
Casey mendumel sepanjang jalan. Kata-kata Cia masih terngiang di telinganya.
"Dasar gadis bod*h! Meski sangat muda bukan berarti harga diriku harus dijual pada laki-laki kaya. Meski tampangku tidak secantik para gadis lain, setidaknya aku menjaga kesucianku sampai hari itu" gerutu Casey menyusuri lorong Brussels apartemen yang mulai sepi. Maklum weekend. Banyak dari mereka yang pulang atau liburan.
Casey masuk ke dalam lift. Sebelum pintu menutup matanya menangkap sosok yang dia kenali. Casey membuka kembali pintu itu dan berteriak.
"Johan!" Suara tinggi itu membuat semua orang di lorong menoleh.
Sementara Johan, yang sudah hafal dengan teriakan itu, juga ikut menoleh.
"Apa yang kau lakukan disini? Dasar trouble maker!" Maki Casey tiba-tiba
"Apa maksudmu? Trouble maker katamu? Mengertilah, aku hanya memindahkan barang. Kau sendiri untuk apa datang kesini?" Johan balik bertanya
Kali ini Casey yang bingung mencari alasan.
"Aku.. aku sedang mengantar makanan." Bohongnya menunjuk paperbag kecil di tangannya
"Ah kau bekerja sebagai kurir ya ternyata!" Tukas Johan memahami maksud Casey
"Iya hehehe.. Hei, jangan coba mengalihkan! Aku belum selesai bicara Johan!" Teriak Casey kedua kalinya
"Turunkan nada bicaramu! Kau mau kita diusir security?" Tanya Johan
"Tentu saja tidak!"
"Kemarilah, kita duduk disana." Tunjuk Johan pada sebuah cafe kecil di ujung lorong.
"Traktir aku ya!" Pinta Casey mulai membuka buku menu
"Kau tidak pernah berubah! Seperti preman yang selalu meminta jatah!" Gerutu Johan
"Grande Capucino hangat dan roti bakar dengan taburan karamel." Ujar Casey tanpa menunggu tawaran Johan
"Teh madu saja satu!" Ketus Johan melemparkan buku menu ke atas meja.
__ADS_1
"Tidak ikhlas sekali! Harusnya aku yang marah! Semua kekacauan yang ku alami, hanya karena kopimu malam itu!" Casey memulai topik kekesalannya
"Casey kenapa kau selalu menyalahkanku? Memangnya apa yang salah dengan kopiku?" Heran Johan
"Ceritanya panjang Johan, jika ku katakan semuanya, kau tidak akan mampu memahaminya!" Sombong Casey
"Ini pesanannya kak." Seorang pelayan menurunkan seporsi roti bakar dan pesanan Johan.
"Aku lapar, biarkan aku makan dulu." Ujar Casey menatap rakus makanan di hadapannya
"Aku tidak punya banyak waktu Casey, pak Bastian menungguku!" Ujar Johan
"Dimana dia?" Tanya Casey
"Ku dengar dia akan pergi ke negara K hari ini. Pesawatnya take off 20 menit lagi." Terang Johan
Kedua mata Casey membulat. Roti bakar yang sudah di ujung mulut terjatuh kembali di piringnya.
"Apa dia akan pindah selamanya di negara K?" Tanya Casey
"Sepertinya begitu. Aku hanya diminta membereskan pekerjaannya di apartemen. Lalu membawanya pada Pak Alex untuk meeting hari ini." Terang Johan
"Jika dia pergi untuk selamanya, maka nasibku akan.." Casey menangis sesenggukan. Berbeda saat di kos tadi pagi, tangisan Casey tidak bersuara. Hanya saja air matanya bermuara hingga mukanya memerah menahan sedih.
"Ini sungguh menyakitkan Johan. Kau tidak akan mengerti, bagaimana pedihnya dihancurkan seperti ini?" Ujar Casey menutup muka dengan kedua tangannya.
Beberapa orang yang lewat memperhatikan mereka berdua. Terutama pada bahu Casey yang bergetar karena tangisannya.
