Bukan Istri Yang Kau Inginkan

Bukan Istri Yang Kau Inginkan
Bab 10, Kewibawaan Alex jatuh


__ADS_3

Keesokan harinya.


Ayla kini sudah siap untuk berangkat kerja seusai sarapan pagi. Setelah satu minggu bekerja kembali, membuat Ayla begitu sibuk dengan pekerjaan kantornya, namun dia tidak melupakan kesehatan kandungannya. Jika ada yang perlu dikerjakan lembur, Ayla akan mengerjakan kerjaan itu dirumah dan kebetulan saja CEO barunya begitu baik dan mengerti kondisi Ayla.


Ayla melajukan mobilnya keluar halaman rumah dan pergi meninggalkan kawasan perumahan elite yang dia tinggali dengan Alex. Tanpa dia sadari ada seseorang yang mengamati kepergiannya dari balkon kamarnya, Alex. Siapa lagi dirumah itu selain Alex.


Setelah melihat kepergian Ayla, kini dia melangkah menuruni anak tangga seusai memastikan Ayla sudah pergi terlebih dulu. Kini dia juga sudah siap untuk berangkat kerja dan melangkah menuju pintu keluar. Namun langkahnya terhenti saat melewati ruang makan dan matanya melirik ke arah meja makan. Indra penciumannya kini tengah mencium aroma masakan yang begitu menggoda perutnya. Ia memutuskan menghampiri meja makan dan membuka tudung saji diatas meja tersebut.


“Untuk Bi Nur, selamat sarapan Bi!” Ucap Alex saat membaca note yang ada di sebelah piring di meja makan tersebut. “Oh, untuk Bi Nur!” Alex pun menatap nanar nasi goreng telur mata sapi tersebut saat mengetahui makanan itu untuk Nur bukan untuk dirinya.


Alex menutup kembali makanan itu dengan tudung sajinya, dia menutupnya dengan kasar. Alex pun memutuskan untuk pergi, namun perutnya terasa keroncongan saat aroma lezat nasi goreng itu tercium kembali di indera penciumannya dengan aroma yang menggoda. Akhirnya Alex membuka kembali tudung saji tersebut dan dia duduk dikursi makan.


“Maaf, Bi. Aku bolehkan icip sedikit saja! Aku janji hanya satu sendok, Bi!” Gumam Alex lalu dia menyendok nasi tersebut lalu memakannya. Matanya melebar saat merasakan nasi goreng tersebut begitu enak dan membuatnya menyendok lagi dan lagi hingga tidak tersisa. Dan janjinya yang hanya icip satu sendok menjadi satu piring habis.


Entah kenapa Alex terlihat begitu menikmati makanan buatan Ayla yang sebelumnya selalu dia tolak bahkan dia hina. Padahal nasi goreng itu terlihat biasa saja dan tidak ada yang menarik.


“Ternyata enak juga nasi goreng buatan wanita murahan itu!” Gumamnya kembali. “Nyesel kemarin-kemarin aku menolaknya bahkan sampai melempar nasi goreng seenak ini!” Ucapnya merutuki dirinya yang bodoh.


“Tapi aku rasa ini hanya kebetulan saja enaknya. Secara aku sudah lama tidak makan nasi goreng buatan Mama!” Gumam Alex mencoba manafikan pujiannya dengan kata kebetulan.


Setelah selesai sarapan, Alex mencuci piring tersebut sebelum ketahuan Bi Nur jika dia sudah berani memakan jatah sarapan yang dibuatkan Ayla. Selesai mencuci piring, Alex keluar meninggalkan ruang makan dan bersiap berangkat kerja.


“Pagi Tuan!” Sapa Nur yang berpa-pasan dengan Alex di depan pintu.

__ADS_1


“Pagi, Bik. Tolong bereskan ruang kerja dan letakkan kembali buku-buku diatas meja ke tempatnya kembali!” Perintah Alex.


“Baik, Tuan!” Ucap Bi Nur sopan dan dia hampir saja tertawa jika saja dia tidak menahannya.


“Pagi, Tuan!” Sapa Jery yang baru saja datang dan turun dari mobilnya.


“Jam berapa ini, Jer?” Pekik Alex dengan memperlihatkan jam dipergelangan tangannya pada sang Asisten yang beraninya terlambat datang.


“Jam tuj---” Jery tidak melanjutkan ucapannya dan dia membungkam mulutnya yang hendak tertawa didepan tuannya.


“Kenapa kau menutup mulutmu, Jer?” Tanya Alex kesal.


“Lihatlah wajah anda Tuan!” Ucap Jery dengan tertawa dengan lantangnya. Alex spontan bercermin pada kaca spion mobilnya.


