
"Tangkap pria itu! Berani-beraninya dia menyentuh wanita ku!" Tuan Maximo menatap tajam pada sosok laki-laki yang sedang menunggu di depan ruang pemeriksaan.
Beberapa anggota nya segera mengepung Wiliam. Pria itu tak sempat lari hanya bisa memberi perlawanan kecil saat kedua tangan sudah dikunci rapat oleh dua pria bertubuh kekar, sedangkan yang lain ikut mengepung nya.
"Ada apa ini?! Kenapa kalian tiba-tiba menangkap ku?!" Jelas saja Wiliam merasa terkejut dirinya tiba-tiba ditangkap orang yang sama sekali tak dikenalnya.
"Diam! Sebaiknya Anda jangan memberontak! Ikut saja kami membawa Anda."
Tentu saja Wiliam tak menerima begitu saja perlakuan mereka. Dalam hati dia menyalahkan diri sendiri karena tak membawa satu pun penjaga saat berlibur ke sini. Niat nya hanya ingin menghabiskan waktu berdua dengan Alea, tidak tahu nya jadi seperti ini.
"Lepas! Aku ingin menunggu wanita ku!"
Tuan Maximo membulatkan matanya mendengar perkataan Wiliam. "Siapa yang kau sebut wanita mu?!" Pria bertemperamen buruk itu jelas sangat tak terima Alea disebut wanita nya oleh pria lain.
"Apa yang telah kau lakukan pada Alea ku, hah?!"
Bug.
Satu bogem mentah berhasil mendarat di pipi Wiliam hingga kepalanya menoleh ke kiri dan sudut bibir nya sobek, darah segar mengalir di sana.
"Apa kau sengaja menyembunyikan nya dariku?!"
Bug.
Dua kali tinjuan Tuan Maximo mendarat ke pipi pria itu.
Wiliam tak bisa melakukan apapun karena tangan nya di tahan erat oleh para pria berbadan kekar.
"Tuan, sudah!" Petro berhasil menghentikan pukulan nya yang ke tiga kali.
__ADS_1
Untung saja Petro gesit menahan nya hingga wajah yang sudah dihiasi darah itu tak mendapatkan pukulan lagi.
"Lebih baik Anda segera menemui nona Alea. Saya takut keadaan nya tidak baik-baik saja dan membutuhkan Anda disampingnya,"
Sontak Tuan Max terkesiap, hampir saja dia melupakan keadaan Alea yang tak sadarkan diri dan sedang diperiksa para dokter di dalam ruangan.
Tanpa menunggu para dokter keluar, Tuan Maximo mendobrak pintu yang ternyata hanya tertutup, bukan dikunci itu dengan keras. Alhasil, para dokter dan perawat yang sedang mengamati penyakit Alea pun tersentak mendengar suara keras yang berasal dari pintu.
Sedangkan para penjaga nya membawa Wiliam ke suatu tempat untuk diamankan terlebih dahulu.
"Apa yang terjadi dengan wanita ku? Apa dia memiliki penyakit serius?"
Dokter yang baru saja ingin membuka mulut seketika mengurungkan niatnya. Bahkan melihat aura Tuan Max yang sedang mendekati mereka pun sudah ketakutan, alhasil, dokter yang seharusnya ingin melarang agar tak memasuki ruangan pun tak jadi karena saking takutnya dengan Tuan Maximo yang terlihat seperti ingin membunuh mereka satu persatu. Jelas saja mereka memilih membiarkan karena masih menginginkan nyawa.
"Mohon tunggu sebentar, Tuan. Istri Anda masih dalam tahap pengamatan," Akhirnya satu perawat pria berani bersuara, padahal dokter wanita yang bertugas memeriksa nya sudah dibuat ketakutan dan sulit sekali bicara. Dia ikut menjawab menggunakan bahasa internasional sesuai bahasa yang digunakan Tuan Maximo.
"Hanya sebentar, Tuan. Kami hanya ingin mengecek dugaan sementara kami pada ahlinya," Satu dokter yang berani berkata itu menunjuk satu dokter wanita setengah baya yang sedang memeriksa Alea dengan intens.