"Bukan.. bukan aku." Ujar Johan agar mereka tak salah paham
"Casey diamlah! Apa yang kau lakukan?" Johan mulai kebingungan. Sedikit geleng-geleng kepala dengan kelakuan random Casey.
"Hidupku sudah hancur Johan, sepertinya tidak ada harapan lagi untukku." Ujar Casey beranjak dari duduknya
"Casey, kau mau kemana?" Tanya Johan
__ADS_1
"Menenangkan diri dulu Johan."
"Semakin hari, semakin aneh saja kau Casey!" Gumam Johan menatap langkah Casey yang semakin jauh.
Casey menyusuri jalanan yang ramai lalu lalang kendaraan. Kemacetan dimana-mana. Ditambah cuaca terik yang membuat keributan di jalan. Casey masih betah berjalan kaki, menantang matahari melewati jalan aspal panas yang siap membakar kulitnya.
"Ku pikir dengan pergi menemui Pak Bastian di apartemen, semua hal ini akan selesai. Ternyata dia lebih pengecut daripada diriku, dia lari setelah perbuatan tak bermoralnya padaku." Gumam Casey menatap kaki kecilnya yang terus melangkah
"Apa tidak ada kesempatan untukku bisa bahagia? Kenapa Kau mengambil segalanya dariku Tuhan? Kau jauhkan Bian, kau ambil ayahku, kau berikan aku ibu tiri dan saudara yang jahat! Kau buat aku dipecat dengan tidak hormat. Sekarang, kau hadirkan bayi kecil tak berdosa ini di perutku!" Ujar Casey bermonolog dengan bayangannya sendiri
Casey menatap ke arah jembatan besar di hadapannya. Di bawahnya ada sungai yang bermuara ke laut lepas. Terpikirlah sebuah ide gila di otak kecilnya. Casey melangkah dengan pasti. Mengabaikan teriakan orang-orang yang terganggu karena ulahnya. Melewati celah-celah kecil antar mobil. Hingga tiba tepat diujung jembatan. Casey menatap air deras yang mengalir di bawahnya. Sebuah senyum dia sunggingkan.
"Tidak ada gunanya lagi aku hidup seperti ini." Casey melangkah naik ke pagar jembatan. Duduk di atasnya dengan kedua kaki menggantung ke bawah.
"Ada orang yang mau bunuh diri!"
"Lihat itu, dia masih sangat muda dan cantik, apa dia gila?"
"Tolong hubungi damkar. Kita harus menyelamatkannya!"
"Turunlah nona, apapun masalahmu pasti ada solusinya."
Seolah menulikan telinganya Casey hanya tersenyum hambar. Baginya, jalan buntu sudah pasti di depan mata. Jika dia maju melanjutkan kehamilannya, dia tidak akan sanggup menerima gunjingan orang-orang. Jika mundur dan membunuh calon janinnya, maka belum tentu juga di kemudian hari dia bisa hamil lagi. Lagipula mana mungkin ada pria yang mau menerima kekurangannya. Casey menghela napasnya. Memejamkan matanya dan menengadah ke arah langit.
Bian yang masih di dalam mobil, terhalang oleh kemacetan di ujung jembatan.
"Sebenarnya, ada apa ini?" Gumam Bian terus melirik angka di jam rolexnya
"Saya akan mengeceknya Pak." Tukas Dika segera keluar dari mobil
Dika berjalan di trotoar dan mendapati seorang wanita terduduk menengadah ke arah langit. Kakinya menggantung ke bawah seolah bersiap menantang maut dengan sedikit pergerakan saja.
"Casey." Gumam Dika menyadari siapa yang ada di hadapannya.
Segera Dika berbalik ke arah mobil. Diketuknya jendela Bian hingga si empunya membuka jendelanya.
__ADS_1
"Ada apa Dik?" Heran Bian melihat Dika berlarian
"Nona Valencia! Aku tidak yakin apa yang dia lakukan di atas sana. Tapi melihat gelagatnya dia ingin bunuh diri Pak!"