Bukan Cinta Sesaat

Bukan Cinta Sesaat
BCS - PHK SEPIHAK


__ADS_3

"Sekarang kau tahu bukan, siapa pelakunya?" tanya Robert dengan tatapan mengintimidasi


Casey tertegun, mengingat-ingat kejadian semalam. Bagaimana curhatan di notepadnya bisa dia sebarkan sendiri?


FLASHBACK ON


Casey meneguk gelas ketiga. Sebuah notif pesan masuk di ponselnya.


"Hanya operator yang kurang kerjaan. Meski kau sangat perhatian, tapi kau tidak pantas untuk diperhatikan." gumam Casey mulai terpengaruh alkohol


"Biarlah aku mengirim pesan cinta ini pada Bian."


Casey membuka aplikasi notepad. Mengetikkan beberapa kalimat romantis yang hanya dia dan Tuhan mengerti. Begitulah cara Casey berbicara dan menyampaikan rindunya. Casey tersenyum, menatap foto Bian yang menjadi wallpaper hpnya.


"Wajah setampan ini, tidak pantas untuk disembunyikan. Patutnya ku apresiasikan sebuah puisi cinta beserta foto terindah Bian." gumam Casey meneguk gelas ke empat.


Tanpa sadar, Casey mengirimkan catatan khususnya di web perusahaan. Niat hati ingin mempostingnya di media sosial namun kesadarannya yang tinggal setegah justru menimbulkan masalah baru.


FLASHBACK END


Casey tertunduk malu. Di dalam hatinya bergemuruh, ingin rasanya menangis kencang. Sudah kehilangan martabat di hadapan Bastian, kini dia harus menelan kenyataan pahit dan gunjingan orang-orang di sekitarnya.


"Maafkan saya Pak." hanya kalimat itu yang mampu Casey ucapkan


"Maaf saja tidak cukup untuk semua lelucon yang kau buat!" ujar Robert


"Sherly, bawa surat pemutusan yang sudah saya siapkan kemari!" titah Robert


"Pe.. Pemutusan Pak? Saya.. Saya dipecat?" tanya Casey tercengang


"Menurutmu, apa arti surat ini Casey? Pergilah ke HRD, ambil pesangonmu dan tinggalkan ruangan ini." perintah Robert tanpa berbelas kasihan


"Pak, tolong jangan pecat saya. Saya tidak mungkin pulang ke rumah dalam keadaan menganggur. Saya akan ditertawakan oleh semua saudara saya!" pinta Casey membayangkan bullyan saudara tirinya yang kejam


"Itu bukan urusan saya! Meylani, bantu dia mengemasi barangnya. Saya tidak sudi lagi memperkerjakan orang bod*h seperti kamu!" ujar Robert meninggalkan ruangan.

__ADS_1


"Meylani, bantu aku bicara pada Pak Robert ya. Tolong, aku tidak tahu lagi harus bekerja kemana?" kali ini Casey memohon pada Meylani, orang kepercayaan Robert yang sudah bekerja selama bertahun-tahun


"Keputusan sudah dibuat, Casey sayang. Lebih baik turuti saja kemauan Pak Robert daripada duduk termenung meratapi nasib." ledek Sherly seolah suka sekali melihat Casey diberhentikan


Casey membuang napas kasar. Perlahan dia kemasi laptop dan barang-barang berharga yang memang miliknya. Tak lupa diary kecil tempatnya bercerita beserta mini album buatan tangannya sendiri.


"Ini kardus kosong, biar enak bawanya." tukas Willy memberikan sebuah kardus bekas pada Casey


"Kenapa tidak ada yang menahanku pergi dari sini?" tanya Casey dengan mata berkaca-kaca


"Karena tanpamu, kantor ini akan tenang damai dan sejahtera. Bukan begitu Putri?" ujar Sherly tanpa memikirkan perasaan Casey


Casey hanya pasrah dengan keadaan. Toh kalau pun dia memaksa tetap disini juga percuma. Tidak akan ada yang menyukainya, dan hanya menjadikannya bahan bullyan.


Casey menatap ke arah rekan yang lain. Mereka sibuk dengan urusan masing-masing. Seolah melepas Casey bukan hal sulit untuk mereka.


"Aku pergi dulu teman-teman. Jaga diri kalian baik-baik ya! Maaf telah banyak merepotkan." pamit Casey tanpa satu pun respon yang teman-temannya berikan.


Begitu Casey keluar ruangan, divisi administrasi ramai dengan sorakan gembira. Seolah merayakan kepergian Casey.


