BREAK

BREAK
Break #25


__ADS_3

Udah jam lima sore, waktunya Ryujin buat pulang kerja karna temen yang sift malam udah dateng.


"Lah, bin? Ngapain lo di sini? " Tanya Ryujin waktu ngeliat Changbin lagi duduk di atas motornya pas keluar dari minimarket.


Si Changbin senyum malu-malu buaya gitu ke Ryujin.


Tau kan buaya kalo lagi senyum kayak gimana?


"Weh, sakit lo? " Tanya Ryujin lagi. Menohok ya tapi pertanyaannya.


"Yeukkk! Lo kira gue gak waras gitu? " Protes Changbin.


"Ya lagian lo senyum-senyum kayak gitu, siapa yang gak takut coba? "


Changbin merubah ekspresi dari yang tadinya senyum-senyum jadi cemberut sekarang. Tapi gak lama, dia buka suara lagi. "Mau pulang kan? "


"Pakek nanya lo! "


Ryujin galaknya ya ampun.


"Yaudah ayok! Gue anterin. "


Changbin beneran kesambet ya? Tumben-tumbenan banget dia nawarin Ryujin buat di anterin pulang.


"Lah, malah bengong ni anak! Ayok! " Tawar Changbin lagi, eh bukan, ini dia lebih kayak maksa ya.


Meskipun begitu, Ryujin gak nolak buat di anterin Changbin. Lumayan kan hemat ongkos.


(*)


"Yir, maaf ya sampek sini aja. Nanti mamah kamu marah. " Kata Hyunjin setelah berhentiin mobilnya di depan komplek.


Yira ngangguk pelan. "Iya gapapa. Makasih ya buat tumpangannya, jin. "


"Sama-sama, yir. "


Setelah itu Yira keluar dari mobil, dan Hyunjin pun pulang.


Pas mobilnya Hyunjin udah pergi, Lino muncul dari belakangnya Yira, bikin Yira kaget bukan main.


"Bikin kaget aja sih, astaga! " Pekik Yira yang hampir teriak.


Wajahnya langsung mrengut gitu karna kedatangan Lino yang tiba-tiba itu. Tapi jauh dari kata gak suka, Yira sejujurnya kangen banget sama Lino.


Lino senyum ke Yira. "Syukur deh kalo kamu pulang dengan selamat. " Kata Lino yang makin ngelebarin senyumannya.


"Kamu kenapa gak ngabarin aku? " Lanjut Lino memberi pertanyaan.


"Kamu juga kenapa gak ngabarin aku? "


"Bukannya kamu lagi marah ya sama aku?"


Yira narik napas dengan kasar, jadi kesel kan dia sekarang.


"Ya kenapa kamu gak bujuk aku biar gak marah lagi? Oh, iya! Aku kan gak penting ya? Lupa! "


"Siapa sih yang bilang kamu gak penting? " Lino mulai ikut emosi.


Mereka berantem di jalan, dan sesekali di liatin sama orang yang lewat di jalan itu.


"Kenyataannya kan gitu! Kalo emang aku ini penting, pastinya kamu gak akan nyembunyiin soal keluarga kamu itu dari aku! "

__ADS_1


"Aku gak nyembunyiin! Iya kita emang pacaran, tapi gak semua hal pribadi aku harus kamu tau kan? "


Yira ngernyitin dahinya. Gak ada yang salah dari kalimat Lino barusan, tapi mungkin karna perasaan cewek itu sensitif, jadi rasanya kayak kesinggung atau gak trima gitu ya?


Debat di antara keduanya semakin panas. Satu emosi, satunya lagi gak mau kalah.


"Aku capek ya berantem terus gini, belum lagi masalah keluarga kita. "


"Aku juga! " Sahut Lino dengan cepat.


"Kita istirahat aja deh! "


Satu kalimat yang di ucapin spontan sama Yira ini langsung berhasil bikin Lino shock. Ini pertama kalinya Yira ngomong kayak gitu.


"Maksud kamu? " Tanya Lino.


"Ya kita istirahatin hubungan ini. " Perjelas Yira.


Meski sempet shock, tapi Lino akhirnya punya pikiran yang sama kayak Yira. Mungkin break memang jalan yang tepat. Nggak melepaskan cintanya, dan juga nggak bikin sakit hatinya Hyunjin.


Tapi bukan berarti Lino seneng ya kalo hubungannya sama Yira harus istirahat kayak gini. Apalagi karna masalah.


"Yaudah aku setuju. "


Giliran Yira yang shick. "Ka..kamu, setuju? "


Padahal tadi Yira cuma keceplosan aja karna lagi emosi, malah di setujuin sama Lino.


"Kamu jaga diri ya. Selama kita break, tolong tetep jaga kesehatan. Kamu tau kan, aku sayang banget sama kamu? Mungkin ini salah satu jalan supaya kita bisa tenang buat sementara. " Kata Lino sambil ngasih senyuman kecutnya, habis itu dia pergi.


