
Setelah teriakan yang cukup untuk membangunkan seluruh penyewa tempat itu. Casey segera berdiri untuk ke kamar mandi. Berniat membersihkan diri lalu pergi ke suatu tempat yang bisa menjawab semua keraguannya
"Kak Casey, aku mau beli sarapan. Kau ingin titip sesuatu tidak?" Teriak Cia dari depan pintu kamar mandi
"Tidak! Kau duluan saja." Balas Casey
"Ya sudah." Cia bergegas pergi
"Kebetulan anak itu keluar, aku harus cepat." Batin Casey. Segera setelah selesai dengan perskincareannya, Casey menyambar outer panjang selutut untuk menutupi pahanya yang terekspos karena hotpant yang dia kenakan. Casey berjalan cepat menuju minimarket. Membeli beberapa camilan dan beberapa benda asing yang dia pikirkan sejak tadi. Sambil celingukan, barangkali ada orang yang dia kenali.
"25 USD nona." Tukas kasir memasukkan barang-barang Casey ke dalam kantong
"Tadi ku tawari tidak mau!" Seloroh Cia dari arah belakang
Casey yang terkejut memasang punggung, dengan harapan Cia tidak melihat benda pipih yang dia beli.
"Hehehe aku.. aku hanya tidak enak jika menitip terus.." balas Casey salah tingkah
"Kakak bahkan selalu ku repotkan, apa salahnya menitip sedikit." Jutek Cia meletakkan keranjang belanjaannya
"Se.. setelah ini kau mau kemana Cia?" Tanya Casey karena memang ini hari libur mereka
"Entahlah, mungkin ke gamezone. Ada beberapa permainan baru yang ingin ku coba. Kakak mau ikut?" Tawar Cia dengan wajah berbinar
Casey hanya nyengir kuda. "Aku tidak terlalu suka keramaian Cia. Bersenang-senanglah!"
"Ini belanjaannya nona." Tukas kasir itu
"Terima kasih. Aku duluan ya Cia." Casey bergegas pergi tanpa menunggu Cia selesai membayar.
"Aneh sekali kak Casey hari ini." Batin Cia
Casey membuka kasar kamar kosnya. Beberapa pasang mata mengamati kehebohannya.
"Wanita bar-bar itu sama sekali tidak berubah." Sindir wanita tua yang hobi bergosip ria.
"Biarkan saja! Wlek." Ejek Casey membanting kembali pintunya.
"Dasar gadis gila!" Gumam wanita cantik di sebelah kamar Casey
Casey buru-buru masuk ke kamar mandi. Segera mengeluarkan cawan plastik sekali pakai dan benda tipis yang baru dibelinya.
__ADS_1
"Semoga tidak seperti yang ku khawatirkan! Aku benar-benar tidak siap menikahi CEO mes*m itu!" Gerutu Casey
Beberapa menit setelah percobaan yang dia lakukan, Casey membuka kedua matanya. Menatap hasil tes alat kecil di tangannya.
"Tidak tidak! Ini pasti salah. Aku akan mencobanya lagi." Elak Casey begitu menyadari garis dua yang tertera
Casey mengeluarkan lagi sebuah alat. Melakukan tes ulang dan BRAK... Pintu kamar mandi didobrak kasar.
"Maaf kak Casey aku kebelet." Teriak Cia segera duduk di toilet.
"Kau ini jorok sekali! Apa yang sebenarnya kau makan Cia, kentutmu benar-benar bau!" Olok Casey
"Hehehehe.." Cia terdiam, mengamati yang Casey lakukan pada sebuah cawan plastik.
"Kenapa kau melihatku seperti itu?" Tanya Casey tanpa menyadari tindakannya dilihat oleh Cia
Casey segera menyembunyikan gelasnya. "Bu.. bukan apa-apa Cia. Aku hanya.. hanya latihan saja."
Mata Cia memicing. "Aku bukan anak kecil yang bisa kau bodohi kakak! Katakan! Apa kakak sudah melakukannya?"
Casey terdiam. Seperti maling yang tertangkap basah. Dia hanya terdiam mengamati hasil tes di tangannya. Tiba-tiba kedua matanya meneteskan air.
"Aku.. aku hamil Cia. HUAAAAAAAA..." Casey menangis layaknya anak kecil yang minta permen.