“Apa yang sal---” Alex terkejut saat melihat wajahnya yang belepotan. Beberapa nasi menempel di sudut bibirnya dan dipipinya, bahkan ada butir-butir kuning telur juga menempel disudut bibirnya. Rambutnya yang rapi pun terdapat percikan busa, sudah dapat dipastikan Alex jika itu adalah busa sabun cuci piringnya. Dengan segera Alex pun membersihkan wajah dan rambutnya.


Jery hanya bisa menelan salivanya dengan susah payah. “Tidak Tuan!” Sahutnya dan dia pun berhenti tertawa. Sedang Bi Nur dia sudah masuk kedalam rumah sedari tadi karena dia juga tidak bisa menahan tawanya.


Sungguh pemandangan yang sangat langka terjadi pada Tuannya yang terkenal rapi dan berwibawa, bahkan selalu terlihat kejam dan dingin, kini yang mereka lihat hari ini seperti Tuan Alex yang begitu cute.


......................


Ditempat lain, tepatnya di Luis Group ditempat Ayla bekerja. Wanita cantik itu melangkah dengan anggun menuju pintu lift. Menyapa ramah pada seluruh rekan kerjanya.

__ADS_1


“Pagi, Pak!” Sapa Ayla begitu ramah pada atasannya. Yang tak lain dan tak bukan adalah anak dari pemilik perusahaan tempatnya bekerja. Yang baru dua minggu ini menggantikan Ayahnya karena sakit.


“Pagi!” Ucap Darren Luis yang tak kalah ramah.


“Jadwal meeting dengan Lew.Group hari ini jam berapa, Ay?” Tanya Darren setelah memasuki lift.


“Jam satu siang, pak. Tempatnya sudah saya atur sesuai perintah bapak.”


“Kerja bagus, kamu siapkan berkas-berkas untuk meeting hari ini!” Perintah Darren saat pintu lift sudah terbuka. Dan dia melangkah keluar lift lebih dulu dan di ekori Ayla.


“Baik, Pak. Saya permisi dulu!” Pamit Ayla yang diangguki oleh Darren. Sebenarnya Ayla enggan sekali ikut menghadiri acara meeting tersebut, namun jika dia tidak ikut justru akan membuat Ayla seperti lari dari tugasnya.


Mereka pun memasuki ruangan mereka masing-masing. Dan bekerja dengan penuh semangat. Sesekali Ayla mendatangi ruangan Darren seperti saat ini. Dia membawakan berkas yang harus ditanda tangani dan dikoreksi oleh Darren.


“Dia perempuan yang gigih, aku penasaran lelaki seperti apa yang sudah beruntung mendapatkan wanita seperti Ayla?” Gumam Darren saat Ayla sudah keluar dari ruangannya. Ya, Darren mengagumi sosok Ayla yang kompeten dalam bekerja, selain cantik dan manis dia juga pintar dan Darren mengakui kehebatan Ayahnya yang tidak salah memilih seorang Ayla untuk menjadi sekretaris Luis Group.


Namun sayang kegagumannya hanya sebatas mengagumi dalam diam. Tidak mungkin bukan jika Darren harus bertindak jauh untuk bisa memiliki Ayla yang sudah bersuami, terlebih saat ini Ayla tengah mengandung.


“Ah, sial. Aku terlambat bertemu wanita semenarik dia. Kenapa tidak dari dulu aku menerima tawaran jadi direktur diperusahaan Papa, tahu gitu aku pasti akan lebih dulu mendapatkan Ayla dari pada suaminya!” Gumamnya dengan merutuk pada kebodohannya.


Darren Luis, anak tunggal dari Tuan Theo Luis dan Jenny Luis. Dia lelaki yang menyukai sebuah kebebasan, dan selama ini dia hanya suka menghabiskan uang dengan bersenang-senang dengan teman-temannya dan wanita-wanitanya. Kini setelah bertemu dengan Ayla, dia sempat merasakan penyesalan karena sudah menyia-nyiakan otaknya yang pintar dan hidupnya tanpa bekerja. Hingga dia kehilangan kesempatan untuk mendapatkan seorang bidadari.


Sedang Ayla kini tengah berkutat dimeja kerjanya. Menyiapkan keperluan meetingnya sembari mengecek pekerjaan di laptopnya. Hingga waktu jam makan siang pun tiba, Ayla masih tidak bergeming dari tempatnya.

__ADS_1


“Kita berangkat sekarang, Ay. Sekalian makan siang terlebih dulu!” Ajak Darren.


“Baik, Pak.” Jawab Ayla.


__ADS_2