Bukan Istri Yang Kau Inginkan

Bukan Istri Yang Kau Inginkan
Bab 6, Kesakitan.


__ADS_3

Alex yang tadinya tenang dan fokus pada kerjaannya, kini sedang gelisah. Jika biasanya dia bekerja dengan begitu profesional tanpa memikirkan masalah lain meskipun itu masalah yang berat. Namun tidak untuk kali ini. Alex merasa gelisah dan yang membuatnya gelisah adalah Ayla. Lagi-lagi Ayla. Bagaimana tidak, dia baru saja mendapat berita jika istrinya akan kembali bekerja di Luis Group. Tempat di mana Ayla bekerja sebelum menjadi istri Alex. Jery, dialah yang memberi tahu Alex saat mendapat info dari rekannya yang bekerja di Luis Group juga.


Dia tidak bisa fokus dalam pekerjaanya. Bayang-bayang Mamanya yang akan mengintimidasi dirinya mulai berkeliaran di benaknya. Dan bayangan itu berhenti saat wajah seorang Ayla tengah tertawa lepas tepat di depannya.


“Jangan tertawa kamu!” Pekik Alex sembari melempar buku tebal ke arah sasarannya.


“Aw...” Pekik seseorang dengan kerasnya saat merasakan sesuatu yang keras melayang ke wajahnya. Dan pekikkan itu menyadarkan seorang Alex.


“Tuan, salah saya apa?” Tanya Jery sebari mengusap wajahnya yang memerah bahkan hidungnya sampai keluar darah.


“Sorry, Jer!” Alex yang saat ini tengah kesal dan diliputi amarah yang meronta di pikirannya langsung bergegas keluar ruangan dan pergi meninggalkan kantor. Dia bahkan tidak menghiraukan panggilan asistennya.


“Perasaan aku diam saja tidak tertawa, kenapa Tuan Alex memakiku seperti itu?” Gumam Jery sepemergian Alex.


Di jalan, Alex mengemudikan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Pikirannya saat ini adalah memberi pelajaran pada seorang Ayla yang sudah membuat keputusan tanpa pedulikan akibatnya. Ya, jika Ayla kembali bekerja di tempatnya yang lama. Tidak menutup kemungkinan dia akan di damprat oleh Mama-nya dan akan di cincang oleh ibu negara.


“Dasar perempuan sialan!” Umpat Alex sembari memukul stir kemudinya.


“Ayla...!” Teriak Alex saat memasuki rumah.


“Ayla...!” Teriaknya kembali dengan menggebu. Tidak ada juga sahutan dari sosok Ayla.


“Tu-Tuan, mencari Non Ayla?” Tanya Bi Nur. Art yang dia panggil kembali dan dia tugaskan hanya untuk membersihkan kamarnya saja dan mengawasi Ayla selama dirumah. Nur hanya datang pagi dan pulang sore hari.


“Di mana wanita sialan itu?” Tanya Alex, Nur yang ketakutan melihat wajah Tuannya yang menakutkan hanya bisa menundukkan kepalanya.


“Kenapa diam saja?” Tanya Alex sedikit menurunkan nada bicaranya.


“A-anu, Tuan. Non Ayla belum pulang!” Jawab Nur terbata-bata.

__ADS_1


“Belum pulang?” Pekik Alex kembali. Pasalnya Ayla seharusnya sudah sampai dari tadi.


“Kemana wanita sialan itu.” Gumamnya.


“Alex...” Lirih Ayla yang baru sampai di rumah.


“Kau!” Alex semakin emosi saat melihat Ayla yang terlihat ceria, bahkan kedua tangan Ayla menenteng beberapa paper bag yang sudah pasti itu berisikan pakaian. Dia tidak terima Ayla bisa belanja dan senang-senang, sedang dirinya tengah gundah gulana.


“A-Alex!” Teriak Ayla dengan suara tercekat saat lehernya sudah di cekik Alex dengan kuatnya. “Le-lepasin, Lex. Sakit!” Rintihnya dengan di iringi air mata yang mengalir dari kedua sudut matanya.


“Berani-beraninya kau membuatku semakin kesal!” Alex semakin menguatkan cekikannya.


“Tuan, kasihan Non Ayla. Non Ayla bisa mati jika Tuan Alex mencekik Non Ayla seperti itu.” Teriak Nur dengan memberanikan dirinya. Tidak peduli jika dia nanti akan di pecat atau apa pun. Saat ini dia tidak tega dan tidak mau membenarkan perlakuan tuan-nya pada istri tuannya.


“Ma-ma, to-long!” Lirih Ayla, melihat Ayla memanggil Mamanya dengan gerakan bibir, Alex langsung melepaskan cekikannya. Tubuh Ayla melemas, hingga pertahanannya runtuh dan terduduk di lantai. Memegang lehernya yang terasa sakit dan hampir kehabisan napas.


Tak sampai di situ, Alex yang sudah tersulut emosi langsung melanjutkan aksinya.


