BUKU NYA ERROR JANGAN DI BACA

BUKU NYA ERROR JANGAN DI BACA
KECELAKAAN


__ADS_3

CEKLEK!


Tristan mengunci pintu kontrakan petak milik sahabatnya. Dia meletakkan kunci di dalam sepatu temannya itu yang berada di bawah pintu. Tempat biasa yang Bayu pernah lakukan sebelumnya.


Dengan kemeja putih polos lengan panjang serta celana bahan hitam, dia memulai harinya untuk melamar pekerjaan kembali.


"Mudah-mudahan pak Aditya mau menerimaku sebagai karyawanya," gumam Tristan sebelum melangkah pergi.


Sebuah amplop coklat erat digenggam di tangan kanan. Dan juga kartu nama dari bapak-bapak itu, disimpannya di saku celana. Tristan, berjalan menuju pangkalan angkot yang berada di sebrang jalan besar.


****


"Astaga, Rayla!" Seorang bapak paruh baya yang baru saja tiba mengungkap cemas melihat anaknya keringat dingin di lorong ruang tunggu IGD. Gadis itu menggigil ketakutan. Dia menggigit jarinya dalam keadaan duduk di kursi besi. "Kenapa bisa sampai begini, Nak?" tanyanya dengan cemas.


"A-Ak-Aku nggak sengaja, Pa," katanya dengan pandangan tertunduk kebawah. Kakinya gemetaran. Dan dia menangis.


"Iya. Iya. Papa tau, Nak." Laki paruh baya itu memeluk anaknya dari samping.


"Ak-Aku ta-takut kalau dia kenapa-napa, Pa. Rayla nggak mau masuk penjara, Pa," ujarnya dengan sesegukan kepada ayahnya.


"Nggak, Nak. Kita doakan saja orang itu nggak kenapa-napa."


"Ibu Rayla," sapa dokter yang baru saja keluar dari ruang IGD.


"I-Iya, Dok," sahut Rayla dengan cepat berdiri dan menghampiri dokter perempuan paruh baya itu.


"Pasien mengalami luka berat. Terutama dibagian kepalanya. Saat ini, pasien masih dalam keadaan koma. Kami akan berusaha semaksimal mungkin untuk menangani pasien," tutur Dokter itu.


Gadis itu semakim memucat. Jantungnya semakin berdebar. "Pa, bagaimana ini?" katanya dengan wajah sangat cemas.


"Lantas, apa pasien bisa di sembuhkan, Dok?" tanya ayahnya Rayla.


"Sejauh ini, pasien masih dalam keadaan kritis, Pak. Selain itu, pasien juga sangat kekurangan darah. Kebetulan stok darah di rumah sakit ini sedang kosong, Pak. Apalagi, pasien mempunyai golongan darah AB. Sulit mencari pendonor dengan golongan itu, Pak," terangnya.


"Ambil darah saya, Dok. Golongan darah saya sama dengan orang itu, Dok," seru ayah Rayla kepada dokter.


"Pa." Rayla memandang ayahnya dengan perasaan haru.


"Nggak apa-apa sayang. Bagaimanapun juga orang itu harus segera mendapatkan pertolongan, kan," ujar ayahnya.


"Baiklah, kalau memang kebetulan golongan bapak sama dengan pasien. Dan kalau bapak juga bersedia untuk mendonorkan darah Bapak." Dokter mengajak ayah Rayla masuk ke ruangan untuk diperiksa.


"Aaaau ... " Ayah Rayla mendesah karena merasakan sedikit sakit saat jarum kecil menembus kulit lengannya. Darah kental mengalir dari selang-selang itu menuju wadahnya.


Gadis itu melihat ayahnya dari kejauhan.


Andai aja aku menuruti kata papa waktu itu, nggak akan sampai terjadi begini. Maafin aku, Pa. Maafin Rayla ... sesal Rayla terucap dalam hati.


