BREAK

BREAK
Break 28


__ADS_3

Hari ini, semua berjalan normal seperti rencana. Tapi beda sama Hyunjin, dia telat bangun gara-gara gak bisa tidur semaleman, dan baru bisa tidur sekitar subuh tadi.


Nyetir mobilnya ngebut banget, udah berasa kayak lagi balapan di sircuit.


Untungnya Hyunjin gak telat-telat banget, jadi sampai di sekolah sebelum bel masuk bunyi. Tujuan Hyunjin setelah sampai bukan buat masuk kelas, tapi buat nyari Yira. Hyunjin udah ngelilingin setiap sudut sekolah, setelah sebelumnya dia ngecek kelas, tapi Yira gak ada di semua tempat itu.


"Hyunjin? "


Hyunjin balik badan, dan udah ada Yuna sama Arin yang habis dari toilet.


"Ngapain lo di depan toilet cewek? " Tanya Yuna.


"Yira dimana? "


Yuna sama Arin langsung bertukar arah pandangan. "Dia gak masuk. " Jawab Arin.


"Mungkin lagi goleran di tempat tidur? " Imbuh Yuna.


Setelah pertanyaannya di jawab, Hyunjin ngecek arloji di tangannya. "Waduh, mepet banget! " Habis itu dia lari, arahnya sih mau keluar dari sekolah.


"JIN! ADA APAAN SIK?! "


Percuma juga Arin teriak, Hyunjin gak bakal denger. Larinya Hyunjin kenceng banget, ngalahin ninja Konoha.


(*)


Lino lagi ada di dalam mobil sama papahnya. Mereka dalam perjalanan buat ke bandara. Ayen tadinya mau bolos buat ikut nganterin sebenarnya, tapi di larang sama Lino.


"Lin, papah nanti cuma nganter aja ya? Ada meeting sama orang kantor soalnya. " Kata papah tiba-tiba.


"Iya, pah. " Jawab Lino singkat.


Lino beralih memandang ke arah luar dari balik kaca mobil. Pagi ini cuacanya agak mendung. Di temani dengan rintikan gerimis air hujan, Lino masih setia dengan posisi awal. Sejujurnya, Lino pengen banget ketemu dan pamitan sama Yira, tapi gak bisa.


"Pah, aku boleh pakek headset gak? " Tanya Lino meminta izin, dan papah langsung nganggukin kepala.


Lino makek headset di telinga kanan dan kiri, dengerin lagu sendu, lalu gak lama dia ketiduran.


Naman banget gak sih? Cuaca mendung dan gerimis, dengerin lagu-lagu sendu, apalagi sambil rebahan gitu?


(*)


Setelah melewati perjalanan yang gak dekat, Hyunjin akhirnya sampai di rumah Yira. Pas banget pagarnya lagi kebuka, Hyunjin bisa langsung masuk ke area rumah.


"Permisi! " Hyunjin sambil ngetuk pintu rumahnya Yira berkali-kali.


"Yiraa!! " Lagi, dengan ketukan di pintu yang lebih keras.


Saat pintu kebuka, yang keluar adalah Changbin.


"Bang, Yira ada? " Tanya Hyunjin secepat mungkin.


Baru aja Changbin mau ngejawab, mamahnya keburu ikut keluar.


"Ngapain kamu di sini? "


Mamah keliatan gak suka banget sama keberadaan Hyunjin di rumahnya, saking gak sukanya sampai pengen langsung di usir.


"Tante, Hyunjin mau ketemu Yira. Bentar aja. " Pinta Hyunjin.


"Gak, saya gak akan kasih kamu izin ketemu Yira! Lebih baik kamu pulang sana! " Benar aja, mamah langsung ngusir Hyunjin.


"Ini penting banget, tante. Hyunjin mohon. "


Changbin ngerasa kasihan sama Hyunjin. Kayaknya memang ada hal penting, sampai Hyunjin mohon-mohon gitu.


"Yira lagi di makam papah, jin. Makam yang di ujung komplek, tau kan? "


Mamah langsung melototin Changbin yang baru aja ngasih tau Hyunjin tentang keberadaannya Yira.


"Iya, gue tau, bang! Makasih ya! " Mata Hyunjin langsung berbinar. "Tante, maaf. " Lanjut Hyunjin kemudian langsung pergi buat nyamperin Yira.


