
*Tok-tok-tok. *
Hyunjin denger pintu kamarnya di ketuk sama seseorang dari luar, pas di buka, ternyata orang itu Lino.
"Ada apa, bang? " Tanya Hyunjin. Di wajahnya masih terlihat ekspresi murung.
Pandangan Hyunjin sedikit turun, dia ngeliat Lino lagi megangin nampan yang di atasnya ada dua cangkir kopi hitam.
"Ngopi yok, di atap!" Ajak Lino.
"Tapi gue gak pernah ngopi, bang. "
"Yaudah, temenin gue aja kalo gitu. "
Lino jalan duluan menuju atap. Padahal Hyunjin belum bilang iya. Jadi inget kan yang waktu Hyunjin ngajak Lino lari pagi itu, haha.
Mau gak mau, Hyunjin tetep nyusulin Lino.
Malam-malam di atas atap tuh dingin banget. Terlebih rumah ini ada tiga lantai. Semakin tinggi rumahnya semakin kencang pula anginnya, eh pohon itu ya?
Waktu Hyunjin tiba di atap, Lino udah nyeruput kopinya sambil ngeliatin pemandangan komplek.
Hyunjin duduk, tiba-tiba dia kepikiran soal pindah ke Kanada itu. "Bang. "
"Hm? " Jawab Lino sambil terus menyeruput kopinya.
"Kenapa lo setuju buat pindah ke luar negri? "
Lino diem, gak lama dia naruh cangkir kopinya ke nampan lagi. Dia beralih masukin kedua tangannya ke dalam saku celana. "Tentu aja karna papah yang minta. " Jawab Lino singkat.
"Tapi Yira gimana, bang? "
"Yira? " Lino balik badan, menatap Hyunjin yang dari tadi duduk di belakangnya. "Gue sama Yira break buat sementara. "
"Ha? "
Hyunjin kaget. "Kenapa sampek kayak gitu sih, bang? "
Lino senyum tipis.
"Jin, lo beneran suka sama Yira? "
"Maksud lo apa, bang? Ya enggak lah, haha. " Jawab Hyunjin, tapi Lino tau jawaban Hyunjin ini bohong.
"Gue tau kog kalo lo beneran suka sama Yira, gue juga yakin kalo lo tulus. " Lino menghampiri Hyunjin dan ikut duduk di sampingnya. "Tapi maaf, gue gak bisa ngelepasin dia. " Lanjut Lino sambil nepuk pundaknya Hyunjin.
Senyuman tipis Lino di balas sama Hyunjin. "Jadi mau saingan nih? " Canda Hyunjin yang malah bikin Lino ketawa.
"Gak mau, enak aja ngajak saingan lo. " Balas Lino.
"Btw, sorry ya, bang. Kalo aja gue gak cerita ke Yira, mungkin...... "
"Udah, gapapa. Gue yang salah, harusnya gue langsung ceritain ke dia. Padahal kalo dia gak ceritain masalahnya, gue juga sering marah. " Sahut Lino.
Hyunjin berusaha buat paham, jadi dia cuma manggut-manggut.
"Gue butuh waktu bang buat ngilangin perasaan gue ke Yira. Buat gue, kalian itu lebih penting. " Kata Hyunjin yang terus tersenyum dari tadi.
__ADS_1
Lino ngacak-ngacak rambut hitamnya Hyunjin. "Adek gue yang ini ternyata udah gede ya? "
"Gue bukan bocah lagi yak! " Protes Hyunjin.
Respon dari Lino cuma kekehan kecil. Hyunjin keliatan lucu kalo lagi kayak gitu. Tapi gak lama, Lino diem. Dia keliatan kayak mau nyampein sesuatu.
"Jin. "
"Hm? "
Lino ngambil sebuah surat dari dalam kantong saku celananya, trus di kasih ke Hyunjin.
"Apaan nih? " Tanya Hyunjin yang memandangi surat itu.
"Tolong kasihin ke Yira ya besok. "
Hyunjin beralih ke Lino, dia bingung. "Kenapa gak lo kasih sendiri, bang? "
"Gue udah mikirin ini dari tadi siang, dan gue udah mutusin kalo besok gue berangkat duluan ke Kanada. Sementara lo, Ayen, sama papah bakal nyusul minggu depan. "
Denger kalo Lino mau berangkat besok, Hyunjin langsung balikin surat itu ke tangannya Lino lagi. "Mendadak amat?! " Tanya Hyunjin lagi, tapi keliatannya dia gak setuju.
"Gue butuh beradaptasi di sana, dan banyak yang harus gue pelajari sebelum mulai kuliah, kan? Sekali aja, gue minta tolong sama buat kasih surat ini ke Yira. " Jawab Lino sambil ngasih suratnya ke Hyunjin lagi.
Hyunjin udah gak bisa jawab. Dia menghargai keputusan abangnya itu. Hyunjin tau Lino bukan anak kecil, jadi apa yang di putusin sama Lino, itu pasti yang terbaik buat kebaikannya.
