BUKU NYA ERROR JANGAN DI BACA

BUKU NYA ERROR JANGAN DI BACA
SUARA HATI PAPA


__ADS_3

"Bye, Rin. Sampai ketemu nanti malam, ya." Rayla pamit kepada sahabatnya dari dalam mobil dan siap untuk pulang.


Dan Rina melambaikan tangan dari posisinya yang berdiri di depan pintu melepas Rayla berlalu pergi.


"Kita mau kemana lagi, Non?"


Gadis itu tidak menjawab. Dia hanya melirik pemuda yang berada di sebelahnya sambil berkonsentrasi pada jalan yang sudah mulai padat.


"Nanti kamu izin sama papaku, ya," pinta Rayla kepada Tristan yang sedang menatapi kemacetan panjang sejauh mata memandang.


"Izin kemana, Non?"


"Nanti malam, aku sama Rina mau pergi ke acara temenku. Di daerah kemang. Pasti susah dapet izin dari papa kalau aku yang bicara. Sepertinya papa lebih percaya sama kamu. Makanya kamu mintain izin untuk aku," ujarnya sambil sedikit membelokkan stir kemudi ke arah kanan.


"Ah masa harus saya, Non. Kan Non Rayla anaknya. Saya kan bukan siapa-siapanya bapak Non," tutur Tristan.


"Tapi—. Papaku akan mengizinkan aku pergi kalau Mas Tristan yang minta izin."


"Dari mana Non Rayla tahu dan yakin kalau saya yang bilang ke bapak Non pasti Non Rayla diizinkan pergi."


"Udah. Aku yakin banget. Apa perlu aku mohon-mohon sama kamu. Iya."


"Ah—. Ja‐Jangan, Non. Masa Non Rayla harus mohon-mohon sama saya. Saya kan bukan siapa-siapa, Non. Saya juga cuma numpang di rumah Non Rayla."


"Nah itu Mas sadar. Anggap aja, itu sebagai balas budi Mas kepada saya. Mau kan?"


Tristan mengangguk. "Ya udah saya coba ya, Non."


Bagus. Hahahaa—. Pasti papa ngizinin aku pergi kalau Tristan yang minta, ungkapnya senang dalam hati.


Tristan seperti kerbau yang dicucuk hidungnya. Menurut saja dengan apa yang dikatakan oleh Rayla. Mungkin, karena bagaimanapun juga Tristan masih punya hati dan perasaan. Walaupun dia mengalami masalah dalam ingatanya. Tapi dia tidak mati rasa. Dia masih punya perasaan untuk bersyukur dengan ucapan terima kasih dalam bentuk sikapnya kepada Rayla dan Papanya. Karena merekalah Tristan masih selamat dan bisa tinggal di rumah yang bagus tanpa harus membayar sewa, itu yang dikatakan oleh hati nuraninya.


Kesempatan ini yang dimanfaatkan Rayla untuk melenggang bebas kemanapun dia mau. Dengan menjadikan Tristan sebagai tameng dihadapan papanya.


Wajah polos Tristan melukiskan kebersihan hatinya. Namun, Rayla tidak menyadari itu.


TIN—TIN!


Dengan cepat dan sigap, Pak Ujang membuka pagar rumah setelah mendengar klakson mobil milik majikannya pulang.

__ADS_1


"Inget ya, jangan lupa kamu bilang sama papaku. Ok," ucap Rayla sebelum keluar dari mobil kepada Tristan.


"Baik, Non."


Di dalam rumah, Tristan mondar-mandir. Dia merasa gugup untuk mengatakan permintaan Rayla kepada papanya. Tristan meremas-remas jarinya dengan perasaan bingung.


"Gimna ya. Aku harus bilang apa ke papanya Rayla," gumamnya.


Dari jauh, Rayla sudah meng-kodekan dengan matanya. Menyuruh Tristan yang ada di sofa ruang tamu untuk menghampiri papanya yang sedang membaca koran di kursi goyang dekat taman belakang.


Dengan perasaan bimbang, Tristan mencoba untuk berbicara kepada papanya Rayla.


"Pak-. Anu-. Hmm-."


"Ada apa Nak Tristan?" tanya papanya Rayla sambil meletakan koran di meja sebelah dekat kursinya.


"Apa ya. Hmm–. Begini, Pak. Aduh," ucap Tristan bingung.


Tatapan serius terlihat jelas dari balik kaca mata baca yang dikenakan oleh papanya Rayla.


Dari balik jendela dekat pintu belakang. Rayla meng-gumamkan bibirnya memerintahkan Tristan untuk cepat berbicara kepada papanya. Tristan melirik Rayla dengan perasaan gelisah.


"Ini, Pak. Non-. Non Rayla—. Meminta saya untuk berbicara kepada bapak. Kalau—. Non Rayla nanti malam mau pergi bersama temanya, Pak." Dengan gugup dan sedikit deg-degan Tristan menyampaikan maksudnya.


Tristan mengangguk.


"Siapa yang menyuruh kamu memanggil anak saya dengan kata itu?" tanya papanya Rayla serius.


"Hmm. Non Rayla, Pak. Non Rayla sendiri yang menyuruh saya memanggilnya dengan seperti itu," tutur Tristan.


"Rayla!" panggil papanya dengan sedikit keras.


"Aduh! mati aku!" Rayla menepuk jidadnya. Dia mendengar apa yang sedang dibicarakan oleh Tristan dengan papanya. "Lupa aku bilangin ke dia, kalau di rumah jangan panggil itu," gumamnya cemas.


"I-Iya, pa," sahut Rayla dari tempatnya.


