
"Alea, perut mu bergerak!"
"Aaaa...!" Akhirnya Lea tak tahan lagi untuk tidak bersuara saat tangan Tuan Max terus bergerak-gerak liar di atas perutnya.
"Alea, kau sadar?" Tanya nya terkejut. Tuan Max tampak panik, namun tak menghilangkan kecerdasan nya. Dia segera memencet tombol untuk memanggil dokter.
Tak membutuhkan waktu lama, seorang dokter bersama perawat datang memeriksa nya.
"Bagaimana keadaan nya?" Tuan Max lebih dulu bertanya sebelum dokter itu membuka suara saat selesai melakukan pemeriksaan.
Dokter itu menarik nafas lalu menghirup nya kembali. "Tidak ada yang perlu dikhawatirkan, istri Anda sudah baik-baik saja.
Hah, rasanya Tuan Max lega sekali mendengarnya. Dia sudah panik bukan main, dan kini sudah merasa sedikit lega. Setidaknya rasa bersalah nya sedikit berkurang.
__ADS_1
Dan setelah ini, barulah dia akan menghukum wanita nya yang berani kabur.
"Tapi,-"
"Tapi apa, dokter?" Tanya nya sebal. Kenapa harus ada kata tapi sih?!
"Jangan buat tertekan, karena itu akan sangat membahayakan kesehatan nya juga janin yang di kandung nya. Saat saya memeriksa, seperti nya istri nya sedikit merasa tertekan, entah apa apa penyebab nya. Buat lah wanita hamil selalu happy, jangan sampai memikirkan hal-hal yang berat karena itu sangat tidak baik untuk kesehatan mental nya." Jelas dokter itu panjang lebar. Dan penjelasan itu sukses mengurungkan niat Tuan Max untuk menghukum istri nya.
Padahal sebelum nya, dia sudah memikirkan hukuman-hukuman yang harus diberikan pada wanita nya yang berani kabur bahkan pergi bersama seorang pria. Tetapi kini dia lemah bila mengenai kesehatan nya. Tuan Max sudah berjanji pada dirinya sendiri untuk tidak akan membuat Alea terluka. Oleh karena itu dia tak ingin lagi memaksa nya.
Jelas dokter itu tak memberi rasa hormat sedikit pun karena saat ini Tuan Max tidak sedang di negara nya yang pastinya, dokter itu pun tidak tahu siapa pria di depan nya ini.
"Kalau sudah tidak ada yang ingin ditanyakan, Kami pergi dulu." Pamit dokter itu setelah memberi anggukan dari perkataan Tuan Max.
__ADS_1
"Alea," Panggil Tuan Max sedikit takut. Ya, dia takut bila Alea akan menjerit atau berteriak histeris terhadap nya.
Melihat dari tatapan Alea, dapat dilihat jika wanita itu sedang ketakutan menatap nya. Entah apa yang membuat nya seperti itu, namun Tuan Max berusaha untuk tidak membuat wanita nya semakin takut dengan bertutur kata lembut.
Namun di luar dugaan nya, Alea tak bersuara. Wanita itu lebih memilih menenggelamkan wajahnya ke dalam selimut hingga seluruh badan itu tertutup rapat oleh selimut rumah sakit.
"Alea sayang. Aku ingin bicara." Mendengar suara lembut dan terkesan penuh kasih itu membuat Alea membuka kembali selimut nya.
"J-jangan hukum saya, Tuan. Saya janji tidak akan kabur lagi, asal Tuan tidak menghukum saya." Tiba-tiba Alea mengatakan seperti itu dengan nada bergetar, membuat Tuan Max menghela nafas berat.
Rupanya sejak melihat nya Alea ketakutan karena mengira dia akan menghukum nya?
Padahal, mana mungkin pria berjiwa psikopat itu rela menghukum wanita nya yang sudah sangat dia rindukan satu bulan ini?
__ADS_1
Bahkan dia hampir gila mencari nya, mana mungkin dia rela menghukum wanita nya?