
KUNINGAN, JAWABARAT.
Langit sore tersenyum diatas perkampungan Desa Suka Rapih. Di atas tanah wakaf yang berbentuk lapangan luas. Sekelompok pemuda terlihat sangat seragam memakai kain drill yang dipintal dengan texture miring serta dijahit benang dengan sangat kuat, berwarna hitam pekat. Sedang berlatih ilmu bela diri khas dari negeri ini.
"Bangun, Tristan!" kata lelaki-laki separuh baya yang baru saja menjatuhkannya dengan sapuan kaki.
Tristan tersungkur di antara teman-temannya yang sedang duduk mengelilingi. Menyaksikan latihan tanding antara Tristan dan guru mereka. Nafas Tristan sudah mulai tidak berarturan. Laki-laki dengan tubuh gagah dan tinggi, dibuat lemah dihadapan gurunya.
"Bangun Tristan! lawan sakitmu. Kamu tidak akan bisa bertahan di luar sana kalau rasa sakit hanya memanjakan dirimu." Sang guru memutari Tristan yang masih berlutut.
"Manusia punya batas maksimal, Tristan. Dan kebanyakan orang hanya mampu bertahan di batas itu. Namun, hanya orang-orang terpilihlah yang mampu melewatinya. Melawan rasa sakitnya. Hingga dia tidak pernah merasakan sakit lagi," ucap guru Tristan dengan suara serak dan berat.
"Bangun!" seru sang guru dengan Nada tinggi.
Tristan mendengus. Sepertinya dia terpancing dengan raungan gurunya. Semangatnya terbakar. Perlahan, Tristan mengangkat tubuhnya untuk bangkit.
Dia melebarkan kedua jari-jari tangan. Membuatnya mencengkram. Dimana tangan kanannya berada sedikit diatas tangan kiri. Dengan sedikit ditekuk kearah kiri. Lututnya setengah menekuk, menampakkan kuda-kuda menyerang dengan posisi yang sangat rendah.
Gerakan Tristan seperti harimau yang siap menerkam. Sorot matanya tajam. Membuat Keikina, sang guru menaikkan pelipis alis kanannya dan sedikit menggeser telapak kakinya kebelakang.
HHHHHIAAAAAAAAAAA!!!
Tanpa diduga, Tristan melompat. Memutarkan tubuhnya melayang di udara. Dengan dua kali menghempaskan tendangan. Namun, sang guru terkelabui. Dia tidak mengira kalau dua kepalan tangan Tristan lah yang akan menghantam dadanya. Keikina terpental dua meter.
Belasan pasang mata melongo bingung dengan apa yang baru saja mereka lihat. Rasa kaget, kagum dan takjub lengkap mewakili wajah dari laki-laki yang memakai seragam yang sama dengan Tristan. Yang sedang duduk menyaksikan duel murid dan gurunya dalam latihan.
"Hah-. Hah ... hah ... Cu-Cukup, Tristan," kata sang guru yang tersungkur di bawah pohon dengan dada yang nyeri dan juga nafas yang berat. Wajah sang guru meringis kesakitan.
__ADS_1
"Ma-Maaf, guru," ucap Tristan dengan menjulurkan tangannya. Membantu laki-laki setengah baya itu.
Sang guru pun menyambut uluran tangan Tristan. Dengan tangan yang masih memegang dada, dia berkata, "Saya berpesan, jangan kamu salah gunakan ilmu bela diri yang kamu kuasai itu, Tristan. Pergunakanlah ilmu itu untuk menolong dirimu. Dan bantulah sesama."
"Iya, guru," ucap Tristan dengan senyum.
****
Esoknya, Tristan berencana untuk pergi ke kota besar. Kota yang kebanyakan orang-orang kampungnya datangi. Dia ingin mengadu nasib di kota itu. Kota metropolitan. Kota dengan gedung-gedung pencakar langit. Itulah kota Jakarta.
"Tristan," sapa Aulia dengan hijab berwarna coklat menutup kepalanya. Dia berdiri di depan pintu rumah Tristan. Dengan membawa sebuah bungkusan yang digenggam erat di sebelah tangan kanannya.
Dengan tas ransel yang baru saja dicangkolkan kepundak sebelah kanan, Tristan berhendak ingin melangkah keluar rumah. Setelah berpamitan kepada ibunda.
"Aulia," sahut Tristan. Menatap gadis pemilik wajah putih dengan bibir tipis itu. "Ada apa kamu kesini, Lia?"
"Aku harus merubah hidupku, Lia. Aku harus merubah nasibku. Aku ingin ibuku hidup bahagia."
"Tapi, apa harus dengan kamu pergi ke kota?"
