeliat ke arah Lino.


Lino majuin badannya sedikit buat meluk Ayen. "Adek gue cengeng banget buset. " Candanya.


"Apaan sih lo?! " Ayen protes dan ngejauhin badannya dari Lino. Gemas banget, bibirnya manyun gitu si Ayen.


Lino cuma ketawa sama tingkahnya Ayen, trus lanjut masukin barang-barang yang lain ke dalam koper. Gak sengaja, Lino nemuin sebuah foto yang jatuh dari kemejanya. Itu adalah foto Yira sama Lino yang di ambil waktu anniversary mereka yang ke satu tahun.


"Lo udah bilang ke kak Yira kalo mau ke Kanada besok, bang? " Tanya Ayen setelah dia ngeliat foto yang sekarang lagi di pegang sama Lino.


Lino gelengin kepalanya pelan sambil memiringkan senyum.


"Kenapa, bang? Kasihan kalo kak Yira gak di kasih tau. "


"Lebih baik emang Yira gak usah tau, yen. "


"Tapi itu bakal bikin kalian sama-sama tersiksa, bang! "


Ayen lagi pinter banget masalah cinta-cintaan. Padahal dia masih piyik. Belajar darimana??


"Gue tau kog, tapi gue gak bisa ngucapin selamat tinggal ke Yira, yen. Gue kangen sama dia, tapi mungkin ini jalan yang terbaik buat semua orang. "


Meskipun pada kenyataannya, ini semua lebih berat untuk Lino dan Yira.


Dari balik pintu, ada sosok Hyunjin yang udah dari awal berada di luar kamarnya Lino. Awalnya Hyunjin pengen bantuin Lino ngemas barang-barang, tapi ternyata di dalam lagi ada Ayen. Hyunjin nahan diri buat gak masuk, karna Ayen sama Lino lagi ngobrol.


Dari lubuk hati yang paling dalam, Hyunjin masih merasa bersalah atas perasaannya ke Yira. Andai Hyunjin tau semua ini akan terjadi, pastinya dia gak akan ceritain tentang Yira ke papahnya.


Memang seperti itu. Waktu bukanlah roda yang bisa di putar maju dan mundur sesuai keinginan. Apa yang sudah terjadi biarlah menjadi cerita. Apa yang sedang terjadi haruslah di jalani. Dan apa yang belum terjadi, rangkum saja di dalam doa agar Tuhan bisa mendengarnya.


-


-


-


-


-


-


-


Terima kasih sudah membaca "BREAK"

__ADS_1


'yiracessweetz'


__ADS_2