Bukan Cinta Sesaat

Bukan Cinta Sesaat
BCS - Pencarian Casey


__ADS_3

"Kristina, pecat seluruh karyawan yang bekerja di divisi staff dan administrasi. Suruh mereka berkemas dan jangan beri pesangon!"


"Ck ck ck.. Sejauh itu keputusanmu Bian? Hah, aku salah sudah meremehkan Casey." tukas Alex


"Jangan berani meremehkannya Alex! Kau tidak mengenalnya!" marah Bian keluar dari ruangan


"Semoga dia segera bertemu dengan gadis itu. Sebelum membuat kantor ini semakin kacau" gumam Alex


Bian yang berjalan cepat menuju mobilnya, berpapasan dengan Johan yang juga keluar dari mobilnya.


"Pak Bastian." sapa Johan hendak menjabat tangannya


"Johan. Masuk ke mobil. Ikut saya ke rumah orang tua Casey, barangkali dia ada disana." ujar Bian tanpa mengecek lebih dulu meja yang Casey tempati.


"Baik Pak." Johan menurut saja. Beralih ke bagian kemudi, lalu mengantarkan sang atasan.


"Apa ada tempat yang sering Casey kunjungi, selain The Dead?" tanya Bian


Johan mengernyit, sedikit heran kenapa Bian bisa tahu bar yang sering Casey kunjungi.


"Dia suka makan di jalanan Avenue Pak. Casey jarang makan di restoran." ujar Johan


"Apa lagi yang kau tahu soal Casey?" tanya Bian


"Casey, tidak akur dengan keluarganya. Saudara tirinya sering merendahkannya. Karena Casey bukan gadis yang cerdas. Bahkan ibu tirinya pun selalu menuntutnya untuk memenuhi kebutuhan hidupnya setelah ayahnya meninggal." terang Johan


"Berarti, tidak mungkin Casey ada disana." gumam Bian


"Antarkan aku ke jalan Avenue." titah Bian


"Tapi.. Jalanan baru akan ramai di malam hari Pak." ujar Johan


"Lalu?"


"Baiklah saya akan mengantarkan anda kesana." Jawab Johan meski dia tahu tidak mungkin Casey kesana di siang bolong begini


[Dika, apa kau sudah menyelesaikan tugasmu?]


[Saya baru saja mengantar Bu Beny pulang Pak.]


[Bagus, sekarang ajaklah siapapun yang bisa kau suruh untuk mengecek meja kerja Casey. Aku ingin kau mencari petunjuk keberadaannya.]


[Baik Pak.]


"Tunggu Pak Bastian. Sebenarnya apa yang terjadi dengan Casey?" tanya Johan menyadari kepanikan Bian

__ADS_1


"Robert memecatnya tanpa seijinku. Hanya karena rumor di web perusahaan." ujar Bian


Johan terdiam, sama sekali tidak tahu rumor apa yang sedang dibicarakan. Johan memilih fokus pada jalanan yang dilewati. Hingga sebuah perempatan kecil bertuliskan Avenue St. Johan mengambil arah ke kanan.


"Ini jalanan Avenue Pak."


Bian keluar dari mobil. Menyusuri deretan kedai makanan yang masih tutup. Ada beberapa toko pakaian yang sudah buka. Hanya saja Bian tidak menemukan yang dia cari. Bian terdiam, masih dengan pengamatannya. Hingga tiba-tiba, Johan berseloroh.


"Saya pernah melihat Casey di pemakaman Pak. Dia bilang, Casey akan selalu kesana saat sedang sedih."


"Antarkan aku kesana." ujar Bian segera masuk kembali ke dalam mobil.


Sementara, Casey yang baru terbangun dari tidur siangnya merasa kelaparan.


"Apa yang enak dimakan di siang hari begini ya?" gumam Casey


Tangannya membuka ponsel. Menemukan iklan restoran Jepang yang baru saja dibuka. Casey tergiur dengan promo yang berlaku buy 1 get 1. Segera Casey mengambil dompetnya dan memakai cardigan tipis untuk menutupi kaos pendeknya. Casey berjalan menuju halte, berniat menunggu bis.


Tiba-tiba di mata Bian, tertangkaplah wajah Casey yang memainkan ponselnya di sebuah halte.


"Berhenti Johan!" teriak Bian


Segera Johan menepikan mobilnya. Sebuah bus menghalangi pandangan Bian. Dan setelah bus itu pergi, Casey tidak lagi ada di tempatnya.


