
"Nah ini jalan Pemuda, Nak," kata Pak Aditya kepada Tristan setelah mereka berada di alamat yang dituju. "Tapi, nomer berapa rumahnya, Nak?"
Tristan memperhatikan sekeliling dari rumah-rumah yang ada di jalan itu. "Ya itu dia, Pak. Saya lupa nomer berapa rumahnya," jawab Tristan.
Mobil mewah Pak Aditya menepi di pinggir jalan. "Apa Nak Tristan punya nomer telpon temannya? Coba saja dihubungi dulu nomer telpon temanya itu, Nak," ujar Pak Aditya menyarankan.
"Aduh." Tristan menggaruk-garuk kepalanya. "Sa-Saya tidak punya HP, Pak," katanya dengan tersenyum tipis.
"Ooh—begitu. Di Jakarta seperti ini akan susah mencari alamat jika tidak tahu nomer rumahnya. Apalagi tidak ada HP untuk berkomunikasi. Akan sulit rasanya," seru Pak Aditya.
"Ya sudah, Pak. Saya turun disini saja. Biar nanti saya cari-cari sendiri. Mudah-mudahan, orang-orang sekitaran sini mengenal teman saya, Pak," ujar Tristan.
"Oh begini saja. Ini kartu nama saya." Pak Aditya memberikan kartu namanya ke tangan Tristan. "Disini ada nomer telpon saya. Kalau Nak Tristan tidak menemukan alamat temannya, Nak Tristan bisa menghubungi saya."
Tristan menerima kertas kecil yang sedikit tebal. Dia membolak balik kertas itu.
"Baik, Pak. Terima kasih sebelumnya," ucap Tristan ramah.
"Saya yang terima kasih kepada Nak Tristan. Jangan sungkan-sungkan menghubungi saya, ya," balas Pak Aditya dengan santun.
Lalu kemudian, Tristan keluar dari mobil Pak Aditya. Dia melanjutkan kembali pencarian alamat Bayu.
Radtya Purnama Wijaksono. Direksi PT Saxta Indo Perkasa. Tristan membaca kartu nama dari orang yang baru saja memberikan kepadanya, sembari jalan di atas trotoar kecil. Dan kemudian kartu nama itu di masukkannya kedalam kantong kecil yang ada di pinggiran tas ransel.
Sebuah motor dengan kecepatan tinggi melintas dari arah depan. Bersamaan dengan itu, seorang anak kecil berlari ke tengah jalan karena mengejar bola balon yang lepas dari tanganya.
WWWWYUUEEEENGG!!!
"AWAS!" teriak ibu muda kaget melihat anaknya yang sudah berada di tengah-tengah jalan.
Dengan cepat Tristan menarik anak itu. "Kamu nggak apa-apa, Dek?" kata Tristan yang baru saja menyelamatkan anak itu.
Bocah laki-laki berumuran 5 tahun, hanya menggelengkan kepalanya sambil memegang bola balonnya menjawab pertanyaan Tristan.
"Terima kasih, Mas," ucap ibu dari anak kecil itu dengan wajah panik.
__ADS_1
"Sama-Sama, Mbak," balas Tristan ramah.
"Aaau ... " Tristan merasakan nyeri di lengan kanannya karena luka sabetan belati sewaktu dia berkelahi.
"Kamu sepertinya bukan warga sini ya, Mas," seru ibu muda yang memperhatikan Tristan dari ujung kepala sampai ujung kaki.
"Iya, Mbak. Benar. Saya baru saja tiba di Jakarta. Saya dari kampung, Mbak," tutur Tristan.
"Oh, begitu. Lalu kamu mau mencari siapa disini?"
"Saya mencari alamat teman saya yang tinggal di daerah sini, Mbak. Di jalan pemuda ini. Tapi saya lupa nomer rumahnya berapa," ujar Tristan dengan tangan kiri masih memegang balutan sapu tangan yang menutupi luka di lengan kanannya.
"Nama temanya siapa?"
"Bayu, Mbak. Orangnya tinggi. Kulitnya agak coklat. Rambutnya ikal. Dan dia menggunakan kaca mata," terang Tristan menggambarkan sosok temannya lewat lisan.
"Bayu. Bayu." Ibu muda itu bergumam sambil menundukkan pandanganya mencoba mengingat-ingat. "Oh—. Bayu yang bekerja di mini market. Dia tinggal di kontrakan itu. Tuh rumahnya yang berwarna biru dua lantai. Kontrakannya Pak Junot," kata perempuan ber-anak satu setelah mengingatnya.
Raut wajah Tristan sedikit ceria. Sudah mulai hilang gelisah dalam dirinya. "Oh. Terima kasih, Mbak," ucapnya dengan ramah.
