Bukan Istri Yang Kau Inginkan

Bukan Istri Yang Kau Inginkan
Bab 12, Datangnya Mama


__ADS_3

Setelah meeting yang tidak menemukan solusi dan hasil akhir yang baik. Akhirnya meeting tersebut mereka tunda dan akan mereka gelar kembali di kantor Lew.Group esok. Tentu itu juga karena Ayla yang berhasil membujuk Darren untuk menurunkan egonya demi perusahaan. Dan jangan lupakan Jery, dia bahkan rela untuk lembur satu minggu ke depan tanpa honor tambahan, bahkan dia juga rela mendapat hukuman oleh Alex karena sudah berani mendesak Alex untuk tidak membatalkan kerjasama tersebut. Dan Jery terus-terusan memberi segala umpatan pada Alex, tentu saja hanya berani dia katakan dalam hati.


“Dan gajimu aku potong dua puluh persen!” Tegas Alex lagi, karena hatinya sungguh merasa kesal karena ulah asistennya. Alex pun beranjak dari bangkunya meninggalkan kliennya begitu saja tanpa sepatah kata pun.


Jery hanya bisa pasrah dan mengikuti Alex setelah berpamitan pada klien Tuannya. “Sudah sepantasnya aku diberi gelar sebagai asisten yang Perfect karena sudah rela berkorban mempertaruhkan waktu dan diriku dengan segala hukuman yang kau berikan, Tuan. Dan ini semua demi perusahaan anda dan juga para karyawan anda, sampai rela kau potong gajiku, Tuan!” Gumam Jery dalam hati sembari mengekori Tuannya.


Ayla dan Darren pun ikut beranjak, dan kini sudah berada di area parkiran melangkah menuju tempat dimana mobil Darren terparkir. “Sebaiknya aku antar kamu pulang, karena hari ini pasti sangat melelahkan untukmu!” Ucap Darren terdengar khawatir.


“Tidak perlu, Pak. Ini juga tidak melelahkan. Sebaiknya kita kembali ke kantor, saya bisa pulang sendiri memakai mobil saya. Dan tidak mungkin juga saya meninggalkan mobil saya!” Jawab Ayla sambil terkekeh.


“Masalah mobilmu, biar Jojo yang mengantarkan ke rumahmu. Sebaiknya kau jaga kesehatanmu, jika kau sakit dan kenapa-kenapa bisa-bisa saya kena sanksi dari suamimu!”


Ayla hanya mengulum senyum saja. Tanpa mereka sadari ada sepasang telinga yang mendengar jelas percakapan mereka. Dan pemilik sepasang telinga tersebut berjalan pada deretan mobil yang terparkir bersebelahan dengan mereka.


“Bagaimana?” Tanya Darren kembali.


“Baiklah, Pak.” Ucap Ayla.


“Ehem...” Suara seseorang berdehem yang mengagetkan Ayla dan juga Darren.


“Ada yang mau kau bicarakan?” Tanya Darren datar saat tahu siapa yang mengagetkannya.


“Tidak ada!” Sahutnya enteng.


“Lalu?”

__ADS_1


“Minggirlah, kau berdiri disebelah mobilku dan menghalangi pintu masukku!” Ucapnya dengan mengibaskan tangannya isyarat untuk menyingkirlah.


“Dasar pria angkuh. Aku juga hanya lewat dan berhenti disini karena kau yang mengejutkan dan menghentikan langkah kami!” Sahut Darren sembari menatap Alex dengan penuh amarah.


“Perasaan ini bukan mobil Alex, kenapa dia bilang jika ini mobilnya!” Gumam Ayla dalam hati sambil menelisik mobil yang disebut Alex. Ayla pun tanpa sadar bertanya pada Alex.


“Memangnya ini mobilmu, Lex. Eh maksud saya, ini mobil anda Tuan Alex. Kalau begitu kami minta maaf karena sudah menghalangi jalan anda!” Ucap Ayla dengan menutup mulutnya dan membungkuk sopan pada Alex. Dia bahkan merutuki mulutnya yang berani-beraninya keceplosan di depan Darren. Dan Alex saat ini menatapnya dengan tatapan tajam. “Ya ampun, pasti Alex akan marah besar karena mulut bodoh ini!” Gumamnya dengan kepala yang masih menunduk.


Darren yang sempat terkejut karena panggilan Ayla pada Alex. Dia pun menerka-nerka mungkin Ayla hanya keceplosan saja karena kelelahan. Dan Darren langsung menyahuti. “Ay, untuk apa minta maaf orang dia yang salah!” Sungut Darren.