"Casey.." gumam Bian


"Ikuti kemana bus itu pergi Johan. Aku yakin telah melihat Casey di halte." ujar Bian


Johan hanya mengikuti perintah Bian. Bus berhenti di halte berikutnya. Ada beberapa orang yang turun namun Casey tidak ada diantara mereka. Bian mengamati dengan cermat. Hingga wanita kurus dengan cardigan tipis keluar dari dalam bus.


"Tepikan mobilnya Johan! Dia, Casey!" ujar Bian


Bian segera keluar dan berlari menghampiri wanita itu, menarik cepat tangannya hingga jatuh ke dalam pelukannya.


"Casey." gumam Bian dengan mata berkaca-kaca


Wanita itu mundur dan menatap heran ke arah lelaki tampan di hadapannya.


"Maaf tuan, sepertinya anda salah orang. Saya bukan Casey." ujar wanita itu lalu membungkuk pergi


Bian terdiam. Dia sangat yakin bahwa yang dilihatnya adalah Casey. Dengan pakaian yang sama. Namun kenapa yang ini bukan? Batin Bian bergemuruh. Ada rasa sesak menghampirinya. Nyaris putus asa, pencarian Casey seperti menemukan jalan buntu.


Bian pun berbalik kembali ke mobil, Casey keluar dari dalam bus dan berjalan berlawanan arah dengan Bian. Hingga Bian tidak menyadarinya.


Casey berjalan menyusuri gang kecil untuk menemukan restoran yang dia cari.

__ADS_1


"Ah ini dia.." gumam Casey


Casey masuk dan memesan seporsi sushi roll dan ramen. Casey melihat lowongan terpajang di papan pengumuman.


"Lowongan pekerjaan?" Casey mendekati pengumuman


"Permisi kak, apa benar disini sedang mencari karyawan?" tanya Casey pada seorang waitress


"Benar kak, ada lowongan kerja bagian delivery." balas waitress


"Bolehkah saya melamar disini?" tanya Casey dengan wajah berbinar.


"Jika kakak berminat, mari saya antarkan menemui tuan Satoo" ujar Waitress


Casey tersenyum bahagia, mengikuti arah langkah gadis itu. Sebuah pintu digeserkan menampilkan ruangan bergaya vintage dengan meja besar di ujungnya. Tampak seorang pria berkulit putih tengah fokus pada komputernya.


"Permisi tuan Satoo. Ada yang ingin melamar pekerjaan disini." ujar waitress menunduk sopan


"Hm, suruh masuk." ujar Satoo tanpa melihat sedikit pun


"Sumimasen." aksen medok yang Casey sebutkan membuat Satoo seketika menoleh.


"Saya ingin melamar pekerjaan disini." ujar Casey tertunduk malu.


Mata sipit nan tajam itu tampak tak ramah. Seolah bersiap mengulitinya di tempat.


"Duduklah. Apa kau asli penduduk sini?" tanya Satoo


"Bukan Pak, tetapi saya tinggal di daerah sini." terang Casey


"Kau bisa mengendarai motor?" tanya Satoo masih dengan ekspresi yang sama


"Bisa Pak." balas Casey singkat


"Jika ku terima. Berapa gaji yang kau inginkan? Dan kapan kau bisa mulai bekerja?" tanya Satoo memundurkan posisinya


"Eungh itu.. Saya.. Saya tidak bisa menyebutkan nominalnya Pak. Karena saya.. Saya.."


"900 USD selama training 3 bulan. Jika kau sudah terampil, maka gajimu ku naikkan 1200 USD. Bagaimana?" tawar Satoo


Kedua mata Casey melotot. Gaji yang Satoo tawarkan bahkan nyaris mendekati gajinya sebagai staff. Dengan senang Casey mengiyakannya dan bersiap bekerja besok juga. Bukankah semakin cepat semakin baik? Lihatlah Robert, kau buang aku, aku masih dihargai tinggi di tempat lain. Batin Casey tersenyum puas.


"Kau bisa datang pukul 9 pagi, dan kembali setelah semua pesanannya selesai." ujar Satoo di akhir wawancara


Kembali ke F.h Group. Bian terduduk di kursi kebesarannya tanpa melakukan apapun. Menatap kosong ke arah jendela luar yang menggambarkan senja kota C kala itu.

__ADS_1


"Pak Bastian, saya menemukan ini di meja Casey."


__ADS_2