"Nah sudah, Pak. Ini sementara bapak tekan ya," ujar dokter itu memberi arahan kepada ayah Rayla.


"Terima kasih, Dok," ucap laki paruh baya dengan menekan kapas yang ada di lengan kanannya.

__ADS_1


"Sudah, Pa?" tanya Rayla setelah ayahnya kembali duduk di sebelahnya.


"Sudah, Nak."


****


HARI KE-2 DI RUMAH SAKIT.


Tristan masih terbaring koma. Seluruh tubuhnya dipenuhi balutan perban. Luka dalam akibat benturan yang kuat membuat dia memejamkan mata dalam waktu lama. Beruntung, seorang bapak paru baya mendonorkan darahnya untuk laki-laki yang belum sadarkan diri itu.


Rayla baru saja tiba setelah mengganti pakaiannya di rumah. Dia masih harus menunggu Tristan yang terbaring koma di ruang IGD. Sebagai bentuk tanggung jawabnya kepada Tristan yang secara tidak sengaja di tabrak oleh mobilnya.


Rasa resah dan gelisah masih menyelimuti di hati Rayla. Rasa takut masih menghantui pikirannya. Dia masih terbayang-bayang pada saat kejadian itu.


"Rayla," sapa seorang sahabatnya yang baru saja tiba. "Ya ampun Rayla. Kenapa bisa begini?" tanyanya sembari memeluk Rayla.


"Aku nggak sengaja Rin. Kamu tau kan, waktu itu kita habis ngapain. Ya itu karena efek itu. Aku nggak liat kalau ada orang nyebrang. Kepalaku pusing saat itu Rin," tutur Rayla dengan mata berkaca-kaca kepada sahabatnya.


"Lagian, kan udah aku bilang. Kamu sih ngeyel. Keras kepala. Tetep aja mau nyetir sendiri. Jelas-jelas kita itu habis mabuk semalaman sampai pagi."


"I-Iya, Rin. Tapi udah kejadiaan. Aku takut. Aku nggak mau masuk penjara."


"Sabar Ray. Sabar Ya. Nggak akan terjadi kok. Kamu nggak akan di penjara," ujar Rina sebagai sahabat dekat Rayla. Dia mengusap pundak sahabatnya itu dengan perasaan duka. Ikut merasakan kesedihan yang dialami Rayla.


Gadis berambut panjang lurus sebahu. Dengan wajah oval. Melihat pemuda itu dari balik kaca luar ruang ICU. Tristan yang sedang berjuang melawan maut, membuat Rayla sesak nafas.


Sunyi. Senyap. Hingga suara mesin komputer pendeteksi jantung pun terdengar hingga keluar ruangan. Nampak garis-garis naik turun di layar monitor. Membuat jantung Rayla ikut berdebar.


"Namanya siapa Ray?" tanya Rina yang juga melihat Tristan dari balik kaca transparan.


Rayla menggelengkan kepalanya.


"Memangnya, dia tidak membawa dompet atau apa gitu?" sambung Rina.


"Mana sempat aku ngurusin begituan Rin. Kejadian itu sangat cepat. Dan itu aja sudah membuatku sangat panik. Warga setempat sudah mengerubuniku. Sangat ramai. Aku takut. Mereka berteriak meminta pertanggung jawaban dariku. Kalau tidak, aku akan dibawa ke kantor polisi. Aku takut, Rin. Takut. Jadi mana sempat aku ngurusin barang-barangnya dia," ujar Rayla dengan wajah penuh keresahan. Kelopak matanya meneteskan buliran-buliran air.


"Memangnya kejadian saat itu bagaimana, Ray?" tanya Rina.


"Sehabis pulang dari rumah kamu ... "


FLASHBACK ON


"Rin, aku balik ya. Daaa—." Gadis itu berjalan dengan sangat gontai.


"Kamu yakin pulang sendirian? ini masih jam 8 pagi. Pasti masih macet-macetnya, Ray," kata Rina mengingatkan.


