Bukan Istri Yang Kau Inginkan

Bukan Istri Yang Kau Inginkan
Bab 7, cinta dan benci.


__ADS_3

Alex yang kini tengah duduk di ruang keluarga merasa gelisah dan tampak berpikir karena sebuah kejadian yang sempat dia lihat tadi. Teriakan Ayla seolah mengingatkan sesuatu tapi entah ingatan apa itu, Alex pun tidak tahu. Kepalanya semakin terasa pusing jika mencoba untuk mengingat-ingatnya.


Niatnya tadi hanya memberi pelajaran untuk Ayla justru membuat wanita itu histeris seperti orang yang benar-benar ketakutan. Dan sebuah ketakutan yang tidak pernah Alex lihat dari diri Ayla selama dia mengenalnya.


“Bik, gimana dengan wanita itu?” Tanya Alex dengan ekspresi datar dan masih terlihat duduk santai.


“Non Ayla, sudah tenang. Sudah minum obat dan kini Nona sedang istirahat, Tuan!”


“O-obat. Obat apa, Bik?” Tanya Alex penasaran.


“Saya juga tidak tahu, Tuan. Tadi Non Ayla hanya menyuruh Bibi mengambilkan obat di laci dan meminumnya. Bibi tidak tega untuk bertanya obat apa, karena Non Ayla terlihat seperti orang yang ketakutan.” Jelas Nur dengan menundukkan kepalanya.


“Baiklah. Ingat Bik, jangan sampai Mama tahu kejadian hari ini. Atau kejadian yang pernah Bibi lihat. Atau---”


“Iya, Tuan. Saya tidak akan bicara ke siapa pun. Termasuk Nyonya besar!” Sahut Nur dengan memotong ucapan Alex, karena dia paham apa yang akan di katakan Tuan-nya itu.


“Bagus!” Ucap Alex. Nur pun pergi berlalu dan melanjutkan pekerjaannya kembali.


“Obat apa, apa mungkin vitamin hamilnya. Tapi nggak mungkin Vitamin bisa membuatnya tidur. Apa tadi dia hanya pura-pura histeris agar bisa lepas dari pelajaranku!” Gumam Alex sembari berpikir. Lalu dia kembali melangkah menuju kamar Ayla dan berniat akan memberi Ayla pelajaran lagi. Namun niatnya ia urungkan, ketika sesuatu disaku celananya bergetar. Ia merogoh sakunya dan mengambil ponselnya. Tertera nama Jery, sang asisten. Dengan kesal dia pun mngangkatnya.

__ADS_1


“Apa, Jer?” Sungut Alex.


“Tuan, anda lupa? Hari ini ada jadwal meeting dengan Mr. Luis, mengenai kelanjutan kerjasama dengan perusahan beliau!” Ucap Jery dari sebrang sana yang juga terdengar kesal.


Bagaimana tidak kesal, pertama dia dilempar Tuannya dengan buku tebal yang bersampul keras tepat di wajahnya padahal dia tidak berbuat salah. Kedua, dia ditinggal begitu saja tanpa ada rasa bersalah di wajah Tuan-nya. Dan ketiga, Tuan-nya susah dihubungi karena melupakan tentang jadwal yang sudah di sepakati Alex sendiri. Dan terakhir, Jery tidak habis pikir bisa-bisanya Alex malah mengangkat ponselnya dengan nada yang terdengar kesal.


“Ya, aku ke kantor sekarang!” Sahut Alex lalu memutus panggilan. Dia menyambar kunci mobilnya kemudian pergi meninggalkan halaman rumah.


“Gini nih, kalau kerja dengan manusia dingin dan kejam bagai singa yang kelaparan! Sabar, Jer!”


Tring...


“Kau sudah bosan kerja, Jer!” Bunyi ancaman itu. Memang biasa, tapi yang membuat Jery penasaran adalah Bosnya itu seperti punya telinga dimana-mana yang tahu jika dirinya sedang mengumpatnya.


...----------------...


Malam hari, Alex kembali pulang dengan membawa dua wanita sexy yang berbeda dari sebelumnya. Dia seolah melupakan kejadian tadi siang yang menimpa Ayla. Walau sebenarnya dia tidak melupakannya. Dia juga enggan tahu tentang keadaan Ayla saat ini, sebab dipikirannya Ayla hanya berpura-pura ketakutan.


“Caranya sama dengan orangnya, sama-sama murahan!” Sungut Alex dalam hati.