Tak membutuhkan waktu lama, wanita itu menyelesaikan tugas nya dan menatap Maximo seraya menghela nafas lega.
"Selamat, Tuan. Istri Anda hamil,"
Deg.
Darah nya berdesir, jantung nya berpacu hebat. Dalam sepersekian detik Tuan Max merasa seperti mati rasa, antara perasaan bahagia dan.., entahlah, bercampur menjadi satu.
"Ha-hamil?" Tanya memastikan lagi setelah bibir nya bisa digerakkan.
"Ya, tuan. Dan usia kandungan nya sudah memasuki 6 Minggu. Janin nya sangat sehat." Sahut dokter itu seraya mengembangkan senyum.
__ADS_1
Huh, mendengar penjelasan dokter Tuan Max bernafas lega. Hampir saja dia berpikiran buruk dan menganggap janin itu bukan lah milik nya. Namun saat mendengar penjelasan dokter bahwa janin nya berusia 6 minggu, maka dia yakin bahwa bayi itu adalah miliknya. Karena Alea baru berpisah dengan nya selama satu bulan.
"Terimakasih,"
Petro yang sejak tadi berada di sana, menatap tak percaya tuan nya yang mau mengucapkan kata keramat itu.
"Sama-sama, Tuan. Tidak perlu khawatir, tunggu beberapa saat istri Anda akan segera bangun. Kalau begitu, kami permisi," Para tim medis mengemasi peralatan nya dan bersiap keluar.
Meskipun ini bukanlah ruang perawatan, namun mereka menyadari bila orang yang ada dihadapannya ini adalah orang berkuasa. Terlebih melihat wajah nya yang bule dan menggunakan bahasa internasional, membuat mereka menyadari bahwa yang sedang menjadi klien nya bukan lah orang pribumi.
Tuan Maximo tak menjawab apapun lagi, dia hanya fokus menatap wajah Alea yang tampak pucat dengan mata masih terpejam.
"Tuan, jika sudah tidak ada keperluan lagi, saya permisi keluar untuk mencari tahu pria yang bersama nona Alea."Petro tahu, Tuan nya sedang membutuhkan waktu sendiri bersama Alea. Oleh karena itu, dua berinisiatif pergi sebelum diusir.
"Ya, pergilah." Sahutnya tanpa menatap ke belakang.
Setelah mendengar suara pintu tertutup, Tuan Maximo mendekati Alea dan duduk di kursi yang tersedia. Dia mengamati bibir pucat itu serta kelopak mata yang tampak menghitam, jelas sekali wanita nya tak bisa tidur nyenyak. Dan entah apa yang membuat nya sampai tak kekurangan tidur.
Perlahan, ibu jarinya terulur untuk mengusap bibir pucat itu. Tatapan nya begitu intens menatap wanita nya yang belum juga siuman.
"Alea, bangun, sayang. Sebentar lagi kau akan menjadi mom, apa kau tak senang?" Satu tangannya diletakkan di atas kepala Alea dan mengelus rambut nya.
Dalam hati dia bertanya-tanya, kenapa Alea belum juga siuman? Padahal menurut prediksi dokter sebentar lagi akan bangun. Apakah para dokter itu mengibuli nya?
Dan tanpa disadari, sebenernya Alea sudah siuman sejak tadi. Namun karena diri nya takut menyadari ada Tuan Max disana, membuat nya tak berani bergerak apalagi bangun. Karena pastinya dia akan segera mendapatkan hukuman akibat telah kabur.
"Alea, maafkan aku. Aku janji akan menuruti semua keinginan mu asal kau bangun. Jangan membuat ku takut." Posisi tangan Tuan Maximo berganti menggenggam salah satu tangan Alea, sedangkan satu tangan nya lagi diletakan di atas perut, membuat Alea merasa tak tahan lagi menahan rasa geli akibat usapan tangan Tuan Maximo yang semakin lama semakin intens.
"Alea, perut mu bergerak!"
__ADS_1