
Casey sudah turun ke bawah. Ke sisi lain jembatan yang tepat berhadapan dengan sungai.
"Selamat tinggal dunia!" Gumam Casey bersiap melepaskan pegangan tangannya.
Tubuhnya terasa ringan, disambut hembusan angin yang menerpa. Tepat saat tubuh Casey berayun ke bawah. Sepasang tangan mendekapnya dari belakang.
"Kau tidak boleh melakukannya Casey!" Teriak Bian tepat di telinga Casey.
Gadis itu berbalik. Menatap manik mata kecoklatan yang mulai kepanikan. Casey tersenyum mengusap pelan pipi Bian.
"Kau datang Pak Bastian? Kau datang untukku?" Mata Casey berkaca-kaca.
Di hadapan semua orang Casey mendekatkan bibirnya. Mengecup bibir Bian lalu mengulumnya perlahan. Kedua mata Bian melotot, dia menyukainya namun tidak di hadapan publik seperti ini.
"Lihatlah mereka berciuman!"
"Ambil gambarnya!"
"Bukankah itu pewaris F.H Group, tidak tahu malu ya!"
Berbagai komentar netizen terdengar bersamaan kilatan lampu flash yang memotret mereka. Dalam sekejap, dua tokoh ini menjadi berita utama di headline.
"Cukup Casey! Sekarang, ayo kita turun." Ujar Bian melepaskan tautannya
"Aku akan turun, tapi turuti dulu permintaanku Pak Bastian!" Tukas Casey masih menatap kedua mata Bian lekat-lekat
"Kita tidak punya banyak waktu Casey! Cepat katakan!" Ujar Bian yang semakin kesulitan menahan tubuh Casey yang bersandar di lengannya.
"Nikahi aku!"
Dika membuka mulutnya lebar-lebar. Merasa tidak percaya dengan penuturan Casey, bukankah yang dia dengar dari Alex. Casey menolak mentah-mentah lamaran Bian? Kenapa sekarang dia malah memintanya?
"Jika anda menyelamatkanku, berarti anda menyetujui permintaanku Pak. Tapi jika anda tidak mau, lepaskan saja aku." Bukan nada ancaman yang tersirat dari penuturan Casey, hanya keputusasaan mendalam disertai aliran air mata di kedua pipinya.
"Aku berjanji, aku akan menikahimu Casey!" Ujar Bian menatap Casey penuh kesungguhan
Seketika Casey tersenyum dan memeluk erat tubuh Bian. Meski terhalang oleh besi jembatan, namun Casey tak kunjung melepaskannya. Segera, Bian mengangkat tubuh kurus Casey ke atas dan memberikan posisi yang nyaman untuk memeluknya.
"Sudah ku bilang, bahwa aku tidak akan meninggalkanmu Casey, harusnya kau tahu itu!" Ujar Bian mengusap surai rambut Casey
"Maafkan aku Pak Bastian, tapi aku benar-benar lemah sekarang. Kepalaku juga berdenyut-denyut. Bisakah.. bisakah..." Casey kehilangan kesadaran.
__ADS_1
"Dika buka pintu mobilnya, cepat!" Teriak Bian
Dika berlari tergopoh dan menuruti perintah atasannya. Dengan tergesa Bian masuk ke dalam mobil dengan Casey yang masih di pangkuannya.
"Kita ke apartemen. Panggilkan paman Anton segera!" Titah Bian tak terbantahkan
Ada rasa panik menjalari pikirannya, ketakutan kehilangan Casey atau terjadi sesuatu padanya.
"Lewat jalur belakang saja Dika!" Teriak Bian semakin panik ketika keringat dingin mulai bermunculan di kening dan leher Casey.
Mobil hitam miliknya berhenti di basement. Segera Dika membukakan pintu, mengantarkan atasannya ke lift untuk kembali ke kamar.
Ponsel Bian berdering, dengan earphone di telinganya, Bian mengangkat telepon seseorang.
"Mr. James, maaf atas keterlambatanku. Tapi ada keadaan darurat yang harus ku selesaikan. Aku akan tiba sebelum petang datang." Tukas Bian sambil berlarian di lorong
"Baik Mr."
