
Kini Ayla dan Darren sudah sampai disalah satu restaurant yang menjadi tujuan makan siangnya. Mereka duduk dan menunggu makanan mereka datang.
“Apa tidak masalah jika kamu terus sibuk sampai tidak ada waktu buat makan siang berdua dengan suamimu?” Tanya Darren yang terlihat begitu penasaran. Karena semenjak Ayla bekerja kembali, lebih tepatnya selama satu minggu Darren bertemu Ayla. Dia tidak pernah melihat Ayla keluar makan siang dengan suaminya. Yang Darren lihat, Ayla selalu menghabiskan waktu makan siang bersama rekannya satu kantor.
Ayla tersenyum. “Tidak masalah, Pak. Karena makan siang bersama bukanlah hal yang penting bagi kami berdua. Yang terpenting bagi kami, selalu menghabiskan waktu berdua jika diluar pekerjaan!” Ujar Ayla penuh dusta.
Bukankah itu dusta, karena kenyataannya dia dan Alex tidak pernah sekalipun menghabiskan waktu berdua.
“Wah, pasti rumah tangga kalian sangat bahagia!” Ucap Darren penuh kagum. “Aku penasaran dengan suamimu, siapa namanya? Lalu, dia bekerja dimana? Aku ingin sekali mengenal sosok suamimu itu!”
Ayla hanya menjawab dengan sebuah senyuman saat Darren berkata kebahagiaan rumah tangganya. “Kenapa Bapak penasaran? Untuk saat ini saya merahasiakan nama suami saya, Pak. Suatu hari nanti pasti anda akan tahu siapa dia. Dan mungkin akan segera bertemu!” Jawab Ayla berusaha santai.
Bagaimana mungkin dia akan merasa lega. Jika agenda meeting hari ini bertemu dengan pemilik Lew.Group, perusahaan Alex. Dia tidak akan tahu nanti akan seperti apa pembahasan meetingnya dihadapan Alex. Akankah Alex akan mempermalukan dia di depan umum, lebih tepatnya di depan atasannya.
Baru Darren ingin melanjutkan pertanyaannya, namun menu yang mereka pesan sudah datang dan kini sudah tersaji dimeja mereka. Mereka berdua pun menikmati makan siang mereka sebelum melanjutkan rencana mereka siang ini.
Selesai makan siang, mereka menuju tempat dimana mereka akan menggelar acara meetingnya. Ayla dan Darren melangkah seirama memasuki sebuah tempat dimana sudah ada yang menunggu kedatangannya dan Ayla.
Ayla hanya berjalan dengan menunduk tanpa berani melihat ke arah depan.
“Tuan, perwakilan dari Mr. Luis sudah datang!” Ucap Jery saat melihat seseorang berjalan ke arahnya. Alex dan sekertarisnya pun berdiri dan membalikkan tubuhnya pada orang yang ditunjukkan Jerry.
“A-Ayla, Darren?” Gumam Alex dalam hati.
__ADS_1
“Maaf agak terlam---” Darren diam saat melihat sosok pria yang menjadi kliennya tersebut. “Ay, apa kita salah tempat?” Tanya Darren yang kini menatap Ayla yang masih menundukkan kepalanya.
Ayla menarik napasnya dengan panjang, lalu mendongakkan kepalanya. “Tidak, Pak.” Jawabnya dan kembali menundukkan kepalanya.
“Kalau begitu mereka yang salah tempat!” Ucap Darren dengan sinisnya.
Ayla mengangkat kepalanya kembali. “Tidak, Pak. Karena Tuan Alexander adalah pemimpin perusahaan Lew.Group.” Jawab Ayla dan lagi-lagi dia menundukkan kepalanya saat sekilas melihat Alex menatapnya dengan begitu tajam.
“What...!” Pekik Darren.
Kini Alex dan Darren saling melempar tatapan tajam. Jika dilihat dari ketidak sukaan diantara mereka berdua, itu artinya mereka sudah saling mengenal. Dan dari tatapan ketidak sukaan mereka menjadi pertanyaan dibenak Jery yang melihat dengan jelas. Entah ada permasalahan apa diantara mereka berdua?
“Bisa batalkan kerjasama perusahaan kita dengan perusahaannya?” Tanya Darren dan Alex bersamaan pada Ayla dan juga Jery.
“Tidak bisa, Pak. Karena kerjasama ini sudah disepakati dan ditanda tangani oleh Pak Luis. Ini juga akan merugikan perusahaan dengan sangat besar, dan Pak Luis bisa marah besar jika itu terjadi!” Jelas Ayla.
