
Sebenarnya dia tidak ada niatan untuk menguping pembicaraan Alex dan mertuanya.
Dia berniat untuk memastikan sesuatu, karena saat dia di dalam kamar tadi mendengar suara mertuanya dia keluar kamar. Dan saat keluar kamar dia tidak menemukan siapa pun. Dan Ayla yang merasa jika dia mendengar jelas suara mertuanya akhirnya bertanya pada Bi Nur yang kebetulan berjalan akan pulang karena hari sudah sore. Dan saat mendapat jawaban dari Bi Nur jika memang Nely datang dan saat ini berada di ruang kerja Alex, berniat menemui mertuanya. Namun saat sampai diruang kerja justru dia mendengar yang seharusnya tidak dia dengar. Karena itu sama saja mengorek luka yang beberapa bulan yang lalu dia alami.
.
“Sejak kapan kamu disini sayang?” Tanya Nely sedikit cemas bercampur kaget.
“Baru saja, Mah!” Jawabnya berbohong, pasalnya dia berdiri disana dua menit setelah Nely dan Alex masuk keruang kerja.
“A-apa kau mendengar sesuatu?” Tanya Nely kembali. Ayla hanya tersenyum dan langsung meraih tangan Nely dan mencium punggung tangannya. Dia mendengar jelas semua yang di bicarakan Mama dan Suaminya. Namun dia bersikap seolah tidak mendengar apa pun.
“Mah, kapan Mama sampai di Jakarta? Kok nggak bilang Ayla kalau Mama pulang hari ini? Dan Papa mana, Mah? Apa Papa di dalam?” Tanya Ayla mengalihkan dengan memasang senyum lebar seolah tidak terjadi apa-apa. Dia juga langsung memeluk mertuanya.
“Tadi pagi, sayang.” Ucap Nely yang membalas pelukan menantunya. “Mama sengaja tidak kasih tahu kamu biar menjadi kejutan. Dan Papa belum bisa ikut ke Jakarta karena masih ada yang harus dia urus. Gimana kabarmu dan cucu Mama sayang?” Tanya Nely sambil mengurai pelukannya dan menatap lekat pada wajah ayu menantunya.
“Kabar Ayla sehat Mah, dan anak ini juga sehat. Dia anak yang pintar dan tidak menyusahkan!” Ucap Ayla sambil mengusap perutnya yang masih datar.
“Syukurlah jika kalian sehat. Mama sangat merindukan kalian. Sayang Oma sangat-sangat rindu padamu!” Ucap Nely dengan mengusap lembut perut menantunya.
“Mah, ada yang mau Ayla bicarakan sama Mama. Boleh?” Tanya Ayla.
“Tentu saja boleh, kita ke ruang tengah. Karena ada yang mau mama bicarakan juga sama kamu!” Ucap Nely yang tidak lepas dari senyumannya.
__ADS_1
“Di taman belakang saja, Mah. Kita bisa ngobrol sambil melihat-lihat tanaman dibelakang!”
“Baiklah,”
Dan kini Ayla dan Nely sudah duduk di taman belakang. Tidak lupa Ayla membawakan secangkir teh dan beberapa makanan ringan untuk Mama mertuanya. Setelah beberapa menit mereka duduk disana. Tidak ada satu pun yang memulai bicara. Mereka masih terdiam dan menyusun apa yang sebaiknya di bicarakan terlebih dahulu sebelum membicarakan pada iintinya.
“Mah, Ay...” Ucap mereka bersamaan. Mereka pun saling menatap dan di detik berikutnya tertawa bersama.
“Mama, dulu!”
“Sebaiknya kamu dulu, Ay. Soalnya Mama lupa apa yang tadinya mau Mama bicarakan sama kamu!” Ucap Nely berbohong, tak lupa dia tertawa ringan untuk menutupi kebohongannya.
“Baiklah, Ayla akan bicara sama Mama.”
Dan sebelum Ayla berbicara, dia menarik napasnya dengan panjang dan mengeluarkannya perlahan. “Sebenarnya tadi Ayla tidak sengaja mendengar pembicaraan Mama dan Alex!”
Deg...!!