"Hidupku sudah berakhir Cia! Aku hamil anak pria menyebalkan itu! Kenapa juga aku harus terjebak dengannya? Aku harus bagaimana sekarang?" Casey berteriak histeris seolah semua beban hidup ditimpakan padanya.
"Tenanglah kak Casey! Ku mohon jangan banyak berteriak, nanti bayi kakak terkejut!" Ujar Cia mengusap-usap punggung Casey
Casey memundurkan badannya. "Memangnya bayi sekecil ini sudah bisa terkejut?" Tanya Casey dengan konyolnya
"Bi.. bisa. Ku dengar kehamilan muda sangat sensitif kak. Kakak harus berhati-hati mulai sekarang." Saran Cia membantu Casey berdiri
"Aku harus menjaganya seorang diri? Begitukah maksudmu! Apa pria itu akan bebas berkeliaran bersama gadis-gadis lain saat aku kesusahan membawa anaknya ini? Aku tidak akan terima Cia!" Teriak Casey semakin murka
Tok tok tok.. Ketukan terdengar di depan pintu kamar mereka.
"Kak Casey duduk kasur sebentar. Biar aku bukakan." Cia beralih ke depan.
"Hei! Sebenarnya apa yang kalian lakukan hah? Temanmu itu berisik sekali!" Protes wanita tua itu
"Nona, apa kau tidak lihat. Bayiku menangis karena terkejut dengan teriakan temanmu. Sebenarnya ada apa ini?" Tanya ibu-ibu samping
__ADS_1
"Aku baru pulang dari shift malam. Terganggu karena teriakan temanmu!" Protes wanita cantik itu
"Maaf ya kakak, maaf juga ibu-ibu. Teman saya sedikit.." kalimat Cia terpotong dengan teriakan Casey
"Cia! Sebenarnya siapa yang datang? Kenapa lama sekali kau mengobrol?"
Tatapan nyalang ketiga wanita di hadapannya membuat nyali Cia ciut. Ditambah tangisan bayi kecil yang kembali terkejut.
"Sekali lagi, maafkan saya semua." Perlahan Cia menutup pintunya. Mengabaikan demo para emak-emak yang kesal.
"Kak Casey. Bisakah kakak berhenti berteriak? Tetangga kita merasa terganggu. Mereka semua protes di depan sana." Ujar Cia kepanikan
"Sini biar ku atasi ibu-ibu merepotkan itu. Aku membayar sewa tiap bulan, akan sangat rugi jika harus dibatasi dalam bicara!" Kesal Casey
"Jangan kakak! Tidak perlu, sekarang lebih baik pikirkan solusi untuk kehamilanmu!" Larang Cia
Satu detik dua detik tiga detik. Casey merosot kembali ke lantai. Air matanya mulai keluar.
"Masa depanku sudah hancur Cia. Habis tidak bersisa lagi." Ujar Casey kembali menangis. Kali ini dengan suara lirih karena dadanya mulai terasa sesak.
"Tenanglah Kak! Aku akan membantumu, bicara pada priamu! Katakan berapa nomor ponsel pacarmu itu?" Tanya Cia bersiap dengan ponsel di tangannya
Casey menggeleng.
"Apa maksud gelengan itu kak?"
"Dia bukan pacarku Cia. Bahkan dia dan aku terjebak di bar saat sama-sama mabuk. Hal ini sama sekali bukan kabar baik Cia." Ujar Casey memeluk Cia begitu erat.
"Aku harus bagaimana Cia?"
"Kak Casey, apa kakak tahu dimana pria itu tinggal?" Tanya Cia perlahan
"Brussels apartemen." Balas Casey singkat
"Baguslah!" Ujar Cia
Casey mengernyitkan dahi. "Apanya yang bagus?"
"Berarti pria itu bukan pria biasa. Jika dia kaya dan punya posisi bagus. Sudah pasti hidup kakak akan terjamin dan bahagia. Ayo ku antarkan kesana!" Tawar Cia meraih jaket dan tas selempangnya
"Apa kau gila Cia?"
__ADS_1
"Aku sangat waras kak! Aku hanya ingin kakak terlepas dari masalah ini, sudahlah tidak masalah jika dia tua atau pria beristri! Jadi sugar baby tidak sepenuhnya buruk kak." Balas Cia serampangan
"Cia!!!!!"