BUKU NYA ERROR JANGAN DI BACA

BUKU NYA ERROR JANGAN DI BACA
KEHIDUPAN BARU


__ADS_3

Hari ini adalah hari pertama untuk jati diri seorang Tristan. Dia bukan lagi pemuda kampung yang datang dari desa ke kota dengan hidup luntang-lantung. Takdir yang secara paksa merubah nasibnya tanpa disangka-sangka.


Kejadian yang menimpa Tristan, membuat hidupnya berubah. Walaupun, dia tidak mengenal siapa dirinya. Namun, itu yang membuat lelaki pemilik wajah tampan alami ini bisa tinggal di rumah mewah.


Namun, ini merupakan awal yang buruk bagi seorang Rayla. Gadis cantik pemilik wajah oval dengan lesung pipi dan mempunyai tubuh proposional itu merasa dirinya akan disibuki dengan kehadiran Tristan. Dia akan dituntut untuk bertanggung jawab hingga Tristan mendapatkan ingatannya kembali. Artinya, Rayla harus terus menemani Tristan setiap saat. Membuat kebebasanya hilang seketika.


Rayla pada dasarnya bukan anak yang begitu baik. Dia sering bertengkar dengan ayahnya karena kehidupan malamnya yang sudah kelewat batas. Rayla sering pulang hingga larut pagi. Dan selalu dalam keadaan mabuk ketika pulang ke rumah. Itu yang membuat ayahnya naik darah menghadapi anak satu-satunya ini.


Disisi lain, sang ayah sangat suka dengan sosok Tristan. Entah apa yang membuatnya begitu menyukai laki-laki kampung ini.


"Pagi, Nak Tristan," sapa seorang laki-laki paruh baya pemilik rumah dimana Tristan meneduh.


"Pagi, Pak," sahutnya dengan wajah tersenyum.


Tristan baru saja keluar dari kamarnya. Dia duduk di meja makan bersama Rayla dan juga papanya. Setelah Bi Imah mengetuk pintu kamar dan menyuruhnya untuk ikut gabung bersama mereka.


"Pagi, Bu," sapa Tristan kepada Rayla yang sedang mengunyah roti isi. Yang duduk persis di depannya.


"Panggil, Rayla aja, Mas. Nggak usah Ibu, Ibu. Aku masih muda," balasnya dengan nada sedikit sinis.


"Rayla!" Papanya menoleh ke arah anaknya. Menegurnya dengan sedikit melotot sebagai kode sikap penegasan.


"Aku berangkat dulu ya, Pa," kata Rayla berpamitan kepada ayahnya dengan mengibaskan kedua tangan setelah melahap habis semua roti isi kedalam lambungnya.


"Mau kemana kamu? bukanya kamu sedang cuti kuliah?"


"Aku mau kerumah Rina, Pa. Ada urusan. Penting."


"Hmm. Tristan, kamu ikut dengan anak saya ya," seru papanya Rayla kepada laki-laki yang baru saja menegak segelas susu putih.


"Apa! ah Papa. Ngapain Tristan ikut denganku segala. Aku cuma mau kerumah Rina, Pa. Lagian juga nggak lama, Kok," ujar Rayla dengan wajah kecut.


"Ajak Tristan. Atau suruh Rina kerumah kita aja," seru papanya Rayla.


"Aaaachhhh! Papa kenapa sih!" gerutunya kesal. "Ya udah aku ajak Tristan."


"Saya mandi dulu ya, Bu," kata Tristan dengan polos.


"Ibu. Ibu. Rayla. Panggil Rayla aja. Mas—Tristan," ujarnya dengan senyum sinis.


"Ma-Maaf. Ray ... la," balas Tristan sedikit canggung.


Lelaki paruh baya menggelengkan kepalanya dengan tertawa kecil dari tempat duduknya.


****


"Kamu bisa nyetir?" tanya Rayla sedikit julit kepada pemuda yang berada di sebelahnya. Ketika mereka sudah di depan mobil BMW berwarna biru yang bertengger gagah di dalam garasi.

__ADS_1


"Nyetir!" Tristan menggelengkan kepalanya.


"Hah dasar kampungan," umpat Rayla pelan. "Nyusahin aja," gerutunya kesal.


"Ya udah masuk," seru Rayla dengan nada kesal menyuruh Tristan masuk kedalam mobil.


Dengan polosnya, Tristan membuka pintu penumpang di bagian belakang. Dimana yang dia ingat pertama kali naik kendaraan roda empat ini adalah duduk di bangku baris dua.


"Ennn—nnak aja duduk disana. Emangnya kamu pikir aku ini supir kamu!" seru Rayla dengan nada julit.


"Terus, saya duduk dimana?" tanya Tristan polos.


"Di atap! ya disini lah!" Rayla menunjukkan kursi di sebelahnya. "Buru!" bentak Rayla. Membuat Tristan segera beranjak pindah dari duduknya.


"Pokoknya nanti di rumah temenku, kamu nggak usah banyak nanya, ok!"


"Memangnya kita mau kemana, Ray ... la?"


"Tuh! baru aja aku bilang nggak usah banyak nanya. Kenapa sekarang jadi pengen tau," cerocos Rayla dengan wajah masam. Dan kemudian dia menginjak pedal gas. Melaju keluar garasi.


"Hati-Hati, Non Rayla," kata Pak Ujang yang bertugas sebagai pengaman pribadi di rumahnya melepas mobil Rayla keluar dari pagar.