"Gimana sih kamu, bin?! Kenapa malah di kasih tau?! "


Changbin gak mau ngejawab, meskipun rasanya banyak hal-hal yang mau dia ucapin sekarang.


"Mamah gak bisa biarin ini, mamah harus nyamperin mereka! " Kata mamah yang udah bersiap buat pergi, tapi langsung di tahan sama Changbin.


"Mah! "

__ADS_1


Mamah terdiam. Baru kali ini Changbin berhasil bikin mamahnya diam.


"Udah dong, mah! Jangan egois kayak gini! Kasihan Yira. "


"Kamu gak ngerti, bin! "


"Mamah yang gak ngerti! Mamah terlalu egois. Kalo mamah benci sama orang, trus Changbin sama Yira juga harus ikutan benci gitu? Yira bukan anak kecil lagi, mah. Dia udah dewasa buat memilih masa depannya! "


Mamah masih terdiam, lebih tepatnya merenungi kalimat demi kalimat yang baru aja Changbin katakan. Mungkin, itu sedikit membuat beliau sadar bahwa yang beliau lakukan itu salah.


(*)


Yira baru selesai nyekar makam papahnya, dia berniat buat pulang sekarang.


"Yir! "


"Hyunjin? "


Yira kelihatan bingung dengan keberadaan Hyunjin di sini. "Lo ngapain? " Tanya Yira.


Hyunjin masih ngos-ngosan, tapi dia tetap berusaha buat ngejawab.


"Kamu harus ikut aku sekarang, yir! "


"Kemana, jin? "


"Ke bandara! Bang Lino mau pergi ke Kanada, dan bentar lagi pesawatnya berangkat! "


"Ke Kanada? " Yira sedikit shock mendengar hal ini, tapi Hyunjin gak ngebiarin itu terjadi berlama-lama.


Hyunjin narik tangannya Yira buat masuk ke dalem mobil. "Gak ada waktu buat bengong, yir! "


(*)


Perjalanan dari makam ke bandara cukup memakan waktu karna jalanan lagi macet. Belum lagi di tambah gerimis yang membawa hawa dingin.


Hyunjin sama Yira khawatir kalo mereka bakalan telat nyampe di bandaranya.


Meski sempat terjebak macet, akhirnya mereka sampai juga di bandara.


Yira nyari-nyari jadwal keberangkatan pesawat yang mau Lino tumpanganin, sementara Hyunjin nelfonin Lino, sayangnya gak di angkat. Mereka tambah panik.


Rupanya Yira udah nemuin jadwal pesawat dengan tujuan penerbangan ke Kanada. "Lino udah berangkat dari tiga menit yang lalu. " Lanjutnya.


Rasanya Yira mau nangis sekencang-kencangnya. Bagaimana mungkin Lino bisa berangkat tanpa pamit ke Yira?


Ngeliat Yira yang kayaknya sedih banget, Hyunjin berusaha buat nenangin. "Udah, yir. Jangan nangis, kita di tempat umum loh. " Kata Hyunjin, tapi sama sekali gak ngefek ke Yira.


Hatinya Yira bener-bener lagi hancur. Dia gak tau kapan Lino bakal balik, dia gak tau apa Lino udah makan sebelum berangkat, dia gak tau apa Lino sempat senyum hari ini, dia gak tau dan dia ngerasa takut sekarang.


"Loh, kalian ngapain di sini? "


Baik Yira maupun Hyunjin langsung noleh ke sumber suara.



*Ilustrasi Gambar*


Dan ternyata tadi itu suaranya Lino.


Yira langsung ngehapus jejak-jejak air mata di pipinya.


"Kog lo masih di sini, bang? Bukannya udah berangkat ya pesawatnya? " Tanya Hyunjin terheran-heran.


"Oh, itu. Tadi gue ke toilet, jadinya ketinggalan pesawat deh. Untungnya papah sempet ngasih tiket pesawat cadangan buat jaga-jaga, dan bentar lagi pesawat yang terakhir berangkat. " Jelas Lino. Dia merubah pandangannya ke arah Yira.


Demi apapun, Lino seneng banget bisa ngeliat Yira sebelum dia berangkat.


"Abis nangis ya? " Tanya Lino.


Hyunjin peka, dia nyari tempat duduk yang agak jauh dari posisi Yira sama Lino.