__ADS_1


“Mari kita bersenang-senang, girl!” Seru Alex pada dua wanita bayarannya.


Ayla sebenarnya mendengar dari dalam kamarnya. Dia seolah menulikan pendengarannya. Dan dia masih enggan keluar kamar sejak kejadian siang tadi. Mengurung diri di dalam kamar lebih baik dari pada dia keluar dan melihat wajah Alex yang selalu membuatnya takut. Bukan takut dengan perlakuan kejam Alex. Tapi dia takut sosok Alex, teriakan Alex yang membuatnya mengingatkan kejadian buruk yang dia alami.


“Tidak, tidak. Kau harus tenang demi kesehatan kandunganmu, Ay!” Dia menggelengkan kepalanya. Dia harus bisa melupakan kejadian itu demi kesehatan kandungannya sesuai saran dokter!


Ayla kembali merebahkan tubuhnya, mencoba memejamkan matanya dan mencoba menulikan pendengarannya dari suara-suara aneh di kamar sebelahnya. Mendengarkan lagu anak-anak untuk memancing tumbuh kembang anaknya didalam kandungan.


“Sayang, jika suatu saat nanti Bunda nggak sanggup bertahan. Bunda mohon kamu kelak kamu jangan menyalahkan Bunda. Tapi Bunda janji, Bunda akan selalu memberikan yang terbaik buat kamu sayang. Apa pun itu, asalkan kamu tidak tersakiti oleh siapa pun! Bahkan Bunda akan berusaha untuk bisa menggantikan sosok Ayah yang tidak akan pernah kamu dapatkan darinya!” Ucap Ayla dengan mengusap perut datarnya. Menatap nanar pada perutnya dengan diiringi lelehan air mata.


“Minggu depan, Bunda akan kembali bekerja. Oma sudah mengijinkan Bunda kerja lagi, jadi kamu nggak boleh rewel ya sayang!” Gumamnya lagi.


Sebenarnya Ayla mengambil keputusan untuk bekerja sudah mengantongi ijin dari Mertuanya. Walau awalnya mereka melarangnya namun Ayla yang terus memohon dengan sangat akhirnya dengan berat hati mereka mengijinkannya. Dengan syarat, Ayla tidak boleh sampai kelelahan dan tidak boleh lembur, tidak boleh banyak pikiran yang mengganggu calon cucu mereka. Tentu saja Ayla mengiyakan demi bisa beraktifitas seperti sebelum-sebelumnya. Bahkan dia menolak tawaran sang mama untuk bekerja diperusahaan Alex. Dengan alasan ingin menikmati suasana bekerja diperusahaan tempatnya dulu karena dirumah sudah selalu berduaan dengan Alex.


Keputusannya untuk bekerja bukan karena dia kekurangan materi atau tidak di nafkahi Alex. Dia hanya ingin mandiri tanpa bergantung dengan suaminya. Dan jika suatu saat nanti dia sudah tidak sanggup bertahan dengan Alex atau lebih tepatnya tidak berhasil mengambil hati Alex, maka dia harus sedia pergi meninggalkan pernikahan ini. Dan jika dia sudah berhasil pergi maka dia sudah memiliki pekerjaan yang bisa mencukupi kebutuhan anaknya walau tidak bisa memberi anaknya sebuah kemewahan. Karena baginya hidup berdua dengan anaknya sudah cukup dari kata bahagia buat Ayla.


Terkadang dia merasa labil, akankah dia sanggup bertahan atau tidak. Akankah dia masih mencintai seorang Alex atau dia harus membuang rasa cinta itu dan harus membencinya. Apa dia harus egois dan mementingkan dirinya sendiri dengan melarikan diri dari keluarga Lewis yang sudah berbaik hati memberikan apa yang selama ini Ayla butuhkan. Atau bertahan dengan segala kebencian yang dilontarkan Alex dan merelakan kewarasannya. Namun sayangnya cinta itu sungguh membuat seorang Ayla terlihat bodoh dan tetap ingin bertahan.


Jika terus bertahan. Akankah pernikahannya nanti berakhir dengan sebuah kebahagiaan dan Alex bisa menerima dirinya dengan hadirnya anak yang terlahir dari rahimnya. Dan akankah Alex bisa mencintai anak itu seperti apa yang dia dan kedua orang tua Alex inginkan.

__ADS_1


__ADS_2