"Ah—. Nggak apa-apa, Rin. Lagian, jam segini Papaku pasti udah berangkat kerja. Dan aku bisa tidur puas di rumah. Hahaaa—."


"Ya udah, ya. Aku pulang dulu—. Da, Rina—. Mmuaaaach," ucap Rayla berpamitan.


Aaaach! pusing banget kepalaku. Semua ini gara-gara Hadi. Cuma dengan cara ini aku bisa melupakan lelaki sialan itu, gumam Rayla setelah berada di dalam mobil.

__ADS_1


Gadis itu keluar dari rumah mewah di kawasan Jakarta selatan. Dalam keadaan mabuk, dia mengendarai kendaraanya dengan meraba-raba jalan.


Aaach—. Sial. Kepalaku pusing banget, gerutunya sambil menyetir. Pandangannya agak kabur. Setelah tikungan, beberapa meter di depan, terlihat seorang pemuda sedang menyebrang.


"AWAS!!!!" pekik perempuan penjual sayur di pinggiran jalan memperingati pemuda itu.


BRUAAAAK!!!


Mobil Rayla menabrak seorang pemuda dengan kecepatan 80 km/jam. Pemuda itu mental hingga ke ujung trotoar sebelah kanan.


Dalam waktu cepat. Sekumpulan warga sudah banyak berdatangan. Membantu Pemuda yang sudah berlumuran darah menggeletak di aspal.


"Turun!" bentak seorang bapak paruh baya mengetuk kaca mobil Rayla.


Rasa pusing di kepalanya seketika hilang melihat kejadian yang mengerikan itu. Wajah Rayla tegang. Keringatnya mulai bercucuran. Matanya terbelalak lebar. Rayla panik luar biasa.


"Turun!" bentaknya lagi dengan suara semakin tinggi.


Dengan kaki gemetar dia keluar dari mobilnya. Menghadapi apa yang sudah dilakukannya.


"Bawa aja kekantor polisi!"


"Wah habis mabuk kayaknya ni perempuan."


"Ibu harus bertanggung jawab, Bu!"


Ramai seru-an saling bersahut-sahutan dari warga yang menjadi saksi korban tabrakan ini.


Rayla digiring warga setempat. Bibirnya gemetar tidak bisa berucap.


"Jadi gimana, Pak?" tanya seorang warga laki-laki kepada bapak tua paruh baya yang menggiring Rayla keluar dari mobilnya.


"Bawa aja kekantor polisi. Biar dia dipenjara," celetuk salah satu ibu-ibu yang ada di kejadian itu.


"J-Jangan, Pak. Tolong jangan bawa saya kekantor polisi, Pak." Rayla memohon dan memelas kepada warga.


"Mbak habis mabuk, ya," seru warga yang lain.


"Udah, Pak. Bawa aja kekantor polisi. Korbannya sepertinya udah mati, Pak," celetuk pemuda yang lain.


Degh!


Jantung Rayla berdebar keras. Detaknya 3 kali lebih cepat.


"Sudah! sudah. Bagaimanapun juga Ibu harus bertanggung jawab. Kami akan mengantar Ibu ke rumah sakit. Kalau korban itu meninggal, dengan terpaksa Ibu kami bawa ke kantor polisi. Tapi, kalau korban itu masih hidup, Ibu harus bertanggung jawab atas pengobatannya," ujar Bapak paruh baya dengan sangat bijak.


Dan kemudian, beberapa warga ikut bersama Rayla masuk kedalam mobil, termasuk bapak paruh baya itu. Mereka pergi kerumah sakit dimana pemuda itu sudah di antar lebih dulu kesana oleh warga setempat.


FLASHBACK OFF


"Maka dari itu, aku takut kalau orang ini sampe meninggal, Rin," ujar Rayla yang sudah banjir airmata.

__ADS_1


__ADS_2