“Tidak bisa, Tuan. Jika itu terjadi mungkin Tuan Arga akan menarik seluruh investasinya dari perusahaan anda. Mengingat beliaulah investor terbesar pada perusahaan terlebih beliau juga yang merekomendasikan kerjasama dengan perusahaan Luis Group. Dan jika sampai Tuan Arga menarik seluruh investasinya, tidak menutup kemungkinan akan berpengaruh pada seluruh investor lainnya.” Jelas Jerry panjang kali lebar.
“Shitt...” Umpat Darren dan Alex bersamaan.
“Papa.... Kalau tahu si brengsek ini pemilik perusahaan yang kerjasama dengan Papa, aku tidak akan mau mengikuti perintah Papa hari ini. Papa......!” Umpat Darren dalam hati.
“Sial, kenapa aku harus bertemu dengan si brengsek ini. Dan parahnya si brengsek ini ternyata anaknya Om Luis. Bodoh kau Lex!” Umpat Alex dalam hati pada dirinya sendiri. “Dan dia, aku pikir perempuan ini kerja dibagian lain. Ternyata dia menjadi sekretaris si brengsek, bodohmu menjadi double Lex!” Gerutunya sambil melirik tajam pada Ayla.
__ADS_1
“Pak, silahkan duduk!” Ajak Ayla dengan menarik tangan Darren untuk duduk.
“Ck, dasar wanita murahan!” Ucap Alex dalam hati saat melihat tangan Ayla menyentuh tangan Darren.
Jika sampai kerjasama ini tidak berhasil, maka Ayla bisa terkena marah besar oleh Mr. Luis atau lebih parahnya bisa dipecat. Karena kerjasama ini saling menguntungkan untuk perusahaan.
Dan mau tidak mau, mereka pun melanjutkan acara meeting tersebut dengan suasana yang begitu mencekam. Bagaimana tidak mencekam jika semua yang menjadi ide pokok kerjasama mereka saling menolak satu sama lain, bahkan tidak ada satupun yang mau mengalah. Tidak tahukah mereka jika asisten dan sekretarisnya itu tidaklah mudah untuk menyiapkan semua rancangan meeting tersebut dengan menguras otak dan tenaga mereka. Bahkan Jery dan Amel rela lembur hingga malam hari. Dan jangan lupakan Ayla, dia lembur dirumah bahkan dengan gangguan-gangguan suara aneh dari kamar sebelahnya. Dan saat ini, sudah dua jam lebih mereka menghabiskan waktu untuk meeting tersebut. Namun tidak juga menemukan hasil akhir yang baik.
“Jadi bagaimana? Tuan Alex, anda setuju?” Tanya Ayla untuk kesekian kalinya setelah dia menemukan ide dadakannya kembali.
Alex menatap Ayla sinis. “No....!” Tegas Alex dengan wajah yang terlihat lelah. Membuat Ayla, Jery dan juga Amel menghela napasnya kasar.
“Kenapa kau tidak setuju, ide yang diberikan Ayla itu ide yang bagus dan bisa menarik banyak konsumen diluar sana!” Sungut Darren tidak terima Alex menolak ide Ayla yang sudah keberapa kali ditolak bahkan dicela oleh Alex.
“Itu terserah saya, kau juga menolak ide yang diberikan sekretaris dan asistenku!” Sungut Alex tak mau kalah.
“Sudah Pak, sudah Tuan!” Ucap Ayla dan Jery bersamaan.
“Diam kau!” Seru Alex dan Darren bersamaan. Membuat Ayla dan Jery menghela napasnya dengan begitu berat.
“Baiklah, kalau begitu saya permisi ke toilet sebentar!” Pamit Ayla disela-sela perdebatan antara Alex dan Darren. Ayla pun beranjak dari bangkunya dan melangkah menuju toilet wanita. Dan Jery pun ikut beranjak dari perdebatan tersebut karena dia juga merasa jengah. Bahkan dia sempat mengumpat Tuannya tersebut dengan segala umpatan kasarnya.
“Ay...” Teriak Darren. “Kenapa aku membentaknya, sial pasti dia marah!” Ucap Darren menatap punggung Ayla yang semakin jauh dengan perasaan menyesal. Sedang Alex yang mendengar hanya tersenyum sinis pada Darren.
__ADS_1
Dan tersisa Alex, Darren dan juga Amel sekretaris Alex. Mereka hanya duduk dengan saling menatap tajam, sedang Amel hanya diam dan merasa bingung dengan apa yang dia lihat.