"Benar, kamu yang suruh Tristan manggil kamu dengan panggilan Non?" tanya papanya serius setelah Rayla berdiri di depannya.


"I-Iya, Pa," jawabnya dengan wajah cemas.

__ADS_1


"Ccckkk." Papanya berdecak. "Kenapa kamu suruh dia manggil kamu seperti itu, Rayla?" tanya papanya dengan suara keras. Membuat Rayla menjadi kesal.


"Papa ini kenapa sih! sebenernya anak Papa dia atau aku?" Rayla mulai berkaca-kaca. Dia berlari ke kamarnya dengan kesedihan.


"Rayla!" Laki-laki yang merupakan papanya itu mengejar anaknya hingga ke kamar.


"Rayla, buka pintunya. Papa mau bicara."


"Papa urus saja sana orang itu! nggak usah peduliin aku!" seru Rayla dengan nada tinggi sembari menangis dari dalam kamarnya.


"Rayla! buka pintunya!"


"Kenapa! kenapa Papa lebih memperdulikan dia dari pada aku?" ujar Rayla sesegukan dan air mata yang mengalir deras sambil membuka pintu kamarnya.


Melihat anak kandungnya bersedih, muncul rasa iba di hati seorang ayah. Papanya Rayla menutup pintu kamar anaknya. Dan berbicara dari hati ke hati kepada Rayla di dalam kamar.


"Ada alasan kenapa Papa begitu sama dia, Nak," tutur papanya Rayla.


"Apa! memangnya dia siapa! anak haram Papa?"


"Rayla!" bentak papanya. "Jangan asal bicara kamu! kamu lupa sedang berbicara dengan siapa!"


"Kenapa! aku tau. Aku sedang berbicara dengan bapak Radhtya


Purnama Wijaksono yang terhormat. Pemilik delapan belas perusahaan di Jakarta," jawabnya dengan bersimbah air mata.


Bapak itu menghela nafasnya. Dia mengusap wajahnya dengan satu tangan. "Papa berhutang nyawa dengannya, Nak. Dia pernah menyelamatkan papa dari orang-orang suruhan pesaing bisnis papa. Kalau tidak ada anak itu, mungkin kamu sekarang sedang berdoa untuk Papa di tanah makam. Bukan sedang berbicara dengan papa di dalam kamar kamu seperti saat ini."


Rayla mulai terdiam. Dia menatap serius papanya. "Mak-Maksud Papa?"


"Beberapa hari yang lalu. Selepas Papa pulang dari proyek yang Papa sedang bangun. Ada tiga orang yang menghadang mobil Papa. Papa kira itu perampok biasa. Tapi, ternyata salah seorang dari mereka mengatakan, 'Jangan tanda tangani proyek untuk pembangunan taman wisata di daerah jawa barat itu. Atau kamu saya bunuh.' Dia mengancam Papa. Siapa lagi kalau bukan pesaing Papa yang menyuruh orang-orang itu, Nak. Kebetulan, Tristan ada di tempat itu. Dia sedang mencari alamat temannya. Dia menolong Papa dari orang-orang yang telah menodongkan senjata tajam di leher Papa, Nak.


"Tristan melawan mereka bertiga. Hingga tangannya terluka. Terkena sabetan belati yang orang itu gunakan. Tristan memang orang kampung. Tapi, dia mempunyai hati yang baik, Nak. Dia tulus. Papa bisa menilainya. Karena, dia tidak mau menerima uang sepuluh juta sebagai imbalan karena sudah menolong Papa. Yang Papa berikan kepada dia sewaktu Papa mengantarnya ke alamat temannya. Padahal, HP saja dia tidak punya. Kalau Tristan itu pamrih. Sudah pasti uang yang Papa berikan sama dia akan diambilnya. Padahal dia tau, nilainya tidak sedikit. Karena Papa memberikan uang itu secara langsung tanpa amplop.


"Sejak di rumah sakit. Ketika papa ingin mendonorkan darah Papa membantu korban yang kamu celakai. Papa terkejut, kalau ternyata korban itu adalah Tristan. Ya, memang. Papa nggak langsung cerita kepadamu saat itu. Karena Papa pikir itu bukan hal yang penting untuk kamu ketahui.


"Itulah alasannya kenapa Papa ingin Tristan ada di rumah ini. Paling tidak, dengan begitu Papa bisa membalas budi kepadanya. Sebenarnya, yang punya hutang jasa itu kita, Nak. Bukan dia," tutur bapak yang bernama Radhytia itu dengan memegang kedua pundak anaknya.


Rayla menyeka air matanya. Namun, dia masih sesegukan karena bekas tangis yang dalam. "Papa yakin, kalau Tristan juga bukan salah satu orang mereka. Bisa saja kan, Pa. Mereka merencanakan ini. Menyuruh orang mengancam Papa. Tapi di sisi lain orang itu mengirim pahlawan yang seolah-olah membela Papa. Padahal ada maksud tertentu," tukas Rayla.

__ADS_1


"Tidak, Nak. Papa tau mana orang yang benar-benar baik. Mana orang yang pura-pura baik," pungkas papanya Rayla meyakinkan anaknya.


Sang bapak mengusap air mata anaknya dengan sangat lembut. "Papa sadar, mungkin kamu tidak akan merasa nyaman dengan keadaan ini. Namun, bagaimanpun juga kamu masih punya kewajiban untuk membantu Tristan memulihkan ingatanya. Paling tidak sampai Tristan pulih. Lalu, kamu bisa bebas tanpa harus dibebani olehnya lagi. Dan Papa harap juga, perlakukan lah Tristan dengan baik, Nak," ujar papanya dengan mencium kening Rayla lembut.


__ADS_2