Aduh! aku harus bilang apa nih sama Rina. Mana nanti malam kita mau ke club, keluh Rayla dalam hati gelisah.


"Kamu beneran nggak inget apa-apa?" tanya Rayla yang sepertinya tidak terlalu yakin dengan keadaan Tristan yang sebenarnya.


"Bener, Bu. Eh M-Maaf. Bener Ray," jawab Tristan apa adanya. Dia masih sedikit canggung memanggil perempuan cantik itu dengan sebutan nama.


"Yakin, Ray ... la," balas Tristan.


Aku harus segera membawa dia ke terapi. Biar dia cepat sadar. Dan dia nggak nyusahin aku lagi, kata Rayla dalam hati.


"Kamu kenapa senyum-senyum begitu, Ray ... la? tanya Tristan heran.


"Ah. Enggak. Siapa juga yang senyum-senyum." Gadis itu menahan malu. "Oh ya, kamu bisa nggak nyebut nama aku jangan pake jeda bgitu!"


"Hmm—. Maksudnya, Ray ... la?"


"Nah itu. Kayak itu. Ray ... la. Bisa nggak nyebut langsung, Rayla!"


Tristan mengangguk-anggukan kepalanya. "Saya masih canggung," tuturnya.


"Ya aneh aja kedengarannya. Oh atau kamu panggil saya dengan Non. Non Rayla," ujarnya.


"Saya usahakan, ya," balas Tristan.


Rayla tersenyum sinis melirik Tristan. Hahaa—. Bagus! ucapnya senang dalam hati.

__ADS_1


TIN—TIN!


Seorang laki-laki dengan tubuh gagah, menggunakan seragam dari bahan safari, membukakan pagar dari rumah mewah di kawasan selatan Jakarta. Rayla sudah tiba di rumah sahabatnya.


"Hy beb," sapa Rina yang menyambut dari depan pintu. "Siapa tuh?" bisiknya di telinga Rayla sambil melirik ke arah Tristan yang berdiri di belakang temannya.


"Cowok yang waktu itu koma," jawab Rayla dengan berbisik di telinga Rina.


"Ah serius! kok bisa sama kamu?"


"Acch udah. Nanti aku ceritain, Beb."


"Hai, Mbak," sapa Tristan menegur ramah kepada pemilik rumah.


Namun, justru hal itu membuat Rina dan Rayla terkekeh. Mereka mendengar lucu karena Tristan memanggil Rina dengan sebutan "Mbak."


Dengan wajah bingung, pemuda tampan itu bertanya, "Kenapa? apa saya salah bicara?" tanyanya polos.


"Ya jelas salah lah! emangnya dia Mbak-mu. Mbak jamu. Mbak pembantu. Hahahaa!" umpat Rayla. "Panggil dia, Non. Ok!" seru Rayla dengan nada perintah kepada Tristan.


"Oh. Begitu. Baik, Non," ucap Tristan menuruti.


"Hahahaa—." Kedua gadis cantik itu kembali terkekeh sambil melangkah masuk kedalam rumah.


Di dalam kamar, Rayla dan Rina bergosip ria. Sedangkan Tristan menunggu di ruang tamu sambil celingak-celinguk menatap sekeliling. Dengan ditemani segelas jus jeruk dan cemilan ringan.


"Hahaha—. Jadi begitu, Ray," ujar Rina setelah mendengar cerita dari sahabatnya.


"Nah gara-gara itu akhirnya dia tinggal di rumahku. Dan anehnya papaku kayak seneng gitu ada dia di rumah."


"Ya nggak apa-apalah lah, Beb. Lumayan bisa jadi temen kondangan. Tampangnya juga lumayan lho. Nggak malu-maluin. Hahahaa. Lebih ganteng dari Hadi," celetuk Rina.


"Ih apaan sih!" Wajah Rayla seketika berubah masam. "Nggak usah bahas-bahas laki-laki brengsek itu," ujarnya dengan serius.


"Maaf, Beb," ucap Rina dengan merasa bersalah.


"Aku udah berusaha melupakan dia, Rin. Sakit banget rasanya," tutur Rayla dengan mata mulai berkaca-kaca.


Rina mendekati Rayla yang berada di atas kasurnya. "Sorry—. Ya udah nanti malem kita kan happy-hapy," katanya berusaha menghibur.


Rina memeluk sahabatnya. "Terus, nanti malam si doi diajak dong."


"Nah itu dia. Pasti aku nggak diizinin papa kalau nggak sama dia. Ah—. Kenapa hidupku jadi kacau begini, sih," keluh Rayla.


"Ya bagus dong, Beb. Paling nggak, dengan adanya dia kamu jadi gampang kemana-mana. Ya anggap aja, dia sebagai pelicin kamu keluar rumah. Bener, nggak."


Rayla menarik kedua sudut bibirnya. "Bener juga!" gumamnya.

__ADS_1


"Nanti malam siapa aja yang dateng, Beb?" tanya Rayla dengan memeluk guling bersarungkan hello kitty sambil kembali membaringkan tubuhnya di atas kasur.


"Banyak. Tapi rata-rata dari temen-temenya Risa. Katanya sih salah satu temennya Risa yang punya acara malam ini. Ya udah kita ngikut-ngikut aja lah," jawab perempuan berwajah campuran arab dan eropa itu.


__ADS_2