“Mah, sebelumnya Ayla minta maaf jika selama ini Ayla hanya menjadi beban untuk Mama dan Papa. Ayla juga sangat berterima kasih karena Mama dan Papa selama ini sangat mengasihi Ayla. Menyekolahkan Ayla bahkan membiayai semua kebutuhan Ayla. Tapi Ayla tidak pernah membalas sedikit pun kebaikan yang kalian berikan. Yang ada Ayla selalu menyusahkan Papa dan Mama!” Ayla menangis sesegukan, begitu juga dengan Nely hatinya terasa sakit dengan penuturan Ayla. Dia menggelengkan kepalanya.
“Tidak sayang, kamu tidak pernah menjadi sebuah beban, kamu juga tidak menyusahkan kami. Dan kami sangat menyayangi kamu dengan tulus tanpa pamrih. Semua yang kami berikan karena kamu adalah anak perempuan kami. Jadi jangan berpikir Mama dan Papa meminta balasan darimu!”
“Mah... Aku seperti ini apa namanya jika tidak menyusahkan dan menjadi beban untuk kalian.” Ayla berdiri dan memperlihatkan perutnya. “Aku tidak jauh berbeda dengan wanita penjual diri diluaran sana, Mah. Dengan hamil seperti ini aku merasa malu, Mah. Malu karena tidak bisa menjaga kepercayaan kalian. Malu karena tidak bisa menjaga nama baik kalian karena ulah jahatku. Bukankah aku ini anak yang jahat dan tidak tahu diri yang tidak tahu balas budi!”
__ADS_1
Nely berdiri memegang kedua bahu Ayla. “Ayla, cukup sayang. Kau hamil seperti ini bukan karena kesalahanmu, sayang. Jangan bicara seperti itu lagi. Mama tidak sanggup mendengarnya. Sudah berapa kali Mama katakan, jangan pernah bicara seperti itu lagi. Dan sudah berapa kali Mama katakan juga, jika kami tulus dan ikhlas memberikan segalanya untukmu, cinta, kasih sayang bahkan apa yang kita punya akan kami berikan jika kau mau. Dan kami tidak pernah merasa malu!”
“Baiklah... Sekarang yang Ayla inginkan saat ini hanya satu, Mah. Yaitu kejujuran dari Mama!”
Deg...!!
“Ya Tuhan, kejujuran. Kejujuran yang mana? Apakah Ayla sudah tahu yang sebenarnya. Tapi dari mana dia tahu? Apa dia akan marah pada kami semua dan apa yang aku takutkan selama ini akan menjadi kenyataan. Di benci Ayla bahkan ditinggalkan Ayla. Ya Tuhan, aku tidak sanggup harus kehilangan Ayla!” Rontanya dalam hati. Dan air matalah yang mewakili dirinya untuk menunjukkan rasa sakitnya.
“Ayla... Mama minta maaf,” Nely meraih kedua tangan Ayla, menggengamnya dengan lembut.
“Maafkan Alex sayang, maafkan kami juga. Maafkan jika kami---”
“Mah, disini yang salah Alex. Bukan Mama...” Ucapnya dengan sendu.
“Mama tahu, tapi kami mohon maafkan segala kesalahan Alex. Dia tidak sengaja melakukannya sayang, waktu itu Alex belum dewasa dan masih sangat kecil sama sepertimu. Sungguh dia tidak pernah ada kesengajaan untuk--”
“Mama bicara apa sih? Mah Ayla dan Alex sudah dewasa, umurnya sudah dua puluh empat tahun Mah. Bukan lagi anak kecil.” Nely terdiam menatap Ayla dengan tatapan bingung.
“Mah, apa Mama tahu kejadian yang aku alami beberapa bulan lalu? Kejadian ditengah-tengah acara pertunangan Kak Joe dan kekasihnya?”
Deg...!!
“Ay...”
__ADS_1
“Mah, kenapa Mama melakukannya? Ayla sudah mendengar pembicaraan Mama dan Alex diruang kerja.” Jelas Ayla yang membuat Nely sedikit lega, namun juga harap-harap cemas karena takut Ayla mengetahui apa yang dia rahasiakan selama ini.
“Ayla, apa kau marah pada Mama?” Tanya Nely sendu, dan Ayla menggelengkan kepalanya. “Maafkan Mama, Ayla. Sebenarnya Mama tidak bermaksud untuk menutup-nutupi kejadian yang sebenarnya. Mama seperti itu karena tidak mau kamu terluka sayang!”