
Setelah menempuh perjalanan selama lima belas menit, kini Ayla sudah sampai di rumahnya dengan diantar oleh Darren. Setelah sebelumnya Ayla sempat menolak tawaran atasannya. Dan selang sepuluh menit kemudian mobil yang ditumpangi Nely dan Alex memasuki gerbang. Dan Alex segera turun dari mobilnya dan memasuki rumah dengan berlarian. Karena telinganya terasa panas saat didalam mobil hanya mendengar mamanya yang begitu cerewet.
“Alex....!” Teriak Nely saat anaknya masuk lebih dulu tanpa menunggu dirinya.
“Bisa gawat kalau Mama tahu aku dan perempuan murahan itu pisah kamar!” Ucap Alex dalam hati saat dia terus berlari menuju kamar Ayla. Dia berencana ingin memindahkan beberapa barang milik Ayla ke kamarnya sebelum sang Mama masuk lebih cepat. Namun rencananya harus gagal, mengingat Mamanya adalah pelari yang handal meski usianya sudah tidak lagi muda.
“Kau mau kemana?” Teriak Nely yang berhasil mengejar anaknya dan menarik telinga Alex kembali. “Sini kau, Mama ingin bicara sama kamu!” Nely tidak peduli dengan pekikan anaknya, dia membawa Alex ke ruang kerja.
Dan disanalah Alex berada diruang kerja dengan sang Mama yang sudah siap untuk mengintrogasi dirinya.
“Kenapa Mama membawaku kemari?” Tanya Alex dengan ekspresi datar.
“Lalu kau mau apa ke kamar Ayla?” Tanya Nely yang berbalik bertanya.
Deg....!!
“Maksud Mama?”
“Sudahlah, to the point. Kenapa kau menyuruh Ayla tidur dikamar tamu bukannya di kamarmu!” Tanya Nely tanpa perlu berbasa-basi lagi. Karena pagi tadi saat Nely sampai di Jakarta dia langsung menuju rumah Alex. Dia sangat terkejut saat masuk ke dalam kamar Alex, dia tidak menemukan barang Ayla satu pun disana. Dan Nely bertanya pada Bi Nur, dan Nely begitu terkejut saat Bi Nur memberitahu di mana kamar Ayla berada. Dan dia begitu marah saat mengetahui Ayla tidur di kamar tamu tidak di kamar utama bersama Alex.
Dan kemarahan Nely semakin menjadi saat tidak sengaja bertemu mereka di salah satu restoran dimana Luis Group dan Lew.Group mengadakan pertemuan. Nely melihat jelas kejadian di parkiran tadi. Dan Nely begitu marah saat Alex tidak menghalangi pria lain untuk mengantarkan Ayla pulang sedangkan dia berada disana, justru dia mengijinkan sekretarisnya untuk ikut menumpang bersamanya. Tentu itu membuat Nely marah.
Dan kini Alex hanya diam saat Mamanya tengah berbicara banyak dengan kata-kata yang menurutnya sangat memuakkan.
“Sudah ceramahnya, Mah?” Tanya Alex saat Nely berhenti berbicara. “Kalau sudah, aku mau keluar!”
“Dasar anak arrogant. Minta maaf kau pada Ayla! Dari caramu diam tanpa menyela ucapan Mama dari tadi, sudah dapat Mama pastikan jika kau tidaklah memperlakukan Ayla dengan baik!”
__ADS_1
“Mah, aku sudah muak dengan segala yang Mama dan Papa lontarkan padaku. Disini aku adalah anak kalian, sedang wanita itu---”
“Dia punya nama, Ayla A-Y-L-A!” Tegas Nely memotong.
“Terserah aku!” Sungut Alex. “Dia orang lain yang lebih Mama dan Papa sayangi dari pada aku. Dan demi wanita it---”
“AYLA, Namanya. Apa bisa kau sebut namanya dengan benar.”
“Oke, AYLA..... PUAS, MAH?” Sungut Alex yang sedari tadi di protes oleh sang Mama. Nely tersenyum tipis dan mengangguk. “Dan demi dia Mama dan Papa rela mengabaikanku. Bahkan memaksaku menikahi wanita yang sudah hamil yang jelas-jelas bukan anakku. Kenapa kalian tidak menyuruh dia menggugurkan kandungannya agar tidak menghancurkan masa depanku!”