Alex membawanya ke kamar Ayla, menarik wanita itu untuk berdiri lalu mendorongnya ke ranjang dengan kerasnya. Membuat Ayla lagi-lagi memekik dengan kerasnya, perutnya terasa nyeri karena ulah Alex yang menyeretnya hingga mendorongnya ke ranjang.


“Dasar wanita murahan nggak tahu diri!” Teriak Alex yang saat ini menjambak rambut Ayla tanpa perasaan.


“Aku salah apa lagi, Lex? Apa lagi?” Tanya Ayla dengan teriak. Menatap pria itu dengan mata memanas dan menahan air matanya untuk tidak keluar kembali.


“Berani kamu meninggikan suaramu di depanku!” Teriak Alex yang mengencangkan jambakannya.


“Lepas, Lex. Katakan, aku salah apa lagi Lex?” Kini Ayla sedikit melembutkan suaranya.


“Kamu masih berani bertanya apa salahmu. Setelah kamu hampir membuat keputusan tanpa sepengetahuanku! Apa kau tidak berpikir keputusanmu itu akan membuatku masuk ke dalam jurang yang dalam!” Sungut Alex sembari mengacak-acak rambutnya setelah melepaskan jambakannya pada Ayla.

__ADS_1


“Keputusan apa maksud kamu?” Tanya Ayla tak mengerti.


“Jangan berlagak bodoh kamu! Dengan berencana bekerja kembali tanpa sepengetahuanku apa namanya?” Sungut Alex kembali dengan menatap tajam wanita di depannya.


“Alex, apa kamu lupa dengan sebuah batasan yang kau buat. Bukankah kamu berkata jika tidak usah mengurusi urusanmu begitu juga sebaliknya!” Ucap Ayla memberanikan diri. Alex terdiam.


“Jadi bukan salahku meminta pendapatmu atau tidak, bukankah itu tidak penting buatmu.” Imbuh Ayla. Alex mengepalkan kedua tangannya dengan rahang yang terlihat mengeras.


“Bukan salahmu dan tidak penting untukku kamu bilang!” Alex mencengkeram rahang Ayla dengan kerasnya hingga membuat Ayla mendongak hingga mereka saling bertatapan.


“Dengan kamu bekerja kembali, itu sama saja kau mendorongku ke jurang yang dalam. Apa kamu memang berniat aku bisa di damprat dan di maki Mama habis-habisan.” Teriak Alex, Ayla hanya memejamkan matanya. Bayang-bayang malam yang buruk itu kembali menghantuinya.


“Ah, aku lupa. Dari dulu kamu memang selalu bisa mengambil hati kedua orang tuaku dan membuat mereka menyisihkan anak kandungnya sendiri. Dan saat ini pasti kamu memang berniat membuatku di coret dalam marga Lewis! Tujuanmu begitu murahan, ja.la.ng!” Teriak Alex membuat Ayla semakin ketakutan. Ayla berteriak dan mendorong Alex hingga tersungkur dan dia terbebas dari cengkraman Alex.


“Tolong lepaskan aku, tolong, tolong jangan lakukan itu. Aku mohon!” Teriak Ayla histeris, dia merengkuh di sudut kamar dengan memeluk kedua kakinya dengan erat dan kepala menunduk. Membuat hati Alex yang tadinya tersulutkan emosi kini terasa mencelos saat melihat Ayla seperti orang ketakutan. Hingga kepalanya sedikit nyeri dan otaknya yang mencoba mengingatkan akan sesuatu. Tapi apa?


Alex memberanikan diri mendekati wanita itu. Namun bukannya Ayla tenang justru Alex semakin membuatnya ketakutan dan teriakan itu semakin kencang. Keringat dingin pun membasahi seluruh tubuh Ayla.


“Tu-Tuan, Non Ayla kenapa?” Tanya Nur yang memberanikan diri masuk saat mendengar Ayla berteriak dan dia takut Nyonya-nya kenapa-kenapa.


“Pergi!” Teriak Ayla saat Alex masih mendekatinya bahkan sempat mengusap pundaknya. Alex yang terlonjak, mengurungkan niatnya untuk menenangkan Ayla.


“Atasi dia, Bik. A-aku keluar!” Perintah Alex yang merasa kepalanya sedikit pusing. Dia pun keluar meninggalkan kamar Ayla.


“Non, ini Bibi. Non yang tenang, ya!” Ucap Nur dengan lembut, memeluk majikannya dengan penuh kasih. Setelah beberapa menit Nur menenangkan Ayla yang tadinya memberontak. Kini Nurmembantu Ayla untuk duduk di atas ranjang.


“Bik, temani aku sebentar ya. Aku takut sendirian!” Pinta Ayla yang kini sudah berbaring di ranjangnya.


“Iya, Non. Bibi temani Non Ayla!”

__ADS_1


Bik Nur mengusap lembut kepala Ayla, hingga wanita itu tertidur setelah meminum obat yang selama ini rutin dia konsumsi setiap dia seperti ini. Yaitu obat penenang yang memang aman untuk di konsumsi ibu hamil.


__ADS_2