“Sebaiknya kita segera pulang, Pak!” Ucap Ayla mengalihkan. Ayla hendak melangkah meninggalkan Alex dan Darren. Namun langkahnya terhenti dengan panggilan berat dari Alex dan panggilan lembut dari Darren.


“Tunggu!” Suara berat Alex.


“Tunggu, Ay!” Suara lembut Darren yang terdengar sexy ditelinga Alex. Ayla hanya terdiam tanpa menoleh.


“Untuk apa kau bicara dengan Ayla, asal kau tahu dia perempuan yang su---!”


Ayla segera membalikkan badannya dan dengan cepat memotong ucapan Darren. “Maaf, Tuan Alex. Saya ada pekerjaan lain yang harus saya kerjakan. Jadi lain kali saja, permisi!” Ucap Ayla sopan dan membalikkan kembali badannya dan melangkah cepat menuju mobil Darren.


“Ayla, Ay....!” Darren pun segera menyusul sekretarisnya yang pergi meninggalkan dirinya begitu saja. Alex mengepalkan kedua tangannya dengan rahang yang terlihat mengeras. Manatap kepergian istri dan juga kliennya yang sudah menjauh.


“Lihat saja nanti!” Gumam Alex. Dan kini Jery sudah datang dengan mobil Tuannya.


“Kau kenapa, Lex. Em maksud saya Tuan?” Tanya Amel saat turun dari mobil Alex.

__ADS_1


“Tidak ada apa-apa! Sebaiknya kau pulang naik taksi dan besok datang lebih awal.” Sahut Alex datar.


“Tapi, Lex. Eh Tuan, saya sedang buru-buru harus segera mengambil mobil saya dibengkel depan sebrang sana. Saya bolehkan menumpang sebentar saja sampai dibengkel?” Ucapnya dengan nada yang memelas.


“Masuklah!” Sahut Alex dengan datarnya.


“Alexander Lewis!” Pekik seseorang dengan lantangnya hingga suaranya menggema di area parkir tersebut. Alex yang mengenal suara lengkingan tersebut langsung bergegas membuka pintu mobilnya. Baru dia akan membuka sudah dikejutan dengan sebuah ancaman yang membuatnya mengurungkan niatnya membuka pintu mobil.


“Berani kau kabur, jangan harap kau bisa hidup tenang!” Ancamnya. Sungguh ancaman yang terdengar biasa saja namun jika pemilik suara ini yang mengancam entah jiwa pemberani seorang Alex menciut seketika.


“Mama,” ucap Alex dengan senyuman terpaksanya. “Kapan Mama sampai di jakarta?” Ucap Alex basa-basi yang berjalan menghampiri Mamanya yang berdiri dengan berkacak pinggang disebelah mobil milik Nely. Alex pun mengecup pucuk kepala Mamanya dan merangkulnya. “Kenapa perasaanku jadi tidak enak?” Gumam Alex dalam hati.


“Kau antar wanita itu kebengkel yang dia maksud tadi, Jer. Biar Tuanmu ini aku yang membawanya!” Perintah Nely pada Jery yang kini sudah turun dari mobil dan menyapa pada ibu tuannya.


“Ck, membawanya. Memangnya aku ini barang.” Sungut Alex lirih.


“Siap laksanakan, Nyonya besar!” Sahut Jery dengan penuh semangat.


“Kau sepertinya senang sekali bisa terbebas dariku, Jer?” Tanya Alex dengan sinisnya.


“Tentu saja---tidak Tuan!” Ucap Jery yang sengaja menjeda ucapannya. “Karena saat ini saya harus kembali ke kantor tanpa Tuan, dan tidak ada yang menemani dan mengawasi saya lembur!”


“Ck, tidak usah sok sedih. Aku tahu kau itu sedang tertawa jahat dalam hatimu!” Tuduh Alex yang memang sangat tepat.


“Tidak Tuan, mana berani saya menertawakan Tuanku yang tampan dan berwibawa ini!” Ucap Jery berbohong sambil menyindir Alex yang terlihat jinak ditangan sang mama.

__ADS_1


“Sudah hentikan dan kau cepat masuk!” Ucap Nely dengan menarik telinga anaknya sambil masuk kedalam mobil.


“Mah, lepasin Mah.” Teriak Alex sedang Jery tertawa begitu lantangnya saat mobil yang ditumpangi tuannya sudah menghilang jauh.


__ADS_2