"Siapa laki-laki itu? ganteng juga dia," gumam ibu muda itu setelah Tristan berlalu dari hadapanya.
Seseorang tua keluar dari ruangan kecil yang berada di sebelah kiri dari dalam rumah itu. Kalau dilihat dari penampilannya, sepertinya dia penjaga kontrakan yang lumayan besar ini.
"Cari siapa, Mas?" tanya orang tua itu dengan suara berat kepada Tristan yang berdiri di luar pagar.
"Saya mau cari teman saya. Namanya Bayu, Pak," jawab Tristan.
"Tristan—!" seru seseorang dari arah belakang Tristan.
"Bayu—," sahut Tristan setelah membalik tubuhnya menoleh kebelakang.
"Oh. Bayu itu," gumam pak tua tersebut dan kemudian dia kembali lagi kedalam ruangannya.
Kedua laki-laki yang sudah lama tidak bertemu saling berpelukan ala sahabat.
__ADS_1
"Sampai juga kau di Jakarta, Tan," seru Bayu dengan wajah berseri-seri menyambut kedatangan sahabat lama.
"Aaau ... " Tristan meringis kesakitan. Tanpa sengaja Bayu menekan luka di lengan kanan Tristan saat berpelukan.
"Kenapa dengan tanganmu, Tan?" tanyanya sedikit cemas.
"Ah-. Tidak apa-apa, Yu. Biasalah, aku jatuh dari pohon kelapa. Kemarin pas masih di kampung," jawabnya.
"Ah lagian, ngapain juga kau ngambil-ngambil kelapa, Tan. Masih aja kayak dulu. Hahha—."
****
Matahari pagi menggelincir di ufuk timur. Membuka sinarnya untuk kembali melakukan tugasnya. Tanpa terasa sudah tiga hari Tristan menumpang di kamar sederhana milik sahabatnya. Namun, situasi belum berubah. Masih dalam keadaan yang sama.
"Sudahlah, bersabar aja dulu. Mungkin hari ini kau akan dapatkan pekerjaan, Tan. Nah aku baru ingat, kenapa tak kau coba datangkan alamat orang yang ada di kartu nama itu," seru Bayu mencoba memberi nasihat kepada sahabatnya yang setengah putus asa lelah mencari kerja.
"Sepertinya, bapak itu bekerja di perusahaan besar, Tan," sambungnya.
Tristan membaringkan tubuhnya di kasur kecil yang menempel lansung dengan lantai. Sebelah kakinya mengangkat dan diletakan di atas kaki kiri yang menekuk.
Dengan berbantalkan kedua tanganya, dia menatap langit-langit kamar sambil memikirkan ucapan temannya.
"Hmm—. Tapi aku nggak enak lah, Yu. Aku nggak kenal siapa orang itu. Lagipula, niatanku hanya untuk menolongnya saja," ujar Tristan. "Dan dia pun memberika kartu namanya untuk aku hubungi kalau aku tidak menemukan alamatmu."
Bayu sudah mengetahui penyebab luka di lengan kanan Tristan. Itu karena Bayu yang memaksa Tristan bercerita pada saat membantu sahabatnya itu mengobati lukanya.
"Hei, Tan. Nggak ada salahnya mencoba. Toh, kau pun tidak memaksa orang itu. Bapak itu sendiri yang menawarkan, bukan. Walaupun saat itu dia memberikan kartu namanya bukan untuk menawarkan kau pekerjaan. Siapa tau memang rezekinya kau untuk bekerja disana, Tan."
Bayu merapihkan rambutnya di depan cermin setelah memasang tali pinggang di celana bahannya. Dia sedang bersiap-siap untuk pergi bekerja. Sebagai kasir di mini market.
"Dan nanti, kalau kau sudah menjadi bos di perusahaan itu. Jangan lupa sama aku. Ajak aku juga sukses sama-sama dengan kau, Tan," ujarnya dengan meletakkan sisir rambut di sela-sela kayu yang menempel di bawah cermin yang kecil.
"Hahaha. Kamu ada-ada saja, Yu. Belum juga aku bekerja. Kamu sudah menghayal tinggi."
"Hahaa. Semua orang sukses. Berawal dari sebuah angan-angan yang tinggi, Tan," cetus Bayu.
__ADS_1
"Ya sudah lah, aku berangkat kerja dulu. Jangan lupa dikunci pintu kamarnya kalau kau mau keluar," kata Bayu sebelum dia melangkahkan kakinya beranjak dari kamar ini.
Mungkin, Bayu benar. Aku coba saja lah dulu. Urusan diterima atau nggaknya, itu urusan belakangan, gumam Tristan dan kemudian dia bersiap-siap mandi.