Yira mau ngejar, tapi dia gak punya alasan buat ngelakuin hal itu.


Masih di tempat yang sama, menatap kepergian langkah kaki Lino yang mulai menghilang dari pandangannya. Perlahan, Yira mulai nangis. Yira bahkan gak perduli dengan orang-orang yang ngeliatin dia nangis sekarang.


(*)


"Ada apa bi papah manggil aku? " Tanya Hyunjin.


"Bibi kurang tau, deh. "


"Sekarang papah dimana? "


"Di ruang kerjanya, den. Bibi permisi dulu. " Jawab pelayan itu, dan setelah Hyunjin ngasih izin, si pelayan pun pergi.


Hyunjin nyamperin papah ke ruang kerjanya. Di ketuk pintu itu dua kali, lalu papah menyahut dari dalam ruangan.


"Papah manggil Hyunjin? " Tanya Hyunjin begitu dia masuk ke dalam ruangan.


Papah yang lagi meriksa dokumen-dokumen kerjanya mulai melepas kacamata dan fokus menatap anak keduanya itu. "Iya, duduk dulu. " Kata papah, dan Hyunjin pun duduk berhadapan sama papahnya.


Gak lama, papah ngasih sebuah kertas formulir, persis kayak yang di kasih ke Lino tadi pagi.


"Pendaftaran SMA di Kanada? Maksudnya apa, pah? " Tanya Hyunjin lagi setelah membaca kertas yang di kasih papahnya itu.


"Papah mau kita semua pindah ke Kanada minggu depan. "


Hyunjin kaget sama apa yang barusan di ucapin sama papahnya. "Hyunjin kan baru aja pindah kesini, pah! Masa iya mau pindah lagi? Lagipula Hyunjin udah kelas tiga! " Protes Hyunjin.


"Memangnya kenapa? Papah bisa atur semua itu, papah kan direktur sekolah. "


"Tapi pah.. "

__ADS_1


"Gak ada tapi-tapian, jin. Lino sama Ayen juga udah setuju kog. "


"Bang Lino setuju?"


(*)


*Dug*


"Aduhhh!!! "


Yira gak sengaja kejedot pintu jidatnya karna jalan sambil nunduk.


Dia kayak gitu karna matanya lagi sembab abis nangis, makanya nunduk biar gak di liat orang-orang.


Gak mau berlama-lama di sini, Yira pun masuk ke dalam rumah. Tumben hari ini sepi, mahkluk bernama Changbin itu juga kayaknya lagi gak di rumah.


"Pintu kamar gue kog kebuka? " Tanya Yira sama dirinya sendiri waktu ngeliat ke arah kamarnya.


Pikiran negatif Yira mulai bergejolak, takutnya ada maling yang menyusup ke dalam rumah.


Pas di samperin, ternyata mamah yang ada di dalam kamarnya Yira.


"Mamah ngapain? " Pekik Yira waktu ngeliat mamah ngelepas foto-foto Yira sama Lino yang di tempel di dinding.


Tau kan? Yang di hiasi sama lampu itu loh.


Ya kayak gitulah pokoknya.


Gak cuma itu, barang-barang Yira yang pernah di kasih sama Lino juga ikut di masukin mamah ke dalam kardus besar beserta dengan foto-fotonya.


"Mahhhhhh! " Yira berusaha buat berhentiin mamahnya.


"Apasih, yir?? Buat apa kamu masih nyimpen semua ini? Mamah kan udah ngelarang kamu berhubungan lagi sama Lino! "


"Ya tapi harusnya mamah izin dulu dong sama Yira? Jangan kayak gini. "


"Sekarang mamah harus izin sama kamu? Apa mamah ini orang lain buat kamu, ha? " Mamah jadi emosi sama anaknya sendiri.


"Mah, bukan gitu maksud Yira. "


"Pokoknya mamah gak mau kamu berhubungan sama Lino! Kalo mamah tau kamu masih ada hubungan sama anak itu, mamah gak akan nganggep kamu anak lagi! " Ucap mamah dengan emosi menggebu-gebu, lalu keluar dari kamarnya Yira.


Segitu bencinya mamah sama keluarga mantan pacarnya itu, sampai ngelarang Yira berhubungan lagi sama Lino.


Yira makin gak bisa nahan tangisnya. Kakinya lemas, sampek Yira jatuh terduduk di lantai. Dia mungutin foto-foto yang ada di dalam kardus. Hatinya terasa sakit, sakit banget. Gak pernah ada di bayangan Yira, semua ini bakal terjadi.


Terlalu banyak hal indah yang di bayangkan, sampai tidak melihat bahwa ada banyak celah untuk hal yang buruk terjadi.


-


-


-


-


-


-


-

__ADS_1


Terima kasih sudah membaca "BREAK"


'yiracessweetz'


__ADS_2