"Tidak ada yang bisa aku lakukan disini, Lia. Semuanya hanya sawah. Rumput. Gunung. Aku cuma tidak ingin masa depanku begini-begini saja. Kalau aku ke kota, aku bisa bekerja. Disana banyak perkerjaan. Banyak kesempatan untuk aku bisa sukses."
Butiran-butiran itu semakin menggumpal. Air mata gadis itu semakin deras mengalir.
"Sudahlah, Lia. Lupakan aku. Lagipula, orang tuamu tidak menyetujui hubungan kita." Tristan membuang pandanganya dari gadis yang ada dihadapannya. "Benar kata bapakmu, aku ini miskin. Dan orang miskin, tidak boleh menikah dengan orang kaya. Bapakmu saudagar di kampung ini, Lia. Sedangkan ibuku. Ibuku hanya petani kampung yang sehari-hari harus menerjang panas dan hujan di sawah sana untuk mencari sesuap nasi," ujar Tristan dengan mata yang berkaca-kaca. "Dan aku. Aku harus bisa merubah nasibku dengan mencari kerja di kota," tuturnya dengan perasaan sedih.
"Kembali lah kerumahmu, Lia. Ayahmu sudah menentukan calon suami yang terbaik untukmu. Aku sudah merelakan semuanya.
__ADS_1
"Selamat tinggal, Lia. Assalamulaikum," ucap Tristan. Dia melangkah pergi. Meninggalkan Aulia di pelataran depan gubuknya dalam keadaan menangis.
Dengan diantar oleh teman sekolahnya dulu, Tristan menumpangi mobil bak terbuka hingga ke terminal bus yang jaraknya 1 jam perjalanan dari kampungnya.
"Apa yang kamu cari di Jakarta, Tan?" tanya Riza setelah setengah perjalanan menuju terminal bus. Tristan masih memandangi kampung halamanya dari balik kaca pintu mobil yang setengah terbuka. Merasakan angin yang berhembus lewat sela-sela kaca. Melihat sawah-sawah yang hijau dan juga bukit-bukit yang berada diujung sana.
"Entahlah, Za. Aku pun belum tahu apa yang akan aku lakukan di kota nanti. Sebenarnya, aku hanya ingin melupakan masa laluku dengan Aulia, Za. Tapi aku tidak akan bisa melupakan kalau aku masih di kampung ini. Ibuku yang menyarankan aku untuk kekota, Za. Untuk mencari kerja di Jakarta."
"Heeuhh ... sudahlah Tan. Jangan diingat-ingat lagi persolan itu. Kejadian minggu lalu itu memang sangat menyakitkan hati kamu. Aku pun tahu bagaimana rasanya sakit dipermalukan oleh calon ayah mertua, Tan."
"Iya, Za. Makanya aku bertekad untuk bisa merubah nasibku di kota. Ya semoga sajalah, Za."
"Lantas, disana kamu tinggal dimana, Tan?"
"Sementara aku tinggal dirumahnya Bayu, sahabat sekolah kita dulu. Kamu masih ingat kan? Bayu. Bayu. Yang pernah nangis karena kamu lempar kepalanya dengan bola," ujar Tristan sedikit bersemangat.
Riza berusaha mengingat. "Ya. Ya. Aku ingat sekarang. Memangnya dia tinggal di Jakarta?"
"Ah sudah lama dia tinggal di Jakarta. Aku dengar-dengar dia sudah sukses, Za. Kerja Jadi—." Tristan mengerutkan dahinya dan mengayun-ayun jari telunjukknya kedepan. Dia berusaha mengingat. "Jadi—. Ah jadi apa ya. Lupa aku, Za," ujarnya. "Nantilah kalau ketemu aku tanyakan lagi."
JAKARTA—JAKARTA!
"Za, stop-stop. Aku turun disini saja. Itu bus yang arah ke Jakarta, Za," ucap Tristan. Dan Riza menepikan mobilnya dengan segera ke arah bahu jalan sebelah kiri.
"Tan, kamu hati-hati disana. Jangan lupa, kamu kabari-lah sering-sering ibumu itu, ya," ujar Riza mengingatkan kepada sahabatnya.
"Iya, Za. Makasih ya Za. Kapan-kapan kalau kamu main ke Jakarta, kabar-kabari aku ya," ucap Tristan dengan jari tangan kirinya sudah memegang gagang pintu mobil. "Oke lah, Za. Aku pergi dulu, ya. Assalamualaikum." Tristan berpamitan. Dan Riza tersenyum melepas sahabatnya pergi meninggalkan kampung halamannya.
__ADS_1
Dengan langkah pasti, Tristan menaiki anak tangga dari bus antar kota menuju Jakarta.