(*)
"*Heh, mas! Kamu ini kenapa sih gak pernah sembuh? Sudah berapa wanita yang jadi selingkuhan kamu, ha? "
"Kenapa kamu protes terus jadi istri?! Aku banyak wanita juga karna kamu selalu menuntut hal yang besar dari aku! "
"Kamu pikir aku ini bukan manusia? Aku kerja dari pagi sampai malam, dan kamu hanya senang menghambur-hamburkannya*! "
*Prangggg*
Yuna melempar vas bunga ke tembok supaya mamah dan papahnya berhenti bertengkar.
"Vasku!! " Mamah Yuna langsung mungutin pecahan vas bunga kesayangannya itu.
"Yuna! Kamu sudah gila ya? Ini vas mahal dan kamu pecahin gitu aja? " Umpat mamahnya Yuna.
"Ini lagi?! Anak gak tau diri! " Giliran papahnya Yuna yang ngomong sekarang.
Bagi Yuna, kalimat-kalimat seperti itu udah biasa. Dia udah kebal.
"Bisa gak sih mamah sama papah berhenti berantem? " Mata Yuna mulai berkaca-kaca.
Mamah sama sekali gak ngerespon Yuna, dia lebih sibuk memunguti pecahan vas mewahnya itu. "Dasar anak kurang ajar! " Celetuk mamah Yuna.
"Ini gara-gara kamu tidak bisa melahirkan anak laki-laki! Nasib sial aku mendapatkan anak perempuan! "
"Kog aku lagi sih, mas? Di kira aku juga mau apa punya anak perempuan? " Sahut mamah.
"Emang apa salahnya punya anak perempuan sih, pah? Mah? Selama ini Yuna udah berusaha buat jadi seperti apa yang kalian mau. Yuna belajar keras sampai jadi juara satu, dan itu buat apa? Cuma buat dapetin pengakuan mamah sama papah! Kenapa setiap kalian berantem, pasti Yuna yang di salahin? Udah tau gak pengen punya anak perempuan, kenapa gak bunuh Yuna aja waktu kecil? Kenapa harus di besarin segala?! "
Yuna semakin emosional. Saking gak tahannya dia langsung pergi keluar dari rumah. Entah kemana tujuannya.
__ADS_1
Bagaimana rasanya, di lahirkan tanpa harapan baik dari orang tuamu?
(*)
"Iyaaaaaa!!! Setdah, gak sabaran amat lo, yir! Gue lagi jalan ke rumah lo nih! "
"Gak pakek lama loh ya! Awas aja lo! "
"Heemmmm, dah gue matiin dulu! "
*Bip*
Arin lanjut jalan lagi setelah mutusin sambungan telfon secara sepihak. Btw, Arin lagi ada di perjalanan buat ke rumahnya Yira.
Iya.
Yira yang minta Arin buat dateng ke rumah.
Bisa aja sih, Arin minta Han buat nganterin. Tapi sialnya Han lagi gak bisa di hubungin, padahal ini masih sekitar jam tujuh-an. Masa iya dia udah tidur?
Waktu udah hampir sampai di kawasan komplek rumah Yira, Arin gak sengaja papasan sama Yuna yang lagi nangis. Sejujurnya, dia gak pengen perduli lagi soal si Yuna.
Yuna ngeliat ke depan. Dia kaget karna di hadapannya ada Arin. Rasa kagetnya Yuna bercampur dengan malu. Dia berusaha buat pura-pura gak liat dan pengen ngelewatin Arin gitu aja.
Arin balik badan dengan cepat setelah di lewatin gitu aja sama Yuna. "Lo buta ya, na? "
Yuna ikut balik badan juga, bikin kedua remaja ini saling beradu tatapan. Sebisa mungkin, Yuna berusaha buat nahan tangisnya.
"Gue gak mau ribut. " Kata Yuna yang memang bener-bener lagi gak mood.
Arin mendengus kesal. "Lo pikir gue juga mau gitu ribut sama lo?! " Sahut Arin.
"Trus mau lo apa? " Tanya Yuna, tapi Arin gak ngejawab. Dia majuin kakinya, dan tiba-tiba aja langsung meluk Yuna.
"Lo di apain lagi sama nyokap bokap lo? " Nada bicara Arin berubah jadi lembut banget, padahal tadi dia sensi sama Yuna.
Gak ada jawaban dari Yuna. Tanpa dia jawab pun, pasti Arin udah tau karna Yuna sering banget cerita kalo ada masalah di keluarganya. Gak lama, Yuna nangis lagi. Dia akhirnya membalas pelukan Arin.
"Lo boleh nangis kog, gue sama Yira masih sahabat lo. " Kata Arin supaya Yuna tenang.
Dia gak tau apa yang sebenarnya terjadi di keluarga Yuna, tapi Yuna sering cerita kalo mamah papahnya itu gak perduli sama Yuna, bahkan dari kecil Yuna sering banget di jadiin topik permasalah di keluarganya.
-
-
-
-
-
-
-
Terima kasih sudah membaca "BREAK"
__ADS_1
'yiracessweetz'