"Jadi, ini yang mereka inginkan?" gumam Casey murung


"Permisi." ujar Casey mengetuk pintu kaca yang tertutup itu.


"Nona Valencia dari divisi administrasi, apa yang membuat anda kemari dengan semua barang-barang ini?" tanya Kristina keheranan melihat kardus besar yang Casey genggam


"Saya.. Saya hanya ingin memberikan ini." tukas Casey menyerahkan surat yang Robert berikan


"Pak Robert memberhentikanmu? Secepat ini? Apa Pak Bastian tahu?" tanya Kristina


Casey menggeleng. Bagaimana manusia itu bisa tahu, sedang dia saja jauh di pinggir kota dan Casey tidak punya kontaknya.


"Apa kau yakin bersedia untuk berhenti bekerja?" tanya Kristina lagi


"Apa boleh buat Bu? Andai bekerja pun tidak akan diakui oleh mereka." sedih Casey kemudian duduk tanpa dipersilakan

__ADS_1


"Baiklah aku akan proseskan surat pengunduran dirimu." ujar Kristina


Selang beberapa menit, Kristina kembali dengan bukti tranfer sejumlah uang pesangon untuk Casey.


"Semoga sukses selalu Casey. Dan hati-hati di jalan." pesan Kristina dengan ramah


"Terima kasih Bu Kristin."


Casey pun meninggalkan kantor. Memesan taksi lalu kembali ke rumah kos kecil yang dia sewa selama beberapa bulan ini. Casey termenung. Memikirkan nasibnya setelah ini. Dia kehilangan pekerjaan, dalam semalam dia juga kehilangan harga diri. Ingin rasanya mencoba bunuh diri, namun takut juga jika membayangkannya. Casey gelisah, seharian ini hanya terbaring di kasurnya. Memikirkan berbagai kemungkinan terburuk yang dia alami.


"Bagaimana jika yang Pak Bastian katakan itu benar? Bagaimana jika aku hamil dalam keadaan menganggur? Lalu aku dan anak ini akan makan apa? Apa aku harus kembali menemui Pak Bastian hanya untuk memintanya menikahiku? Aku tahu hidupku akan terjamin jika menjadi istrinya, tapi bagaimana dengan perasaanku pada Bian? Sedang hatiku, masih sangat memimpikannya.... Aaaaaaah." omelan panjang Casey hanya didengarkan olehnya sendiri. Casey menangis, meluapkan segala hal yang terasa di luar kendalinya hari ini.


"Apa yang harus ku lakukan?" gumam Casey


Bian duduk dengan kaki bersilang, memainkan benda pipih di tangannya. Tiba-tiba sebuah notifikasi muncul dari web perusahaan.


Valencia.Casey. Bian kesayanganku, aku tahu bahwa mustahil bisa bertemu lagi denganmu. Ditambah kepergianmu yang tiba-tiba tepat setelah aku menyatakan perasaanku. Mungkin kau pun malu, dicintai oleh makhluk buruk rupa sepertiku. Aku saja yang terobsesi denganmu. Memikirkanmu menjadi milikku. Tanpa berkaca tentang siapa diriku? Kebodohankulah yang membawamu jauh meninggalkanku. Ketidakmampuankulah yang mengecewakanmu. Maafkan aku Bian, tapi aku ingin kau tahu satu hal. Sampai hari ini pun cintaku masih sama besarnya seperti dulu. Dan akan terus begitu sampai aku menutup kedua mataku.


Bian tersenyum, menatap postingan dengan puluhan hujatan dari karyawan kantor lain itu membuat hatinya berdesir.


"Dika, aku akan kembali ke kantor sekarang." Ujar Bian


Dika berjalan lebih dulu untuk membukakan pintu mobil. Bian masuk di sebelah kemudi dan membiarkan Dika mengantarnya sampai kantor. Namun tak lama kemudian, ponselnya berdering. Tampak Alex memanggil.


[Ya Alex?]


[Gadismu dipecat hari ini!]


[Apa? Siapa dan Kenapa?]


[Robert, pak tua itu menyalahkan Casey atas terganggunya meeting kemarin. Juga surat cinta terbukanya untukmu, di web ramai sekali yang berkomentar. Mereka resmi membenci Casey!]


[Hanya karena itu? Lalu dimana dia?]


Rasa khawatir mulai merambah di pikiran Bian. Ada ketakutan jika Casey akan jauh dari pantauannya lagi.

__ADS_1


[Dia sudah pulang dari jam 9 pagi tadi. Kristina yang memberi tahuku, bahkan pesangon Casey dicairkan hari ini juga!]


[Sial! Dika ambil jalan pintas menuju kantor!]


__ADS_2