Plak....!!
Sebuah tamparan mendarat sempurna di pipi Alexander Lewis.
“Mah...!” Teriak Alex tak percaya.
“Mah, aku seperti ini karena Mama dan Papa terlihat lebih mementingkan perasaan dan harga dirinya dari pada perasaan dan harga diri anak sendiri!”
Plak...!!
Satu tamparan mendarat kembali ke wajah tampan Alexander Lewis.
“Apa kau tahu perasaan Ayla seperti apa?” Tanya Nely dengan butir-butir bening yang mengalir dari pelupuk matanya.
“Untuk apa aku mengerti perasaannya. Tidak adakah yang lebih penting darinya!
“Alexander Lewis. Mama benar-benar menyesal sudah melahirkan anak tidak punya hati dan rasa tanggung jawab sepertimu!”
__ADS_1
“Mah...!”
“kenapa? Kau memang pria tidak punya hati dan rasa tanggung jawab. Menodai tanpa rasa bersalah. Menodai tanpa bertanggung jawab. Menodai dan melupakan begitu saja seolah tidak terjadi apa-apa!” Nely berjalan memutari tubuh Alex dengan wajah sinis namun bercucuran butiran bening dipipinya.
“Maksud Mama apa?” Tanya Alex tidak mengerti.
“Alex... Alex... Mama pikir kau itu anak yang pintar, ternyata kau itu anak yang bodoh!”
“Mah....!” Pekik Alex tidak terima saat Mamanya mengatai dirinya bodoh.
“Kau lupa dengan apa yang sudah kau lakukan pada wanita yang kau culik disaat seluruh keluarga sedang menggelar acara pertunangan Kakakmu?”
Alex terdiam, dia kini sedang berpikir dan mengingat-ingat apa yang sedang Mamanya katakan. “Aku tidak mengingat apa pun. Dan siapa yang aku culik. Mana ada aku menculik seorang wanita, sedangkan aku saja tidak ingin melibatkan diri dengan yang namanya wanita. Terlibat dengan Mama saja sudah membuatku pusing apa lagi dengan wanita lain lagi!” Sahut Alex.
“Kau sengaja melupakan atau pura-pura melupakan?” Tanya Nely dengan sedikit teriak. “Mama dan Papa diam karena menjaga perasaan seseorang. Karena kami tidak ingin kau semakin menyakitinya!”
“Mah aku itu bukan orang yang mudah melupakan sesuatu! Dan siapa yang semakin aku sakiti? Ayla?” Tanya Alex, karena hanya Ayla lah yang dia benci selama ini.
“Hah, apa mungkin Jonathan menghajarmu hingga otak dikepalamu itu kehilangan memori yang seharusnya tidak kau lupakan. Memori kejammu terhadap wanita yang sudah kau renggut kebahagiaannya sedari dulu hingga malam itu kau membuatnya hidupnya benar-benar hancur!” Teriak Nely dengan suara yang sedikit tercekat karena isak tangisnya dan sesak dirongga dadanya.
“Mah sudah aku katakan, otakku masihlah normal dan tidak ada satu pun yang aku lupakan! Aku tidak pernah menghancurkan kebahagiaan siapa pun.” Tegas Alex tidak terima.
“Alexander Lewis. Lihatlah ini!” Teriak Nely sembari melempar sesuatu pada Alexander. Alex hanya mengerutkan keningnya karena bingung.
“Ini flash disk!” Jawab Alex enteng sembari memperlihatkan benda kecil tersebut pada sang Mama.
“Bukalah file tersebut, maka kau akan menemukan jawabannya disana! Jika sampai kau tidak mengingat juga, itu artinya otakmu memang bermasalah. Aku harap kau akan sadar siapa yang sebenarnya sudah dihancurkan masa depannya.” Nely hanya tersenyum sinis pada putranya. Lalu melangkah keluar ruangan, tak lupa menyeka air matanya agar tidak berjejak. Dia berencana menemui menantunya yang sangat dia rindukan.
__ADS_1
“Ay--Ayla....!” Pekik Nely saat membuka ruang kerja ternyata ada Ayla yang berdiri disamping pintu tersebut. Dengan cepat Ayla menyeka air matanya saat Mama mertuanya tiba-tiba saja keluar.