"Tau ah! " Sahut Yira bete.


Lino langsung ketawa. "Maaf, aku gak pamitan. "


Yira gak ngejawab, dia malah makin manyunin bibirnya.


Gak lama, Lino ngelepas jaketnya dan di pakein ke Yira. Awalnya Yira kaget karna di pakein jaket, tapi dia juga gak nolak. Toh memang dingin.

__ADS_1


Lino beralih megang tangannya Yira. "Aku setuju buat istirahat, bukan berarti aku pengen jauh dari kamu. Ini cuma sementara kog, aku janji akan kembali lagi. Tentunya dengan keadaan yang lebih baik. "


Yira makin gak bisa nahan tangisnya, dia langsung meluk badannya Lino dengan erat.


"Kamu jaga kesehatan di sana ya. Aku di sini juga bakal jaga kesehatan. "


Meskipun gak ada jawaban, tapi Lino nganggukin kepalanya, dan Yira bisa ngerasain itu.


Gak lama, ada pemberitahuan dari pihak bandara, kalau pesawat yang juga bakal di tumpangin sama Lino akan segera berangkat. Artinya mereka harus berpisah di sini.


"Aku pergi sekarang ya?" Pamit Lino.


Ada rasa gak rela, tapi Yira gak boleh egois. Ini buat kebaikan semua orang.


Perlahan, genggaman tangan keduanya mulai terlepas seiring kaki Lino yang melangkah pergi menjauhi Yira.


Hyunjin kembali menghampiri Yira, lebih tepatnya dia ngajak Yira buat duduk.


Masih ingat tentang surat yang di titipin Lino ke Hyunjin?


Iya, Hyunjin ngasih surat itu ke Yira. "Ini dari bang Lino. " Kata Hyunjin.


Di buka surat itu sama Yira, lalu di baca sampai habis.


__________________


*Dear my star..


Aku gak tau gimana situasi dan keadaan kamu saat baca surat ini sekarang.


Maaf, aku belum bisa jadi pacar yang baik buat kamu.


Maaf, karna masalah ini hubungan kita harus jadi korban.


Break bukan berarti menggantungkan hubungan, tapi ini adalah fase untuk kita saling mengintopeksi diri. Untuk saling mencari jawaban mengapa memilih bertahan daripada melepaskan.


Aku selalu bangga untuk setiap senyum yang kamu kasih setiap hari, dan aku minta buat kamu tetap menjaga hal itu.


Suatu saat, aku bakal kembali. Maaf lagi, karna aku bikin kamu menunggu.


Tolong, jangan sedih. Aku bisa ngerasain dari kejauhan soalnya. Gak mau kan bikin aku sedih juga di negri orang?


Udah ya. Terlalu panjang, gak cukup kertasnya, hehe.


Love you, bee*.


_________________


Bukannya tenang, Yira malah banjir air mata, Hyunjin jadi tambah bingung gimana nenanginnya.


Dari tempat mereka duduk, Hyunjin sama Yira bisa ngeliat satu pesawat berhasil lepas landas.


"Minggu depan aku yang berangkat. " Kata Hyunjin tiba-tiba.


"Makasih ya, yir. Belum ada sebulan aku di sini, tapi aku bisa nikmatin waktu singkat itu karna kamu. " Lanjutnya.


Yira yang udah berhenti nangis, mulai tersenyum lagi. "Jaga diri baik-baik di sana, jin. Gue juga seneng bisa kenal sama lo. Tolong, jagain Lino juga ya, dia bandel banget kalo soal makan. "


"Haha. " Hyunjin ketawa, habis itu dia nganggukin kepalanya sebagai jawaban.


(*)


Menyambung kalimat Lino barusan. Terkadang sebuah hubungan harus memiliki jeda, bukan untuk menjauh atau mencari pengganti, tapi untuk saling menilai pribadi masing-masing.


Nilai kesalahan tidak bisa hanya di lihat dalam sebuah pertengkaran. Kadang kala, kalimat "Kasih aku waktu. " atau "Kita istirahat dulu untuk sementara. " menjadi solusi terbaik mempertahankan hubungan. Soal bagaimana akhirnya, biarlah menjadi puisi Tuhan untuk cerita di masa depan.


-


-


-


-


-


Part 1


Terima kasih sudah membaca "BREAK"

__ADS_1


'yiracessweetz'


__ADS_2