Bian menekan kode akses masuk apartemennya, 230797, itulah tanggal lahir Casey yang dia ingat, setelah mencari tahu di buku induk siswa beberapa tahun lalu.
Bian membaringkan Casey, membuka kancing kemeja teratasnya, hingga dada mulus Casey terekspos, Bian menelan ludahnya kasar.
"Tidak, kondisi Casey sedang tidak baik-baik saja! Aku tidak boleh gegabah." Gumam Bian
"Kenapa kau sampai senekad ini? Sedang kemarin saja, kau membuatku frustasi karena penolakanmu. Kenapa sekarang, justru kau yang ingin mati?" Bian bicara pada Casey yang masih terpejam.
"Kau cantik saat tidur seperti ini Casey." Bian tersenyum, merapikan anak rambut Casey yang menutupi sebagian wajahnya.
"Permisi Pak, Pak Anton sudah datang." Tukas Dika
"Suruh dia masuk!"
Seorang pria paruh baya berjas putih datang bersama dengan koper hitam dan stetoskop di tangannya.
"Apa dia adalah gadis yang kau cari?" Tanya Anton seolah tahu, siapa yang keponakannya bawa ini.
"Iya paman. Tolong, dia pingsan." Ujar Bian kembali merasakan cemas
Anton memeriksa kondisi Casey, mengukur tensi dan juga suhu tubuhnya. Lalu, terakhir menempelkan tangannya ke pergelangan tangan Casey untuk mengecek denyut nadi. Anton mengernyit.
"Ada apa paman?" Tanya Bian menyadari ekspresi Anton
__ADS_1
"Apa kau sudah tahu ini?" Anton kembali bertanya, namun kali ini dahi Bian yang berkerut.
"Dia hamil!"
Kedua mata Bian membulat sempurna.
"Hamil?"
"Secepat ini Pak?" Dika yang tak kalah terkejut pun ikut bersuara
"Jadi.. apa itu alasannya ingin bunuh diri? Tapi kenapa? Sebenci itukah dia padaku, hingga tidak mau memberitahukan hal ini dan memilih terjun dari jembatan!" Pekik Bian
"Tidak! Dia tidak mungkin membenciku kan? Dia terang-terangan memujaku seperti Dewa, sekarang dia menjatuhkanku seperti iblis neraka?" Bian terus berceloteh hingga dehaman Anton terdengar.
"Tenanglah Bastian, semua itu hanya ada dalam pikiranmu! Terkadang, cinta bisa mengalahkan logikamu." Tegas Anton dengan seulas senyum
"Aku senang, akhirnya kau bisa segera menikah. Dengan ini, posisimu di F.H akan semakin kuat." Terang Anton bangga
Bian terdiam, menatap gadisnya yang masih tertidur pulas.
"Aku tidak ingin memanfaatkannya untuk otoritasku paman. Aku hanya ingin memastikannya hidup bahagia denganku." Ujar Bian
Bian duduk di sisi ranjang, mengusap perut Casey yang masih rata.
"Aku tidak pernah menyangka, akan menjadi seorang ayah." Bian meneteskan air mata bahagia.
Anton tersenyum menatap Bian, lalu menoleh ke arah Dika yang juga terpaku melihat atasannya.
"Dika, tebus resep ini di apotek, pastikan dia makan dan istirahat yang cukup ya!" Pesan Anton sebelum pergi
"Baik Pak. Mari saya antarkan anda ke bawah." Tukas Dika meninggalkan sepasang manusia itu di dalam.
Bian memegang lembut jemari Casey, dalam hatinya ada kebahagiaan yang membuncah, tidak menyangka penantiannya selama ini tidak pernah sia-sia. Perlahan kedua mata Casey mulai terbuka, melirik sekitar ruangan dan pandangannya terhenti saat melihat Bian.
"Anda harus menikahiku Pak Bastian. Anda tidak boleh menolaknya." Ujar Casey
"Iya aku akan menepati janjiku Casey." Ujar Bian mengusap punggung tangan Casey dengan ibu jarinya.
"Boleh aku minta satu hal lagi?"
Bian mengangguk pelan.
__ADS_1
"Aku ingin pernikahan kita dirahasiakan."